Hari-hari pun berlalu, rasa mual yang dirasakan oleh Senja tak mengenal waktu. Tak peduli pagi, siang atau pun malam. Seperti pagi ini, padahal waktu baru menunjukkan pukul lima pagi. Senja segera beranjak dari atas tempat tidur dan langsung berlari menuju ke kamar mandi.
Hooek.... hooek....
"Ya Allah, sampai kapan seperti ini?" Gumam Senja dalam hati. Dia terduduk di lantai kamar mandi. Tubuhnya terasa lemas, kepala pusing dan pandangannya terasa mengabur. Dipejamkannya matanya sejenak demi mengurai rasa pusing di kepalanya. "Mas," Panggilnya lemah, namun tidak ada jawaban dari Ryan. "Mas Ryan." Panggilnya sekali lagi namun tetap saja tidak ada jawaban dari suaminya. Senja pun memutuskan untuk beranjak seraya berpegangan pada dinding kamar mandi sebagai tumpuan agar dirinya tidak terjatuh.
Saat keluar dari kamar mandi ia melihat suaminya masih tertidur pulas di atas ranjang. Begitulah Ryan kalau sedang tidur, tidak akan terusik oleh suara apapun yang ada di sekitarnya. Bahkan jika terjadi gempa, mungkin dia akan tertimbun reruntuhan bangunan di dalam rumah.
Senja mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, kemudian ia guncang pelan tubuh suaminya agar terbangun. Namun usahanya itu sia-sia belaka karena sudah berulang kali tapi sama sekali tidak ada respon dari suaminya itu.
"Mas! Mas Ryan." Panggilnya sekali lagi.
"Apa sih?!" Ucap Ryan sambil menepis tangan istrinya dan masih dengan mata terpejam.
"Mas, tolong buatkan teh hangat donk. Badan ku lemes mas, baru aja muntah." Pinta Senja pada suaminya. Dirinya benar-benar tidak memiliki tenaga sekedar untuk melangkah keluar kamar.
"Bikin sendiri sana! Gangguin orang tidur saja!" Ryan menepis tangan istrinya sekali lagi kemudian mengambil bantal. Senja pikir bantal itu mau di lemparkan kepadanya karena sudah mengganggu tidur suaminya. Senja sudah mengambil ancang-ancang jarak aman. Namun ternyata bantal itu digunakan Ryan untuk menyumpal telinganya.
"Huuuft!" Senja hanya bisa mengelus dada. Senja pun berniat keluar dari kamar untuk membuat teh manis hangat sendiri. Mulutnya terasa pahit sehabis muntah. Namun saat dirinya baru saja memegang handel pintu, rasa mual yang teramat sangat kembali menyerangnya. Senja pun segera berlari menuju ke kamar mandi.
Hooek.... hooek....
Tubuh Senja tiba-tiba saja meluruh ke lantai dan pandangannya menjadi gelap. Senja tak sadarkan diri di dalam kamar mandi.
*****
Senja mencoba membuka matanya sedikit demi sedikit. Cahaya lampu yang menyilaukan mata lah yang pertama kali dilihatnya. Diputarnya pandangannya itu ke segala arah dan Senja baru menyadari ternyata dirinya sedang berada di dalam kamar dan di atas ranjang. Kok bisa ada di ranjang? siapa yang membawa ku ke sini? mas Ryan kah? Senja mengingat-ingat kejadian saat dirinya tadi mual-mual di kamar mandi dan setelah itu entahlah, Senja tidak ingat lagi apa yang terjadi.
Senja mendengar derit pintu yang di buka. Dia pun langsung mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara. Rupanya Ryan yang barusan membuka pintu kamar mandi dan dirinya baru selesai mandi. Dilihatnya jam yang menggantung di dinding kamar dan waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lebih. Astaga! Senja segera beranjak dari tempat tidur.
"Mas nggak kerja?" Tanya Senja memastikan.
"Nggak! Lagi males!" Jawabnya ketus. Kemudian Senja berlalu keluar dari kamar karena biasanya dirinya selalu membantu ibu mertuanya untuk memasak. Namun saat Senja tiba di dapur, ternyata semua masakan sudah terhidang di atas meja makan.
"Mentang-mentang lagi hamil jangan di jadikan alasan buat bermalas-malasan ya." Sindir ibu mertua Senja pedas.
"Maaf Bu." Senja hanya bisa menundukkan kepala. Bu Retno, ibu mertua Senja kemudian pergi berlalu begitu saja dari dapur. Mungkin Bu Retno ingin memanggil pak Agus suaminya alias bapak mertua Senja untuk sarapan.
Apa mas Ryan tidak bilang ke ibu kalau aku tadi sempet pingsan? entahlah.... Senja pun bergegas memanggil suaminya untuk sarapan. Dibukanya pintu kamar, ternyata suaminya sedang memainkan ponselnya sambil merokok.
"Sarapan dulu mas." Ajak Senja namun Ryan hanya melihat istrinya sekilas kemudian fokus kembali pada ponselnya. "Huuuft!" Senja menarik nafasnya pelan. "Bisa nggak mas, kalau merokok jangan di dalam kamar. Kan bisa di teras." Tegur Senja. "Asap rokok tidak baik untuk ibu hamil." Senja mencoba mengingatkan suaminya.
"Cerewet!" Bentak Ryan kemudian berlalu keluar dari kamar. Senja hanya bisa mengelus dada lalu menyusul untuk sarapan.
*****
*****
*****
*****
*****
Emak ngelus dada gaess 😢 Sepertinya nulis cerita ini harus perbanyak istighfar 🤭 Harus punya banyak stok sabar dan juga stok tisu yang banyak 😂 Atau mungkin kanebo bila perlu 🤣🤣
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
💝GULOJOWO💝
First 😂 awas aja Yan kalau sampe bikin emak darting, entar emak kutuk jadi batu 🤭😂😂😂😂😂
2022-10-02
2