Malamnya mereka pun menceritakan niat mereka sebenarnya datang ke kota untuk apa pada sari dan suaminya yg baru saja pulang kerja, mereka yg berbicara di ruang tamu.
"Untuk tante Sari dan Om lukas windi sangat berterima kasih kepada kalian karna memperbolehkan saya dan Rio menginap di sini, jadi niat Rahel sebenarnya datang ke sini mau melapor ke polisi atas temuan seorang peria tanpa identitas dan saya menemukanya waktu itu dengan tubuh yg tersangkut di batang kayu di sungai yg sering saya gunakan untuk mandi, kondisinya pada saat kejadian sangat lemah dan saya segera memberinya pertolongan pertama saat itu, pada saat dia sadar dia tak mengingat namnya dan tempat tinggalnya karan luka pada kepalanya yg membuat ia mengalami amnesia atau hilang ingatan lah kata pak mentri, oleh karan saya tak tau identitas aslinya jadi saya memberi nama Rio padanya."
Mereka yg mendengar penjelasan Rahel menjadi iba pada Adam "Kasian pada anak muda ini, nanti kami akan usahakan untuk membantu." Adam mereka pun memeluk Adam setelah itu mereka pun mulai berbicara pada Rahel lagi "Tapi kenapa kamu gak kasih tau orang desa saja."
Rahel menjawab dengan santai "Mana saya mau entar dia malah di bilang orang gila lagi. Solnya di kampung sudah banyak orang gila dari desa tetangga yg datang ke kampung dan membuat kerusuhan, sampai ada orang gila yg tidak di ketahui asal usulnya di telantarkan gitu aja akhir-akhirnya mati karna kelaparan, dari rumornya ada bantuan dari pemerintah buat itu orang gila untuk rencananya di bawa berobat ke rumah sakit Jiwa tapi sampai itu orang gila mati mana ada di bawa berobat itu uangnya pasti di bagi bagi sama aparat Desa."
Mereka yg mendengar hal itu sangat menyayangkan perbuatan aparat desa yg tidak bertanggung jawan itu "Pantas aja desa kita itu gak ada maju-majunya, aparatnya korupsi gini semua sih."
Rahel mengangguk setuju dengan perkataan Sari dan Lukas pun mulai berbicara "Lalu bagai mana, kapan kita ke kantor polisi." Rahel menjawab "Besok aja, lebih cepat lebih baik." Peria itu terkejut "Kalok besok om gak bisa antar karna om harus kerja, jadi tante mu aja yg antar, kalok aja lusa mungkin om bisa bantu karna lusa tanggal merah."
Rahel tersenyum dan menjawab "Gak papa om, kan cuman tinggal pergi lapor terus kasih tinggi dia di Kantor polisi kan udah, ada tante aja sudah membantu banget." Rahel begitu percaya diri bahwa bahwa itu mudah dan akan selesai cepat.
*
*
*
*
*
Keesokannya sepulang dari kantor polisi mereka begitu putus asa dan tak tau apa yg harus mereka lakukan pada Adam realita yg terjadi di kantor polisi tidak sesuai dengan harapan mereka juga.
Pagi -pagi mereka di telfon oleh bik Anisa katanya kemarin rumah Rahel di gerebek warganya katanya mereka mendapat laporan dari pak Edi dan Kepala Desa mereka Pak Andre bawa Rahel membawa peria asing menginap di rumahnya dan bahkan belum ada ikatan pernikahan dan Bik Anisa juga Penasaran dan bertanya langsung pada Rahel, gadis itu pun menjelaskan segalanya pada Bik Anisa sehingga membuat wanita itu iba dan berharap masalah ini cepat selesai.
Di kantor polisi pada saat mereka melapor mereka malah di pindahkan dan di tertawakan.
"Hey adik berhenti membual, ini bukan kisah sinetron. Dan jika peria ini mengalami Amnesia mana surat dari dokter yg menyatakan ia mengalami amnesia." Rahel menggeleng "Tapi kata pak mentri tempat saya dia Amnesia."
Polisi itu tertawa " Hahaha, mungkin mentri di kampung mu itu hanya bercanda pada mu." Rahel menatap polisi itu kesal "Saya gak bohong mungkin saja orang yg saya selamatkan ini adalah orang kaya, buktinya dia punya jam mahal."
Ia menunjukan jam Adam namun mereka malah menertawainya "Astaga dek jaman sekarang jam KW yg bentukannya kayak gitu juga banyak, di pasar paling harganya cuman 200 ribuan. Sekarang kalian pergi saja sana,mengganggu waktu istirahat saya saja."
Rahel yg kesal langsung menarik Adam pergi di ikuti sari.
Dan itulah serangkai peristiwa yg terjadi di kantor polisi yg membuat mereka pulang dengan sia-sia dan kali ini di ruang tamu "Apa yg harus kita lakukan, polisi itu tak percaya dan kita malah di usir, kalok kita kembali ke kampung kita pasti akan di usir dari kampung."
Adam terlihat berpikir sedangkan Sari tak sengaja berbicara "Coba saja kalian nikah aja, kalian kayanya cocok." Rahel yg mendengar ide gila itu "Kenapa gak kepikir dari tadi mending nikah aja, jadi selama kita menikah maka otomatis tak ada orang yg akan memarahi kita bersama dan tak ada lagi peria di kampung yg ngejar-ngejar aku."
Adan menatap aneh Rahel dan bergumam dalam hati 'Ni orang kok berpikir sempit begini, dia pikir ini dunia sama kayak sinetron.' Ia menjawab perkataan Rahel "Gak usah hel, lagian nanti kalok aku dah ketemu orang tua kandung ku kamu nanti bagai mana??" Rahel dengan santai menjawab "Yah aku biarin lah kamu kembali ke orang tua mu, apa susahnya." Abraham menepuk jidatnya "Astaga bagi mana kalok aku sebenarnya sudah menikah dan mempunyai anak, dan bagai mana kalok aku ini anak seorang penjahat yg dimana aku akan memiliki pemikiran jahat suatu saat nanti pada mu."
Gadis itu masih santai menjawab "Eh tenang saja, kamu hanya perlu jaga jarak bukan."
Sari menyesal karna memberi ide bodoh pada Rahel "Benar apa kata Rio hel, kita juga belum tau asal usulnya dan jika kamu menikahinya dan terjadi sesuatu pada mu bagai mana." Rahel meyakinkan Sari "Tante tenang saja Rahel akan aman kok, lagian dia ada di rumah sangat membatu ketika Rahel pergi kerja dia ada jaga rumah."
Namun karna Rahel masih bersikeras ia terpaksa mengiyakan "Baiklah aku mengerti, tapi kita tetap menjaga jarak seperti biasa." Adam menyerahkan tanganya dan Rahel dengan senang hati menerima uluran tangan itu "Dil yah..." Rahel tersenyum.
Dan benar saja keesokannya mereka menikah namun hanya secara Agama dan yg menjadi saksi pernikahan itu adalah Sari ,Lukas yg menjadi orang tua dari Rahel dan tetangga mereka yg menjadi orang tua dari Rio dan pernikahan itu hanya terjadi secara sederhana dan cincin yg mereka pakai di beli dari sisa uang tabungan Rahel .
Setelah pernikahan singkat itu kini mereka pergi ke sebuah toko jam mahal untuk menukar jam Adam "Hey Rio kok gua ragu yah, kalok jam lu itu palsu bagai mana nanti, malu-maluin lah kalok di dalam."
Adam mencoba meyakinkan Rahel "Percaya aja sama insting ku, kamu mau uang gak??" Wanita cantik itu mengangguk "Makanya ikut aja." Mereka pun sampai di toko jam yg mereka tuju dan segera masuk.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments