Zhafran merasa senang, karena istrinya benar-benar sudah berubah. Syafa berusaha untuk belajar masak, dan membersihkan rumah membantu Zhafran. Seperti pagi ini. Zhafran dan Syafa tampak sedang memasak, mereka tampak ceria. Hari ini dia memasak balado telor, tumis kangkung, dan juga goreng tempe. Syafa tak lagi bersikap sombong, dia selalu makan apapun yang Zhafran masak. Mereka terlihat kompak, Syafa yang menyiapkan dan Zhafran yang memasak.
"Aku salut sama laki-laki yang pintar masak. Aku saja seorang wanita, tak bisa memasak," puji Syafa. Suaminya sangat lihai menggunakan alat-alat masak.
"Ya, habis gimana? Aku terpaksa harus hidup mandiri. Selama ini aku tinggal di pesantren, kami sering memasak bareng. Saat aku lulus, aku pun di rumah sering memasak. Bagiku, masak sendiri lebih higienis dan sehat. Nanti kalau kita memiliki anak, sebisa mungkin kamu belajar memasak ya seperti Bunda. Agar kelak anak-anak kita menjadi anak-anak yang sehat dan cerdas," ujar Zhafran dan Syafa menganggukkan kepalanya.
Zhafran tersenyum kala melihat istrinya sedang mencuci piring, di awal pernikahan hal itu tak pernah dilakukan istrinya. Namun sekarang, Syafa selalu berusaha menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Dia juga tak pernah lagi menghina suaminya, meskipun dirinya masih merasa malu jika memperkenalkan suaminya dengan teman-teman kampusnya.
"Selamat makan, makan yang banyak istriku," ujar Zhafran dan Syafa mengacungkan jempolnya. Karena mulutnya kini sudah penuh dengan makanan, Syafa makan dengan lahap.
"Setelah makan, aku langsung berangkat ya. Soalnya aku mau ada pertemuan dengan orang yang ingin umroh, ibu-ibu majelis taklim di daerah Jakarta Selatan," ungkap Zhafran.
"Serius kamu mau ke sana naik motor jelek gitu? Mogok enggak nanti?" ujar Syafa.
Zhafran mengatakan kalau dirinya tak pergi dengan naik motor jelek, karena dia akan mengenakan mobil kantor, dan menaruh motornya di kantor itu. Padahal sebenarnya Zhafran menggunakan mobil sendiri. Hari ini dia akan menggunakan mobil Alphard. Syafa tak tahu kalau suaminya memiliki 4 buah mobil mewah dan rencananya akan membeli sebuah rumah mewah lengkap dengan furniture mewah untuk sang istri. Keempat mobil Zhafran, saat ini dia simpan di parkiran apartemennya.
"Oh ya nanti kamu pulang jam berapa?" Tanya Zhafran. Dia sengaja ingin memberikan kejutan kepada Syafa setelah dirinya menemui para calon jamaah umroh yang memakai travelnya, yang memakai jasanya adalah karyawan yang bekerja di Pertamina Jakarta beserta keluarganya. Oleh karena itu, Zhafran turun langsung. Jika berhasil, keuntungannya sangat lumayan.
Zhafran berangkat lebih dulu, sedangkan Syafa nanti akan berangkat naik ojek online. Semua ini memang permintaan Syafa, yang tak ingin di antar jemput suaminya ke kampus karena merasa malu dengan suaminya.
"Aku berangkat dulu ya! Nanti naik ojeknya hati-hati ya. Assalamu'alaikum," ucap Zhafran.
Syafa mengantarkan suaminya sampai depan pintu rumahnya, dan mencium tangan suaminya. Zhafran mencium kening istrinya. Hubungan mereka sudah mulai mesra.
Setelah suaminya berangkat, Syafa pun bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Syafa sebenarnya merasa malas sekarang ke kampus. Dia ingin pindah ke kelas malam, tetapi Zhafran melarangnya. Zhafran mengingatkan kepadanya, dia tak boleh kalah sama Galang dan Natasya. Justru Syafa harus menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja. Kalau Syafa menghindar, mereka akan merasa menang dan tertawa bahagia.
"Semangat Syafa, aku yakin kamu pasti bisa," ucap Syafa memberi semangat kepada dirinya sendiri.
Syafa baru saja sampai di kampus. Banyak teman-teman mereka yang tahu kalau dirinya sudah putus dengan Galang karena Galang berselingkuh dengan Natasya. Dengan bangganya Natasya membuka aib dirinya sendiri.
"Kasihan banget, primadona kampus merasakan sakit hati juga. Padahal cantik loh, tetapi kekasihnya masih saja selingkuh," sindir Aurora. Syafa memilih untuk diam, dia hanya melirik sinis ke arah Aurora.
"Tahan emosi kamu, kamu tak boleh terbawa emosi! Kalau kamu marah, kamu berarti terbawa perasaan. Membuat laki-laki breng*sek itu bahagia," Syafa terus memberi kekuatan untuk dirinya.
Natasya merasa kesal, saat melihat Galang menghampiri Syafa.
"Selalu saja, Syafa dan Syafa!" gerutu Natasya.
"Kasihan banget lo, cuma jadi pelampiasan Galang saja. Sepertinya Galang masih cinta sama si primadona kampus," sindir Cindy membuat wajah Natasya berubah memerah.
"Lo kalau enggak mengerti apa-apa, jangan sok tahu! Tak perlu ikut campur lo," sahut Natasya ketus dan langsung meninggalkan Cindy.
Galang berlari mengikuti Syafa ke dalam kelas, memanggil-manggil Syafa. Kemudian duduk di bangku yang berada di sebelah Syafa. Galang berniat meraih tangan Syafa, tetapi Syafa langsung menghempaskan tangan Galang.
"Lepas! Jangan pernah sentuh gue lagi! Dasar laki-laki tak tahu malu, masih berani lo menghampiri gue. Lebih baik sekarang lo pergi dari sini, jangan sampai gue laporin kelakuan lo berdua ke Rektor dan Dekan kampus ini! Gue yakin lo berdua akan di DO, karena mencemarkan nama baik kampus karena perbuatan kalian," ancam Syafa. Dia tak main-main, bukan sekedar ancaman. Lama-lama Syafa merasa geram dengan sikap kedua manusia yang tak memiliki hati, mengkhianati kepercayaan dirinya.
Namun Galang tak patah semangat, dia tetap berusaha untuk meminta maaf kepada Syafa. Dia yakin kalau Syafa masih mencintai dirinya. Galang yakin kalau pernikahan Syafa dengan Zhafran hanya sebuah paksaan. Galang merasa kalut, dia bingung. Siapa yang akan membiayai kehidupannya lagi kalau Syafa pergi meninggalkan dirinya. Jika sampai hal itu terjadi, Galang terpaksa harus pindah dari apartemen itu ke kosan yang lebih murah. Karena dirinya tak mampu membayarnya
"Please, Beb. Maafin aku! Aku mengaku, kalau aku salah. Aku khilaf, lagi pula aku melakukan dengan Natasya baru kali ini. Karena sebelum aku memasukkan obat perang*sang ke dalam minuman kamu, aku juga sudah minum obat kuat. Aku sayang sama kamu, aku sebenarnya inginnya bercinta sama kamu. Namun, karena orang suruhan Ayah kamu membawa kamu. Aku tak bisa bersama kamu, sedangkan aku harus menuntaskan hasrat aku. Kalau tidak, aku akan impoten. Aku tak mau Beb sampai hal itu terjadi. Aku ingin memiliki keturunan dengan kamu, aku hanya ingin menikah dengan kamu," ucap Galang memohon, bahkan dirinya bersujud di kaki Syafa.
Ucapan Galang, menggoyahkan hati Syafa. Karena di dalam lubuk hatinya yang terdalam, dia masih sangat mencintai Galang. Padahal dirinya sudah mencoba membuka hatinya untuk Zhafran, dan berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk Zhafran.
"Masa iya aku harus mengkhianati kamu lagi, padahal kamu sudah sangat baik kepadaku," ucap Syafa dalam hati.
Galang tersenyum, hatinya merasa bahagia. Saat melihat ekspresi wajah Syafa yang berubah. Tatapannya tak tajam lagi. Galang yakin, kalau hati Syafa sudah mulai luluh.
"Tolong tinggalkan aku sendiri! Aku ingin sendiri," ucap Syafa. Dari suaranya, Syafa seperti seseorang yang sedang menahan perasaan sedih.
"Tolong pikirkan lagi ya, Beb! Hubungan kita sudah berjalan dua tahun, masa iya harus kandas begitu saja," ucap Galang, dan Syafa hanya terdiam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Agus Irianto
semoga TDK kena jebakan batmant
2023-07-16
0
faridah ida
ini Syafa kalo sampai kena bujukan Galang ,bodoohh nama nya ....
2022-10-13
3
faridah ida
ini Syafa kalo sampai kena bujukan Galang ,bodoohh nama nya ....
2022-10-13
0