Tepat pukul tiga sore aku dan mas Ryan sampai di klinik bersalin Bu Yani. Aku segera di bawa masuk ke dalam ruang bersalin untuk di periksa dan ternyata sudah bukaan delapan. Setelah itu mas Ryan pergi entah kemana, namun sesaat kemudian datang lagi bersama ibu ku. Ternyata mas Ryan tadi menjemput ibu ku.
Ibuk segera masuk ke dalam ruangan dan menghampiri ku kemudian mengelus kepalaku. Berlinang lah air mata ku merasakan usapan lembut ibuk di kepala ku.
"Kamu kuat nduk, kamu hebat!" Ucap ibuk menyemangati ku. Aku hanya menganggukkan kepala ku masih dengan air mata yang berlinang. Ternyata sesakit ini perjuangan seorang ibu dalam melahirkan anaknya.
"Maafkan Senja buk!" Ucap ku terisak.
"Stttttt! Semangat! kamu pasti bisa." Ucap ibu ku sekali lagi menyemangati.
"Sebentar Nja, saya cek lagi." Nampak Bu Yani mendekat ke arah ku kemudian memeriksa jalan lahir.
"Stttttttt!" Desis ku saat kontraksi datang lagi.
"Sudah lengkap! Ayo bersiap." Kemudian Bu Yani meminta kepada seorang perawat yang membantunya untuk segera mempersiapkan peralatan.
"Nanti kalau saya bilang dorong, baru dorong ya Nja." Aku hanya mengangguk pelan.
"Oke, siap-siap. Tarik nafas buang, tarik nafas lagi, dorong!"
"Aaahh!" Ku cengkram erat tangan ibu ku, luar biasa sakitnya.
"Huh.. huh.. huh.." Ku coba mengatur nafas yang menderu. Nampak ibuk menyeka keringat di dahi ku dengan tangannya.
"Ayo semangat Nja, sekali lagi." Ucap Bu Yani menyemangati.
"Tarik nafas, buang dulu, tarik lagi, dorong!"
"Aaahh!" Jerit ku kemudian menggelengkan kepala.
"Ayo Nja sekali lagi, kepalanya udah kelihatan ini."
"Tarik nafas, langsung dorong!"
"Aaaaaaaaarrrrgh!"
Oweeeeeekk!!
Suara jerit tangis anak ku saat ia lahir ke dunia. Tepat pukul empat sore. Tak terasa air mata ku langsung berlinang saat aku berhasil melahirkannya. Ibuk juga nampak menyeka air matanya. Mungkin ia terharu melihat cucunya baru saja lahir ke dunia.
"Alhamdulillah!" Ucap Bu Yani dan ibu ku serempak. Sedangkan aku hanya berucap syukur di dalam hati.
"Wah, dedeknya cowok loh bund." Ucap Bu Yani sumringah.
"Hallo bunda, aku ganteng loh." Ucap Bu Yani lagi dengan menirukan suara anak kecil yang membuat aku dan ibu ku tersenyum. Hilang sudah kesakitan yang kurasakan tadi. Sekarang telah tergantikan dengan kebahagiaan yang luar biasa.
Setelah bayi ku di bersihkan sesaat kemudian di letakkan di atas dada ku untuk inisiasi menyusui dini. Setelah itu perawat segera keluar, namun tak lama kemudian masuk lagi bersama bapak ku. Entah sejak kapan bapak ku datang, mungkin saja bersama Fajar.
Perawat segera mengambil bayi ku dari atas dada ku kemudian segera di berikan kepada bapak untuk di adzani. Kemana mas Ryan? Kenapa harus bapak yang mengAdzaninya? Apa mas Ryan tidak ingin melihat anaknya? Apakah mas Ryan tidak suka dengan kelahiran anaknya? Bukankah selama ini, ini yang kami nantikan? Segera ku tepis segala pikiran buruk yang berkecamuk di kepala ku.
Setelah di adzani bapak, bayi ku segera di raih oleh ibu ku untuk di gendong. Sedangkan aku segera di bersihkan oleh Bu Yani dan di bantu oleh perawat tadi. Tak lama ibu mertua ku datang bersama mas Ryan. Ternyata, bukannya menemani ku melahirkan malah mas Ryan sibuk menjemput ibunya. Sebenarnya yang mau melahirkan itu aku atau ibunya. Aku hanya bisa meratap dalam hati dengan kelakuan suami ku.
*****
*****
*****
*****
*****
Hadeeehh Ryan-Ryan, istri melahirkan bukannya di temani atau di semangati kok malah ngilang 🤬🤬
Jan-jane ngono Kowe iku waras po gak to Yan 🤬🤬
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
💝GULOJOWO💝
Alhamdulillah 🤲🤲 selamat ya bunda Senja 🥰😘
2022-10-14
1