Sesampai di rumah pada saat ia menaiki rumah ia terkejut karna melihat Adam yg sama sekali belu mandi dan masih asik membaca buku sambil berbaring di ruang tamu. "Tumben sekali kamu belum mandi."
Adam tanpa sadar berbicara "Aku masih capek jadi nanti saja mandinya." Rahel terkejut "Emang kamu capek apa, orang kamu gak buat kerjaan rumah kok." Adam yg baru sadar langsung terdiam "Ayo kita mandi sekarang sebelum matahari terbenam, kamu bawa dua jerigen 20 liter itu yah, untuk air di kamar mandi kita soalnya betapa hari ini gak ada hujan jadi tak ada air di dalam kamar mandi."
Rahel pun segera ke kamar dan mengambil handuknya dan handuk Adam dan di tubuhnya di dapur lalu ia membawa ember yg berisi sabun mandi mereka di ikuti Adam yg membawa dua jerigen 20 liter, sebelum mandi mereka terlebih dahulu mengisi jerigen mereka dengan air setelah itu mereka pun mandi dan ini pertama kalinya mereka mandi sama-sama , karna biasanya setelah Rahel pulang Adam sudah selesai mandi namun hari ini Adam belum mandi padahal sudah sore hari.
Di atas Rakit Rahel langsung melompat tanpa melepas bajunya, berbeda dengan Adam yg terlebih dahulu melepas bajunya namun tak melepas celananya " Ia seperti seorang wanita yg hanya bisa mandi di atas rakit karna ia masih trauma jika harus melompat ke dalam air.
Setelah cukup lama berenang Rahel naik namun yg mengejutkan bagi Adam adalah karna baju yg di pakai Rahel itu basah hinga menjiplak tubuh cantiknya, terlihat bentu dada gadis itu yg besar Adam mengalihkan pandangan.
Gadis itu menyelesaikan mandinya,berbeda dengan Adam ia masih menunggu sampai wanita itu pergi, setelah Rahel mandi ia langsung pergi dan Adam pun menyelesaikan mandinya lalu menyusul Rahel pulang.
Kali ini ia membawa dua jerigen 20 liter di tangan kana dan kirinya dan berjalan dengan tergesa-gesa samapi di teras dapur rumah Rahel ia menaruh dua jerigen itu di sana lalu langsung masuk, rupanya gadis itu belum mengganti bajunya dan masih memakai handuk yg hanya menutupi dadanya dan setengah dari pahanya.
Adam langsung mengalihkan pandanganya, hatinya berdebar kencang dan pikirannya tak karuan "Kenapa kamu belum menganti baju??" Rahel dengan santai menjawab "Apa kamu tidak melihat aku sedang memasak." Adam menjawab "Iya aku tau kamu sedang masak , tapi ganti dulu bajunya, apa bagusnya memasak dengan memakai handuk saja seperti itu."
Rahel menatap kesal Adam "Suka-suka aku lah, orang rumah ku sendiri kok." Abraham tak tahan melihat Rahel ia langsung mengambil handuknya yg di ada di gantung lalu membawanya ke kamar mandi. Sedangkan gadis itu kembali memasak.
Adam keluar namun Rahel masih di sana dan kini miliknya malah menegang Adam bergumam dalam hati 'Ni cewek udah gila yah, udah tau tinggal serumah sama cowok tapi sifatnya kayak gini, untung aku masih bisa menahanya.' Adam pun pergi ke kamar untuk menganti bajunya, tidak butuh waktu lama Adam menganti baju ia sudah keluar sambil menyisir rambut.
"Biar aku yg lanjut masaknya kamu ke dalam ganti baju saja sana." Rahel dengan santai menjawab"Yaa, kamu cukup aduk aduk sebentar saja entak masak." Adam mengangguk lalu mengambil alih posisi Rahel sedangkan gadis itu masuk ke dalam dan mengganti bajunya.
Setelah sayur matang Adam masuk ke dalam rumah namun kamar belum di buka itu tandanya Rahel masih menganti baju dan tiba-tiba terdengar sadar ketukan pintu di luar, Adam tampa sadar membukanya padahal Rahel melarangnya untuk membuka pintu karna takut nanti ia akan ketahuan.
Pada saat pintu terbuka lalu memperlihatkan seorang peria yg memaki kemeja lengan pendek motif batik terkejut ketika melihat Adam, refleks ia menarik leher baju Adam "Siapa kamu, berani masuk ke rumah Rahel." Rahel keluar dari kamar "Adam apa maka..."
ia terdiam ketika melihat Addy yg menarik leher baju Adam dan dua peria saling menatap penuh permusuhan, Rahel berlari lalu segera melerai mereka "Eh eh apa yg kalian lakukan, jangan kelahi di sini."
Addy menghempaskan tubuh Adam ke belakang "Hey berani sekali kamu..." Rahel menahan tubuh Adam yg mencoba mendekat pada Addy "Sini kamu siapa takut.." ucapan Addy membuat Adam sangat marah namun semakin ia mendekat maka semakin Rahel menahannya "Rio udah, jangan gini dong."
Adam berhenti lalu menunjuk Addy "Kamu lihat peria yg gak tau sopan santu ini, aku hanya membuka pintu untuknya ia langsung menatap ku dengan amarah bahkan ia menarik leher baju ku." Rahel mencoba menenangkan Adam "Udah-udah, kamu ulek capek aja di dapur, biar nanti kita langsung makan, aku mau bicara dengannya sebentar." Adam menatap mata Rahel "Tapi dia.."
Rahel menatapnya sambil memohon agar peria itu mau menuruti perintahnya "Rio ayolah.." Adam menghela napas pelan "Baiklah aku akan mengulek cabai di dapur ." Ia pun segera pergi dan pada Rahel berbalik matanya bertatap-tatapan dengan Addy "Sekarang jelaskan pada ku siapa dia."
Rahel pun mengajak Addy masuk ke rumahnya dan duduk sambil membicarakan masalah ini "Jadi tadi sore aku ingin memberi tau mu, tapi ketika melihat adik dan anaknya pak kepala desa di samping mu aku mengurung niat ku karna tak mau mengganggu mu dan berencana memberitahumu besok tapi tak ku sangka kamu datang ke rumah ku malam ini."
Rahel pun mulai menjelaskan "Jadi kejadian ini sudah dua minggu yg lalu pada saat aku menemukanya tersangkut di batang kayu mati yg tersangkut di pinggir sungai dan aku menolongnya , di bagian kepalanya mengalami luka yg tidak terlalu dalam namun panjang ia menerima 5 jahitan dan sepertinya karna luka bagian kepalnya ia mengalami hilang ingatan, aku sama dua minggu ini mencari tau berita yg membahas orang hilang siapa tau ada keluarganya yg mencarinya tapi aku tak menemukanya sama sekali.
Dan aku mau meminta bantuan mu untuk membantu melapor ke polisi supaya ia segera dia antar ke orangtuanya, kasihan dia tak ada yg mencarinya mungkin karna mereka gak tau atau mereka sengaja, tapi kita harus tetap memulangkan ke orang tuanya."
Addy menatap mata Rahel "Apakah aku harus percaya pada perkataan mu??" Rahel mencoba meyakinkannya "Tentu saja kamu harus percaya aku tidak berbohong apa yg aku katakan ini adalah kenyataan." Addy berpikir sejenak.
'Jika aku tak membantunya para warga pasti akan salah paham dan menghakiminya dan jika aku membantunya apakah semua akan berjalan dengan baik.' Setelah berpikir cukup lama akhirnya Addy memutuskan untuk membatu Rahel "Baiklah aku akan membantumu..."
Rahel yg mendengar hal itu begitu bahagia dan tanpa sadar memeluk Addy "Terima kasih." Sedangkan Addy terdiam wajahnya berubah merah.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments