BAB 17. PEMBURU YANG DI BURU

Sudah sangat jauh Kirt Johan bergerak menelusuri lorong-lorong gua hingga akhirnya ia kembali menemukan sebuah tempat yang terdapat banyak kristal berwarna-warni menempel di dinding gua dan memantulkan cahaya.

"Kristal yang indah namun mengapa para Dwarf tidak mengambilnya?" Ucap Kirt Johan yang memperhatikan banyaknya kristal cantik di gua itu.

Tapi Kirt sedikit curiga mengapa ada begitu banyak kristal yang terlihat cukup berharga tapi hanya di biarkan begitu saja padahal seharusnya gua ini merupakan tempat yang juga lewati para penambang Dwarf.

Ada dua jalan salah satunya mengarah lebih dalam ke dasar gua yang sepertinya adalah tambang karena terlihat ada beberapa gerobak tua yang salah satunya terisi penuh dengan bebatuan yang di tambang juga ada sebuah beliung tua yang biasa di gunakan untuk menggali.

"Mungkin aku harus mengambil beberapa sampel kristal untuk di tanyakan pada Lucas nanti." Ucap Kirt yang kemudian mengambil beliung yang ada di tempat itu.

Kirt Johan mengambil masing-masing satu buah batu kristal dengan warna merah, kuning, hijau, biru, putih dan hitam dan juga mengamil segenggam batu yang ada di gerobak rusak di sana.

"Kelihatannya sudah cukup aku tidak ingin mengambil terlalu banyak karena hanya akan menambah beban bawaan, lagi pula belum tentu semua itu dapat di jual." Ucap Kirt yang mempertimbangkan untuk tidak membawa terlalu banyak sampel bebatuan di sana.

Ada jalan naik yang di bangun para Dwarf di sisi tebing dan Kirt langsung memutuskan untuk mengambil jalan yang menuju ke atas itu karena ia berpikir bila tempat ini adalah tambang maka ia terlalu jauh berada di kedalaman dan kota Dwarf pasti berada di tempat yang lebih tinggi dekat dengan permukaan.

Akan ada lebih banyak monster bila semakin dekat dengan permukaan tapi seharusnya mereka adalah jenis monster yang lebih lemah tidak seperti monster yang berada jauh di ke dalaman dungeon.

Sementara itu komandan Piere Zagarna telah membawa pasukannya memasuki gua karena ada banyak jejak yang yang terlihat mengarah ke sana.

Seorang mata-mata dari pasukan kerajaan Arfen kembali setelah memeriksa sebuah lorong dan memberikan laporan pada komandannya.

"Komandan Zagarna saya melihat beberapa anak buah Rogret Wrimas berada di lorong di depan kita."

"Kapten Orlando berapa banyak jumlah mereka?" Tanya kembali komandan Piere Zagarna.

"Saya hanya melihat tiga orang tapi kemungkinan ada lebih banyak di depan sana." Jawab kapten Orlando.

"Hanya ada tiga sepertinya mereka hanya di suruh berjaga di bagian belakang rombongan, Kapten Orlando kamu pimpin sebagian prajurit ke sana dan usahakan untuk menangkap hidup-hidup para bandit itu karena mereka pasti punya banyak informasi yang dapat membantu kita di dalam gua ini." Perintah komandan Piere Zagarna kepada salah satu kapten di pasukannya.

"Baik saya laksanakan." Jawab kapten Orlando.

Orlando segera bergerak membawa pasukan di unit tiga untuk ia pimpin dan tidak butuh waktu lama pasukannya berhasil meringkus tiga bandit yang segera menyerah karena kalah jumlah.

Tidak ada pilihan bagi tiga bandit yang tertangkap selain memberikan semua informasi yang mereka miliki kepada prajurit kerajaan Arfen sehingga Komandan Piere dapat dengan cepat menyusul ke tempat Kirt Johan terakhir terlihat.

Ketegangan terjadi di kelompok bandit Scorpion saat mengetahui pasukan kerajaan Arfen dalam jumlah besar datang mendekat menyerbu mereka dari arah belakang.

"Diander kita semua harus segera melarikan diri karena pasukan kerajaan Arfen dalam jumlah besar akan segera sampai di tempat kita!" Ucap Tirlo kepada rekannya dengan panik.

"Lari kemana karena kemungkinan basilisk yang sebelumnya kita lihat masih berada di dalam labirin di depan kita." Jawab Diamder.

"Tapi kita semua tidak mungkin dapat melawan prajurit kerajaan Arfen."

"Padahal kita sedang memburu tapi mengapa malah kita yang di buru di sini, Sialan kalau begitu sebaiknya kita segera memberitahukan hal ini kepada boss Rogret." Ucap Diander.

Diander dan Tirlo berniat segera memberitahukan kalau ada pasukan kerajaan Arfen yang sedang menuju ke tempat mereka tapi itu sudah terlambat, pasukan berarmor tebal telah terlihat dan langsung menyerang para bandit yang belum sempat mempersiapkan diri untuk bertarung.

"Lari kita harus melarikan diri kita mungkin tidak dapat menghadapi mereka semua!" Teriak Tirlo menyuruh para bandit rekannya untuk kabur.

Rogret Wrimas terlihat berdiri dengan marah karena sebelumnya sudah banyak kemalangan yang menimpa anak buahnya dan sekarang prajurit kerajaan Arfen datang memberikan ancaman lain.

Rogret dengan pedangnya menebas leher seorang prajurit kerajaan Arfen yang mendekat untuk menyerangnya tapi Rogret tahu kalau jumlah pasukan kerajaan Arfen terlalu banyak.

"Semua cepat mundur selamatkan diri kalian!" Teriak Rogret Wrimas.

Rogret terlihat juga segera bergegas pergi memasuki labirin tapi karena kekacauan itu banyak anak buahnya yang tersebar di lorong-lorong labirin.

"Komandan Piere maafkan aku tapi sepertinya serangan kejutan kita telah gagal dan banyak para bandit itu yang kabur ke lorong-lorong gua di depan kita." Lapor Kapten Orlando kepada komandannya.

"Kapten biarkan saja para hama yang kabur itu karena target kita adalah Kirt Johan." Ucap komandan Piere Zagarna.

"Saya mengerti komandan."

Komandan Piere Zagarna memang tidak punya banyak urusan dengan orang-orang yang di pimpin Rogret Wrimas tapi bagaimanapun Rogret dan anak buahnya adalah bandit hama bagi masyarakat yang harus di basmi oleh prajurit seperti mereka.

Sementara itu tiga orang bandit yang sebelumnya di tawan oleh prajurit kerajaan Arfen terlihat begitu menyesal karena mereka telah memberitahukan lokasi rekan-rekannya di sini.

"Komandan Piere anak buahku mengatakan kalau gua di depan kita adalah labirin yang sangat luas setelah memeriksanya." Lapor Kapten Orlando.

"Benarkah demikian, kalau begitu coba tanyakan kepada para tawanan itu." Kata komandan Piere Zagarna.

Kapten Orlando segera menatap tiga bandit di sana dan bertanya. "Kalian bertiga apakah kalian tahu jalan untuk melewati labirin di depan kita?"

"Maaf kapten tapi kami tidak tahu jalan yang tepat untuk melewati labirin itu." Jawab salah seorang bandit.

Kapten Orlando segera mencabut pedangnya dan mengarahkan ke leher bandit yang tadi menjawabnya sambil tertunduk.

"Jangan berbohong pada kami atau kalian akan mati di sini!" Ancam kapten Orlando.

"Ampunilah kami karena kami benar-benar tidak tahu karena sebelumnya telah cukup banyak orang yang di kirim boss Rogret untuk mencari jalan tapi kami tidak di berikan tugas itu karena kami bertiga harus menjaga bagian paling belakang." Jawab bandit itu dengan takut karena ada mata pedang yang mengarah di lehernya.

Kapten Orlando terlihat sedikit kesal dan berniat untuk menebas bandit yang di anggapnya sebagai hama tapi komandan Piere Zagarna langsung berbicara untuk menghentikannya.

"Cukup komandan Piere sepertinya ia tidak berbohong karena sebelumnya mereka bertiga memang berada jauh di belakang rombongannya." Ucap komandan Piere.

"Kalau begitu berarti mereka sudah tidak ada gunanya jadi lebih kita bunuh dari pada menjadi beban di pasukan kita." Jawab kapten Orlando hingga ketiga bandit itu terlihat terkejut karena akan segera di bunuh.

"Orlando hentikan kekejaman yang tidak perlu itu, meskipun mereka adalah penjahat bukan berarti mereka pantas untuk dibunuh, lagi pula mereka sudah menyerah dan bahkan memberikan informasi yang membantu kita hingga sampai ke tempat ini dengan mudah." Ucap komandan Piere.

"Maksud komandan kita harus mengampuni para bandit ini?" Tanya kapten Orlando yang terlihat kurang suka dengan niat komandannya.

"Benar jadi biarkan mereka pergi karena bantuan yang mereka sebelumnya berikan untuk kita bisa di anggap sebagai penebusan dosa mereka sebagai bandit, tentu saja kapten Orlando boleh membunuh mereka nanti bila mereka melakukan kejahatan atau bergabung kembali dengan kelompok bandit yang di pimpin oleh Rogret Wrimas lagi." Kata Komandan Piere.

"Huh, bila komandan Zagarna sudah memberikan ampunan pada ketiga bandit ini maka saya tidak mungkin mengeksekusi mereka, jadi kalian bertiga berterimakasihlah kepada komandan Piere Zagarna sekarang." Kata kapten Orlando.

Ketiga bandit itupun segera berlutut dan berterima kasih kepada komandan Piere Zagarna yang telah mengampuni mereka bahkan membiarkan mereka pergi.

"Sekarang pergilah, enyah dari hadapanku!" Bentak kapten Orlando yang mengusir ketiga bandit itu.

Ketiga bandit itupun segera pergi dari lokasi itu menuju lorong yang mengarah keluar dari gua.

Terpopuler

Comments

mochamad ribut

mochamad ribut

up ⚡🔨lagi

2022-11-11

0

mochamad ribut

mochamad ribut

lanjutkan

2022-11-11

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 52 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!