"Ayo kita sholat Ashar dulu, setelah sholat apa kamu mau berkeliling mencari makanan," ujar Zhafran dan Syafa tampak menganggukkan kepalanya.
Mereka sholat berjamaah. Hari ini Zhafran tak ada jadwal mengajar, dan Syafa pun tidak ada jam kuliah. Mereka sudah bersiap-siap akan pergi untuk jalan-jalan sore.
"Kenapa? Malu ya naik motor jelek sama aku? Doakan aku biar aku bisa membeli mobil, agar kamu tak kepanasan dan kehujanan," ucap Zhafran dan Syafa mengiyakan. Sore ini Syafa tampak lebih manis, tak seperti biasa yang hobinya mencibir suaminya sendiri. Syafa mulai membuka hatinya untuk suaminya, membuat dirinya mulai merasa nyaman bersama Zhafran.
Akhirnya Syafa naik ke motor, meskipun awalnya dia merasa ragu. Bahkan kini tangan Syafa melingkar di perut suaminya. Mereka menikmati jalan sore kali ini. Inilah hal pertama kali mereka lakukan setelah mereka resmi menjadi pasangan suami istri. Semenjak mendapatkan cibiran dari ibu-ibu di tukang nasi uduk, Syafa kini berpakaian lebih sopan. Seperti pagi ini, dia memakai celana panjang jeans dan juga kaos. Tak lupa memakai sweater untuk menutupinya.
Motor Zhafran kini terparkir di pusat kuliner jajanan pinggir jalan. Zhafran menggandeng tangan istrinya dengan mesra, Syafa sempat melirik dan akhirnya hanya pasrah. Dia harus menyadari, wajar suaminya melakukan hal itu.
"Meskipun ini jajanan kaki lima, untuk rasa bisa di adu," ujar Zhafran sambil tersenyum.
"Duh, senyumnya manis banget. Ternyata dia tampan juga," gumam Syafa yang menatap wajah suaminya.
"Hei, kok malah melamun. Hayo memikirkan apa?" goda Zhafran membuat wajah Syafa memerah.
Akhirnya Syafa memutuskan memesan semangkuk baso dan es jeruk peras. Sedangkan Zhafran memesan nasi ayam bakar dan juga es teh manis.
"Hari ini kita jalan-jalannya ke sini dulu ya, nanti kalau aku ada rezeki kita menginap ke Bandung atau Puncak ya. Ya hitung-hitung kita berbulan madu. Terus doakan aku ya," ujar Zhafran, sedangkan Syafa justru lebih memilih diam.
Dirinya merasa bingung dengan perasaannya. Entah mengapa dirinya merasa senang mendapatkan perlakuan manis dari suaminya itu. Hatinya kini berbunga-bunga. Rasanya dia ingin selalu melebarkan senyum di bibirnya.
Syafa merasa semakin tak enak hati. Karena dia tak pernah sekali pun mendoakan suaminya, tetapi suaminya selalu saja bersikap baik kepadanya. Ngomong-ngomong soal bulan madu, dirinya menjadi teringat akan kewajibannya sebagai seorang istri yang belum pernah melayani suaminya di ranjang. Namun, begitu baik suaminya yang tak pernah menuntutnya.
Tawa riang mengiringi kebersamaan mereka. Ternyata Zhafran sosok yang menyenangkan. Dia mampu membuat Syafa yang awalnya diam ikut terhanyut dan bahkan ikut tertawa. Namun kebahagiaan mereka terusik saat Galang menghubungi ponsel Syafa.
Saat itu Syafa merasa bingung. Dia merasa tak enak dengan suaminya, karena merusak momen kebersamaan mereka. Syafa memilih untuk tidak mengangkatnya dan mematikan ponselnya, seperti yang dia lakukan dulu, saat dirinya bersama Galang dan Zhafran menghubungi dirinya.
"Kenapa tak di angkat? Ternyata kamu selalu melakukan hal itu ya saat bersama laki-laki lain. Seperti yang kamu lakukan dulu kepada aku. Pasti saat itu kamu sedang bersamanya," sindir Zhafran membuat Syafa merasa malu. Bingung harus menaruh mukanya dimana.
"Maaf ya!" ujar Syafa dengan perasaan bersalah.
"Aku bukan hanya butuh kata maaf dari kamu, aku butuh perubahan sikap kamu," sindir Zhafran lagi membuat Syafa tak mampu berkata-kata lagi.
Untuk mencairkan suasana, Zhafran mengajak sang istri melanjutkan lagi perjalanan. Kini dirinya mengajak ke sebuah taman. Di sana banyak orang tua yang membawa putra putri mereka ke arena bermain, ada juga para remaja yang datang ke tempat itu untuk berpacaran. Tempatnya sangat adem, karena banyak di tanami pohon-pohon besar dan rindang. Cocok untuk duduk bersantai.
"Kamu tunggu di sini dulu ya, aku mau beli es cream dulu. Kamu mau es cream rasa apa," ujar Zhafran.
Kini Zhafran sedang mengantri di sebuah kedai yang menjual es cream. Dia membeli dua buah es cream untuk dirinya dan istrinya. Satu buah es cream rasa strawberry untuk istrinya, dan satu es cream coklat untuknya.
"Kamu mau tidak seperti mereka," ujar Zhafran sambil menunjuk ke arah pasangan suami istri yang sedang bersama kedua anaknya. Anaknya yang satu berada dalam gendongan istrinya dan anaknya satunya asyik main ayunan dengan di awasi sang ayah.
Syafa tentu saja terdiam. Hatinya masih menolak. Dia masih belum siap memiliki anak di usia muda. Dia masih ingin hidup santai menikmati masa mudanya. Terlebih dia belum ada perasaan cinta kepada Zhafran, saat ini baru ada perasaan nyaman.
"Aku tidak memaksa kok," ujar Zhafran.
Matahari sudah mulai tenggelam, sebentar lagi pun sudah mau magrib. Mereka memutuskan untuk pulang, dan menjalankan sholat magrib di rumah. Syafa melingkarkan kembali tangannya. Sesampainya di rumah, mereka kembali menjalankan sholat berjamaah. Menjalankan sholat magrib. Syafa mencium tangan suaminya dan Zhafran mengecup kening istrinya, mengelus rambut istrinya, dan memegang dagu istrinya membuat jantung Syafa berdegup kencang. Syafa baru bisa bernapas lega, saat Zhafran melepasnya. Dia takut kejadian memalukan terjadi kembali, saat mereka hampir saja terlena dalam gairah.
"Gimana kuliah kamu? Kapan selesai? Oh ya apa kamu sudah ada tagihan untuk bayar kuliah? Kalau sudah, kamu kasih tahu aku ya," ujar Zhafran membuka obrolan mereka malam ini.
"Memangnya kamu punya uang? Kuliah aku bayarnya mahal, biar Ayah saja yang membayarnya. Aku tak ingin menyusahkan kamu," ucap Syafa membuat Zhafran tersenyum.
"Sayang, kamu itu istri aku. Sudah menjadi kewajiban aku untuk memenuhi semua kebutuhan kamu, termasuk bayar kuliah kamu. Berapa? Kamu tak perlu sungkan, sini kasihkan ke aku tagihan dan nomor rekeningnya," ujar Zhafran.
Syafa memberikan total tagihan biaya kuliah semester ini, sejumlah 18 juta. Dengan enaknya Zhafran mentransfer melalui internet banking di depan Syafa. Membuat Syafa melongo.
"Kok kamu punya uang sih? Memangnya sebanyak itu uang kamu," ujar Syafa menyelidik.
"Memangnya Ayah kamu dan kamu saja yang punya uang. Aku juga alhamdulillah biar begini punya uang, tetapi uang aku berbeda. Hanya untuk keperluan yang benar-benar perlu, bukan untuk berfoya-foya untuk hal yang tak penting," sahut Zhafran membuat Syafa terdiam.
Syafa memperhatikan suaminya dari atas hingga bawah. Membuat Zhafran tertawa geli dalam hati. Semua yang dia lakukan, hanya ingin mencari wanita yang tulus mencintai dirinya bukan karena harta kekayaannya. Inilah alasan dirinya sejak dulu lebih memilih hidup sederhana. Merahasiakan identitasnya.
"Kenapa? Aneh ya? Penampilan seperti ini, orang miskin kok punya uang?" sindir Zhafran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Agus Irianto
baru tau dia kalou suami punya uang
2023-07-16
0
Uthie
Memang jangan pernah melihat orang dari sebuah Cover nya saja 👍
2023-03-28
0
fira
jangan lihat penampilannya Safa , lihatlah saldonya
2022-10-08
1