...***...
Seperti yang telah dijanjikan, Ryuu Amane berjualan roti keliling.
"Jangan keluyuran setelah semuanya habis." Ryuu Fumiko memberikan pesan pada anak tirinya itu.
Ia takut jika Ryuu Amane malah keluyuran dan melupakan tugasnya.
"Aku akan sangat marah, jika kau berani kembali dengan isi yang masih penuh."
Itu adalah ancaman yang dilayangkan oleh Ryuu Fumiko pada anak tirinya pada saat itu.
"Baik bu." Jawabnya. "Ibu tenang saja." Suaranya sangat santai. "Aku tidak akan mengecewakan ibu."
Ryuu Amane hanya tersenyum kecil. Ia sangat takut jika ibunya marah?. Meskipun Ratu Naga Api selalu bersamanya?. Itu karena Ryuu Fumiko akan selalu memukulinya jika ia marah.
"Aku akan membawakan uang dari hasil penjualan ini." Lanjutnya. "Semoga jualannya akan lancar." Dengan percaya diri yang sangat tinggi ia berkata seperti itu.
"Ya sudah." Responnya. "Sebaiknya segera pergi." Hatinya terasa tidak enak. "Akan berbahaya, jika kau berlama-lama berada di luar." Ryuu Fumiko menyuruh anak tirinya agar segera pergi dari sana.
"Baik Bu." Balasnya.
"Tapi kau harus ingat, dengan apa yang telah kau katakan." Ucapnya lagi. "Jangan hanya pandai bicara saja."
"Aku berangkat dulu ibu." Ryuu Amane pamit. "Ibu tunggu saja di rumah dengan santai." Ia hanya ingin menyenangkan hati ibunya saja.
Entah itu memang perasaan dari Ryuu Amane itu sendiri, dan rasanya itu tidak mungkin dari Ratu Naga Api yang pada dasarnya sangat cuek dan tidak peduli dengan keadaan sekitarnya.
"Ya." Hanya seperti itu saja balasannya. "Semoga saja dia kembali dalam keadaan baik-baik saja." Dalam hatinya. "Karena aku sangat cemas dengan kepergiannya." Dalam hati Ryuu Fumiko merasa sangat tidak nyaman sebenarnya melihat kepergian Ryuu Amane.
Entah kenapa ia merasakan hal yang berbeda, dan tidak biasa?. Apakah ia pernah mengalami hal-hal yang aneh?.
Sementara itu keluarga kecilnya mengintip itu dengan tatapan yang tidak biasa. Rasanya itu adalah hal yang sangat mustahil terjadi dari ibu kandung mereka. Pasti ada yang salah dengan ibu mereka sehingga melakukan itu?.
"Rasanya aku tidak tenang." Sorot matanya menatap benci. "Apakah saat ini ia sedang ingin mengambil hati ibu?." Ucap Ryuu Wataru sambil berpikir. "Rasanya itu adalah hal yang sangat tidak wajar sama sekali." Matanya terus memperhatikan ibunya yang masih saja berdiri di depan gerbang keluar rumahnya.
"Apakah kita perlu mengikutinya ayah?." Ryuu Asuka sangat mencurigai apa yang dilakukan oleh Ryuu Amane. "Aku ingin melihat, apa saja yang telah dilakukannya?." Gejolak jiwa anehnya meronta-ronta. "Pasti dia telah melakukan hal aneh-aneh di luar sana."
"Sudahlah, sebaiknya kita masuk saja." Ia terlihat menghela nafas panjang. "Lagi pula berbahaya jika keluar." Ryuu Amatsu sangat sedikit takut untuk keluar.
Ia takut jika nantinya mereka malah jadi korban naga air?. Tentunya ia tidak ingin itu terjadi.
"Kita juga tidak mau dihukum oleh ibu, jika kita ketahuan telah mengintipnya." Hanya itu yang dapat dikatakan oleh Ryuu Amane untuk menyelamatkan mereka semua.
...***...
Sementara itu.
Tidak jauh dari rumahnya, Ryuu Amane bertemu dengan Akihara Masamune. Hari ini mereka berjanji akan pergi ke Kuil Tenkuu No Seiden. Akihara Masamune telah menemukan seorang biksu yang memiliki pengetahuan tentang Ratu Naga Api dan Raja Naga Api. Tentunya pertemuan itu yang sangat ditunggu oleh mereka semua.
"Gusti Ratu!." Akihara Masamune terlihat sangat senang menyambut Ratu Naga Api. Rasanya ia tidak bosan-bosannya jika melihat wajah cantik Ratunya itu. "Datang juga ternyata." Dalam hatinya tidak dapat menyembunyikan perasaan senangnya. Perasaan bahagia ketika bertemu dengan orang yang sangat ia kagumi di dunia ini.
"Kau ini ya? Tidak berubah sama sekali." Ratu Naga Api atau Ryuu Amane ingin membunuh Akihara Masamune saat ini. "Aku sama sekali tidak nyaman, dengan apa yang kau lakukan!." Tanpa perasaan ragu, Ryuu Amane atau Ratu Naga api berkata seperti itu.
"Hehehe!." Akihara Masamune malah cengengesan dengan lebarnya. Perasaanya hatinya sangat senang luar biasa saat ini. "Hamba adalah penggemar Gusti Ratu yang paling nomor satu." Ungkapnya. "Wajar saja, jika hamba sangat bahagia, saat hamba berada di gusti ratu." Ungkapnya dengan penuh kebahagiaan yang sangat luar biasa.
"Huffhh!."
Ratu Naga Api, atau yang kini adalah Ryuu Amane merasa sangat heran dengan kelakuan dari Akihara Masamune atau dulunya adalah Tatsu, pengawal pribadi Ratu Naga Api.
"Bisakah kita membahas hal yang lain dulu?." Ucapnya lelah. "Rasanya aku ingin menguliti dirimu hidup-hidup."
Kali ini tatapannya sangat tajam, membuat Akihara Masamune sangat takut melihat tatapan kematian itu.
"Haik!." Dengan terpaksa Akihara Masamune mengiyakannya.
Karena ia tidak kuat lagi menerima hawa panas yang dipancarkan oleh Ryuu Amane atau Ratu Naga Api yang sangat marah.
"Sangat menyeramkan seperti biasanya." Dalam hatinya sangat merinding dengan apa yang telah ia lihat pada saat itu.
"Kau yakin tidak salah informasi kan?." Ada perasaan ragu di hatinya. "Jangan sampai mempermalukan aku nantinya." Ryuu Amane menatap tajam ke arah bawahannya itu. "Aku akan membunuhmu jika itu sampai terjadi." Itulah ancamannya.
"Ahaha!." Akihara Masamune tertawa hambar. "Gusti Ratu tenang saja." Ia berusaha bersikap tenang. "Hamba telah melakukannya dengan baik." Ia mengacungkan jempolnya. "Hamba tidak akan mengecewakan gusti ratu." Akihara Masamune hanya tertawa saja.
"Bagus kalau begitu." Respon Ryuu Amane.
"Tapi apa yang Gusti Ratu bawa itu?." Karena penasaran dengan apa yang dipegang oleh Ryuu Amane.
"Oh? Ini?." Ryuu Amane sedikit mengangkat bawaannya.
"Apakah hamba bisa membantumu membawakannya?."
Saking takutnya dengan ancaman itu, ia malah bertingkah aneh, dan tidak biasanya ia bersikap seperti itu pada ratunya.
"Ini harus aku habisi hari ini." Ucapnya. "Aku hanya tidak ingin ryuu amane, kehilangan orang-orang yang ia sayangi." Lanjutnya. "Aku terpaksa melakukan ini demi membantunya." Ryuu Amane menghela nafasnya yang terasa sangat lelah.
"Oh?." Reaksi Akihara Masamune. "Hamba mengetahui cara terbaik, supaya semuanya cepat habis."
Akihara Masamune mengeluarkan Smartphone miliknya. Ia teringat cara termudah untuk melakukan sesuatu di era serba canggih seperti ini.
"Katakan?." Ryuu Amane sedikit bingung dengan benda yang dikeluarkan Akihara Masamune.
Mereka terus berjalan menuju Kuil Tenkuu No Seiden. Sambil melakukan sesuatu untuk membantu Ryuu Amane.
"Ini adalah smartphone di era ini." Ia menunjukkan HP canggih yang ia miliki. "Sedikit-sedikit hamba bisa menggunakannya dengan baik." Ada kebanggaan yang ia rasakan saat itu.
"Smartphone?." Ryuu Amane terlihat bingung. "Terserah saja." Ucapnya cuek. "Apapun itu? Lakukan dengan baik." Lanjutnya. "Karena aku tidak mau berlama-lama berurusan dengan ini." Ryuu Amane malas memikirkan apa itu Smartphone baginya.
"Baiklah." Akihara Masamune hanya memakluminya saja. "Akan hamba kerjakan dengan baik." Ia mengambil foto untuk promosi.
"Lalu? Apa yang bisa dilakukan setelah itu?." Ryuu Amane kembali bertanya, karena ia memang tidak mengerti sama sekali.
"Gusti Ratu tenang saja." Akihara Masamune semakin bersemangat. "Di masa ketakutan orang-orang keluar dari rumah, hamba yakin akan ada banyak yang-." Belum selesai ia berbicara, ia mendengarkan begitu banyak bunyi pesan yang masuk.
Tring!. Tring!.
Banyak sekali bunyi notifikasi yang masuk, sehingga ia buru-buru melihatnya.
"Oh?!." Responnya dengan raut wajah penuh kebahagiaan. "Ternyata banyak sekali yang memesannya gusti ratu." Akihara Masamune sangat senang karena banyak yang memesan kue itu.
"Mana? Coba aku lihat?." Ryuu Amane begitu penasaran. "Ho?!." Raut wajahnya sangat senang. "Kau hebat sekali tatsu." Ryuu Amane benar-benar kagum dengan apa yang dilakukan oleh anak buahnya itu.
"Kalau begitu biarkan hamba." Ucapnya penuh semangat. "Yang mengantar pesanan ini semua terlebih dahulu." Ia mengambil bawaan Ryuu Amane. "Setelah itu kita akan aman ke kuil." Akihara telah menandai semua tempat yang akan ia antar.
"Baiklah, aku setuju." Balasnya. "Dengan apa yang kau katakan." Ryuu Amane sangat bersyukur karena ia tidak perlu susah-susah untuk menjajakan jualannya. "Aku serahkan padamu tatsu." Ia menyerahkan tempat kotak roti serta makanan instan itu pada Akihara Masamune.
"Siap Gusti Ratu." Dengan penuh semangat ia melakukannya.
Akihara pergi dari sana untuk mengantar semua pesanan itu. Suasana hatinya sedang baik, karena itulah ia pergi dengan cepat.
"Di era ini ternyata semuanya dipermudah." Dalam hatinya masih terasa asing. "Apalagi di masa penuh ketakutan ini." Hatinya sangat tidak tenang sama sekali. "Semua orang pasti akan mencari yang paling mudah." Dalam hatinya merasa tidak enak. "Sungguh luar biasa sekali, berbeda dengan era ketika aku hidup dulu." Tiba-tiba saja ingat masa lalu. "Segala sesuatu memang harus diusahakan sendiri."
Ya, Ratu Naga Api dapat merasakan perbedaan yang sangat jauh, antara masa depan dan masa lalu yang telah dihadapi.
"Setalah aku mengetahui, dimana letak tugu naga api milik suamiku." Hatinya bergetar memikirkan semua itu. "Maka aku akan mencari sukma naga air itu." Tekadnya dalam hati. "Akan aku binasakan dia dengan kekuatan yang aku miliki." Ratu Naga Api masih menyimpan bara api dendam yang membara. "Tapi tempat ini rasanya sangat asing." Ia memperhatikan sekelilingnya. "Tempat dimana aku, dan semua orang-orang yang aku cintai hidup bersama." Matanya menangkap banyak perubahan. "Tapi sekarang menjadi tempat yang sangat asing, dan tidak nyaman sama sekali." Ratu Naga Api sangat merindukan suasana Pusat Kota Sukuranburu yang dahulu ketika masa itu.
"Apakah Gusti Ratu sangat merindukan? Orang yang paling gusti ratu cintai?." Ryuu Amane sang pemilik tubuh asli bertanya. Karena ia merasakan perasaan itu, dan sangat menyentuh hatinya
"Jika iya? Kau mau apa?." Ratu Naga Api masuk ke dalam alam sukma.
Senyumannya itu mengandung kesedihan yang mendalam. Rasanya sangat sakit sekali, hingga perasaan itu bercampur aduk.
"Tidak apa-apa Gusti Ratu." Ryuu Amane merasa tidak enak hati.
"Suatu saat nanti kau juga akan merasakannya." Ratu Naga Api menatap serius. "Merasakan perasaan kehilangan, atas seseorang yang sangat kau cintai." Ratu Naga Api dapat melihat itu.
"Gusti Ratu." Dalam hati Ryuu Amane.
"Bahkan cinta tidak terbalas, yang kau rasakan pada seseorang." Ratu Naga Api kembali merasakannya. "Pada akhirnya akan menyiksa dirimu suatu hari nanti." Suasana hatinya tidak bisa tenang. "Jika kau terus memendamnya." Ratu Naga Api juga dapat melihat itu dari mata Ryuu Amane yang dipenuhi kesedihan.
"Ya, gusti ratu benar." Ryuu Amane sedih "Cinta yang terbalaskan pada orang." Ia berusaha menekan perasaan sedih itu. "Yang tidak mengenali kita sama sekali, itu memang sangat menyakitkan." Namun sebisa mungkin ia masih tersenyum. "Rasanya saya tidak berguna sama sekali, dalam masalah percintaan."
Itulah yang ia rasakan pada saat itu. Perasaan cinta sepihak yang tumbuh hanya karena kekaguman memang sangat menyiksa.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah yang akan dilakukan Ratu Naga Api setelah berhasil Reinkarnasi?. Simak terus ceritanya.
...***...
Pemerintahan.
Sepertinya pemerintah masih disibukkan dengan masalah yang datang bertubi-tubi. Mereka masih bingung mau melakukan apa untuk menghentikan jatuhnya korban dari masalah yang sedang terjadi?. Saat ini Masumi Kenzo dan Wakabayashi Ken sedang mencoba memahami sejarah dari Kota Sukuranburu bagian selatan yang kini menjadi tempat tinggal yang berbahaya untuk mereka saat ini?.
"Aku tidak menyangka, jika kota sukuranburu selatan." Ucapnya dengan perasaan aneh. "Memiliki sejarah gaib seperti ini." Kepalanya terasa sangat sakit memikirkan masalah yang berada diluar nalar, serta akal sehat manusia.
"Ya, bapak benar." Responnya. "Ini sangat mengejutkan sekali." Perasaannya tidak nyaman. "Jika kota sukuranburu selatan, memiliki hal yang sangat mengerikan seperti itu."
"Sebagai manusia yang tidak memiliki kekuatan apapun." Ucapnya dengan resah. "Rasanya kita tidak bisa berbuat banyak, selain pasrah saja." Hatinya sangat sedih karena tidak bisa berbuat apapun?.
"Apakah kita akan mengungsi saja pak?." Raut wajahnya tampak sedih. "Cari tempat yang aman saja?." Wakabayashi Ken malah bercanda di saat yang tidak tepat?.
"Kau ini jangan berkata yang aneh-aneh." Masumi Kenzo menatap kesal ke arah Wakabayashi Ken. "Memangnya kau mau mengungsi kemana?." Suaranya terdengar tinggi. "Dengan rakyat sepuluh ribu penduduk?." Ucapnya lagi. "Kau pikir? Mau mengungsi kemana? Hah?!."
"Eh?." Wakabayashi Ken sangat takut.
"Jangan katakan padaku! Kau ingin melarikan diri sendirian?." Matanya menatap curiga dengan apa yang dikatakan Wakabayashi Ken tadi.
"Ahaha!." Responnya tertawa aneh. "Mana mungkin saya melakukan itu." Ia memalingkan wajahnya. "Tadi itu hanya bercanda saja." Ia sangat gugup karena tatapan Masumi Kenzo terlihat sangat mematikan.
"Hmph!." Masumi Kenzo sangat kesal, ia juga ingin melarikan diri, tapi setelah ia pikir-pikir lagi.
"Jika melarikan diri dapat menyelesaikan masalah?." Ungkapnya. "Maka aku akan melakukan itu!." Tegasnya. "Demi kepentingan diriku sendiri!." Tatapan matanya semakin tajam. "Dari pada aku memusingkan masalah yang tidak jelas ini."
"Baiklah, maafkan saya pak." Wakabayashi Ken sangat takut.
"Kita harus mencari solusinya." Ia berusaha tegar. "Kita adalah orang yang dipercayai, untuk menangani masalah pemerintah." Lanjutnya yakin. 'Karena itulah, kita tidak boleh lari!." Tegasnya. "Meskipun banyak yang menuntut kita! Untuk melakukan hal yang mustahil sekalipun." Masumi Kenzo terlihat sangat sedih, karena ia memang tidak bisa melakukan apapun untuk kondisi seperti ini.
"Rasanya memang sangat berat untuk kita hadapi saat ini." Dalam hati Wakabayashi Ken bingung dengan tindakan yang akan ia lakukan setelah ini.
Apakah mereka bisa melakukan hal yang lebih baik lagi tanpa adanya keluhan karena tidak bisa melakukan apapun?. Apakah mereka memang benar-benar tidak dapat menyelesaikan masalah yang terjadi?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.
...***...
Sementara itu di Kuil Tenkuu No Seiden.
Biksu Souji Gedaje yang sedang berada di halaman Kuil menatap awan dengan tatapan yang tidak biasa. Ia memiliki kemampuan untuk melihat hal yang gaib, dan bahkan bisa berkomunikasi dengan hal-hal yang gaib. Meskipun pemerintah memintanya untuk melakukan hal yang gaib untuk mengatasi Sukma naga air misalnya?. Namun saat ini ia belum melakukan itu. Karena menurutnya berhubungan dengan hal yang gaib itu sangat berbahaya.
"Tapi awan disekitar sini merasa sangat tidak nyaman." Dalam hatinya. "Apakah mereka mulai bergerak?."
Kali ini ia melihat ke arah laut selatan?. Apakah ia memang bisa melihat arah awan itu pergi?.
"Aku tidak menduga, jika apa yang dikatakan ayahku saat itu memang terjadi." Keluhnya dalam hati. "Sukma naga air yang berada di laut selatan ingin berontak, mencari masa kejayaan mereka dengan mencari tumbal." Ia merasa perihatin dengan apa yang akan terjadi?.
Biksu Souji Gedaje mencoba memikirkan sesuatu mengenai hal mengerikan apa yang terjadi, jika sukma naga air mendapatkan kejayaan di masa lalu.
"Tapi aku juga tidak mungkin bergerak sendirian." Tiba-tiba saja bulu kuduknya merinding. "Kekuatanku pasti tidak akan sebanding dengan mereka."
Di sisi lain ia sedang mempertimbangkan sesuatu.
"Jika saja ada seseorang, atau beberapa orang yang memiliki kemampuan seperti aku?." Rengeknya dalam hati. "Mungkin saja aku bisa bergerak dengan cepat?." Hatinya terasa lemah. "Aku rasa itu adalah hal yang sangat mustahil." Kalinya lagi. "Tidak mungkin ditemukan dengan mudah, seseorang yang memiliki kekuatan spiritual." Hatinya semakin cemas. "Apalagi di zaman yang serba modern ini." Kembali ia mengeluh. "Bahkan mereka akan menganggap aku gila." Rasanya ia ingin menangis. "Meskipun situasinya memaksakan mereka untuk memiliki itu."
Dalam hatinya sangat dipenuhi keluhan saat ini. Hatinya sangat cemas jika tidak ada yang bisa membantunya, dalam menghentikan tindakan reinkarnasi dari Sukma Naga Air.
"Rasanya aku seperti hidup di zaman feodal." Dalam hatinya kembali mengeluh. "Hanya karena Sukma naga air yang reinkarnasi?." Ia sangat gelisah saat ini. "Tapi bagaimana dengan sukma naga api?." Keningnya mengkerut aneh. "Apakah tidak reinkarnasi meskipun tugu naga api dihancurkan?." Ia mencoba memikirkan kemungkinan itu. "Bukankah seharusnya ratu naga api? Juga reinkarnasi setelah tugu naga api hancur?."
Tentunya ia memikirkan itu, ada perasaan ganjal di hatinya. Kenapa tidak ada kabar mengenai Ratu Naga Api yang reinkarnasi? Setelah tugu naga api dihancurkan?.
"Apakah aku harus mencari keberadaannya?." Biksu Souji Gedaje tampak berpikir. "Supaya aku lebih mengetahui, apa yang akan aku lakukan setelah ini?."
Tiba-tiba saja ia merasa lebih bersemangat setelah ia memikirkan ke arah sama.
"Ya, akan aku cari keberadaan sukma naga api!." Tekadnya dalam hati. "Supaya aku lebih kuat lagi dalam bertindak." Ia telah memutuskan untuk melakukan apa setelah ini. "Semoga saja ratu naga api benar-benar reinkarnasi." Dalam hatinya sangat berharap. "Aku harus mencari keberadaannya sesegera mungkin, agar dapat membantuku untuk mengatasi masalah ini." Hatinya mulai bersemangat kembali.
Apakah yang akan dilakukan oleh Biksu Souji Gedaje setelah mengetahui jika ada kemungkinan Ratu Naga Api akan melakukan reinkarnasi setelah tugu naga api dihancurkan?. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya.
...***...
Kembali pada Ryuu Amane yang saat ini sedang menunggu kedatangan Akihara Masamune. Saat ini ia sedang menikmati pemandangan sekitar.
"Kota sukuranburu yang sekarang dan yang sekarang sangat berbeda." Ryuu Amane atau Ratu Naga Api dapat merasakan perubahan itu.
Saat itu juga ia masuk ke dalam alam sukma agar bisa melihat Ryuu Amane yang asli. Meskipun memiliki wajah yang hampir serupa, ia tidak membencinya. Pembedanya hanya pakaian mereka saja. Ryuu Amane di zaman baru, sedangkan Ratu Naga Api benar-benar pakaian orang dahulu, pakaian seorang Ratu yang sangat mewah luar biasa.
"Tapi kenapa Gusti Ratu? Sangat bermusuhan dengan suku naga air?." Ryuu Amane heran. "Apakah karena unsur air? Dan api? Yang mustahil untuk bersatu?." Ryuu Amane sangat penasaran dengan itu.
"Jika kau bertanya seperti itu." Respon Ratu Naga Api. "Aku tidak bisa menjawab kebenaran, kenapa itu bisa terjadi?." Ada perasaan yang gelisah yang ia rasakan. "Sebab masa itu sebelum aku lahir." Ungkapnya. "Bahkan suku naga air, dan suku naga api memang telah berseteru." Lanjutnya. "Telah mengalami konflik yang mungkin saja alasannya, api dan air yang tidak bisa tinggal di tempat yang sama." Hatinya merasakan kesedihan mendalam. "Sehingga mereka semua merasa berhak tinggal ditempat itu." Ratu Naga Api juga bingung dengan masalah yang mereka hadapi pada saat itu. "Sungguh sangat aneh, jika api dan air hidup berdampingan." Ingin rasanya ia tertawa karena masalah yang terjadi pada saat itu.
Ryuu Amane hanya diam saja, ia juga tidak mengerti dengan masalah yang meraka hadapi. Sehingga ia tidak dapat berkata apa-apa selain mendengarkan apa yang dikatakan Ratu Naga Api yang kini terlihat sangat gelisah.
"Tapi, tanpa api." Ucapnya tanpa sadar. "Air tidak akan matang, dan tidak akan panas." Lanjutnya. "Sepertinya keduanya saling berhubungan dengan baik."
"Sifat alami." Respon Ratu Naga Api. "Hanya saja tidak di kehidupan kami, sebagai semua Naga." Hatinya kaku.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah mereka bisa mengatasi masalah yang terjadi?. Bisakah mereka mencoba untuk saling memahami satu sama lain?. Simak terus ceritanya ya.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments