"Nak Zhafran, ini anak Ayah. Namanya Syafa. Seperti yang sempat Ayah ceritakan, saat ini Syafa masih duduk di bangku kuliah. Kamu tak masalahkan, jika nantinya Syafa tetap kuliah. Kamu tak perlu khawatir, semua biaya kuliah Syafa biar Ayah yang menanggungnya. Setiap bulannya Ayah juga akan memberikan uang 10 juta untuk kehidupan kalian. Nanti kalian tinggal di apartemen yang Syafa tempati ya! Nak, Zhafran tak merasa keberatan kan," ujar Ayah Hasan.
"Iyalah tak akan keberatan, justru enak nikah dengan orang kaya. Bisa menumpang hidup. Ayah bilang dia seorang Ustadz, kok tak memiliki harga diri. Menumpang hidup, dengan cara menikahi anak dari orang kaya. Ayah yakin mau menikahi aku, anak semata wayang Ayah dengan orang miskin dan kampungan seperti itu. Kalau Ustadz yang keren, ganteng, dan tajir model Ustadz gaul sekarang-sekarang ini sih, ok saja aku," sindir Syafa dengan sombongnya.
"Syafa, tutup mulut kamu! Tak pantas kamu bicara seperti itu! Affan tak seperti yang kamu bayangkan, semua ini bukan dia yang meminta. Ayah lakukan ini demi kebaikan kamu," bentak Ayah Hasan membuat wajah Syafa merengut. Merasa tak suka.
Ustadz Zhafran justru menanggapinya dengan santai. Dia tak menunjukkan perasaan kesal. Jika dia menanggapinya, apa bedanya dengan Syafa. Dia justru terlihat dewasa dan tenang.
"Maaf Ayah sebelumnya. Sepertinya dek Syafa salah paham dengan tujuan saya ingin melakukan ta'aruf dengannya. Di sini saya akan menjelaskan, semua yang saya lakukan semata-mata karena Allah. Menyempurnakan ibadah saya yaitu dengan menikah. Di sini saya tegaskan, sejak awal saya tak pernah berpikir kelak untuk menumpang hidup dengan istri saya. Walaupun dia adalah anak orang kaya. Saya sudah sangat bersyukur dengan apa yang saya miliki saat ini. Alhamdulillah saya telah memiliki motor walaupun motor saya sangat jauh dari kata bagus, saya juga telah memiliki rumah sendiri walaupun jauh dari kata mewah. Hanya rumah tipe 21 yang hanya memiliki satu kamar. Peralatan di rumah pun tidak lengkap. Namun, saya berjanji akan berusaha untuk segera memfasilitasikan. Memudahkan Syafa melakukan tugas rumah tangga. Untuk urusan pembayaran kuliah, InsyaAllah saya mampu untuk membayarnya. Saat saya melakukan ijab kabul dengan Syafa, saya berjanji semua kebutuhan Syafa akan berpindah tanggung jawabnya kepada Saya. Tugas Ayah telah selesai," ungkap Ustadz Zhafran. Membuat Syafa melongo. Bagaimana dirinya bisa hidup tanpa kemewahan. Bahkan Affan sempat mengatakan kalau dirinya di suruh menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga pada umumnya.
"Oh My God. Bisa stres gue kalau seperti ini. Yang ada kulit gue tak akan terawat, tak bisa lagi melakukan perawatan. Harusnya sebelum lo memutuskan untuk menikahi gue, lo pikirin dulu matang-matang! Lo tau kan siapa gue, harusnya lo sadar diri. Lebih baik sekarang lo mundur, kalau lo merasa tak mampu," sindir Syafa.
"Syafa! Ayah itu yang meminta Affan untuk mau menjadikan kamu sebagai istrinya. Harusnya kamu bersyukur, karena seorang laki-laki sholeh mau menikah dengan wanita model begini," sahut Ayah Hasan.
Syafa merasa kesal karena sang Ayah justru membela orang lain dibandingkan anaknya. Memaksakan kehendaknya. Padahal Syafa sudah memiliki laki-laki pilihannya.
"Mungkin aku tak sekaya orang tua kamu, tetapi aku akan berusaha untuk membahagiakan kamu. Berusaha menjadi imam yang baik, yang bisa menuntun kamu ke jalan yang benar. Jalan yang Allah ridhoi," sahut Zhafran, Syafa terlihat mencibir dan memutar bola matanya. Merasa malas mendengar perkataan Zhafran yang sok agamais.
"Ayah serahkan semuanya sama kamu, Ayah yakin kamu bisa mendidik Syafa menjadi wanita yang sholeha. Jika keputusan kamu seperti itu, Ayah ikut saja. Ayah yakin kamu tak akan menelantarkan Syafa, kamu bisa menjaga Syafa dengan baik," ujar Ayah Hasan dan Zhafran menganggukkan kepalanya.
"Ayah kok gitu sih, Syafa ini anak Ayah. Anak Ayah satu-satunya. Ayah kok tega menelantarkan aku, dengan menikahkan aku dengan laki-laki yang tak jelas asal usulnya. Aku ini sudah terbiasa hidup mewah, Yah. Aku tak bisa hidup seperti orang susah," sahut Syafa ketus.
Suasana terasa sedikit tegang, karena Syafa terus saja menjawab ucapan Affan dan sang Ayah dengan ketus. Untuk mengurangi ketegangan, Bunda Almira mengajak mereka untuk makan siang. Bunda Almira sudah menyiapkan makanan-makanan yang lezat untuk makan siang mereka.
"Bunda memang the best, masakan Bunda selalu enak. Semoga Syafa pintar memasak juga seperti Bunda," ujar Affan di sela-sela menikmati makanannya.
"Jangan mimpi. Memangnya gue pembantu. Ngapain cape-cape masak, lebih baik pesan makanan online saja," sungut Syafa, membuat memberikan tatapan tajam ke sang anak. Sedangkan Zhafran. Lagi-lagi hanya diam, menanggapinya dengan santai.
Bunda Almira terlihat mencoba menasehati sang anak. Jika menikah nanti, sang anak di suruh belajar memasak. Untuk menunjukkan kecintaan terhadap pasangan, dan juga sebagai bentuk tanggungjawab sebagai seorang istri.
"Bunda tak perlu nasehati aku deh, aku ini nanti menikah karena perjodohan. Bukan seperti Ayah yang menikah karena saling mencintai," sahut Syafa.
Bunda Almira menceritakan kisah cintanya dengan Ayah Hasan. Dulu, kehidupan Bunda Almira sangat berbeda dengan Ayah Hasan. Namun, Bunda Almira tetap menghargai Ayah Hasan. Mereka berjuang bersama, hingga akhirnya mereka menjadi orang sukses seperti sekarang ini.
"Saya perhatikan sejak tadi kamu menunjukkan perasaan tak suka. Menolak perjodohan ini. Jika memang kamu tak suka, kita bisa kok tak melanjutkan proses ta'aruf. Karena pernikahan dengan unsur paksakan, tidak akan sah di mata Allah. Jika kamu terpaksa, lebih baik tidak usah," ucap Zhafran. Membuat Syafa merasa tertampar.
Dirinya kini berada di posisi yang serba bingung. Sebenarnya memang seperti itu, dia tak terima dengan perjodohan ini. Namun, dirinya merasa takut. Kalau nantinya sang ayah akan marah besar padanya. Jika dirinya menolak perjodohan itu. Mau tak mau dia harus menuruti permintaan ini.
"Ya sudah iya, aku mau menikah dengan kamu," ucap Syafa.
"Yakin kamu mau menerimanya? Kamu siap mengikuti suami kamu ini? Tinggal bersama aku, dan menjalani kehidupan bersama? Menerima aku apa adanya," tanya Zhafran menegaskan.
"Iya, tadi aku kan sudah jawab iya," sahut Syafa ketus.
Mereka sepakat untuk melanjutkan ta'aruf ini ke jenjang pernikahan. Ayah Hasan dan Bunda Almira tersenyum bahagia, karena pada akhirnya kelak sang anak akan menikah dengan pilihannya.
"Alhamdulillah. Ayah sangat senang mendengarnya. Semoga semua dilancarkan. Bagaimana kalau proses pernikahan ini segera dilaksanakan," ujar Ayah Hasan.
"Pernikahan kita cukup akad nikah saja, aku tak ingin teman-teman aku tahu kalau kita sudah menikah. Kalau kamu ingin mengadakan pesta resepsi, kamu kumpulin dulu uangnya sebanyak mungkin. Aku ingin uang resepsi dari kamu, bukan dari orang tua aku. Jika kamu tak mampu, jangan pernah bermimpi untuk mengadakan pesta resepsi," Cerocos Syafa dan Zhafran mengiyakan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Uthie
Sepertinya Zhafran bukan laki2 biasa lohhh untuk Syafa 😏
2023-03-28
0
Pengagum rahasia
kenapa aku feeling-nya Zhafran bukan org sembarangan ya. syafa akan menyesal nanti
2022-09-20
0
Siti Zuriah
syafa... syafa ntar klo udh nikah sm zhafran nyesel loh klo udh tau galang sbnr nya playboy dan cuma harta syafa doang sedang kn zhafran mw nikah sm syafa karna ridho allah mk nya ga usah nyinyir syafa turutin aja apa kata ayah km
2022-09-11
3