BAB 18. DWARF

Terowongan yang Kirt lalui terus menanjak naik dan ia memperhatikan lapisan tanah serta bebatuan di sana meskipun Kirt tidak terlalu mengerti dengan jenis tanah tapi Kirt tahu ia semakin dekat dengan permukaan karena di sana ada sebuah akar pohon yang kemungkinan berasal dari pohon yang tumbuh di permukaan yang menembus ratusan meter ke dasar bumi.

Kirt kembali membuat obor dari beberapa kayu yang ia temukan di sekitar gua kemudian membungkus ujung batang kayu itu dengan kain lalu melumurinya dengan cairan minyak yang ia bawa.

Sumber cahaya sangatlah penting ketika berada di kedalam gua karena kegelapan itu sangatlah menyiksa mental bahkan Kirt pernah mendengar banyak penambang yang memilih bunuh diri saat terjebak dalam kegelapan gua yang tidak ada cahaya sedikitpun.

Kirt menatap di kejauhan lorong dengan penuh kewaspadaan karena ia merasakan ada sesuatu di balik kegelapan itu, Kirt dapat mengetahuinya karena mendengar suara seperti ada mahkluk yang sedang menggali tanah dengan cakar mereka.

"Goblin, kurasa bukan karena tidak mungkin goblin menggali dengan kuku mereka karena mereka dapat membuat serta menggunakan peralatan sederhana dari kayu dan batu." Ucap Kirt yang penasaran mahkluk apa yang ada di sana.

Suara yang Kirt dengar tiba-tiba menghilang dan Kirt langsung menancapkan obornya di dinding gua kemudian pergi menjauh bersembunyi di balik kegelapan karena ia tahu monster itu akan segera datang mendekat karena tertarik dengan cahaya obor miliknya.

"Molepax monster tikus tanah raksasa yang biasa hidup di dalam bumi tak aku sangka dapat melihat monter yang sangat langka itu." Ucap Kirt saat melihat monster tikus tanah itu mendekat ke cahaya dari obor yang Kirt tinggalkan.

Kirt tahu mengenai monster tikus tanah raksasa karena membaca buku mengenai monster yang tercatat di guild petualang dan di tuliskan bahwa molepax hampir buta karena ia lebih mengandalkan penciuman serta getaran untuk bergerak di dalam gua yang gelap.

Tubuh tikus Molepax hampir seukuran pria dewasa dengan bentuk hampir bulat dan cakar besar yang terlihat sangat berbahaya di ke empat kakinya, Meskipun molepax di katakan menyukai umbi dan akar tanaman tapi di catatan juga tertulis kalau mereka juga memakan daging.

"Kurasa tidak mungkin menghindari monster itu karena ia menghalangi jalanku, lagi pula sepertinya daging monster itu dapat di konsumsi." Ucap Kirt yang memutuskan untuk memburu monster tikus yang ia lihat itu.

Kirt Johan memegang pedangnya karena memiliki jangkauan yang lebih baik dari pada kedua pisaunya.

Terlihat Molepax itu mulai mencari mahkluk yang meninggalkan obor yang menyala di sana dan monster tikus itu mulai mengendus mendekat ke tempat Kirt bersembunyi.

Sebuah tusukan pedang langsung menghujam ke arah tubuh monster tikus itu karena Kirt memang sengaja bersembunyi dengan diam di sudut dinding gua dan menunggu untuk menyergap monster itu.

Meskipun Molepax terkena serangan kritis tapi monster itu masih sempat moronta mencakar dada Kirt cukup dalam hingga Kirt langsung melompat ke belakang untuk menjaga jarak.

"Akk sial monster ini lebih tangguh dari yang aku duga!" Ucap Kirt yang juga terluka.

Molepax yang terluka langsung mengeluarkan suar keras yang melengking dan lorong-lorong gua membuat suara itu memantul beberapa kali.

Kirt Johan tidak merasakan efek apapun dari suara itu yang menandakan itu di buat bukan untuk menyerang atau mempertahankan diri tapi tak lama kemudian beberapa suara getaran tanah terdengar dan Kirt langsung menyadari situasinya semakin berbahaya untuknya saat seekor monster Molepax lain muncul dari lubang di dinding gua.

"Jadi suara itu untuk memanggil bantuan." Ucap Kirt yang masih bersiaga dengan pedangnya.

Seekor monster Molepax yang baru muncul langsung berlari dan melompat untuk menyerang Kirt dengan cakar besar yang biasa monster tikus itu gunakan untuk menggali.

Kirt langsung bergerak cepat untuk menghindari serangan monster Molepax itu tapi kemudian dua ekor monster yang serupa muncul lagi dari dalam tanah.

"Sial aku tidak mungkin dapat menghadapi semua monster itu sekaligus!" Kata Kirt karena ia masih merasa beberapa suara getaran dari dalam tanah yang kemungkinan akan ada lebih banyak monster Molepax yang datang.

Kirt kemudian langsung mengambil obor yang sebelumnya ia tancapkan di dinding gua kemudian mencoba kabur dari kepungan monster yang sudah menargetkannya di sana.

Kirt terus berlari karena sekawanan monster tikus tanah yang mengejarnya pasti akan dapat menemukannya dengan mudah bila ia mencoba bersembunyi di dalam kegelapan.

Luka di dada Kirt semakin terasa sakit dan tubuhnya juga semakin melemah karena kehilangan cukup banyak darah tapi Kirt melihat sesuatu tidak jauh di depannya, Sebuah cahaya terlihat bersinar di sebuah bangunan yang seperti benteng yang sangat kokoh memblokir lorong gua itu.

Kirt segera berlari menuju pintu dari bangunan itu karena hanya tempat itulah satu-satunya harapan Kirt untuk dapat meloloskan diri dari sekelompok besar monster Molepax yang mengejarnya.

"Buka pintunya siapa saja yang di dalam cepat buka pintunya!" Kirt berteriak sambil menggedor-gedor pintu besi itu agar di ijinkan masuk ke balik benteng yang terkunci dari dalam itu.

Tidak ada jawaban dari panggilan Kirt Johan yang terjebak karena monster Molepax dalam jumlah besar semakin mendekat dari lorong gua di belakang Kirt tapi tak lama kemudian tiba-tiba pintu itu terangkat membuka dan sebuah suara terdengar dari dalamnya.

"Cepat masuk aku tidak dapat menahan pintu berat ini selamanya!" Teriak seorang yang berada di dalam bangunan itu sesaat sebelum serbuan monster Molepax sampai di sana.

Kirt langsung menerobos masuk ke dalam dan pintu besi itu yang langsung terjatuh kembali menutup menghalau serbuan momster Molepax yang mencoba merusaknya dengan cakar tapi benteng dan pintu itu di buat sangat kokoh untuk menghalau serangan monster seperti Molepax.

Kirt terbaring dengan nafas yang terengah-engah setelah berhasil lepas dari masalah dan akhirnya seorang yang telah menyelamatkan nyawa Kirt muncul mendekatinya.

Seorang pria dari ras Dwarf yang bertubuh pendek dengan ciri khas kumis dan janggut yang di panjangnya terlihat.

"Manusia sedang apa kamu di tempat berbahaya seperti ini?" Tanya Dwarf itu kepada Kirt.

Kirt mengerti mengapa Dwarf itu terlihat heran dengan kemunculan manusia di gua Dwarf yang terbengkalai ini karena ras Dwarf sangat merahasiakan tempat mereka dari ras lain terutama manusia.

"Paman sebelum saya menjawabnya, saya ucapkan terimakasih karena telah menyelamatkan nyawa saya." Ucap Kirt karena ia harus berterima kasih pada Dwarf yang berada di sana.

"Sudah kewajiban menolong orang yang dalam kesulitan jadi jangan pikirkan hal itu lebih baik kita segera merawat lukamu." Ucap Dwarf itu yang terlihat bersikap baik kepada manusia yang ia selamatkan karena Dwarf itu merasa kalau ucapan terimakasih dari manusia itu menunjukkan kalau dia adalah orang yang baik.

Kirt Johan beristirahat untuk merawat lukanya dan Dwarf di sana membantu kirt membersihkan luka di dada Kirt dengan air hangat kemudian membungkusnya dengan perban.

"Lukanya memang cukup dalam tapi tidak sampai mengenai organ vital jadi kamu akan selamat." Ucap Dwarf itu kepada Kirt yang terduduk mendapatkan sedikit perawatan dari Dwarf itu.

"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih karena bahkan anda mau membantu merawat luka di tubuhku?" Ucap Kirt yang kembali berterima kasih.

"Huh, sudahlah dan sekarang bisakah kamu mengatakan siapa dirimu dan dari mana kamu berasal?" Tanya Dwarf itu.

"Nama saya adalah Kirt Johan seorang petualang dari Silmarin." Jawab Kirt.

"Silmarin bukankah itu kota di tanah padang rumput Tandora jauh di selatan lalu mengapa petualang sepertimu bisa muncul di sini di lorong bagian belakang dari reruntuhan kota milik leluhurku, apakah kamu berniat mencari harta yang tertinggal di sini?" Ucap Dwarf itu yang terlihat tidak terlalu senang karena Kirt adalah petualang manusia.

"Benar saya memang kemari untuk mencari harta dari reruntuhan kota Dwarf yang di tinggalkan karena kelas petualang saya adalah Thief yang berspesialis untuk hal seperti itu, apakah anda keberatan dengan tujuan saya?" Ucap Kirt Johan karena terlihat jelas ketidak senangan Dwarf itu atas tujuan Kirt tapi Kirt tidak berniat menyembunyikan hal itu padanya.

Dwarf di sana terlihat membuang nafas kemudian duduk bersila berbicara pada Kirt.

"Huh.. tidak aku tidak akan dapat menolak tujuanmu karena memang kota bawah tanah yang tidak jauh dari tempat ini telah lama di tinggalkan oleh penghuninya dan siapa saja dapat kesana untuk mengambil semua harta yang sudah tidak ada pemiliknya itu." Jawab Dwarf itu dengan jujur meskipun penyesalan masih tampak di wajahnya.

"Oh iya tadi paman Dwarf mengatakan kalau kota itu sudah tidak berpenghuni, lalu mengapa paman bisa berada di tempat ini?" Tanya Kirt karena terlihat Dwarf itu terdiam beberapa saat.

"Tujuan kami sebenarnya tidak jauh berbeda dengan dirimu tapi seperti yang kamu lihat sekarang aku telah gagal mendapatkan apa yang kami cari dan hanya mendapatkan beberapa barang bodoh di sana." Ucap Dwarf itu sambil menunjuk ke arah sejumlah harta yang menurut Kirt itu sangatlah banyak.

"Tapi bukankah semua harta itu cukup berharga?" Ucap Kirt.

"Kalau hanya emas kami tidak akan repot-repot mempertaruhkan nyawa datang ke tempat berbahaya ini karena yang kami inginkan adalah benda yang lain yang jauh lebih berharga dari semua itu." Jawab Dwarf itu membuat Kirt sangatlah penasaran sebenarnya apa yang di cari oleh Dwarf di depannya.

"Benarkah demikian, apakah ada benda lain yang jauh lebih berharga di reruntuhan kota itu?" Tanya Kirt.

"Yang kami cari sebenarnya adalah buku-buku catatan tentang tehnik pembuatan senjata dan rune milik leluhur kami yang kemungkinan masih tertinggal di tempat itu karena banyak tehnik penempaan Dwarf kuno yang sudah menghilang membuat kerajaan Dwarfen pegunungan Wiwardin yang sekarang mengalami banyak kemunduran semenjak di pindahkan ke sebelah timur beberapa generasi yang lalu." Jawab Dwarf itu.

"Jadi yang anda cari hanyalah buku, tapi anda tadi mengatakan kami berarti anda tidak sendirian bukan lalu di mana rekan-rekan anda?" Tanya Kirt Johan.

"Sebelumnya aku Grigorin adalah salah pandai besi di kota Dwarfen yang di pimpin raja Hulgorin tapi aku dan semua pandai besi di kota gagal menyelesaikan sebuah permintaan untuk membuat senjata dengan ukiran rune seperti yang di buat oleh leluhur kami yang kini menjadi harta kerajaan, jadi kami sebagai pandai besi Dwarf merasa malu kemudian aku dan lima Dwarf rekanku pergi ke reruntuhan kota leluhur kami di sini guna mencari petunjuk tehnik yang hilang itu tapi.." Terang Grigorin yang menghentikan ceritanya karena merasa bersalah.

"Tuan Grigorin sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Kirt.

"Kami di serang oleh ribuan undead yang sekarang menghantui kota leluhur kami dan ketiga rekanku gugur sedangkan dua lainnya terpisah dariku dan aku hanya bisa menunggu di sini berharap mereka berhasil selamat dan menyusulku kemari." Ucap Dwarf Grigorin dengan menyesal karena kehilangan rekan-rekannya.

"Anda bilang ribuan undead bagaimana bisa ada undead sebanyak itu di sana?" Tanya Kirt dengan terkejut karena baru mengatahui kalau tempat yang ia tuju di penuhi oleh mayat hidup atau undead.

"Memang seperti itulah keadaan kota leluhur kami sekarang, Undead bangkit dari mayat-mayat prajurit yang terabaikan setelah penyerangan yang di lakukan bangsa Elf di bantu manusia ke kota Dwarfen di masa lalu yang membuat semua penduduk Dwarf harus pergi mengungsi meninggalkan kota yang di bangun mendiang raja Gorgorin itu."

Terpopuler

Comments

mochamad ribut

mochamad ribut

lanjutkan

2022-11-11

0

mochamad ribut

mochamad ribut

lanjut

2022-11-11

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 52 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!