Tidur ku terusik saat telinga ku samar-samar mendengar suara Qiro'ah dari pengeras yang ada di masjid. Ku coba untuk membuka mata pelan-pelan karena terasa lengket. Ku lirik jam yang menggantung di dinding kamar, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat subuh. Entah semalam aku tertidur jam berapa. Seingat ku semalam aku meringkuk seperti bayi di atas kasur.
Saat aku ingin beranjak dari tempat tidur pandangan ku tertuju pada seseorang yang terbaring lelap di samping ku. Aku heran, jam berapa kira-kira mas Ryan pulang semalam? Saking lelapnya tidur ku sampe aku tidak menyadarinya.
Aku pun turun pelan-pelan dari atas ranjang agar tidak membangunkan mas Ryan. Aku segera berjinjit ke kamar mandi untuk membasuh muka. Ku pandangi wajah ku lewat pantulan cermin yang ada di kamar mandi. Nampak mata sembab ku dan bekas kemerahan di pipi yang masih belum memudar.
Setelah mencuci muka aku segera keluar dari kamar mandi. Ku lihat mas Ryan masih terlelap dalam tidurnya. Ku putuskan untuk segera pergi sebelum mas Ryan dan penghuni rumah yang lainnya terbangun. Ya, semalaman sudah aku memikirkannya. Dan inilah keputusan yang ku ambil. Aku memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuaku. Tanpa membawa apapun aku keluar dari rumah.
Aku dan mas Ryan memang satu desa, namun agak jauh. Butuh waktu sekitar lima belas menit untuk sampai ke rumah orang tua ku dengan berjalan kaki.
Tok.. tok.. tok..
Ku ketuk pintu rumah yang masih terlihat rapat itu.
Tok.. tok.. tok..
Ceklek!
"Nduk, ada apa pagi-pagi kok kesini?" Ibu ku nampak keget dengan kedatangan ku. Tanpa menjawab pertanyaannya aku langsung berhambur ke pelukannya dan menangis sesenggukan.
"Ayo masuk dulu. Gak enak nanti kalau sampe di lihat tetangga." Ibu menuntun ku menuju ke kursi tamu. Kemudian ia bergegas masuk ke dalam.
Tak berselang lama ibu datang dengan membawa segelas air putih dan menyodorkannya kepada ku.
"Minum dulu biar tenang." Ucapnya lembut. Aku pun segera meraih gelas itu dan meneguknya hingga tandas. Rupanya menangis membuat ku kehausan.
"Ya Allah nduk, pipi mu kenapa?" Tanya ibu yang sepertinya baru ngeh dengan keadaan anaknya.
"Hiks.. hiks.." Aku kembali menangis.
"Ada apa to Bu?" Tanya bapak dari arah dalam.
"Loh nduk, ada apa? Pagi-pagi begini ko udah ada disini?" Bapak sepertinya kaget dengan kedatangan ku sepagi ini.
"Lihat ini pak." Ibu menunjukkan pipi ku kepada bapak.
"Astaghfirullah." Bapak beristighfar seraya mengelus dadanya.
"Ada apa? Cerita sama kami nduk." Tanya bapak sekali lagi.
"Hoooaamb! Ada apa sich ini, pagi-pagi udah berisik aja." Nampak Fajar keluar dari kamar sambil menguap lebar.
"Loh mbak, kok disini? Kapan datang?" Tanya Fajar terheran. Namun aku masih diam membisu.
"Ya udah kalau belum mau cerita, sana istirahat dulu." Aku hanya menganggukkan kepala. Rupanya ibu ku paham kalau aku belum ingin cerita. Aku pun segera masuk ke dalam kamar ku yang dulu ku tempati sebelum menikah.
*****
Entah sudah berapa lama aku tertidur. Aku terbangun saat ada yang menggoyangkan tubuh ku. Ku lihat ibu yang tersenyum di samping ku sambil mengusap bahu ku.
"Bangun, sarapan dulu ini sudah siang." Aku spontan melihat jam yang ada di dinding kamar. Dan benar saja sudah jam delapan. Aku pun segera beranjak untuk mandi kemudian sarapan.
"Fajar mana Bu?" Tanya ku seraya merebahkan kepala ke pangkuan ibu ku. Saat ini bapak dan ibu ku nampak sedang bersantai di depan TV. Tumben?
"Udah berangkat sekolah sejak pagi." Jawab ibu ku. Sedangkan bapak sejak tadi hanya diam saja seolah menunggu ku untuk bercerita.
"Gimana? Udah siap cerita?" Tanya ibu ku sambil mengelus kepala ku yang ada di pangkuannya. Aku pun menceritakan semuanya kepada kedua orang tua ku.
*****
*****
*****
*****
*****
Jadi kangen sama emak 😭😭
Emak juga suka tiduran dipangkuan emak sambil minta di elus 🤭
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
💝GULOJOWO💝
ijolno sapi ae Nja suami tak berguna mu itu 🤭😂😂😂 😂
Sekali KDRT, suatu saat nanti pasti akan terulang kembali 🤬🤬🤬🤬🤬
2022-10-08
2