Keesokan paginya aku sudah di perbolehkan pulang oleh Bu Yani. Aku langsung di boyong ke rumah kedua orang tua ku. Nampak mas Ryan tak suka dengan keputusan yang ku ambil. Aku memang tak minta persetujuan mas Ryan terlebih dahulu, karena pasti mas Ryan akan melarang ku. Toh, keputusan ini aku ambil juga karena sudah ku pertimbangkan. Kalau aku pulang ke rumah mas Ryan, mas Ryan dan orang tuanya tak akan peduli. Bagaimana nanti nasib ku dan anak ku? Sudah bisa di pastikan kalau aku akan repot mengurus anak ku sendiri.
"Ayo nduk." Ibuk menggendong anak ku sambil menuntun ku pelan masuk ke dalam rumah.
"Mau duduk di sini apa mau langsung istirahat ke kamar?" Tanya bapak sambil meletakkan perlengkapan bayi ke atas meja depan TV.
"Mau istirahat saja pak, dedeknya juga lagi tidur."
"Ayo buk, baringkan saja di kamar biar ibuk gak capek." Lanjut ku. Aku pun segera melangkah ke kamar di ikuti ibuk di belakang.
Ek... ek... oweeekk.....
Baru juga di baringkan udah nangis kejer. ini mah pertanda kalau anak ku bakalan rewel gak mau di tidurkan maunya di gendong terus. Ibuk segera mengangkatnya kembali.
"Susuin dulu nduk, mungkin kacong haus." Kacong adalah panggilan untuk anak laki-laki di daerah ku. Ibuk lalu meletakkan anak ku ke atas pangkuan ku. Segera aku membuka kancing baju ku untuk menyusuinya. Nampak anak ku rakus sekali menyusunya.
"Jagoan bunda, cepet gedhe ya sayang." Ku elus kepala anak ku pelan. Setelah merasa kenyang, anak ku tertidur kembali. Kemudian ibuk mengangkatnya pelan lalu membaringkannya di atas tempat tidur.
"Istirahat dulu, ibuk mau masak." Aku hanya mengangguk. Ibuk lalu keluar dari kamar. Sesaat kemudian mas Ryan masuk ke dalam kamar kemudian mendekat ke arah ku lalu duduk di pinggir tempat tidur.
"Mau sampai kapan di sini?" Belum juga ada sehari sudah di tanya seperti itu.
"Kalau mas Ryan gak betah disini mas Ryan boleh pulang. Aku gak maksa mas harus ikut kesini." Jawab ku pelan.
"Aku cuman tanya, apa susahnya jawab!" Ucap mas Ryan dengan nada yang sedikit meninggi.
"Stttttttt!" Ku taruh jari telunjuk ku di bibir ku mengisyaratkan agar mas Ryan tak berbicara keras sambil melirik anak ku yang masih terlelap.
"Mungkin sampe selapan mas." Jawab ku akhirnya. Selapan di tempat ku itu umur tiga puluh enam hari. Akhirnya mas Ryan keluar kamar dan gak balik lagi. Hingga malam harinya sekitar habis isya' mas Ryan baru datang lagi bersama ibu mertua ku.
Mas Ryan dan ibu mertua ku menginap di sini, namun mereka hanya tertidur lelap tanpa sedikit pun terusik dengan tangisan anak ku yang rewel. Aku dan ibu ku bergantian menenangkan anak ku, kadang juga bapak. Biasanya kalau sudah di tangan bapak pasti anak ku langsung terdiam lalu tertidur perlahan karena mendengar bapak nembang Jawa atau lebih tepatnya ngidung.
"Sudah, kamu tidur sana, kacong udah tenang di gendongan Akung." Ucap ibuk kemudian membantu ku berbaring ke atas tempat tidur. Diangkatnya kaki ku pelan ke atas tempat tidur kemudian menyelimuti ku. Akung adalah panggilan untuk kakek di tempat ku, sedangkan nenek di panggil Uti. Aku segera memejamkan mata ku karena memang merasa lelah dan mengantuk.
*****
*****
*****
*****
*****
Itu Ryan sama emaknya tidur apa semapot, anak nangis kejer kok gak kebangun 🤬🤬🤬🤬
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Arin
La kalo Ryan sama Mbok'e cuma pindah tidur semua orang juga bisa. Oalah kok yo gak bantu sama sekali di saat ada bayi rewel
2024-02-15
0
💝GULOJOWO💝
Kayaknya Ryan sama emaknya minta di gebyur air seember biar kebangun 🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬
2022-10-15
1