Bab 20. Lagi Dan Lagi

Aku meringkuk di atas kasur seraya menyusui Bagas dengan Isak tangis ku yang tertahan karena di sebelah ku ada mas Ryan yang sudah tertidur lelap. Takut nanti tangisan ku akan menambah kemurkaannya. Untung saja Bagas langsung tenang kembali saat ku susui. Tuhan, aku sudah lelah dengan semua ini. Jika aku tidak mampu untuk bertahan lagi, maka tuntunlah kemana arah kaki ku akan melangkah. Ratap ku dalam hati.

Semalaman mata ku tak bisa terpejam, ku lirik jam yang ada di dinding kamar sudah menunjukkan pukul setengah empat pagi. Ku perhatikan mas Ryan yang ada di samping ku ternyata masih terlelap. Aku segera bangkit perlahan agar tak membangunkan mas Ryan. Ku gendong anak ku perlahan agar tak terbangun dan menangis. Ku perhatikan sekali lagi mas Ryan yang ternyata masih tertidur lelap. Aku segera ke luar kamar dan mencari payung di tempat biasanya. Setelah dapat aku segera keluar dari rumah sebelum ada yang melihat ku. Sudah seperti maling saja!

*****

Tepat saat adzan subuh berkumandang aku tiba di depan rumah orang tua ku. Ku ketuk pelan pintu rumah yang masih terlihat sunyi itu.

Tok.. tok.. tok..

Sepertinya ibuk belum bangun, atau mereka sedang sholat? Entahlah, ku coba mengetuknya sekali lagi.

Tok.. tok.. tok..

Ceklek!

"Astaghfirullah!" Ibu ku terlonjak kaget seraya memegangi dadanya saat membuka pintu rumah dan mendapati aku dan anak ku yang berdiri di depan pintu.

"Ibuk, hiks.. hiks.." Tumpah sudah air mataku yang tadi sempat ku tahan.

"Eh, ada apa lagi to nduk? Ayo masuk dulu." Aku segera masuk ke dalam rumah dengan di bimbing ibu ku.

"Pak!" Teriak ibu ku membuat bapak dan Fajar tergopoh-gopoh dari arah dalam.

"Ada apa to buk? Loh nduk!" Nampaknya bapak juga terkejut, bapak segera meraih Bagas yang ada dalam gendongan ku. Kemudian ibuk segera memeluk ku erat.

"Kebiasaan ibuk suka teriak-teriak. Loh mbak, pulang lagi?" Fajar langsung duduk di kursi yang ada di ruang tamu.

"Astaghfirullah nduk, pipi mu merah dan bengkak gini. Ini juga ujung bibir mu ada sisa darah keringnya. Astaghfirullah, astaghfirullah." Ibu ku menangis seraya memegangi dadanya yang membuat ku semakin takut. Aku pun segera mengusap air mataku, aku harus kelihatan kuat di mata ibu ku.

"Kurang ajar! Jangan pernah kembali lagi kepadanya! Sampai mati bapak gak ridho!" Ucap bapak ku tegas. Aku hanya bisa menganggukkan kepala ku. Aku pun sudah bertekad dalam hati untuk tidak akan pernah kembali lagi kepadanya.

"Ayo nduk istirahat dulu sama kacong di kamar." Ibuk menuntun ku masuk ke dalam kamar, sedangkan bapak mengekor di belakang sambil menimang Bagas.

"Sini pak, Bagas di tidurkan saja biar istirahat sama bundanya." Ibuk meraih Bagas dalam gendongan bapak kemudian merebahkannya di samping ku.

"Istirahat dulu, ibuk tak sembahyang dulu." Pamit ibu ku, aku pun mengangguk. Ibuk langsung keluar kamar bersama bapak lalu menutup pintunya pelan agar tak membangunkan Bagas.

Aku segera merebah kan tubuh ku karena semalaman aku tak bisa tidur sama sekali, akhirnya mata ku pun terpejam karena sudah tidak bisa lagi menahan kantuk.

*****

*****

*****

*****

*****

Fighting Nja 💪💪😢😢

Entar si Ryan emak santet online biar mampus 🤬🤬

Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂

Terpopuler

Comments

Arin

Arin

Bagus minggat aja dari rumah bojomu. Kalo bojomu mung bisanya mabok terus. Gak bisa memberi perlindungan. Malah suka main tangan

2024-02-15

0

💝GULOJOWO💝

💝GULOJOWO💝

Dada emak nyesek Nja 😢😢😢😢😢

2022-10-20

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!