Setelah makan Rahel pun mulai melap basah di dalam rumah dan setelah selesai ia beralih ke dapur selesai ia kembali merapikan barang dapur dan mencuci piring serta mencuci baju dan ia baru selesai jam 10 malam, ia kembali ke kamar dan rupanya Adam sudah tidur ia membuka tikar miliknya jauh dari Adam lalu ia tidur di sana.
Paginya seperti biasa Rahel terbangun di pagi hari untuk membuat pekerjaan rumahnya ,namun berbeda dengan hari ini ia merasa kaki dan pinggangnya seperti ada membebaninya, ia perlahan membuka matanya dan bertapa terkejutnya apa yg ia lihat.
Di depannya wajahnya terlihat wajah Adam walau lampu sudah mati tapi cahaya bulan yg masuk melewati selah-selah kecil rumah Rahel yg membuat wanita itu dapat melihatnya ia menahan suaranya dan bergumam dalam hati ' Kenapa dia bisa ada di sini, bukanya tempat ku sudah sangat jauh dari tempatnya.' Rahel pun perlahan meluruskan tubuhnya lalu menjauhkan tangan kekar pria itu dari pinggangnya setelah selesai perlahan ia memindah kan kaki peria tadi, ia berbicara dengan suara kecil "Akhirnya sudah lepas."
Pada saat dia akan bangkit berdiri tangan kekar itu kembali menariknya ke bawah dan membuatnya ia terhempas ke bawah yg membuat ia merasakan sakit pada bokongnya yg terhempas ke lantai lalu adam pun menarik Rahel ke dalam pelukannya yg membuat ia sangat sulit untuk bergerak.
Dengan suara yg kecil"Bagai mana ini, aku tak bisa bergerak." Dan Rahel hanya bisa pasrah sambil menunggu adam terbangun dan kamar itu mulai hening karna tubuh mereka yg menempel membuat Rahel dapat mendengar suara jantung Adam dan hal itu membuat ia mengantuk lagi dan kembali tidur. Ia terbangun karna wajahnya terkena cahaya matahari yg masuk dari celah atas jendela dan pada saat sudah membuka mata tubuhnya masih di peluk dan bahkan kali ini seperti bibir adam mengenai pipinya sontak ia berteriak "Aaaaaaa."
Sontak Adam terbangun dari tidurnya lalu melepas peluknya, Rahel bangkit dari barangnya "Apa yg kamu lakukan dasar manusia cabul." Adam menjadi kebingungan
"Siapa yg cabul, dimana dia biar aku hajar." Rahel dengan kesal berteriak "Kamu manusia cabulnya...."ia segera berlari ke laur dari kamar dan segera ke dapur, sedangan Adam masih memikirkan Apa kesalahannya sebenarnya.
Di luar Rahel segera ke dapur dan pada saat ia lihat jam untung masih jam 6 pagi dan ia mulai memasak sayur dan setelah selesai ia menaruhnya ke dalam lemari lalu ia membuat nasik lagi, sambilan menunggu ia menyapu rumahnya dan menjemur baju di teras rumah, namun ia masih dalam kondisi memikirkan apa yg sebenarnya terjadi semalam dan apa yg harus ia lakukan pada adam yg bahkan tak mengingat keluarga atau namnya sendiri.
Adam keluar kamar lalu menghampiri Rahel di teras rumah "Maaf soal semalam, aku baru mengingatnya dan aku waktu itu tidak sengaja melakukanya " Rahel menoleh kebelakang "Jelaskan pada ku apa yg sebenarnya terjadi??" Adam pun bercerita apa yg terjadi semalam.
Semalam ia tiba-tiba terbangun entah jam berapa namun pada saat itu lampu masih menyala dan ia sangat haus, ia berencana ke dapur untuk mengambil minum dan pada saat dia akan berdiri tiba-tiba lampu mati, ia mulai ketakutan "Ada apa ini kenapa lampunya mati."
Ia melihat sekeliling kamar yg gelap hingga berhenti di sebuah sudut terlihat sangat gelap , pikiran Adam sudah tak karuan dan tak peduli lagi larangan dari Rahel ia langsung menghampirinya lalu baring di sampingnya, namun tak semudah itu bisa tidur ia kembali terbangun karna mendengar suara semak-semak di luar "Sepertinya aku tak akan bisa tertidur malam ini."
Tiba-tiba Rahel menyampingkan tubuhnya dan wajah mereka saling berhadapan namun melihat wajah Rahel membuat rasa takutnya mereda, setelah rasa takutnya menghilang perlahan ia menguap karna mengantuk dan setelah cukup lama menguap akhirnya dia tertidur.
"Seperti itu lah yg terjadi semalam. Aku harap kamu bisa memaafkan aku." Windi menatap sinis Adam "Badan aja yg gede, tapi mental cuman sebesar biji jagung." Rahel ke dalam lalu Adam pun mengikutinya dari belakang "Apa ada yg bisa aku bantu untuk mu??"
Tiba-tiba Rahel menyerahkannya sebuah ember yg berisi ikan asing "Kamu naik ke atas genteng lalu jemur ini, di depan ada tangga kamu naik saja.
" Sebenarnya Adam ingin memberitahu Rahel lalu dia tak bisa melakukanya namun wanita itu sudah pergi ke dapur lagi , dengan terpaksa ia pergi ke luar sedangkan windi kembali memeriksa nasik di dapur sambil mencuci baju milik Adam yg belum sempat di cuci semalam
"Dasar pria aneh, dan ini baru pertama kalinya aku melihat peria yg penakut seperti dia, semoga aja nanti jodohku gak kayak dia." Tiba tiba terdengar suara teriakan dari luar, sontak Rahel berlari ke luar dengan tergesa-gesa.
Hal yg pertama kali ia lihat adalah, tangga kayu yg biasa ia gunakan untuk naik ke atas genteng terjatuh ke bawah sedangakan di atas Adam masih belum turun "Astaga, kok bisa sih??" Adam yg kesal berbicara "Gak tau , sekarang cepat angkat lagi tangganya aku takut ketinggian." Rahel tertawa .
"Malas ah, mending kamu lompat aja orang gak terlalu tinggi." Adam melihat ke bawah , rupanya tidak terlalu tinggi ia pun menguatkan hatinya agar biasa melompat namun pada saat ia berdiri kepalnya tiba-tiba pusing dan ia mulai tak bisa menyeimbangkan tubuhnya, Rahel yg melihat hal itu menjadi panik.
"Eh..eh..,apa yg terjadi pada mu." Tiba-tiba Adam jatuh dan Rahel dengan bodohnya malah akan bersiap menangkapnya dan Adam pun terjatuh menimpanya untungnya pada saat mereka terjatuh di lantai Adam langsung merangkul tubuh Rahel ke pelukannya dengan mengunakan tangan kanannya dan membuat posisi jatuh mereka menyamping sehingga yg menimpa lantai adalah lengan kirinya Adam.
Rahel yg tadinya menutup mata sadar bawa ia tak merasakan sakit apa pun langsung membuka matanya, rupanya dia berada di pelukan Adam sontak ia mendorong tubuh Abraham lalu ia terlepas dari pelukannya namun Adam merintih kesakitan karna dadanya di dorong keras "Maaf kan aku." Rahel bangun dari posisi baringnya lalu membatu Adam untuk duduk "Apa mu yg sakit biar aku obati."
Adam memegang dadanya "Dada ku yg sakit." Rahel yg mendengar hal itu menjadi merasa bersalah "Maaf, aku tak sengaja." Rahel tanpa sadar memegang dada Adam dan mengelusnya pelan, dan Adam yg di perlakukan seperti itu membuat hatinya berdebar kencang, sedangkan Rahel masih terus mengelus dadanya.
"Maafkan aku, apa kita perlu memeriksa ke mentri." Rahel pun menatap wajah Adam dan terlihat wajahnya yg memerah, Rahel terkejut dan bertanya "Apa wajah mu sakit juga." Ia melepas tanganya dari dada Adam dan berusaha menggapai wajah Adam namun peria itu langsung mengalihkan pandanganya ke samping.
"Wajah ku tidak papa, mungkin ia merah karna terkena panas mata hari pada saat dia atas genteng." Padahal pada saat ia menjemur ikan tadi ia tak kena sinar mata hari sama sekali karna tertutup pohon karet yg sudah tinggi.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments