...***...
Kediaman Keluarga Uzumaki Hinohara.
Masumi Kenzo dan Wakabayashi Ken telah menceritakan permasalahannya. Mereka ingin mengetahui bagaimana kejadian itu yang sebenarnya. Cukup lama juga Masumi Kenzo untuk memaksa Uzumaki Hinohara untuk mengatakan apa yang terjadi sebenarnya.
"Anakku memang suka keluar pada malam hari." Uzumaki Hinohara mengingat kebiasaan anaknya setiap malamnya. "Tentunya sebagai seorang wanita, ia ingin mencari tempat hiburan untuk anak muda." Lanjutnya. "Namun dia belum pulang hingga saat ini." Ada perasaan cemas di hatinya. "Apakah terjadi sesuatu padanya?." Ia memang tidak melihat anaknya pulang beberapa hari ini, namun ia tidak merasa khawatir sedikitpun karena itu sudah hal yang sudah biasa baginya.
Belum ada respon dari Masumi Kanzo dan Wakabayashi Ken.
"Apakah anakku telah melakukan hal yang aneh? Atau mengganggu kalian?." Ia sedikit heran dengan kedatangan dua orang terhormat itu ke rumahnya.
"Nah?." Responnya. "Jika kau bertanya dengan nada seperti itu, aku akan berkata dengan baik-baik padamu." Masumi Kenzo kembali menunjukkan sikap ramah pandang Uzumaki Hinohara. Ia kembali duduk dengan tenang tanpa memperlihatkan wajah sadisnya.
"Ahahaha!." Ia tertawa dalam hati. "Ada-ada saja." Dalam hati Wakabayashi Ken sangat heran melihat itu. "Apakah harus dengan cara seperti itu?." Dalam hatinya merasa tidak berguna sama sekali untuk menenangkan keduanya.
"Karena kau telah menjawab pertanyaan ku dengan baik." Ucapnya dengan senyuman ramah. "Maka aku akan menjawab pertanyaan darimu dengan baik juga." Masumi Kenzo hanya menghela nafasnya dengan lelah.
Uzumaki Hinohara hanya diam saja, karena ia sudah bosan.
"Menurut laporan yang masuk, dari penjaga gerbang laut selatan." Ucapnya. "Ia melihat putri mu masuk ke dalam sana." Lanjutnya. "Masuk ke dalam laut selatan."
"Masuk ke dalam laut selatan?." Hatinya merasa aneh.
"Itulah kenapa aku datang padamu, karena aku ingin mastikan." Ucapnya. "Jika kami tidak salah lihat." Masumi Kenzo sangat cemas.
Siapa yang tidak heran?. Melihat seorang wanita yang masuk ke wilayah berbahaya?.
"Masuk ke gerbang laut selatan?." Responnya. "Apakah kalian sedang bercanda?." Entah kenapa ia kembali jengkel. "Tidak mungkin anakku masuk! Ke daerah terlarang itu." Uzumaki Hinohara mana tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh dewan perwakilan daerah itu. "Bukankah pemerintah telah melarang? Untuk tidak masuk ke wilayah itu?." Hatinya kembali membara. "Lalu bagaimana mungkin? Anakku masuk ke sana?." Emosinya hampir saja meledak kembali, karena ia tidak menyangka akan mendengarkan informasi tentang itu.
"Kami sama sekali tidak bercanda." Sorot matanya tampak serius. "Karena itulah aku datang untuk menanyakan itu." Lanjutnya. "Apakah kau mengetahui? Anakmu masuk ke dalam tempat, yang sangat berbahaya itu atau tidak?!." Amarah Masumi Kenzo kembali memuncak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Uzumaki Hinohara.
"Hah?!." Responnya dengan penuh amarah.
"Anak buahku juga tidak mungkin salah lihat." Ucapnya lagi. "Dan foto itu adalah bukti! Bahwa anakmu itu memang ke sana!." Masumi Kenzo bahkan menunjukkan foto Uzumaki Araumi untuk membuktikan kebenaran ucapannya itu.
"Aku ini hanya bisa apa?." Balasnya. "Jika memang ia seperti itu?." Tapi saat itu Uzumaki Hinohara malah bersikap pasrah. dengan keadaan nanya jika memang seperti itu yang terjadi.
"Kau ini memang ayah yang tidak berguna!." Masumi Kanzo semakin jengkel. "Dan tidak bertanggung jawab sama sekali." Ingin rasanya Masumi Kenzo menguliti Uzumaki Hinohara, jika saja tidak ditahan oleh Wakabayashi Ken.
"Bapak bisa kena tuntut loh?." Wakabayashi Ken berusaha sekuat tenaga. "Saya ini seroang polisi." Bisik Wakabayashi Ken mencoba untuk menenangkan Masumi Kenzo.
"Sebaiknya kau diam saja." Balasnya. "Jika tidak bisa membantuku sama sekali." Masumi Kenzo menatap tajam, rasanya ia ingin menelan Wakabayashi Ken yang masih bersikap lunak pada Uzumaki Hinohara?.
"Hadeh!." Keluhnya. "Terserah taun saja lah." Ia telah pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Masumi Kenzo.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah Masumi Kenzo bisa mendapatkan beberapa informasi mengenai Uzumaki Araumi. Temukan jawabannya.
...***...
Kuil Tenkuu No Seiden.
Saat itu Murasaki Abeno dan Ryouta Uzaki datang ke wilayah kawasan Selatan. Tentunya tujuan mereka adalah Kuil Tenkuu No Seiden. Kedatangannya kali ini adalah untuk bertemu dengan Biksu Souji Gedaje. Sebagai Gubernur Kota Sukuranburu, tentunya ia ingin mengetahui hal yang aneh seperti itu dari orang yang sangat bisa dipercayai untuk menjelaskan apa yang tejadi sebenarnya.
"Suatu kehormatan bagi saya, menerima tamu terhormat." Biksu Souji Gedaje tidak pernah menduga sebelumnya.
"Terima kasih atas sambutannya." Balas mereka.
"Apa yang membuat tuan gubernur datang kemari?." Senyumannya masih ramah. "Tentunya ada hal penting, yang membuat tuan gubernur datang ke sini." Lanjutnya lagi dengan beberapa pertanyaan yang ia lontarkan.
"Aku hanya ingin mengetahui sebuah kebenaran." Jawabnya. "Bagaimana caranya? Mengatasi seseorang? Yang kemasukan sukma naga air?." Lanjutnya. "Apakah kau memiliki saran untuk itu?." Hanya pertanyaan seperti itu yang ia ajukan pada biksu tersebut, karena iya takut terjadi sesuatu pada penduduk kota Sukuranburu. "Akan sangat berbahaya, jika dibiarkan begitu saja."
"Aku hanya memiliki beberapa saran saja." Biksu Souji Gedaje mencoba memikirkan dan mengingat apa saja yang tertera di dalam buku yang telah ia sempat selama bertahun-tahun.
"Tolong katakan pada kami."
"Jika masalah kekuatan, sepertinya aku tidak bisa melakukannya." Biksu Souji Gedaje merasa sangat tidak enak, karena ujung-ujungnya pasti ia yang dimintai untuk melakukan itu semua dengan baik. "Maaf saja, aku tidak mau terlibat dengan hal yang gaib." Dalam hatinya terus memberikan penekanan pada mereka semua.
"Benarkah?." Responnya. "Apakah memang seperti itu?." Murasaki Abeno sangat senang mendengar itu, karena memang itu yang sangat dibutuhkan pada saat ini. Solusi untuk memecahkan suatu masalah yang sama sekali tidak ya ketahui. "Tolong katakan pada saya saran apa itu?." Hatinya sedang membuncah karena tidak sabar ingin mengetahuinya.
"Ya, semoga saja kau mau mendengarkan, apa yang aku katakan ini dengan baik." Balasnya. "Jika kau tidak suka? Aku juga tidak suka." Lanjutnya. "Maksudnya tidak keberatan sama sekali, dengan apa yang aku katakan." Bukannya ia tidak menghormati Murasaki Abeno sebagai Gubernur, tapi ia harus mengatakannya. Supaya tidak terjadi kesalahpahaman nantinya.
"Baiklah." Balasnya. "Aku akan mendengarnya dengan baik." Ia tersenyum ramah. "Karena itulah jelaskan padaku, bagaimana caranya? Mengatasi masalah ini?." Murasaki Abeno sama sekali tidak keberatan dengan itu.
"Pertama jangan biasakan mereka keluar dalam keadaan terpuruk, dalam keadaan suasana hati yang tidak baik." Jelasnya. "Itulah yang membuat sukma naga air sangat senang, dan akan menjadikan mereka tumbalnya." Itu adalah aturan pertama yang pernah iya baca selama ini.
Murasaki Abeno mendengarkan penjelasan itu dengan baik.
"Kesedihan hanya akan menimbulkan kegelapan dari seseorang." Ucapnya lagi. "Karena itulah, jangan sampai kalian keluar dalam suasana hati yang terpuruk." Tatapan matanya sangat serius. "Itu bisa jadi makanan empuk untuk dijadikan tumbal." Lanjutnya sambil menjelaskan beberapa hal pada Murasaki Abeno
"Eh?." Responnya. "Rasanya itu sangat mustahil sekali." Murasaki Abeno hamba tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "Tidak mungkin rasanya aku memberikan pengumuman seperti itu pada mereka." Itu memang terdengar mustahil baginya. "Apakah anda bisa membasmi mereka secara langsung?." Tatapan matanya sangat memohon. "Aku akan memberikan uang yang banyak, jika tuan biksu mampu memusnahkan mereka." Murasaki Abeno malah meminta biksu itu bertindak secara langsung. Apalagi mengeluarkan beberapa uang yang ia bawa di dalam sebuah koper yang cukup besar.
"He?." Responnya dengan sangat aneh. "Bagaimana mungkin? Seorang gubernur terhormat mau menyogok aku." Tatapan matanya sangat merendahkan sekali. "Dengan uang? Hanya karena tidak mampu membasmi mereka? Hum?." Biksu Souji Gedaje merasa terhina dengan apa yang dilakukan gubernur itu padanya.
Apakah ia seorang yang mata duitan hingga langsung mengerjakan apa-apa nanya demi uang?.
"Aku tidak akan goyah." Ucapnya lagi. "Hanya karena kau membawa uang sebanyak itu!." Biksu Souji Gedaje sangat tidak percaya itu.
"Jika aku bisa melakukannya, maka aku tidak akan susah-susah datang ke sini!." Hatinya sangat jengkel. "Dan meminta bantuan padamu!." Sepertinya Murasaki Abeno salah paham. "Lagi pula ini adalah masalah yang sangat serius." Suaranya terdengar tinggi. "Ini masalah nyawa orang banyak! Aku mohon padamu bantu kami semua!." Dalam hal ini ia melakukan semua itu demi menyelamatkan manusia dari ancaman Naga Air. "Karena itulah aku mohon padamu! Untuk melakukan ini dengan baik." Murasaki Abeno bahkan memohon dengan sangat tulus?.
"Hum." Biksu Souji Gedaje terlihat sedang berpikir. Apakah ia akan mengikuti apa yang dikatakan Murasaki Abeno atau tidak?.
"Apakah kau tidak takut? Jika orang-orang kuil di sini nantinya juga akan menjadi korban?." Murasaki Abeno malah memberikan gambaran yang menyeramkan pada Biksu Souji Gedaje.
"Tidak usah berkata seperti itu." Dalam hatinya sangat kesal setengah hidup. "Jangan beraninya kau mengancam aku." Ia sangat tidak suka dipaksa seperti itu. "Kalian yang telah membuat masalah." Tatapan matanya sangat tidak suka. "Kenapa kalian malah melibatkan aku?."
Deg!.
Tentu saja ucapan itu membuat mereka semua terkejut.
"Ini menyangkut nyawa banyak orang." Murasaki Abeno menekan kuat perasaan panas di hatinya. "Apakah kau tega? Melihat mereka meregang nyawa untuk tumbal?. Katakan padaku." Murasaki Abeno sangat memohon meminta bantuan.
Biksu Souji Gedaje menghela nafasnya dengan perasaan yang tidak nyaman sama sekali. "Akan aku pertimbangkan nanti." Balasnya. "Akan aku kabari, jika aku mampu melakukannya." Lanjutnya dengan setengah hati.
"Baiklah tuan souji." Ia tersenyum ramah. "Akan saya lakukan apapun, yang tuan minta nantinya." Rasanya sangat senang sekali bisa mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Karena itulah ia menerima permintaan itu. "Tapi aku tidak akan melakukannya." Dalam hatinya sangat tidak suka. "Jika kalian berani menjadikan aku tumbal kalian." Dalam hatinya sangat kesal. "Aku tidak akan mengampuni kalian, jika kalian berani melakukan hal yang aneh padaku nantinya." Dalam harinya memang sangat kesal. Kenapa dua orang itu datang padanya setelah apa yang terjadi, juga kenapa harus ia yang menanggung beban itu?. "Kalian tidak akan mendapatkan apa yang kalian inginkan, tanpa adanya persetujuan dariku." Ia hanya ingin mengetahui apa yang mereka inginkan.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.
...***...
Pukul 16.15 sore.
Ryuu Amane dan Akihara Masamune pulang sekolah. Kebetulan keduanya pulang bersamaan karena ada yang ingin mereka bahas mengenai kejadian yang aneh terjadi. Kejadian yang sangat unik dijelaskan dengan kata-kata?. Rasanya mereka benar-benar kembali ke zaman feodal, karena masalah yang mereka hadapi sangat jadul, dan tidak bisa mereka atasi dengan cara yang biasa.
"Apakah kau telah mendengar kabar itu tatsu?." Ryuu Amane bertanya pada Tatsu atau Akihara Masamune.
Sudah cukup lama mereka tidak berbincang-bincang mengenai masalah Sukma Naga Air.
"Bagaimana pendapatmu?." Lanjutnya. "Mengenai apa yang telah mereka lakukan?." Hatinya terasa cemas. "Apakah mereka? Telah lolos dari kurungan yang aku buat?." Ratu Naga Api sangat tidak nyaman sama sekali. "Apakah menurutmu? Segel yang telah aku buat sangat lah lemah?." Ryuu Amane atau Ratu Naga Api menyerbu Akihara Masamune dengan beberapa pertanyaan. "Apakah menurutmu? Aku perlu meningkatkan kekuatan? Agar bisa menyegel mereka kembali?."
"Tentu saja Gusti Ratu." Jawab Tatsu, atau Akihara Masamune. "Hamba mendengar bahwa, ada beberapa korban." Ucapnya dengan perasaan sedih. "Yang katanya itu adalah perbuatan sukma naga air." Tentunya ia tidak ketinggalan informasi itu. "Tapi tetap saja itu, sangat tidak baik jika dibiarkan begitu saja." Akihara Masamune juga dapat merasakan adanya ancaman bahaya. "Akan sangat berbahaya, jika kita membiarkannya begitu saja?." Akihara Masamune sangat khawatir dengan apa yang akan terjadi.
"Apakah manusia sekarang bisa? Melihat sukma hewan mitos?." Keningnya mengkerut aneh. "Hebat sekali mereka bisa melakukan itu." Ia melihat berita yang melaporkan tentang kejadian mengenaskan itu. "Bagaimana mungkin mereka bisa melakukan itu?." Rasanya itu hal yang mustahil baginya. "Pasti mereka memiliki alat yang canggih, sehingga mereka melakukan itu semua dengan sangat mudah." Ryuu Amane tidak mengerti sama sekali.
"Ha-hamba juga kurang mengetahuinya." Akihara Masamune malah gugup. "Tapi seingat hamba, setelah tugu naga api dihancurkan." Ucapnya sedikit ragu. "Ada seorang biksu yang mengetahui sejarah tentang Gusti Ratu." Ia pernah melihat biksu itu di suatu tempat, tetapi ia tidak ingat sama sekali.
"Biksu?."
"Benar Gusti Ratu."
"Cerita jelasnya?."
"Biksu yang memiliki kepandaian dalam beberapa hal." Akihara Masamune sangat gugup dengan apa yang terjadi sebenarnya. "Sejarah tentang gusti ratu naga api, bisa jadi ada pada mereka semua." Lanjutnya.
"Sejarah tentangku?." Keningnya mengkerut aneh. "Apa maksudnya itu?." Ryuu Amane sama sekali tidak mengetahui apa maksudnya. "Sejarah tentangku yang bagaimana?." Ia tidak mendengarkan tentang seseorang yang menuliskan riwayat hidupnya selama ini?. Apakah ada seorang pengagum berat sehingga dengan senang hati menulis tentang kisah hidupnya?. "Apakah mereka memiliki peralatan canggih yang dapat melihat masa lalu?." Tentunya itu adalah hal yang sangat aneh, tidak masuk akal.
"Sebuah buku yang ditulis seseorang, yang menceritakan kisah Gusti Ratu." Jawabnya. "Hanya Gusti Ratu dan Gusti Raja yang bisa mengalahkan Sukma naga air." Lanjutnya. "Mungkin seperti itulah yang mereka tulis." Tatsu mengingat sedikit buku tentang Siluman Naga Api berhadapan dengan Sukma Naga Air.
"Apakah kau mengetahui? Di mana pemilik buku itu berada? Siapa biksu itu?." Ryuu Amane penasaran dengan itu. "Apakah kau mengetahui? Siapa yang menulisnya?." Ia sangat heran dengan kemampuan mereka.
"Untuk apa Gusti Ratu ingin mengetahuinya?." Akihara Masamune malah mencurigai Ryuu Amane atau Ratu Naga Api akan bertindak dengan gegabah.
"Mungkin saja melalui buku itu, aku mengetahui dimana lokasi keberadaan gusti raja naga api." Jawabnya. "Aku ingin mengetahui apa saja, yang mereka tulis tentangku." Ternyata Ryuu Amane alias Ratu Naga Api hanya ingin mengetahui dimana keberadaan suaminya. Sungguh gambaran seroang istri yang sangat setia pada suaminya.
"Hum." Akihara Masamune tampak berpikir. "Baiklah." Ucapnya dengan sangat yakin. "Nanti akan hamba cari tahu, di mana lokasi kuil itu berada." Akihara Masamune tidak ingin mengecewakan Ratu Naga Api yang memiliki perjuangan yang sangat besar.
Akan tetapi pada saat itu mereka melihat seorang wanita yang sangat mencurigakan sedang melakukan sesuatu. Ia dapat melihat semaunya dengan matanya yang saat itu terbakar gejolak api yang sangat membara.
Deg!!!.
"Itu adalah naga air!."
Keduanya sangat terkejut saat melihat seseorang yang hendak dipengaruhi oleh wanita yang merupakan wadah reinkarnasi Sukma naga air.
"Beraninya kau!." Ryuu Amane dan Akihara langsung bergerak dengan sangat cepat. Amarah keduanya telah memuncak saat melihat apa yang terjadi di depan matanya.
Ryuu Amane melompat ke arah wanita itu, sedangkan Akihara Masamune melompat ke arah seorang wanita yang menjadi target tumbal. Namun di saat mereka melompat tadi, Atsui Akamaru melihat itu dengan mata terbelalak lebar. Ia terpaku di tempat, melihat Ryuu Amane sedang bertarung dengan seorang wanita yang mencurigakan?.
Akihara Masamune menotok beberapa kali punggung wanita itu agar cepat memuntahkan sesuatu, dan benar saja. Wanita itu memuntahkan air hitam yang sangat mengerikan.
Sedangkan Ryuu Amane berhadapan dengan wanita itu. Beberapa kali ia arahkan pukulan serta sepakan untuk menjatuhkan wanita itu akan tetapi sepertinya wanita itu cukup tangguh untuk ia hadapi. Wanita itu melompat ke atas atap toko dengan perasaan waspada.
"Heh!." Ia mendengus kesal. "Boleh juga kau!." Uzumaki Araumi sangat jengkel. "Siapa kau sebenarnya?." Sorot matanya terlihat tajam. "Kenapa kau bisa melihat? Apa yang aku lakukan?." Ia tidak terima sama sekali jika ada seseorang yang berani menghalangi apa yang telah ia lakukan.
Bfuuuh!.
Api keluar dari tangannya. "Apakah kau perlu? Mengetahui siapa aku?." Matanya juga memerah dengan sempurna.
"Sial!." Umpatnya dengan penuh amarah. "Ternyata dia adalah naga api!." Uzumaki Araumi sangat terkejut dan tidak menduganya sama sekali. "Lain kali aku akan berhadapan denganmu!." Uzumaki Araumi menghilang entah kemana.
"Sial!." Umpatnya kasar. "Malah kabur!." Umpat Ryuu Amane dengan penuh amarah.
Sementara itu Atsui Akamaru yang melihat itu sangat tidak percaya. "Ryuu amane mengeluarkan api?." Dadanya bergetar aneh. "Bertarung?." Ia tidak menduga itu. "Siapa dia sebenarnya?." Dalam hatinya sangat bingung. "Tidak mungkin dia naga api?." Ia semakin bingung. "Apa karena namanya ryuu? Makanya dia memiliki kekuatan naga api?." Dalam hati Atsui Akamaru sangat tidak percaya dengan apa yang ia lihat pada saat itu. "Tapi, aku rasa itu sangat mustahil, hanya karena namanya ryuu." Dalam hatinya sedang berpikir. "Ia menjadi naga api?."
Apakah Ryuu Amane selama ini menyembunyikan kekuatan yang sangat dahsyat yang ada di dalam tubuhnya.
"Ini sangat tidak masuk akal, si lemah yang suka ditindas, ternyata memiliki kemampuan aneh? Yang ia sembunyikan selama ini?." Dalam hati Atsui Akamaru sungguh tidak percaya sama sekali dengan ucapan mereka semua.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah yang akan dilakukan Atsui Akamaru setelah melihatnya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya.
...**...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments