"Breng*sek! Dasar pengkhianatan!"
Teriak Syafa, membuat Galang dan Natasya yang saat itu sedang tidur sambil berpelukan harus terbangun. Natasya tersenyum penuh kemenangan, karena akhirnya Syafa melihat langsung dirinya sedang bersama Galang.
"Kalian berdua memang pengkhianat! Ternyata ini yang kalian lakukan di belakang aku? Benar-benar tega kalian," ucap Syafa. Syafa mencoba menahan rasa sesak di dadanya, air mata yang sejak tadi di tahan akhirnya jatuh juga. Hatinya terasa sakit melihat orang yang dia cinta memiliki hubungan terlarang dengan sahabatnya sendiri.
Syafa merasa jijik, saat melihat Galang yang mencoba menghampiri dirinya yang masih dalam keadaan polos, sedangkan Natasya menutupi tubuhnya dengan selimut.
Plak!
Satu tamparan mendarat di wajah Galang. Galang memegang wajahnya yang terkena tamparan Syafa. Namun dirinya akan berusaha untuk membuat Syafa untuk memaafkan dirinya, karena dirinya tak ingin kehilangan Syafa.
"Beb, dengarkan aku dulu! Aku bisa jelaskan semuanya kepada kamu," ujar Galang.
"Mau jelaskan apa lagi? Mau bilang, kalau kalian selama ini sudah sering melakukan hal ini dibelakang aku? Kenapa kamu tak putuskan aku saja, jika kamu mau sama wanita murahan itu," bentak Syafa, dirinya sangat marah dan kecewa dengan Galang. Bahkan dirinya tak sudi mengucap nama Natasya.
Galang menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Dia mengatakan kalau dirinya sangat mencintai Syafa, dan hanya menganggap Natasya sekedar pemuas ranjangnya. Galang melakukan hal ini, karena Syafa kerap menolak melakukan hubungan suami istri dengannya. Hingga akhirnya dirinya melampiaskannya kepada Natasya.
"Maafkan aku! Aku mengakui kesalahan aku, please jangan tinggalkan aku! Aku sayang banget sama kamu, aku tak mau kehilangan kamu," ungkap Galang yang kini bersujud di kaki Syafa. Bahkan Galang sampai meneteskan air mata.
"Lepas! Jangan sentuh aku! Aku tak sudi di sentuh kamu, meskipun hanya sekedar kaki. Jadi ini balasan yang kamu lakukan kepada aku, balasan ketulusan cinta aku kepada kamu. Bahkan demi cinta aku kepada kamu, aku rela melawan Ayah aku. Aku menutup mata dan hati aku, untuk tetap bersama kamu. Aku bersyukur karena aku tak memberikan kehormatan aku ke kamu, jika hal itu terjadi aku akan menyesal seumur hidup aku. Karena aku telah bertindak bodoh. Mulai hari ini hubungan kita selesai, jangan pernah dekati aku lagi! Aku tak sudi berkawan dengan pengkhianat seperti kalian," ungkap Syafa diiringi isak tangis.
Zhafran sengaja memilih diam, meskipun dirinya mendengar suara keributan. Dirinya bersyukur, karena akhirnya Allah menunjukkannya kepada Syafa.
"Inikah artinya seorang sahabat? Sahabat yang tega menikam sahabatnya sendiri. Dasar wanita murahan," umpat Syafa. Bukannya malu, Natasya justru tertawa bahagia, tepatnya bahagia di atas penderitaan Syafa.
"Siapa bilang gue menganggap lo sahabat? Selama ini justru gue menganggap lo itu rival gue, gue cinta sama Galang. Gue tak suka melihat kemesraan lo. Selama ini lo selalu menjadi primadona, di puja-puja banyak orang, kehidupan lo juga sangat sempurna. Memiliki keluarga yang utuh dan sangat menyayangi gue. Tak seperti gue, yang harus merasakan kedua orang tua gue berpisah. Hingga membuat gue tak pernah merasa kasih sayang. Lo benci sama lo, karena lo selalu unggul dari gue. Hari ini gue bahagia, karena bisa melihat lo terpuruk," ungkap Natasya membuat Syafa merasa shock.
Syafa langsung pergi meninggalkan Galang dan Natasya, air matanya mengalir semakin deras. Dia tak bisa lagi menutupi perasaan kecewanya. Syafa langsung keluar mengajak Zhafran untuk pulang. Dia tak peduli Galang terus mengejarnya dan memanggil-manggil dirinya. Jangankan Syafa, sebagai sesama laki-laki Zhafran saja merasa jijik melihat Galang mengejar Syafa masih dalam keadaan polos.
Sepanjang perjalanan menuju pulang, Syafa hanya diam saja. Hanya air mata yang mewakili perasaannya saat itu. Zhafran memeluk istrinya, memberikan dadanya sebagai tempat sandaran untuk istrinya menumpahkan kesedihan yang dia rasakan.
"Ternyata selama ini yang aku perbuat salah. Cinta membuat aku buta tak bisa melihat mana yang tulus mencintai aku dan mana yang hanya main-main dengan aku. Aku memang bodoh. Untungnya Allah cepat menunjukkan kepada aku apa yang terjadi sebenarnya. Terima kasih, karena kamu selalu ada untuk aku. Aku menyesal, aku sudah berdosa kepada kamu. Harusnya aku dengar ucapan Ayah, semua yang dia lakukan demi kebaikan aku," ungkap Syafa.
"Ya sudah! Yang terjadi, biarlah terjadi! Tak perlu di sesali, dan justru kamu jadikan pelajaran berharga di dalam hidup kamu. Kamu harus bersyukur, karena Allah melindungi kamu. Begitu menyayangi kamu," ucap Zhafran mencoba menasehati istrinya.
"Aku malu sama kamu, aku juga malu sama ayah. Karena tak mau mendengar ucapan ayah dan mengkhianati kamu," ucap Syafa lagi.
"Ya sudah sekarang begini saja, kamu mau berubah?" Tanya Zhafran. Netra mereka kini bertemu, Syafa menganggukkan kepalanya.
"Kita lupakan masa lalu kamu yang kelam, kita coba jalanin semuanya dari awal. Masa lalu, kamu jadikan pelajaran. Kamu mau 'kan hidup bahagia sama aku? Mau menjalani rumah tangga bersama aku? Masalah rezeki Allah sudah mengaturnya. Aku juga tak mau terus terusan membuat kamu susah. Aku juga ingin menjadi orang yang berarti untuk kamu, yang bisa membahagiakan kamu. Semoga keinginan kamu bisa terwujud," ungkap Zhafran dan Syafa menganggukkan kepalanya.
Syafa sudah mengetahui perbuatan be*jad Galang, dan dia sudah memutuskan untuk melupakan Galang dan membuka hatinya untuk Zhafran.
"Ini mobil siapa? Kok bisa kamu naik mobil gini?" Tanya Syafa. Kini dirinya sudah merasa tenang, sebelumnya Syafa tak merasa tenang. Sampai-sampai dirinya tak menyadari kalau dirinya naik mobil sport mewah yang harganya milyaran. Bahkan mobil ini lebih mewah dari mobil Ayahnya.
"Ini mobil bos aku, aku di pinjamkan," ucap Zhafran bohong.
Dia masih memilih untuk menutupi dirinya yang sebenarnya. Dia ingin mendidik Syafa menjadi orang yang sederhana.
"Baik banget. Sebenarnya pekerjaan kamu apa sih, selain mengajar?" ujar Syafa menyelidik.
"Aku memang seorang guru, tetapi aku banyak pekerjaan Freelance. Kebetulan bos-bos aku semuanya baik. Ini saja aku sampai dipinjamkan mobilnya, karena aku bilang ingin membahagiakan istri aku. Aku tak tega mengajak kamu naik motor jelek terus. Bahkan dia sudah menawarkan kepada aku, jika aku dan kamu ingin tinggal di apartemen," ungkap Zhafran membuat Syafa terpanah. Suaminya sungguh luar biasa untuk membahagiakan dirinya.
"Ajarkan aku ya menjadi istri yang baik untuk kamu," ujar Syafa.
"Iya dong pasti. Mungkin saja sebentar lagi kamu juga akan menjadi seorang ibu," ujar Zhafran.
Mendengar suaminya menyebut dirinya sebentar lagi akan menjadi ibu, Syafa langsung memegangi perutnya yang masih rata. Mungkinkah ucapan suaminya akan menjadi kenyataan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Faris Setyawan Fais
bagus cuman tulisannya banyak berantakan
2024-01-09
0
Agus Irianto
kesabaran suami yg hebat susah mencari SPTI ini dijaman sekarang
2023-07-16
0
Zain All Insany
amiin..semoga jadi do'a yg bagus...
2022-10-11
1