...***...
Kota Sukuranburu Selatan.
Masumi Kenzo telah mengeluarkan pengumuman tentang sayembara mencari seseorang yang memiliki kekuatan spiritual untuk melihat Sukma Naga Api telah tersebar dimana-mana. Namun masalah ini masalah itu ya serahkan kepada anak buahnya, sedangkan ia menyelesaikan masalah yang lain karena ia tidak ingin fokus pada satu titik saja setelah alasannya yang menyerahkan masalah ingin pada anak buahnya.
Kadoaki Takayama sedikit bingung mau berkata apa pada mereka semua.
"Kenapa harus aku?." Dalam hatinya jengkel. "Uang menyeleksi mereka semua?." Rasanya ia sangat putus asa. "Sementara aku tidak memiliki kemampuan apapun, untuk menilai mereka." Dalam hati Kadoaki Takayama sangat panik dengan apa yang ia lakukan.
Sedangkan saat ini kantor DPD sedang dipenuhi banyak orang yang mengantri.
"Pak ketua masumi, kenapa anda menyuruh saya?." Rengeknya. "Menyelesaikan masalah ini sendirian?." Hatinya sangat panik. "Apakah saya harus? Meminta staf lainnya untuk membantu saya?." Ia sangat panik.
Kembali ke satu jam sebelumnya.
Kadoaki Takayama sedang bersemangat, karena ia akan melakukan pemilihan calon yang akan bekerjasama dengan merak untuk mengatasi masalah Sukma Naga Air. Akan tetapi pada saat itu Kadoaki Takayama melihat Masumi Kenzo sedang siap-siap dengan rapinya.
"Kadoaki-kun." Panggilnya. "Masalah ini aku serahkan padamu." Ia menepuk pelan pundak Kadoaki Takayama. "Aku tidak bisa memilih mereka hari ini." Lanjutnya. "Jadi? Aku serahkan padamu ya."
Itulah yang ia katakan sebelum ia pergi.
"Memangnya bapak mau kemana?." Responnya. "Bukankah hari ini sangat penting?." Kadoaki sedikit heran dengan apa yang dikatakan Masumi Kenzo. "Tentunya bapak tidak lupa dengan jadwalnya bukan?." Kadoaki Takayama bahkan mengingatkan Masumi Kenzo tentang jadwal yang akan mereka lakukan.
"Aku dan wakabayashi saat ini memiliki masalah yang lebih penting." Jawabnya dengan tegas. "Karena itulah aku tidak bisa membantumu." Lanjutnya. "Harus aku sendiri yang menyelesaikannya." Setelah itu ia berjalan meninggalkan ruangan itu.
"Tapi pak?." Protesnya. "Bagaimana dengan masalah di sini?." Kadoaki Takayama terlihat kebingungan.
"BUKANKAH AKU TELAH MENGATAKAN!." Suaranya terdengar keras. "UNTUK MENYERAHKAN MASALAH INI PADAMU!." Ia bahkan menekan pundak Kadoaki Takayama dengan keras. "APAKAH KAU TIDAK MENYIMAKNYA DENGAN BAIK?!." Masumi Kenzo mengeluarkan semua kemarahan yang ia rasakan pada saat itu.
"Si-si-siap pak!." Kadoaki Takayama sangat takut melihat kemarahan itu.
"Itu semua ide mu kan?." Ia menyeringai dengan lebar. "Jadi? Kau yang harus menyelesaikan masalah itu." Masumi Kenzo benar-benar meninggalkan tempat itu.
Brak!!
Diiringi dengan bantingan pintu yang sangat keras. Tentunya membuat Kadoaki Takayama semakin ketakutan.
"Sangat menyeramkan sekali." Dalam hatinya tidak ingi melihat kemarahan itu.
Kembali ke masa ini.
"Pak?! Apakah ini masih lama?." Ia menatap aneh. "Katakan pada kami!." Mereka semua tidak sabar ingin terpilih.
Mereka semua mengincar hadiah uang yang akan diberikan pada siapa saja yang bisa melihat roh naga air.
"Se-se-baiknya kalian menunggu sebentar." Kadoaki Takayama semakin gugup, apakah ia bisa melakukan itu dengan baik?. Simak terus ceritanya.
...***...
Ratu Naga Api yang berada di dalam tubuh Ryuu Amane saat ini sedang mengagumi apa yang ia lihat. Rasanya memang ada perubahan yang ia rasakan saat ini.
"Sungguh, kota sukuranburu yang jauh berbeda sekali." Matanya memperhatikan keadaan sekitarnya. "Dengan yang aku lihat selama ini." Dalam hatinya merasa kagum. Ryuu Amane memang sengaja pergi pagi, supaya bisa menikmati pemandangan yang ia lihat selama di perjalanan.
"Apakah Gusti Ratu menyukainya?." Ryuu Amane suka dengan senyuman yang ditunjukkan oleh Ratu Naga Api saat ini.
"Meskipun tidak secanggih pada masa dulu, tapi bangunan di sini sangat tinggi." Ungkapnya. "Rasanya aku tidak sanggup untuk melihat sampai ke atas." Ratu Naga Api benar-benar dapat merasakan perubahan itu.
"Tapi di kota bagian selatan, masih ada beberapa yang masih alami." Ucapnya. "Mungkin jika Gusti Ratu tertarik, saya akan mengajak gusti ratu untuk ke sana." Ryuu Amane sama sekali tidak keberatan untuk melakukan itu.
"Kau tenang saja." Responnya. "Aku akan melihatnya sendiri, suatu hari nanti dengan tubuhku sendiri." Tentunya ia akan melihat itu bersama orang yang ia cintai. "Aku sangat merindukan suami yang aku cintai." Dalam hatinya tidak sabar ingin bertemu dengan orang yang paling ia cintai.
"Kalau begitu kita nikmati pemandangan ini bersama-sama, untuk sementara waktu." Ryuu Amane mencoba menghibur Ratu Naga Api.
"Baiklah." Balasnya. "Mari kita terus berjalan sampai ke sekolah." Ratu Naga Api sedikit bersemangat.
Apakah ia bisa bertemu dengan orang yang paling ia cintai suatu hari nanti?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.
...***...
Masumi Kenzo bersama Wakabayashi Ken saat ini berada di kediaman keluarga Uzumaki Hinohara. Keluarga yang terbilang sangat tidak akur, dan memiliki banyak masalah.
"Untuk apa seorang dewan perwakilan daerah? Berkunjung ke rumah kami?." Tatapan matanya sangat tidak suka. "Apa yang kau inginkan?." Dengan wajahnya yang sangar Uzumaki Hinohara bertanya seperti itu?.
Ia tidak menunjukkan sikap sopannya pada Masumi Kenzo sebagai Dewan Perwakilan daerah Selatan kota Sukuranburu.
"Oh? Maaf." Responnya. "Jika kedatangan saya, membuat tuan uzumaki merasa tidak nyaman." Sedangkan Masumi Kenzo masih bersikap ramah.
Tidak ada respon darinya, karena hatinya masih belum bisa memaafkan.
"Tetapi saya ingin mengetahui, sebuah informasi dari tuan." Ucapnya lagi. "Ada beberapa hal yang ingin saya ketahui mengenai apa yang terjadi." Lanjutnya.
"Apa yang ingi kau ketahui?!." Hatinya terasa panas. "Tidak perlu basa-basi lagi!." Bentak ya. "Langsung saja pada intinya!." Melihat sikap lunak dari Masumi Kenzo, Uzumaki Hinohara malah semakin melunjak.
"Dia ini ya!." Hatinya sangat geram. "Memang tidak ada sopan-sopannya!." Dalam hati Masumi Kenzo sangat marah, hampir saja ia tidak bisa mengendalikan diri. Ingin rasanya ia menghajar laki-laki di hadapannya saat ini.
"Akh!." Dalam hatinya sangat gregetan. "Jangan meledak duluan pak! Sabarlah sedikit." Wakabayashi Ken berbisik pekan. Ia merasakan hawa panas yang mengerikan dari Masumi Kenzo.
"Hmph!." Masumi Kenzo mendengus kesal. "Apakah benar ini Putri tuan?." Ia menunjukkan selembaran foto pada Uzumaki Hinohara.
TEP!.
"Tidak bisakah kau mengambil dengan cara yang biasa saja?!." Hatinya terasa terbakar. "Benar-benar menyebalkan sekali orang ini!." Dalam hatinya ia tidak sabar lagi ingin mengajar Uzumaki Hinohara yang mengambil foto itu dengan cara yang tidak sopan.
"Hyaaa! Sabar pak!." Ia semakin histeris. "Jangan kesulut emosi!." Wakabayashi Ken berusaha untuk menahan Masumi Kenzo agar tidak tersulut api amarahnya sendiri. "Panas juga ternyata dia." Dalam hatinya merinding melihat kemarahan Masumi Kenzo saat ini.
"Ya, dia memang anakku." Ucapnya dengan cueknya. "Apa yang telah ia lakukan? Sehingga membuat kalian datang ke rumahku?!." Uzumaki Hinohara juga belum menunjukkan sikap baiknya, ia malah bertanya dengan nada tinggi. "Memangnya apa? Yang telah ia lakukan?." Tatapan matanya sangat tidak suka. "Sehingga kalian datang menemuinya?!." Kembali ia bertanya dengan nada tinggi.
Glugh!!!.
"Sepertinya ini akan terjadi perang yang sangat menyakitkan." Wakabayashi Ken, meskipun ia adalah seorang kepolisian yang bertugas di kawasan Selatan kota Sukuranburu, namun ia belum pernah melihat seseorang yang menunjukkan bagaimana kemarahannya.
Grep!!!
"Tuhkan?!." Dalam hatinya semakin panik. "Mereka malah berkelahi!" Rasanya ia tidak dihormati sama sekali sebagai seorang polisi.
"Aku datang ke sini dengan cara baik-baik!." Hatinya sudah tidak tahan lagi. "Kenapa kau malah menyambutku seperti itu!." Gejolak emosinya semakin berkobar. "Ini semua demi keselamatan putrimu!." Tambahnya. "Ayah macam apa kau ini? Hah?!." Sementara itu Masumi Kenzo melampiaskan amarahnya dengan mencengkram kerah baju Uzumaki Hinohara.
"Lepaskan!." Ia berusaha mendorongnya. "Kau ini dewan perwakilan daerah macam apa?!." Bentaknya. "Menggunakan kekerasan pada orang lain!." Uzumaki Hinohara yang biasanya gahar tidak bisa berkutik dihadapan Masumi Kenzo.
"Itu kau sendiri yang tidak mau menjawab pertanyaanku dengan benar!." Bentaknya lagi. "Kau ini seroang laki-laki!." Rasanya ingin ia hajar lelaki itu sampai tewas. "Seorang ayah! Harusnya kau yang lebih peduli pada anakmu sendiri!." Masumi Kenzo tidak peduli siapa yang ia hajar saat ini. Ia sangat marah karena tidak ada tanggungjawab Uzumaki Hinohara terhadap anaknya.
"Pak?. Sebaiknya duduk dengan tenang. Jangan gunakan kekerasan seperti itu." Wakabayashi Ken bahkan takut melihat kemarahan Masumi Kenzo saat ini.
Apakah yang akan mereka lakukan jika Uzumaki Hinohara tidak mau menjawab pernyataan itu dengan baik?. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...
Di suatu tempat, Uzumaki Araumi. Itulah nama wanita yang kini telah menjadi wadah Naga Air. Saat ini ia sedang berada di bus menuju sekolah. Karena target yang harus ia dapatkan adalah anak sekolahan. Matanya saat ini mengamati mereka semua dengan tatapan yang tidak biasa. Matanya melihat dan menyelami pikiran mereka yang sedang melemah.
Saat itu matanya menangkap seorang siswi yang sedang dalam keadaan tidak baik. Senyumannya mengembang ketika melihat kesedihan yang dirasakan oleh siswi terse.
"Fyuuuh!." Ia meniupkan sesuatu ke arah siswi tersebut.
Deg!!!!.
Pada saat itu siswi tersebut merasakan ada yang aneh dengan dirinya. Ia tidak mengerti kenapa ia bisa berada di dalam bis saat itu. Tanpa banyak bicara siswi tersebut meminta turun, tentunya membuat mereka yang ada di dalam bis itu bertanya-tanya. Apa yang membuatnya ingin turun?.
"Target yang sangat manis sekali." Uzumaki Araumi tersenyum lebar melihat itu. Korban tumbal pertama telah berhasil ia dapatkan. "Pergilah ke laut selatan." Ucapnya dengan senyuman manis. "Tunggu aku di sana, akan aku tunjukkan kekuatan keabadian yang sebenarnya padamu." Ada sensasi kesenangan tersendiri yang ia rasakan saat ini. Entah kenapa ia menikmati itu dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya ?. Simak terus ceritanya.
...***...
Di SMA Selatan.
Saat Ryuu Amane baru memasuki gerbang sekolah. Izumi, Natsumi dan Ayuri masih tidak terima dengan apa yang mereka terima pada saat pulang sekolah kemarin. Hingga mereka masih ingin menghadang Ryuu Amane.
"Jangan kau pikir, masalah hari kemarin selesai begitu saja!." Hatinya sangat benci. "Kau itu memang budak bodoh! Yang tidak tahu diri!." Izumi melotot tajam sambil menghadang Ryuu Amane.
"Berani sekali kau melawan perintah kami!." Natsumi terlihat sangat marah. "Kali ini akan aku buat kau mengerti." Raut wajahnya semakin membenci. "Anak haram tidak berguna seperti kau itu! Memang pantas menjadi budak untuk kami semua!." Amarahnya semakin memuncak.
"Sekarang kau berlutut!." Bentaknya. "Minta ampun pada kami!." Hatinya terasa panas. "Jika kau masih ingin berada di sekolah ini!." Ayuri juga memerintah dengan sombongnya.
Mereka semua melihat perdebatan itu. Mereka selalu melihat apa yang dilakukan oleh trio anak orang kaya terhadap Ryuu Amane.
"Heh!." Ryuu Amane mendengus kesal. "Apakah kalian sudah selesai berbicara?!." Dengan raut wajah datar ia bertanya seperti itu pada mereka. "Memangnya aku peduli?!." Ucapnya dengan cueknya. "Siapa yang mau berlutut? Di hadapan orang-orang tidak berguna seperti kalian?!." Sorot matanya sangat tajam. "Aku tidak sudi sama sekali!." Kali ini senyumannya terlihat mengambang di wajahnya.
"Kau mau cari mati rupanya!." Amarah mereka memuncak saat melihat raut wajah Ryuu Amane yang merendahkan mereka.
"Jangan banyak bicara!." Balasnya. "Jika kalian masih belum puas? Dengan apa yang terjadi pada hari kemarin? Maka majulah." Ryuu Amane menantang mereka.
Tentunya itu menjadi pusat perhatian mereka semua. Siapa yang tidak kenal dengan mereka?. Orang kaya yang suka menindas, serta orang yang selalu tertindas.
Di saat yang bersamaan, Akihara Masamune baru saja sampai, ia sangat terkejut melihat hawa merah yang menyelimuti tubuh Ryuu Amane.
"Ini sangat gawat." Akihara Masamune sangat panik melihat itu. "Apa yang harus aku lakukan?." Kepalanya terasa pusing memikirkan cara untuk memisahkan mereka agar tidak bertanggung.
Apakah yang akan mereka lakukan setelah ini?. Apakah Ryuu Amane atau Ratu Naga Api akan menggunakan kekerasan pada mereka semua?. Apakah yang terjadi selanjutnya?.
...***...
Kembali di kantor DPD.
Kadoaki Takayama sangat kewalahan, ia tidak tahu harus menilai mereka seperti apa. Sedangkan mereka semua mendesak untuk memilih.
"Sabarlah untuk sebentar!. Jangan mendorong ku seperti itu!." Kadoaki Takayama sangat prustasi dengan mereka yang tidak sabar. Ia sendirian mengatasi masalah itu?. Teman-temannya yang lainnya tidak mau membantunya?.
"Ah!." Dalam kepanikan yang ia rasakan ia teringat dengan ide yang cukup baik. "Ekhm!." Entah dari mana ia mendapatkan pengeras suara, namun mereka masih belum mau berhenti memberontak meskipun ia telah memasang meja pembatas berlapis agar mereka semua tidak menyerbunya. Tetapi tetap saja mereka masih ingin mengejarnya.
"Aku dengar. JIKA YANG MASUK KE DALAM LAUT SELATAN ADALAH DUKUN SAKTI PALSU, MEREKA AKAN SEGERA DITELAN SAMPAI MATI OLEH LAUT SELATAN." Ucapnya dengan suara yang sangat kerasa. Sehingga mereka yang tadinya ribut terpaku mendengarkan apa yang mereka dengar.
"Bisa dikatakan secara tidak langsung akan menjadi tumbal naga air secara suka rela. Karena itulah pikirkan baik-baik jika ingin mengikuti sayembara ini jika kalian masih sayang nyawa sendiri." Lanjutnya.
Swiiing!!!.
Setalah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Kadoaki Takayama, tiba-tiba saja ruangan itu benar-benar kosong. Sepertinya mereka semua sangat takut dengan apa yang dikatakan Kadoaki Takayama. Sehingga mereka semua pergi meninggalkan ruangan itu.
"Eh?." Kadoaki Takayama sangat heran dengan sekumpulan orang-orang yang tadinya ingin menyerbu dirinya, namun kini menghilang entah kemana.
"Jika mereka tidak ada di sini satu pun?. Itu artinya mereka semua dukun abal-abal?." Dalam hatinya malah cengo dengan apa yang terjadi. "Jadi mereka semua abal-abal?." Ia kembali mengulangi perkataan yang sama. Rasanya sangat mengherankan sekali. "Jadi apa yang aku lakukan tadi itu sia-sia?." Hatinya benar-benar terguncang, sangat sesak mengingat kerumunan yang hampir saja membuatnya berhenti untuk bernafas. "Apa yang akan aku katakan pada pak ketua masumi nantinya?. Ini sangat mengejutkan sekali." Dalam hatinya bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Sehingga kepalanya berdenyut sakit. Tidak bisa memikirkan apa yang akan ia lakukan setelah ini. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi dari Masumi Kenzo setelah mengetahui jika ia gagal dalam melaksanakan tugasnya?. "Sebaiknya aku meminta surat pengunduran diri saja." Ia pasrah dengan apa yang akan dilakukan Masumi Kenzo padanya nanti. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments