TR 08

Setelah mencuci baju dengan Adam ia dengan santainya ia menjemur baju beserta celana dalam pria itu dekat barang pribadi miliknya dan Adan yg melihat hal itu hanya bisa mengalihkan pandanganya karna wajahnya kembali memerah, Rahel yg melihat Pria yg sedari tadi duduk di depan pintu itu terus memalingkan wajahnya, menjadi kesal.

"Kenapa kamu dari tadi memalingkan wajah mu??" Adam menoleh pada Rahel "Gak apa kok, hanya saja aku merasa ketidaknyamanan." Rahel menatap bingung padanya "Tidak, nyaman kenapa??." Adam mengalihkan pembicaraan "Karan aku tak memakai itu..." Rahel kembali bertanya.

"Itu apa??" Adam masih tak mau mengatakan hingga Rahel pun menebak satu persatu "Perban di kepala mu." Adam menjawab "Bukan, pakai itu.." Rahel membeli menebak "Kamu tak nyaman mengunakan baju itu??" Adam menjawab "Bukan.." Rahel pun berpikir dan ia pun menemukan jawabnya dengan suara yg besar ia bicara "Celana dalam."

Adam tak menjawabnya sama sekaki seolah-olah itulah jawabannya, Rahel kembali berbicara "Tapi aku tak punya celana dalam peria, apa kamu mau memakai celana dalam milik ku saja sementara."

Adam yg mendengar hal itu dibuatnya melongok "Apa kamu gila, meminta ku memakai celana dalam milik mu." Rahel menjawab "Oh jadi kita perlu beli, kalok gitu aku lihat dulu ukuran mu."

Rahel dengan santai mengambil CD milik Adam dan mencari-cari ukuranya, sedangkan Adam yg melihat hal itu menjadi malu. Dan Rahel pun menemukan ukuranya "Oh jadi ukuran celana dalam milik mu XL. Kalok gitu tunggulah sebentar aku ambil uang dulu sekalian kita ke pak Mentri."

Rahel pun masuk ke dalam rumah dan mengambil uang di tabungannya yg di simpan di sebuah kotak kayu yg ia kunci dengan gembok, rupanya uang yg ia punya lumayan banyak yg ia simpan untuk merenovasi rumahnya nanti, setelah mengambil sebanyak 500 ribu ia pun kembali menaruh tabungannya ke dalam lemari.

Ia mengambil hpnya dan menaruh uang tadi ke dalam dompet kecil miliknya tidak lupa ia mengunci pintu kamar dan pintu dapur lalu ia ke luar.

"Ayo kita pergi."Adam menoleh pada Rahel "Kita naik pakai apa???" Rahel menjawab "Pakai jet lah." Adam pun menutup pintu rumah lalu Rahel pun memberikanya sendal "Pakai sementara Sendal ku."

Adam pun mengunakan sendal tersebut dan pada saat mereka turun dari tangga Rahel langsung ke bawah kolong untuk mengambil sepedanya , dan Apa yg di pikir Adam serta yg datang tidak sesuai dengan apa yg ia pikir "Ini Jetnya??" Rahel mengangguk sambil menepuk tempat duduk sepeda ontel miliknya "Bagus kan." Adam menjawab "Gak."

Rahel yg mendengarnya menjadi kesal "Yasudah, kamu jalan kaki aja aku naik sepeda." Pada saat Rahel menaikinya dan akan mengayuhnya Adam langsung menahannya "Eh tunggu dulu, aku juga ikut." Rahel menjawab "Kamu jalan aja, katanya Jet dia ngambek katanya kamu bilang dia gak bagus, jadi dia gak mau menggoncang kamu."

Adam pasrah "Iya iya dia keran , sekarang aku udah bisa naik kan??" Rahel mengelus sepedanya "Jet apa ia sudah boleh naik..." dan dia sendiri yg menjawab "Kata Jet kamu boleh naik, asal..." Adam menjawab "Asal apa??" Rahel tersenyum lalu menjawab.

"Asal kamu yg goncang." Adam yg mendengar hal itu seperti di permainkan oleh seorang gadis desa yg licik "Iya iya..." dengan terpaksa Adam menggoncang Rahel sedangkan wanita itu tanpa dosanya ia tertawa atas kemenangannya.

*

*

*

*

*

Sedangkan di rumah Adam semua orang kini menanti kabar dari polisi yg mencari keberadaan Adam, karna setelah orang tuanya mendapat pesan Adam mereka mulai terus menelfon namun tak ada jawaban, lalu mereka memutuskan menelfon Sahabatnya, dan jawaban Abel 'ia tidak ke rumahnya kemarin.'

Orangtuanya yg sudah panik kembali menelfon Fitri siapa tau dia ada bersamanya namun jawaban Fitri sama ia tak bersamanya, Ibu Adam Mariam Jons beserta Ayahnya Dion satria Jons memutuskan untuk melapor pada polisi namun sampai pagi ini belum ada informasi yg di dapat polisi.

Di ruang tamu Ibu Adam Mariam masih terus menangis dan di sebelahnya Fitri yg mencoba menenangkannya "Mama sabar yaa, Fitri yakin Adam pasti akan ketemu, percaya saja dengan polisi." Mariam menjawab dengan air mata yg tak henti mengalir dari sudut matanya "Bagai mana mama bisa tenang sayang, dia satu satunya putra mama."

Fitri memeluk Ibu mertuanya itu dan sudut matanya mengeluarkan Air mata buaya, sedangkan Ayahnya juga membantu Fitri untuk menenangkan istrinya "Sayang sudahlah, percayalah anak kita pasti tidak papa, kita hanya perlu percaya pada kepolisian dan terus berdoa pada tuhan supaya putra kita selalu di lindungi."

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan seorang pembantu langsung membukanya , rupanya yg datang adalah Abel dan polisi yg menyelidiki kasus Adam mereka terlihat sedih terlebih Abel yg terlihat berusaha menahan air matanya, mereka yg tadinya duduk di ruang tamu kini segera menghampiri para polisi tadi.

"Bagai mana dengan anak kami tuan??" Para polisi itu terlihat sedih dan menjawab "Kami sudah mencari keberadaan anak anda dan kami menemukan mobilnya terparkir jauh dari kota dan berada di tengah hutan sudah hangus terbakar dan di duga Jasad Tuan Adam sudah terbakar hangus di dalam mobilnya, dan kami menemukan surat terakhir ini di rerumputan, ini surat terakhir dari anak tuan Dion ."

Polisi itu menyerahkan sepucuk surat, ibu Adam segera mengambil surat tadi lalu membacanya ia tak kuasa menahan tangisnya membaca surat itu, hingga kehilangan keseimbangan dan pingsan.

Untung saat itu Ayah Adam langsung menangkap istrinya, dia pun di bawa ke kamar. Di kamar Fitri dan Dion terus menjaga istrinya yg sudah pingsan selama setengah jam, sedangkan Fitri masih terus mengeluarkan Air mata buaya supaya ia tidak di curigai dan Akting mereka berhasil, Fitri memegang tangan Calon Ayah mertuanya itu.

"Apa papa lapar, papa sudah dari kemarin belum makan." Dion menoleh Fitri yg sudah di anggapnya putri sendiri itu "Tidak nak, papa tidak lapar." Fitri memegang erat tangan Calon Ayah mertuanya itu "Papa harus makan, nanti kalok papa tidak makan entar sakit bagai mana Mas Adam bisa tenang di sana jika melihat papa begini."

Dion merasa tenang "Baiklah." Fitri tersenyum pada saat ia berdiri tiba tiba tanganya di pegang oleh Dion, lalu ia kembali menoleh Pada calon Ayah mertuanya itu "Makasih yah nak, kamu juga yg sabar yah" Fitri tersenyum kecut lalu segera pergi, di luar ia langsung meminta pelayan untuk mengantar kan makanan untuk taunya di atas.

Tiba tiba seorang pembantu memangil dia katanya Abel mencarinya dan ingin bicara sebentar padanya, ia dengan terpaksa keluar dari rumah dan menemui Abel yg menunggunya dari tadi di dalam mobil, dengan suara yg kecil ia berbicara.

"Ada apa sayang??" Abel langsung mengecup bibirnya "Gak papa, aku lagi rindu sama bibir manis mu saja." Fitri menatap kekasihnya itu "Tapi jagan sekarang, nanti kita ketahun.

Kamu gak mau di penjara kan??" Abel mengangguk "Tenang saja sayang, mobil yg ku bawa kacanya itu sudah hitam jadi kita takan terlihat dari luar."

Fitri tersenyum "Benarkah??" Fitri pun langsung menyambar bi*ir kekasihnya itu dan tanpa mereka sadari seorang tukang kebun mendengar semuanya ia mungkin tak dapat melihat apa yg mereka lakukan di dalam namun ia bisa mendengar pembicaraan mereka.

Bersambung....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!