Tak terasa usia Bagas anak ku kini sudah menginjak selapan alias tiga puluh enam hari. Pagi ini rencananya akan di adakan tasyakuran selapan kecil-kecilan dengan mengundang tetangga kanan kiri rumah saja.
Setelah acara selesai, aku dan Bagas segera di boyong mas Ryan kembali ke rumah kedua orang tuanya. Aku pun hanya bisa pasrah mengikuti kemauan suami ku. Seandainya saja aku boleh memilih, aku akan memilih tinggal di rumah kedua orang tua ku yang penuh dengan kasih sayang ini. Tapi apalah daya ku, bukankah syurganya seorang istri ada pada suaminya?
Ku langkahkan kaki ku gontai saat memasuki kediaman orang tua mas Ryan. Ibu mertua ku yang menyambut kedatangan ku segera meraih Bagas yang ada dalam gendongan ku kemudian membawanya pergi. Mungkin akan di pamerkan ke tetangga karena akhirnya ia memiliki cucu. Aku segera masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
Ku rebahkan pelan tubuh ku ke atas ranjang kemudian ku tatap langit-langit kamar yang nampak banyak sarang laba-labanya. Aku hanya bisa menghela nafas ku kasar. Biasanya memang aku yang selalu membersihkannya, tapi sudah sebulan lebih tak ku sentuh, pantas saja!
Ceklek!
Mas Ryan masuk ke dalam kamar lalu mendekat ke arah ku, aku pun langsung reflek mendudukkan diri. Entah kenapa saat di dekat mas Ryan selalu saja rasanya aku ketakutan. Hanya saat ada orang tua ku saja aku merasa aman saat di dekat mas Ryan. Gak mungkin kan mas Ryan akan main tangan di depan kedua orang tua ku?
"Ada apa mas?" Tanya ku takut-takut.
"Udah belum?" Tanyanya pelan.
"Apanya?" Tanya ku bingung.
"Itu!" Mas Ryan menunjuk dengan dagunya yang membuat ku reflek menggeleng karena memang belum boleh.
"Aaaahh!" Des*h mas Ryan frustasi seraya mengacak rambutnya kemudian bangkit dari duduknya dan keluar kamar seraya membanting pintu keras.
Braaakk!
"Astaghfirullah." Aku hanya bisa mengelus dada ku seraya beristighfar berulang kali. Ini lah yang aku takutkan. Sebenarnya aku pengen di rumah kedua orang tua ku sampe usia Bagas dua bulan agar bisa menghindari hal semacam ini. Tak lama terdengar teriakan ibu mertua ku dari luar kamar.
"Senja, Bagas nangis!" Aku pun segera keluar dari kamar dan meraih anak ku yang ada dalam gendongan neneknya.
"Susuin dulu, mungkin haus." Ucap ibu mertua ku kemudian berlalu. Aku pun segera masuk ke dalam kamar. Segera ku baring kan anak ku ke atas tempat tidur lalu aku segera merebahkan tubuh ku juga dan langsung menyusuinya.
*****
Tak terasa hari sudah sore. Saat aku membuka mata ku ternyata sudah jam empat sore. Astaga, ternyata aku ketiduran. Ku lirik anak ku yang ternyata masih menyusu namun dengan mata terpejam. Begitulah Bagas kalau tidur memang susah lepas sama susunya. Terkadang aku pengen memberinya sufor sebagai sampingan, tapi takutnya nanti malah gak mau minum ASI. Dari mana uang untuk beli sufor nanti, mau aku kasih empeng kok ya kasihan. Entahlah, Asi saja yang praktis tanpa harus beli.
Ku copot sedikit demi sedikit susu ku agar tak membangunkan Bagas, namun sedetik kemudian Bagas ikut terbangun dan menangis kencang.
Oweeeeeekk!
Ceklek!
"Ada apa to Nja? Bagas nangisnya kok kenceng banget." Ibu mertua ku nampak tergopoh-gopoh masuk ke dalam kamar.
"Gak mau lepas dari susu buk." Jawab ku apa adanya.
"Ya udah di susuin lagi sana." Ucap ibu mertua ku kemudian melenggang pergi.
"Huuuft!" Aku hanya bisa menghela nafas ku pelan.
"Cup cup cup, ayo mandi dulu ya sayang, nanti mimik susu lagi kalau udah ganteng." Aku segera mengangkat tubuh Bagas kemudian membawanya ke kamar mandi untuk ku mandikan.
*****
*****
*****
*****
*****
Pegangan yang kuat gaess, sebentar lagi masuk konflik utama 🤭😂
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
💝GULOJOWO💝
Heh Yan, situ waras gak? belum juga ada empat puluh hari 🤬🤬🤬🤬
2022-10-17
1