Tak terasa usia Bagas saat ini sudah menginjak tiga bulan. Siang yang terik membuat anak ku rewel karena kepanasan. Apalagi saat ini mati lampu, lengkap sudah panas dan gerahnya. Aku mencoba membawa anak ku ke rumah tetangga yang ada di sebelah guna mencari angin dan menenangkannya. Ku lihat Bu Sum yang juga sedang berada di teras dengan membawa kipas kecil di tangannya.
"Eh, cah ganteng kepanasan to?" Sapa Bu Sum yang juga nampak kegerahan.
"Rewel Bu, mau tidur gak bisa gara-gara mati lampu gak ada kipas." Jawab ku ramah.
"Iya Nja, jangankan anak kecil, aku aja gak bisa tidur siang gara-gara mati lampu. Panas gak ada kipas. Huuuuhhh!" Kesal Bu Sum
Semilir angin membuat Bagas sedikit lebih tenang dan akhirnya ia tertidur di gendongan ku sambil ku ayun-ayun.
"Eh Nja, Bagas gak ngedot?" Tanya Bu Sum yang melihat Bagas menyusu dengan lahap.
"Enggak Bu, gak ada uang buat beli susu. Lagian ASI ku juga lancar." Uang dari mana coba buat beli susunya?
"Tapi kalau cuma ASI kan gak bisa di ajak kemana-mana tanpa kamu Nja. Misalnya kalau kamu repot, kalau ada sufor kan bisa di ajak orang lain."
"Gak ada uang buat beli susu Bu. ASI aja lebih praktis."
"Emang si Ryan gak kerja?" Aku hanya menggelengkan kepala ku pelan.
"Emang si Ryan pelit Nja?" Aku kembali menggeleng.
"Gak kok Bu, kalau ada uang juga di berikan ke aku. Mungkin sekarang karena gak ada kerjaan jadi gak ada uang." Terlihat Bu Sum manggut-manggut.
"Jangan sampe kayak paman ku dulu Nja, sama istri pelitnya minta ampun. Kalau istri minta uang buat belanja baru di kasih, tapi ngasihnya gak seberapa, buat belanja aja kurang. Kalau aku mah, laki-laki seperti itu udah aku tukar tambah saja dari pada makan ati." Ucap Bu Sum menggebu-gebu. Tanpa ku sadari ternyata mas Ryan ada di teras rumah saat aku tak sengaja melihat siluet tubuhnya. Ya Allah, mati aku! Jangan sampe mas Ryan mendengar percakapan ku dengan Bu Sum. Mending kalau denger dari awal, kalau cuman denger belakangnya aja yang ocehan Bu Sum tadi bisa salah paham ini.
Aku segera pamit kepada Bu Sum untuk menidurkan Bagas karena sepertinya Bagas sudah tertidur nyenyak.
"Aku pamit dulu Bu, mau nidurin Bagas, sepertinya sudah lelap."
"Ho'oh sana cepet tidurkan biar tangan mu gak pegel." Sepertinya bu Sum tak menyadari keberadaan mas Ryan karena memang terhalang tembok setengah badan.
Ku langkahkan kaki ku takut-takut mendekati mas Ryan yang sedang duduk di bangku yang ada di teras.
"Mas, sudah pulang? Dari mana?" Tak ada jawaban sedikit pun yang keluar dari mulut mas Ryan. Aku pun hanya bisa menghela nafas ku pelan. Sudah di pastikan kalau mas Ryan pasti dengar pembicaraan ku tadi dengan Bu Sum. Aku harus bersiap-siap menerima kemurkaannya.
Aku segera masuk kedalam rumah yang nampak sepi tanpa penghuni ini. Entah pada kemana penghuninya. Lebih ramaian di rumah orang tua ku sendiri karena tetangga kanan kiri rumah adalah sanak saudara sendiri. Jadi tiap hari yang gendong Bagas bergantian, lumayan kan aku bisa istirahat sejenak. Kalau di sini hanya aku seorang saja yang menggendongnya, ibu mertuaku juga jarang. Mas Ryan apalagi, palingan cuma mau menunggui Bagas saat ku baringkan di atas tempat tidur saja.
Ku rebahkan tubuh Bagas ke atas ranjang kemudian aku pun ikut berbaring di sampingnya seraya mengipasi Bagas dengan kipas yang terbuat dari anyaman bambu. Tak terasa akhirnya aku pun ikut tertidur lelap.
Entah berapa lama aku tertidur, tapi saat aku terbangun ternyata lampunya sudah menyala, dan kipas pun kembali menyala. Pantas saja Bagas gak kebangun dari tidurnya.
*****
*****
*****
*****
*****
Siap-siap perang dunia ke-2 🤭😂😂
Jangan lupa Like Komen dan Votenya kopi juga boleh ☕☕😂😂
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
💝GULOJOWO💝
Mulai mulai 🤭😂😂😂😂
2022-10-18
1