Keesokan harinya karna libur jadi Sari dan Rahel pergi menaruh sebagian hasil penjualan jam Adam ke ATM sedangkan Adam dan Lukas pergi menempel poster di setiap sudut kota di bantu 6 orang anak muda yg mereka bayar untuk membantu.
Pada saat mereka asik menempelkan poster, Lukas tak sengaja menoleh pada sebuah papan reklame "Wah lihat model yg ada di papan reklame itu, kulitnya seputih salju tapi di sayngkan sekali kekasihnya harus meninggalknya diluan."
Adam menjawab sambil menoleh "Mana , coba aku lihat "pada saat pandanganya meantap papan reklame itu tiba-tiba jantung berdebar dan kepalanya terasa sakit dan sebuah ingatan ya tak jelas keluar dari ingatanya ia terduduk di bawah dan poster yg ia bawa berhambur di jalan, sontak Lukas menoleh ke arah Adam "Astaga Rio."
Rahel dan Sari habis dari ATM mereka ke pasar dan windi memberi berapa pakian untuk Adam dan lampu cas untuk mereka karan lampu di kampunya hanya bertahan sampai jam 12 malam saja. Tiba-tiba Sari mendapat telfon "Halo ada apa??" Peria itu dengan hawatirnya berbicara ".
Rio tadi tiba-tiba terduduk di jalan karna sakit di kepalanya dan sekarang kami sudah di rumah sakit xxx dan dia sedang di priksa." Sari menjadai panik "Baikalah kami akan segera ke sana."
Rahel yg penasaran bertanya "Ada apa kak??" Wanita itu memberi tau Rahel "Itu tadi Adam di larikan ke rumah sakit."Rahel yg mendenar hal itu menjadi panik dan meminta mereka segera pergi ke rumah sakit xxx.
Sesampainya mereka ke rumah sakit mereka segera mencari lokasi tempat lukas berada dan peria itu mengirim pesan pada mereka jik mereka da di lantai dua, dan dengan cepatnya mereka ke lantai dua rumah sakit tersebut.
Dan masuk ke dalam kamar yg banyak tempat tidurnya mereka memeriksa satu persatu dan menemukam Adam yg duduk di pinggir dan sudah bersiap untuk pulang, akhiranya Rahel bisa bernapas ketika melihat Adam baik-baik saja "Asataga hampir saja aku akan kehilangan jantungku karna mu..."
Sari yg penasaran bertanya pada suaminya "Apa yg terjadi pada Rio???" Lukas menjawab perkataan istrinya "Kata dokter dia menagalami sakit kepala karna ada ingatnya yg kembali, tapi dia sudah baik-baik saja, paling hanya perlu nenebut obat".
Rahel yg mendengar hal itu menjadi penasaran "Rio apa yg kamu ingat waktu itu??" Adam menggingat lagi "Sepertinya aku tak melihat apa pun, tapi aku mendengar suara kedua orang tuaku yg memangil ku 'Anak ku' tapi aku tak tau wajhnya seperti apa masih tak terlihat jelas."
Rahel mengerti jadi Adam belum memggingat masa lalunya dan dia ingat hanya sebagian kecilnya saja."Yasudah kalok sudah selesai kita bayar Administrasi mu dan tebus obat mu." Mereka pun seger pergi dari kamar dan menaiki lift ke bawah.
pada saat Mereka membayar obat di antara banyak suara yg terdengar di lantai itu ada dua suara yg sepertinya familiar bagi Adam "Papa, sepertinya papa kurusan deh lebih baik papa jaga kesehatan, jangan terlalu bebankan pikiran papa."
Dan terdengar jelas suara seorang peria paruh baya menjawabnya "Nak, tak perlu hawatir, sebaiknya kamu fokus saja pada karir mu dan carilah peria yg lebih baik yg dapat membimbingmu mu di masa depan, apalagi usia manusia tak ada yang tau, selagi ada waktu cari lah."
Terdengar suara lift terbuk suara itu menghilang pada saat itulah adam menoleh namun ia sudah terlambat suara itu sudah hilang, setelah menebus obat mereka ke bagian Administrasi untuk membayar biyaya rumasakit Adam setelah itu mereka kembali pulang ke rumah lalu mengupulkan pakian mereka karna hari ini mereka akan kembali ke desa.
"Kalian berdua hati-hati di jalan yah." Rahel mengangguk dan Lukas pun mengingatkan Adam "Saya tunggu kabar baiknya." Rahel tak mengerti apa maksud kabar baik 'Apa yg mereka bicarakan, kabar baik soal apa?' Rahel berpikir dan sementara Adam menunjukan jempolnya "Tunggu saja."
Sedangkan sari yg mengerti apa maksud dua peria itu tertawa "Ih kalin ini ada ada aja, kan ini cuman sementara doang." Suaminya menjawab "Sipatau Gak sengaja malah jadi." Rahel masih bingung "Jadia ap Om Lukas..."
Tiba-tiba terdengar seorang mobil yg akan mengantar mereka ke kampung, Adam segera menarik Rahel "Eh tunggu dulu Om Lukas belum jawab.." Adam tersenyum sambil tersus menarik Rahel ke dalam mobil "Entar kamu tau juga sendiri..."
Mereka masuk ke dalam mobil dan meanaruh barang mereka di belakang setelah itu mereka naik dan mobil itu berjalan tidak lupa Rahel dan Rio melambaikan tanya dari dalam mobik ke Sari dan suaminya sebagai bentuk kata selamat tinggal.
Karna mereka berangkat dari jam 1 siang jadi mereka sampai jam 3 sore, Setelah membayar mobil itu pun langsung pergi dan Rahel terlihat terdiam ketika melihat pintu rumahnya yg sudah bolong "Astaga sebegitu agresifnya para warga sapi pintu rumah ku bolong begini."
Rahel membuka gembok rumahnyanya dan mendorong pintu yg sudah bolong itu "Asataga sepertinya mereka masuk tanpa melepas sendal ." Adam membuka kamar lalu menaruh semua barang barang mereka di kamar dan tak lama berselang setelah mereka sampai para warga datang ke rumah Rahel , namun gadis itu sangat santai menanggapinya ia menghampiri para warga.
"Ada apa yah bapak, ibuk ke sini??" Mereka terlihat kesal "Sekarang kalian keluar dari desa ini, berani sekali kalian melakukan hal tak senonoh di desa kami padahal belum menikah." Rahel tersenyum "Siapa bilang, orang kami sudah menikah kok, alah bapak dan ibuk ini main fitnah aja. Gak baiklo fitnah orang tanpa bukti."
Mereka kesal dengan perkataanya "Alah tukan bohong, ayo kita masuk rumahnya dan kita bakar semua baranya." Paat saat para warga akan masuk Adam keluar dari dapur lalu menghampiri Rahel "Ada apa Sayang?" Para ibuk-ibuk yg melihat ketampanan Adam terdiam, dan seorang peria berbicara pada Adam.
"Kalin berdua pasti pasangan yg melakukan hubungan tak senonoh itu kan, makanya desa kita di datangi banyak orang gila yg membuat kerusuhan." Rahel dengan kesal berbicara "Masalah orang gila gak usah di kaitkan dengan saya lagian kami juga udah nikah, iya kan sayang..."
Rahel memperlihatkan cincinya dan Adam, para warga terdiam "Sekali lagi dari mana kalian dapat infot kalok saya melakukan hubungan tak senonoh??" Salah satu dari mereka menjawab "Kami tau dari pak Edi dan pak Andre." Rahel menghela napas pelan "Gara gara berita gak bener gitu, rumah saya pintunya jadi jebol sekarang siapa yg mau tanggung jawab ."
Mereka semua terdiam dan Rahel pun mengusir mereka "Yaudah kalok gak ada yg mau tanggung jawab gak papa sekarang kalian kembali pulang saja, yg penting sudah jelas bahwa saya sudah menikah dan tak ada yg melakukan hubungan gelap."
para warga tadi pun mulai bubar satu persatu hinga tak ada satupn lagi di sana, Rahel menghela napas pelan "Makasih karna udah mau bantu gue, lu lanjut aja masaknya di dapur kalok akuy akan memperbaiki pintu kita." Adam pun kembali ke dapaur sedangkan Rahel mencoba memperbaiki pintu rumahnya.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments