Awal bulan adalah waktu yang biasa Ayah Hasan lakukan untuk menyumbangkan sebagian rezekinya ke Pondok Pesantren Al Inayah pimpinan Abah Alwi. Biasanya dia lakukan hanya sekedar transfer saja, kecuali kalau ada acara di pondok pesantren. Ayah Hasan berusaha menyempatkan waktunya untuk hadir sebagai partisipasi acara yang di adakan di Pondok Pesantren tersebut.
Untuk bulan ini Ayah Hasan berniat mengunjungi langsung pondok pesantren, sekalian dia bersilahturahmi bertemu Abah Alwi dan Ummi Fatimah. Dia juga akan membawa serta Bunda Almira. Ayah Hasan juga berniat ingin membicarakan masalah putri semata wayangnya. Mungkin saja Abah Alwi bisa menolongnya, untuk mencarikan jodoh terbaik untuk sang anak.
"Bagaimana? Apa semuanya sudah siap, Bun?" tanya Ayah Hasan dan Bunda Almira mengatakan kalau semuanya sudah siap.
Hari ini, Bunda Almira spesial membuatkan makan siang untuk mereka makan bersama Abah Alwi dan Ummi Fatimah. Tak lupa mereka juga sudah menyiapkan buah tangan untuk di bawa ke Pondok Pesantren. Berupa cemilan anak-anak, kebutuhan pokok anak-anak pesantren, bingkisan untuk Abah Alwi, dan juga bingkisan untuk anak yang berprestasi.
Setiap bulan Pondok Pesantren selalu mengadakan kompetisi untuk anak-anak yang berada di sana. Hal ini adalah gagasan dari Ayah Hasan. Pondok pesantren ini adalah pondok pesantren yatim piatu, semua dana berasal dari para donatur. Ayah Hasan adalah donatur tetap dan donatur terbesar.
"Semoga Syafa segera menemukan jodoh yang baik ya, Bun. Jujur Ayah sangat khawatir dengannya. Dia adalah anak kita satu-satunya," ujar Ayah Hasan.
Meskipun Ayah Hasan seorang pengusaha hebat dan memiliki pendapatan yang besar setiap bulannya, dia memiliki sifat sederhana. Karakter Syafa sangat berbeda dengan kedua orang tuanya. Berkali-kali Bunda Almira mengingatkan anaknya untuk berhati-hati dalam bergaul, dia juga kerap mengingatkan sang anak untuk menutup auratnya. Namun, selalu saja di bantah.
Mobil yang membawa Ayah Hasan dan Bunda Almira telah sampai di halaman parkir pondok pesantren. Mereka langsung di sambut baik dengan Abah Alwi. Sejak kecil Ayah Hasan adalah seorang yatim piatu, dan dia besar di pondok pesantren itu. Tempat yang menjadikan dirinya menjadi orang yang sukses dan sadar diri.
Berkat kerja kerasnya dia mampu membuktikan bahwa anak yatim piatu seperti dirinya yang besar di pesantren, mampu bersaing dengan anak-anak ekonomi di atas. Hubungan Ayah Hasan dengan Abah Alwi sangat dekat, seperti seorang Kakak dan Adik. Abah Faiz orang tua dari Abah Alwi sangat menyayangi Ayah Hasan, dirinya sudah menganggap Ayah Hasan seperti anaknya sendiri.
"Assalamu'alaikum warohmatulohi wabarakatuh," salam yang diucapkan Ayah Hasan saat turun dari mobil mewahnya.
Meskipun dirinya sekarang sudah menjadi orang sukses, tak menjadikan dirinya tinggi hati. Kesuksesan yang dia raih saat ini adalah buah dari kesabaran, kerja keras, dan doa yang selalu dia panjatkan kepada yang berkuasa mewujudkan mimpinya. Ketulusan cinta dan kerja keras yang dia miliki, mampu menaklukkan kerasnya hati orang tua Almira. Orang tua Almira sempat tak merestui hubungan mereka, karena Ayah Hasan hanyalah anak yatim piatu yang tak jelas asal usulnya. Namun, perjuangannya tak sia-sia. Restu akhirnya dia dapatkan. Abah Faiz 'lah yang saat itu menjadi wali saat Hasan menikah dengan Almira.
"Jika nantinya anak aku berjodoh dengan seorang laki-laki yang miskin harta, aku tak akan melarang putriku untuk menikah dengannya. Asalkan laki-laki itu adalah laki-laki yang sholeh dan memiliki ketulusan hati untuk mencintai anakku. Laki-laki yang bertanggung jawab dan pekerja keras. Karena aku yakin, suatu saat nanti dia akan menjadi orang yang sukses dan lebih menghargai sebuah kehidupan."
"Walaikumsalam warohmatulohi wabarakatuh, ayo silahkan masuk adik-adikku. Um, Ummi, Hasan datang bersama Almira," sahut Abah Alwi. Dia memanggil istrinya yang sedang memasak di dapur dengan lembut. Sebaik-baiknya seorang lelaki, adalah laki-laki yang memuliakan istrinya. Bertutur kata yang lembut.
Ummi Fatimah langsung memeluk tubuh Bunda Almira, melepas kerinduannya. Abah Alwi dan Ummi Fatimah memiliki satu orang putri dan satu orang putra. Bernama Ali dan Nabila. Selain mengajar di sekolah islam, Nabila mengajar juga di pondok pesantren. Saat ini berusia 24 tahun, dan belum menikah. Sedangkan Ali sang adik saat ini berusia 21 tahun, dan masih duduk di bangku kuliah semester akhir. Kelak dia yang akan meneruskan memimpin pondok pesantren.
"Assalamu'alaikum warohmatuloh wabarakatuh," Ustadz Zhafran mengucap salam.
"Masuk Fan, ayo sini makan bareng," ujar Abah Alwi.
"Ayo Zhafran, sini makan bareng," ucap Ayah Hasan.
Ustadz Zhafran sempat menolak, dirinya merasa sungkan ikut bergabung untuk makan bersama. Meskipun dirinya dekat. Ustadz Zhafran sama halnya seperti Ayah Hasan, dirinya menjadi yatim piatu sejak dirinya masih berusia 6 tahun. Kedua orang tuanya mengalami kecelakaan. Dulu dia adalah anak orang kaya, tetapi keluarga dari kedua orang tuanya sangat jahat. Mereka menitipkan Zhafran di Pondok Pesantren, dan harta kekayaannya di kuasai oleh keluarga kedua orang tuanya.
"Gimana kabar kamu sekarang, Fan? Kapan kami mendapatkan undangan dari kamu?" ujar Ayah Hasan.
"Belum, Yah. Doakan saja, semoga Allah menyegerakan memberikan jodoh untuk aku," sahut Zhafran sambil tersenyum. Zhafran dan Hasan hubungannya cukup dekat, dia memanggil Hasan Ayah dan Almira Bunda. Sepertinya anak kepada orang tuanya.
Tiba-tiba saja Ayah Hasan terpikir untuk menjodohkan Ustadz Zhafran dengan anak semata wayangnya.
Deg!
"Apa Ayah tak salah bicara? Afwan Ayah, Ayah kan tahu kalau Affan bukanlah berasal dari keluarga berada. Affan pun tak memiliki kedua orang tua. Ayah sangat terhormat, terlebih Putri Ayah adalah anak satu-satunya," sahut Zhafran.
"Jika Ayah melihat harta kekayaan, sejak kemarin Ayah pasti sudah menjodohkan Syafa dengan anak relasi Ayah. Namun, hal itu yang bukan Ayah cari. Ayah ingin mencari pendamping yang sholeh dan mencintai Syafa dengan tulus. Harta bisa dicari, kamu pun tahu Ayah dulu seperti apa. Ayah rasa kamu adalah jodoh terbaik untuk Syafa. Apa kamu mau melakukan ta'aruf dengan Syafa. Jika kamu meras cocok, kita bisa segerakan pernikahan kalian. Ingat Ayah tak memaksa, sebuah pernikahan tak boleh dipaksakan," ungkap Ayah Hasan dan Zhafran menerimanya. Dia siap melakukan proses ta'aruf dengan Syafa. Wanita yang belum dia kenal. Karena Syafa tak pernah sekalipun ikut, jika kedua orang tuanya mengunjungi pondok pesantren.
"Alhamdulilah. Abah senang mendengarnya. Semoga semuanya di permudah. Mungkin saja Syafa adalah jodoh yang Allah telah siapkan untuk kamu," ucap Abah Alwi.
Ternyata obrolan mereka membuat Nabila merasa sedih. Diam-diam dia menyimpan perasaan kepada ustadz Zhafran. Namun, dia memilih untuk menyimpannya. Hari ini dirinya mendengar kalau Abah justru mendoakan lelaki impiannya, melakukan proses ta'aruf dengan wanita lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
anggita
mampir ng👍 like ae, mugo sukses novel barunya.
2022-09-09
1
Fatma Kodja
lanjut thor
2022-09-06
1
Siti Zuriah
wahh... ternyata nabila diem" suka sm zhafran terluka hati nabila klo zhafran mw d jodohkn sm syafa
2022-09-05
2