Bab 16. Bagas Saputra

Seminggu kemudian diadakan pengajian kecil-kecilan di rumah orang tua ku dalam rangka Pakpuser. Pakpuser adalah dimana saat tali pusar bayi terlepas dari pusarnya. Dan saat itulah saatnya memberikan nama pada seorang bayi.

Acara pengajian di mulai ba'da isya' sampai selesai. Setelah itu anak ku segera di doa'i oleh pak kyai kemudian di tiupkan namanya di atas puncak kepalanya.

"Bagas Saputra" Segala doa terbaik di gumamkan oleh kami semua. Semoga kelak anak kami menjadi anak yang Sholeh, berbakti kepada kedua orang tua serta berguna bagi bangsa dan negara.

"Aamiin." Ucap kami serempak saat pak kyai selesai berdoa.

Keadaan di ruang tamu yang riuh itu tidak membuat mas Ryan terusik sedikit pun. Saat ini mas Ryan sedang duduk manis di atas tempat tidur yang ada di dalam kamar ku sambil memainkan HPnya. Terbuat dari apa kira-kira hatinya itu. Bukannya ikut mendoakan anaknya malah asik dengan dunianya sendiri.

"Mas!" Panggil ku saat memasuki kamar.

"Heeemm!" Jawab mas Ryan tanpa menoleh sedikit pun.

"Gak keluar?" Tanya ku.

"Ngapain?" Tanya mas Ryan balik masih tanpa melihat ku.

"Ada banyak orang di luar, kamu kan ayahnya Bagas. Masak iya gak mau keluar?" Ku dudukkan tubuh ku di tepi tempat tidur.

"Udah ada bapak juga. Males!" Ya memang sejak tadi Bagas ada di gendongan Akungnya.

"Huuuft!" Ku hembuskan nafas pelan. "Ya udah aku keluar dulu kalau begitu." Aku segera keluar meski mas Ryan tak menyahut sedikit pun.

"Cari siapa?" Tanya ibu ku saat aku celingukan mencari mertuaku.

"Orang tua mas Ryan gak datang buk?" Tanya ku pelan takut terdengar yang lainnya. Namun ibuk hanya menggeleng.

"Sudah, biarkan saja. Jangan di pikirkan." Aku pun mengangguk.

"Tidurkan saja pak." Aku beralih ke bapak yang nampak menimang-nimang Bagas.

"Sebentar nduk, biar lelap dulu." Jawab bapak pelan takut membangunkan cucunya yang baru saja terlelap.

Pukul sembilan acara sudah selesai dan semua bapak-bapak yang ikut pengajian juga sudah buyar. Begitu pula para tetangga dan sanak saudara yang tadi juga hadir. Bapak segera beranjak masuk ke dalam kamar ku untuk menidurkan Bagas.

Saat masuk ke dalam kamar nampak mas Ryan yang tertidur lelap di atas ranjang. Aku pun segera membangunkannya agar berpindah ke sofa. Aku takut kalau mas Ryan tidur di ranjang bersama kami, nanti ia bisa menindih Bagas karena tidurnya yang banyak tingkah.

"Mas!" Ku goyangkan tubuh mas Ryan pelan.

"Mas Ryan!" Panggil ku lagi.

"Apa sih Nja!" Sentak mas Ryan menepis tangan ku.

"Bangun dulu, pindah di sofa sana. Bapak mau menidurkan Bagas." Akhirnya mas Ryan segera bangun dan pindah tidur di sofa. Kalau sudah mendengar kata bapak, mas Ryan pasti takut.

Bapak segera merebahkan Bagas ke atas tempat tidur kemudian keluar dari kamar. Tak berselang lama ibuk yang masuk ke dalam kamar kemudian segera berbaring di sebelah Bagas. Jadi posisinya Bagas ada di tengah-tengah kami. Mungkin ibu kecapean karena seharian tadi memasak buat acara pengajian. Sesaat kemudian terdengar suara nafas ibuk yang beraturan. Rupanya ibuk sudah terlelap, sedangkan aku masih belum bisa memejamkan mata ku. Ku pandangi wajah anak ku yang sekilas mirip Fajar. Kenapa harus Fajar? Kenapa bukan aku atau mas Ryan? Padahal kami kan orang tuanya. Entahlah, tapi kata orang tua dulu, wajah bayi itu masih bisa berubah-ubah. Bisa jadi nanti mirip aku atau ayahnya kan?

*****

*****

*****

*****

*****

Semoga jadi anak yang Sholeh ya Bagas Saputra, doa terbaik untuk mu sayang 🥰🥰

Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂

Terpopuler

Comments

💝GULOJOWO💝

💝GULOJOWO💝

Tak doain mirip emak Nja 🤭 kan emak yang nulis 😂😂😂😂

2022-10-16

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!