...***...
Kota Sukuranburu, kota yang baru saja maju. Kota tua yang memiliki beberapa patung monumen. Salah satunya monumen tugu yang terlihat sangat tua adalah patung Ratu Naga Api. Patung seorang wanita cantik yang menghadap ke arah laut sambil menghunuskan pedang Naga Api. Akan tetapi patung naga itu sudah banyak retak-retaknya, sehingga mereka berencana ingin menghancurkan Tugu Naga Api.
Saat ini di kantor pemerintahan.
Murasaki Abeno sebagai pemimpin tertinggi di wilayah Kota Sukuranburu sedang rapat dengan beberapa bawahannya. Sebagai seseorang yang miliki pangkat tertinggi, ia ingin mengetahui bagaimana perkembangan yang telah mereka lakukan terhadap daerah masing-masing. Saat ini ia ingin mendengarkan laporan dari mereka semua mengenai laporan itu.
"Terima kasih saya ucapkan pada rekan-rekan kerja yang telah bersedia meluangkan waktu untuk melakukan hal yang sangat luar biasa." Sekedar basa-basi ia memulai rapat itu. Mereka yang hadir juga terlihat sangat sumringah senyumannya. "Sepertinya rekan-rekan kerja telah bekerja dengan sangat baik." Pujinya dengan senyuman ramah. "Saya sangat senang, kita bisa membangun kota sukuranburu dengan penuh semangat, semoga dengan begitu kota yang sama-sama kita diami ini akan lebih maju lagi dari kota besar yang lainnya." Lanjutnya.
Sedangkan mereka semua menyimak apa yang telah dikatakan atasan, dalam rapat penting itu tentunya banyak hal yang harus mereka kerjakan.
"Hari ini kita akan membahas kembali mengenai tempat yang telah berhasil saudara-saudara perbaiki." Disela-sela penjelasan itu, ia menatap beberapa laporan yang masuk. "Perlahan-lahan kota tercinta kita ini bisa diatasi dengan baik, karena itulah kita harus bekerjasama dengan baik supaya menghasilkan hal yang baik pula." Dengan senyuman yang ramah ia menjelaskan pada mereka semua.
"Sampai saat ini aku telah menerima beberapa laporan di tiap kawasan kecil, lalu bagaimana dengan yang lainnya?." Ia bertanya pada mereka yang hadir. "Saya harap ada laporan yang baik mengenai apa yang telah kita lakukan selama ini, saya ingin meminta laporan yang telah kalian lakukan selama hampir satu tahun belakangan ini demi membangun kota yang sama-sama kita cintai ini." Murasaki Abeno tentunya ingin mendengarkan semua laporan dari mereka. "Untuk Laporan pertama, silahkan pada tuan gidou daisuke, waktu dan tempat dipersilahkan." Ia mempersilahkan Gidou Daisuke untuk melaporkan rancangan yang telah ia lakukan.
"Terima kasih saya ucapkan pada bapak gubernur yang telah memberikan saya kesempatan, serta memimpin langsung rapat ini." Gidou Daisuke memberi hormat. "Saya gidou daisuke, perwakilan daerah kota sukuranburu bagian timur." Ia memperkenalkan namanya. "Wilayah kota bagian timur hampir merenovasi beberapa tempat, tinggal menunggu renovasi beberapa tempat les sekolah saja." Gidou Daisuke mengeluarkan gambaran yang telah ia buat. "Untuk saat ini semuanya masih aman." Dengan penuh percaya diri ia berkata seperti itu.
Dan tentu saja mereka yang menyimak juga melihat laporan itu.
"Mulai dari pendidikan, pelayanan kesehatan, kendaraan umum, tertib lalu lintas, serta penerimaan bantuan telah ditata dengan sangat rapi." Ada beberapa tampilan layar diperlihatkan kepada mereka bagaimana situasi saat itu. "Mungkin hanya itu saja yang dapat saya sampaikan dalam laporan ini, saya ucapkan terima kasih atas kesempatan untuk melaporkan rancangan kota perwakilan daerah." Setelah itu ia kembali duduk dengan santai di kursinya.
"Saya ucapkan terima kasih pada rekan gidou daisuke yang telah bekerja keras untuk membangun wilayah timur dengan baik." Murasaki Abeno sangat senang mendengarnya. "Saya sangat senang mempercayakan wilayah timur pada tuan gidou daisuke, mari kita berikan apresiasi yang sangat luar biasa padanya." Murasaki Abeno tepuk tangan yang sangat luar biasa. Begitu juga dengan mereka yang hadir.
"Terima kasih banyak." Gidou Daisuke merasa terhormat. Rasanya ia sangat bangga dengan apa yang telah ia lakukan.
"Baiklah, untuk selanjutnya kita dengarkan laporan dari tuan chizuru ayato perwakilan dari wilayah barat untuk menyampaikan laporannya, waktu dan tempat dipersilahkan." Murasaki Abeno kali ini mempersilahkan Chizuru Ayato untuk berbicara.
"Terima kasih atas kesempatan yang bapak berikan pada saya." Dengan senyuman yang sumringah ia berkata seperti itu. "Wilayah barat telah selesai masa pelbangunan. Penduduknya telah menempati rumahnya. Dan selama satu tahun ini tidak ada kendala, semuanya berjalan dengan baik dan lancar." Ini Chizuru Ayato juga mengeluarkan rancangan yang telah ia buat. "Keamanan semuanya telah terjamin dengan baik, serta ramah lingkungan. Mungkin hanya itu yang dapat saya laporkan dalam pertemuan ini." Hanya itu saja yang ia laporkan. Sungguh laporan yang sangat luar biasa.
"Laporan yang sangat memuaskan sekali." Murasaki Abeno sangat terkesan. "Kalau begitu kapan-kapan saya akan berkunjung ke sana untuk melihatnya." Murasaki Abeno ingin merasakan sendiri sensasi tinggal di sana.
"Tentunya suatu kehormatan bagi saya." Chizuru Ayato bangga dengan keberhasilan yang telah ia lakukan.
***
Sementara itu di Kawasan Wilayah Selatan.
Di sekalian SMA selatan. Ryuu Amane, gadis remaja SMA yang suka menyendiri. Hari ini ia sedang melewati laut selatan. Entah kenapa rasanya ada yang memanggil-manggil dirinya untuk ke sana.
"Sebenarnya apa yang terjadi?. Kenapa aku merasakannya?." Dalam hatinya mendekati tugu Naga Api. "Kenapa aku merasakan perasaan yang sangat tidak enak?. Apa yang akan terjadi sebenarnya?." Perasaanya sangat gelisah, ia tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri.
"Jangan hancurkan!."
Deg!!!.
Entah kenapa ia melihat ada sosok wanita berbaju serba merah yang sangat cantik saat ini menghadap ke arahnya dengan tatapan penuh ketakutan.
"Jangan hancurkan!."
Kalimat itu kembali ia denger, dan seakan-akan itu adalah pesan tanda bahaya dari tugu itu padanya?.
"Siapa?. Siapa yang berkata seperti itu?." Matanya melirik ke sekitar, namun tidak ada yang aneh. Orang-orang yang berada di sekitar laut selatan terlihat biasa-biasa saja. "Apakah aku sedang mengigau?. Sehingga aku mendengarkan suara yang sangat aneh." Ia menepuk pipinya agak kuat. Hanya ingin memastikan dirinya semuanya baik-baik saja.
Namun setelah itu kondisi kembali normal, ia sangat terkejut dengan apa yang ia lihat tadi?. "Eh?. Sebenarnya apa yang terjadi?." Dalam hatinya bingung. Apalagi orang-orang sekitarnya sama sekali tidak melihatnya?. "Mungkin karena terlalu sedih, aku merasakan hal yang aneh." Gadis SMA itu menghela nafasnya dengan berat. Ia merasa heran dengan dirinya yang aneh, namun setelah itu ia pergi meninggalkan tempat itu. Tentunya ia menuju SMA Selatan, akan berbahaya jika ia sampai terlambat masuk sekolah.
...***...
Seorang remaja sedang merasakan ada getaran aneh yang masuk ke dalam tubuhnya.
Deg!.
Tubuhnya seperti sedang ditabrak sesuatu, namun ia tidak mengetahui apa yang terjadi padanya.
"Kenapa aku merasakan sesuatu yang aneh? Ada apa ini?." Ia melihat ke segala arah, namun tetap saja tidak bisa ia lihat apa itu?.
"Rasanya sangat aneh, apakah karena aku masih belum terbiasa dengan tubuh ini?." Dalam hatinya masih bertanya-tanya apa yang menyebabkan perasaan itu melanda dirinya.
Kembali ingatannya pada saat itu.
Seorang remaja sedang terpojok karena dikejar oleh beberapa orang preman, ia sangat ketakutan.
Ia berlari dalam keadaan terengah-engah, nafasnya memburu, jantungnya berdebar sangat kencang.
"Hei! Anak lemah! Sebaiknya kau tidak usah lari! Percuma saja kau kabur dari kami!."
"Tidak! Jangan kejar aku! Aku tidak memiliki urusan apapun dengan kalian!."
"Hahaha! Kau memang tidak memiliki urusan apapun dengan kami, tapi kami ingin berurusan dengan orang lemah seperti kau!."
"Kau memang pantas kami sakiti!."
"Tidak! Jangan kejar aku!." Ia semakin ketakutan dengan ucapan mereka.
Di saat yang bersamaan, ada sosok melayang di atas sambil memperhatikan itu.
"Kasihan sekali anak itu, tapi bagaimana caranya aku menolongnya?."
Deg!.
Matanya terbelalak terkejut ketika melihat ada beberapa orang yang telah menunggu anak remaja malang itu dengan senjata tajam.
"Tidak! Kau akan celaka!." Teriaknya dengan penuh ketakutan.
Deg!.
Remaja malang itu sangat terkejut ketika melihat ada beberapa orang yang menghadangnya, dan ia semakin ketakutan melihat pisau tajam digenggaman salah satu dari mereka.
Cekh!.
"Eagkh!."
Remaja malang itu berteriak kesakitan ketika dada kirinya ditusuk oleh seorang pemuda dengan raut wajah yang menyeramkan.
"Uhukh!."
Ia terbatuk dan memuntahkan darah, ia sedang dilanda ketakutan yang sangat luar biasa.
"Apakah aku akan mati di sini?." Dalam hatinya yang sedang sekarat bertanya?.
Brukh!.
"Hahaha! Kau memang sangat lemah sekali! Hahaha!."
Mereka semua malah tertawa terbahak-bahak melihat keadaan anak remaja itu ambruk, banyak darah yang mengalir dari tusukan itu.
"Lihatlah? Betapa lemahnya dia! Hahaha!."
Tidak ada perasaan belas kasihan sama sekali, mereka malah tertawa melihat remaja itu sekarat hingga pergi begitu saja?.
Namun mereka tidak menyadari jika sosok tak kasat mata telah memperhatikan perbuatan kejam mereka. Sosok tak kasat mata itu memancarkan hawa kemarahan yang sangat luar biasa.
"Lalu apa yang akan kita lakukan?."
"Biarkan saja dia berada di sini, aku sangat yakin dia akan ditemukan oleh warga."
"Baiklah, kita pergi sekarang."
Mereka pergi dari tempat itu, tapi apa yang terjadi?.
Deg!.
Saat itu ada detak jantung yang sangat kuat, masih ada kehidupan di sana?.
"Siapa yang memperbolehkan kalian untuk pergi dari ini?."
Deg!.
Mereka semua sangat terkejut mendengarnya, apalagi ketika membalikkan tubuh?. Mereka semua ketakutan, seakan-akan sedang melihat malaikat maut. Ya?. Setelah itu memang terdengar suara teriakan memilukan di sana.
...***...
Ruangan rapat.
"Baiklah, untuk selanjutnya kita dengan dari tuan furio danto, perwakilan kota tenggara, waktu dan tempat dipersilahkan." Murasaki Abeno tidak mau berlama-lama dalam rapat ini. Ia memang ingin mendengarkan laporan dari mereka semua.
"Terima kasih atas waktu yang bapak berikan pada saya." Ia memberi hormat. "Wilayah tenggara juga telah selesai dibangun." Furio Danto tak kalah saing dengan mereka semua. "Fasilitas-fasilitas umum, serta hak milik pribadi telah diberikan hak yang sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Sehingga tidak ada hak seseorang untuk meng-klaim itu miliknya atau terjadinya sengketa. Karena semuanya telah diberi sertifikat yang sah untuk pengaturan hak pribadi dan milik umum. Mungkin hanya itu yang dapat saya sampaikan dalam rapat kali ini. Saya ucapkan terima kasih." Furio Danto juga merasa bangga dengan apa yang telah ia kerjakan hingga saat ini.
"Laporan yang sangat luar biasa, saya menantikan itu, supaya tidak terjadinya sengketa perebutan hak milik, saya sangat terkesan sekali." Murasaki Abeno tidak menduga akan terpikirkan sampai ke sana.
"Terima kasih pak." Furio Danto tersenyum lebar mendengarkan pujian itu.
"Baiklah, untuk yang terakhir, kita akan mendengarkan laporan dari tuan masumi kenzo perwakilan kota selatan, waktu dan tempat dipersilahkan." Murasaki Abeno mempersilahkan perwakilan Selatan untuk berbicara.
"Terima kasih saya ucapkan pada bapak yang telah memberikan saya kesempatan untuk menyampaikan laporan pada rapat kali ini." Masumi Kenzo tersenyum ramah pada mereka semua. "Wilayah selatan hampir selesai, akan tetapi saya masih berusaha untuk melakukan yang terbaik." Masumi Kenzo terlihat berbangga hati menyerahkan laporan itu.
"Oh, ini lebih bagus lagi." Murasaki Abeno sangat senang melihat rancangan yang mereka buat hari ini. "Kalian telah menyelesaikan masalah ini dengan baik, rasanya tidak sia-sia mempercayakan ini semua pada kalian." Murasaki Abeno memperhatikan rancangan mereka semua.
"Tapi masalahnya adalah, ada monumen yang hampir saja rubuh, monumen tugu naga api, tugu yang terletak di laut selatan, sehingga di wilayah itu masih belum bisa diperbaiki." Masumi Kenzo terlihat sedikit kecewa. Sedangkan mereka semua saling bertatapan satu sama lain, karena heran dengan apa yang dikatakan oleh Masumi Kenzo.
"Jika tidak diperlukan lagi? Sebaiknya dihancurkan saja, lagipula monumen itu memang sangat tua, jadi tidak akan ada yang meliriknya lagi, kau bisa melakukannya lagi dengan baik." Murasaki Abeno tidak mau anak buahnya itu kecewa. Tentunya ia mengetahui hasil kerja keras dari mereka semua.
"Terima kasih murasaki san, aku akan melakukannya dengan baik." Ia terlihat sangat senang karena ada harapan memperbaiki semua kesalahan yang telah ia lakukan.
"Kalau begitu mari kita lanjutkan dengan pembangunan lainnya." Murasaki Abeno mengajak mereka untuk mengeluarkan ide, serta pikiran yang dapat memajukan kota Sukuranburu. Apa yang akan mereka lakukan setelah ini?. Hanya waktu yang akan menjawabnya.
...***...
Saat di SMA Selatan.
Atsui Akamaru, dia adalah siswa yang paling populer diantara siswa lainnya. Dengan parasnya yang tampan, ia dipuja oleh siswi satu sekolah. Apalagi saat ia baru memasuki halaman sekolah, siswi-siswi lainnya rela berdesakan hanya demi melihat betapa gantengnya pangeran sekolah mereka.
"Atsui sama! Love you!." Itulah yang mereka teriakkan setiap paginya.
"Heh!. Susah juga ya jadi orang terkenal." Kazuki Hideki, salah satu teman laki-laki yang menjadi satpam Atsui itu di sekolah. Ia terkenal dengan sifat galaknya, sehingga mereka tidak terlalu berani untuk mendekati Atsui Akamaru.
"Maklumi saja, itu sudah wajar, jika seorang pangeran tampan menjadi idola di sekolah." Mitsuya Chitose, satu-satunya cewek yang masuk kelompok mereka untuk melindungi Atsui Akamaru dari cengkraman siswi genit.
"Abaikan saja." Atsui Akamaru juga tidak terlalu menanggapi apa yang mereka lakukan.
Mereka bertiga hanya ingin melakukan kegiatan di sekolah dengan damai, tenang tanpa ada gangguan. Namun siapa sangka, dengan ketampanan yang dimiliki oleh Atsui Akamaru, semua itu sia-sia saja.
Tapi mereka tidak mengetahui, jika hanya Ryuu Amane saja yang terlihat tidak terpengaruh akan ketampanannya. Saat itu, Ryuu Amane bahkan melewati mereka semua tanpa adanya perasaan sungkan.
"Ryuu amane?." Dalam hati Mitsuya Chitose melihat ke arah siswi yang tidak tertarik sama sekali dengan Atsui Akamaru?. "Kenapa dia begitu cuek? Beda dengan yang lainnya." Dalam hatinya memperhatikan bagaimana mereka semua terhadap Atsui Akamaru.
Bahkan ia selalu mencari cara agar bisa mengusir mereka semua. "Heh! Siapa peduli? Tidak akan aku biarkan siapapun juga berani mendekati akamaru, akan aku singkirkan dia, tidak peduli siapa dia." Dalam hatinya tidak terima siapa saja yang berusaha untuk mendapatkan cinta Atsui Akamaru.
"Ryuu amane? Bukankah dia teman satu kelas dengan kami?." Dalam hati Atsui Akamaru memperhatikan siswi yang baru saja melewatinya dengan perasaan tanpa takut sedikitpun. "Dia itu sebenarnya bagaimana? Tidak seperti yang lainnya, ini sangat aneh sekali, apakah aku ini tidak cukup menarik di matanya?." Itu sangat aneh menurutnya. "Akan aku buat kau jatuh cinta padaku, akan aku buat kau tidak akan bisa melupakan aku." Dalam hatinya mencoba memikirkan sesuatu yang sangat menarik.
"Hanya dia yang tidak berlebihan jika akamaru datang." Dalam hati Kazuki Hideki melirik ke arah Atsui Akamaru yang saat ini sedang berpura-pura tidak mengetahuinya. "Padahal ryuu amane cukup cantik juga, hanya saja dia sering tertindas di sekolah ini." Ia merasa simpati pada Ryuu Amane, akan tetapi ia tidak memiliki ketertarikan untuk membantu Ryuu Amane.
Namun setelah itu lonceng pertama telah berbunyi. Sehingga mereka semua masuk ke kesal untuk mengikuti jam pertama. Tentunya sekolah SMa Selatan adalah sekolah yang cukup baik untuk mereka yang menginginkan jenjang pendidikan yang lebih baik.
...***...
Di Laut selatan
Masumi Kenzo, sebagai perwakilan yang dipercayai untuk memerintah wilayah selatan saat ini sedang berada di laut selatan. Karena mendapatkan izin untuk menghancurkan Tugu Naga Api, ia segera melakukan tugas itu dengan baik. Saat itu ia menerima telepon dari seseorang, sehingga ia sedikit menjauh dari sana.
"Ha? Aku tidak dengar apa yang kau katakan?." Masumi Kenzo mengeraskan suaranya. "Hei! Kalian! Lanjutkan pekerjaan ini! Aku akan pergi ke sana sebentar!." Ia memerintahkan para pekerja itu agar terus bekerja.
"Baik pak!." Balas mereka dengan semangatnya.
"Sebenarnya ada apa sih? Kenapa tiba-tiba saja suasana malah ribut? Juga orang-orang di sekitar laut selatan malah semakin banyak yang datang? Sehingga aku tidak bisa mendengarkan suara telepon." Gerutunya dengan kesalnya. Ia meninggalkan tempat itu untuk mencari keterangan. Saat itu matanya melirik gerbang tanda masuk laut Selatan.
Sementara itu alat berat telah disiapkan untuk menghancurkan Tugu Naga Api. Mereka bekerja sesuai dengan arahan dari Masumi Kenzo yang memberikan rancangan.
"Jangan hancurkan!." Lagi, suara itu menegaskan pada mereka semua, bahwa apa yang ia lihat adalah sebuah bencana jika mereka masih mau menghancurkan Tugu Naga Api.
"Lakukan dengan cepat! Setalah ini kita akan membuat rancangan yang lebih bagus." Itulah perintah ketua mereka.
Trakh!. Trakh!.
Tugu Naga Api telah dihantam dengan alat berat itu. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah yang akan terjadi jika Tugu Naga Api dihancurkan?. Apakah bencana besar akan terjadi?. Temukan jawabannya, jangan sampai ketinggalan dengan cerita yang seru.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments