Sejak pagi tadi setelah mencuci baju perut ku terasa kram, pinggang juga sakit. Mungkin karena aku kelelahan akibat mencuci baju yang terlalu banyak. Akhir-akhir ini memang rasanya malas, perut juga rasanya tak nyaman. Jadi aku hanya tiduran saja di dalam kamar. Mau tiduran di depan TV juga takut kuping ku panas, karena pasti akan banyak sindiran pedas.
Ku minum air putih banyak-banyak karena aku takut itu gejala sakit ginjal. Soalnya budhe ku pernah terkena sakit ginjal dan gejalanya pun sama, pinggangnya sakit. Mau cerita sama mas Ryan nanti pasti di kira manja. Mau ngasih tau Fajar juga aku takut ibu ku khawatir. Ya sudahlah nanti juga sakitnya hilang sendiri.
"Stttttttt!" Desis ku saat perut ku kembali kram. Ku dudukkan tubuh ku di pinggir tempat tidur kemudian ku elus lembut perut ku seraya mengajak anak ku berbicara.
"Sayang, dedek lagi ngapain di dalam?" Ucap ku lembut. Aku hanya takut saat aku kesakitan anak ku juga ikut kesakitan.
Dug!
"Eh, dedek lagi main bola ya?" Tendangannya kuat sekali.
"Dedek cewek apa cowok sich? Kuat banget nendangnya." Ucap ku lagi masih sambil mengelus perut.
"Sttttttt! Kok jadi mules gini." Aku segera ke kamar mandi namun gak keluar kotorannya, hanya pipisnya saja yang ke luar.
Ku rebahkan tubuh ku ke atas tempat tidur kemudian ku miringkan ke kiri. Baru juga sebentar sudah mules lagi. Aku langsung beranjak pelan-pelan kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Hingga siang hari begitulah seterusnya.
Ceklek!
Aku keluar dari kamar mencoba mencari mas Ryan atau siapa saja yang ada di rumah karena perut ku semakin sakit dan mulasnya semakin sering.
"Mas!"
"Mas Ryan!" Teriak ku sekali lagi.
"Ada apa teriak-teriak?" Saut mas Ryan yang ternyata ada di depan TV. Kenapa gak jawab dari tadi coba.
"Ada apa ini teriak-teriak?" Ucap ibu mertuaku saat baru masuk ke rumah. Entah dari mana ia aku tak tau dan tak mau tau. Merasakan perut ku yang sakit aja sudah tak karuan.
"Mas, perut ku sakit." Ucap ku seraya meringis.
"Terus gimana?" Tanya mas Ryan yang terlihat acuh.
"Mungkin aku mau melahirkan mas." Jawab ku mengira-ngira.
"Bukannya masih dua Minggu lagi?" Tanya mas Ryan sepertinya tak percaya kalau aku kesakitan.
"Udah ngeluarin ketuban belum?" Tanya ibu mertua ku yang aku jawan dengan gelengan, karena air ketuban ku memang belum keluar.
"Udah keluar darah?" Tanya mertua ku lagi. Aku pun menggeleng lagi karena belum mengeluarkan apa-apa.
"Ya sudah, gak usah buru-buru ke bidan. Tunggu sampe air ketubannya pecah dulu atau ngeluarin darah dulu baru bawa ke bidan." Ucap ibu mertua ku kemudian berlalu. Dan mas Ryan pun kembali menonton TV.
Ku lihat jam yang menggantung di dinding ternyata sudah pukul setengah tiga sore. Ku putuskan untuk berjalan-jalan di halaman depan rumah. Katanya di suruh banyak gerak agar persalinannya lancar.
Sesekali ku seka keringat yang mengucur di dahi, kemudian berjalan lagi pelan-pelan. Setelah merasa capek, ku dudukkan tubuh ku ke kursi yang ada di teras rumah.
"Aaahh!" Jerit ku saat merasakan kontraksi hebat.
"Nja! Ada apa?" Kulihat Bu Elis tetangga ku mendekat ke arah ku. Mungkin tadi Bu Elis tak sengaja mendengar jeritan ku saat lewat depan rumah.
"Aaaahh!" Jerit ku sekali lagi seraya mencengkram erat pinggiran meja.
"Ryan! Bu Retno! Ini Senja mau melahirkan. Cepat bawa ke bidan!" Teriak Bu Elis kencang. Mas Ryan dan ibu mertua ku nampak tergopoh-gopoh dari dalam.
"Cepet bawa Senja ke bidan Yan!" Bu Elis nampak terlihat panik. Mas Ryan pun segera membawa ku ke tempat Bu Yani, bidan yang menangani kehamilan ku.
*****
*****
*****
*****
*****
Dasar mertua gak punya hati 🤬🤬
Mantu udah kesakitan kek gitu bukannya segera di bawa ke bidan malah di suruh nunggu ini itu 🤬🤬
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
💝GULOJOWO💝
Hiyaaaaa emak kudu ngantemi Ryan sak mbokne 🤭🤬🤬🤬🤬🤬
2022-10-13
1