Hari ini Ayah Hasan berniat ingin menengok sang anak di rumahnya. Dia beserta istri sudah bersiap-siap untuk berangkat. Rencananya mereka akan makan bersama di sana. Bunda Almira sudah membuat ayam goreng, oseng cumi asin, nasi liwet, sambel, lalap, dan juga tempe tahu.
"Sudah semua, Bun? Ayo kita harus segera berangkat, takut macet di jalan," ujar Ayah Hasan. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Mereka harus melakukan perjalanan kurang lebih 1,5 jam menuju rumah Zhafran.
Kini mereka sudah dalam perjalanan, jalanan cukup padat merayap. Hingga akhirnya Ayah Hasan mencoba menanyakan keberadaan anak dan menantunya. Mereka takut kalau nantinya mereka pergi keluar rumah. Namun, Ayah Hasan meminta kepada Zhafran untuk merahasiakannya.
Syafa dan Zhafran baru saja sampai di rumah mereka. Zhafran menyuruh supirnya untuk segera membawa mobilnya ke apartemen. Dia tak ingin mertuanya curiga. Karena mertuanya sudah bilang kepadanya, akan ke rumahnya.
Syafa langsung membaringkan tubuhnya di ranjang, hatinya masih merasa sedih. Tak mudah baginya untuk melupakan kejadian yang begitu menyesakkan dada.
"Ternyata cinta kamu ke aku palsu. Breng*sek kamu, aku benci kamu! Dasar pengkhianat!"
Syafa terus mengumpat mantan kekasihnya itu. Dia tak habis pikir, mengapa Galang setega itu padanya. Padahal selama ini dirinya sangat baik, selalu membiayai kebutuhan Galang. Demi cintanya kepada Galang, dirinya bahkan sampai melawan Ayahnya dan menyakiti hati suaminya.
"Assalamu'alaikum," Ayah Hasan dan Bunda Almira mengucap salam secara bersamaan.
Mereka baru saja sampai di rumah. Mendengar ada yang mengucap salam, Zhafran bergegas untuk membukanya. Ternyata kedua mertuanya, Zhafran langsung mencium tangan mertuanya secara bergantian dan mempersilahkan keduanya untuk masuk dan menyuruh keduanya duduk. Kemudian Zhafran langsung memanggil Syafa yang berada di kamar.
"Ada siapa?" Tanya Syafa, dia mendengar ada orang yang mengucap salam di luar. Namun dirinya malas untuk bangkit. Zhafran mengatakan kalau yang datang itu kedua orang tuanya. Hal itu membuat Syafa langsung bangkit.
Syafa langsung berlari keluar kamar menghampiri kedua orang tuanya dan langsung memeluknya secara bergantian. Air matanya jatuh satu persatu, Syafa menyesali perbuatannya.
"Bunda, maafkan Syafa ya! Syafa menyesal, karena tak mendengarkan ucapan Bunda. Untungnya Allah masih memberikan kesempatan kepada Syafa untuk hidup bahagia bersama Kak Zhafran. Hiks ... Hiks ... Hiks," ungkap Syafa.
"Iya, Sayang. Kamu sudah tahu kan siapa mantan kekasih kamu yang selama ini selalu kamu banggakan. Ternyata hanyalah seorang pengkhianat. Allah sudah menunjukkan kalau Zhafran adalah jodoh kamu, mulai sekarang kamu harus bisa belajar menjadi istri yang baik, dan menghargai Kak Zhafran," ujar sang Bunda dan Syafa menganggukkan kepalanya.
Kini dirinya beralih ke sang ayah, sama halnya kepada sang Bunda. Syafa juga melakukan hal yang sama kepada sang ayah, meminta maaf atas kesalahan yang dia perbuat
"Ya sudah, yang lalu biarlah berlalu! Sekarang tugas kamu harus berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi. Hargai suami kamu, ingat kamu sudah menikah dengan Nak Zhafran, jangan sampai kamu berbuat dosa! Mulai sekarang buka hati kamu untuk Nak Zhafran, dan berusaha untuk menjadi istri yang baik untuknya," ujar Ayah Hasan dan sama halnya saat bersama sang Bunda, Syafa hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah meminta maaf kepada kedua orang tuanya, Syafa langsung menghampiri suaminya yang ikut duduk bersamanya. Zhafran terkejut, karena Syafa melakukan hali itu kepadanya. Berlutut di kakinya. Zhafran menyuruh sang istri untuk bangun, karena dirinya tak butuh tindakan seperti itu. Yang terpenting baginya, sang istri menunjukkan keseriusannya untuk berubah. Zhafran menyuruh Syafa untuk duduk di sebelahnya dan menghapus air mata di wajah Syafa.
Melihat hal itu, kedua orang tua Syafa merasa bahagia. Mereka tak salah memilih suami untuk anaknya. Perjodohan membawa bahagia, akhir cinta perjodohan mereka berujung saling mencintai.
"Ya sudah, sekarang lebih baik kalian fokus untuk memberikan Ayah dan Bunda cucu. Kami sudah tak sabar ingin menggendong cucu dari kalian," ujar Ayah Hasan. Keduanya tampak menganggukkan kepalanya dengan kompak.
"Ayah Bahagia melihat kalian berdua berbahagia. Semoga pernikahan kalian selalu di ridoi Allah. Di mudahkan semuanya, dan bisa segera memiliki momongan. Kalian juga bisa menjadi keluarga sakinah, mawadah, dan warohmah," ungkap Ayah Hasan dan diaminkan oleh keduanya.
Bunda Almira mengajak Syafa untuk membantu dirinya untuk menyiapkan makanan di meja makan, untuk mereka makan bersama.
"Bun, nanti tolong ajarkan aku masak ya! Aku ingin belajar memasak, agar bisa membahagiakan suamiku," ungkap Syafa, membuat sang Bunda tersenyum. Dia bersyukur sang anak ingin berubah .
"Ayo, kapan kamu mau belajar? Suami itu akan tambah cinta sama kita, dan selalu setia sama kita, kalau kita memanjakan perutnya, dan tak lupa kita juga harus bisa memuaskan suami kita di ranjang. Agar suami kita tak pernah berpikir untuk berpaling ke wanita lain," nasehat sang Bunda. Syafa berniat membahagiakan suaminya.
Mereka kini sudah berada di meja makan. Syafa berusaha untuk melayani suaminya di meja makan, mengambilkan nasi dan meletakkannya di piring suaminya. Syafa juga mengambilkan sayur dan lauk pauk. Melihat pemandangan seperti itu, Ayah Hasan merasa terharu. Karena Zhafran begitu sabar menghadapi anaknya, hingga akhirnya sang anak berubah.
"Sekarang kamu makan masakan Bunda, besok-besok Syafa yang akan memasakkan untuk kamu. Dia ingin belajar memasak makanan untuk kamu," ujar Bunda Almira. Zhafran akan selalu sabar, menunggu saatnya tiba. Mereka makan dengan lahap. Zhafran bersyukur karena memiliki keluarga baru.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Agus Irianto
alhamdulilah akhirnya bahagia..kesabaran.membuahkan kebaikan
2023-07-16
0
Teh Yen
Alhamdulillah smoga zafran junior segera hadir yah
2022-10-12
0
faridah ida
Syafa sekarang sudah ada rasa sama Zhafran , tinggal nunggu debay hadir ini ...😊😊🤭🤭
2022-10-12
0