...***...
Kantor Pusat Kota Sukuranburu.
Murasaki Abeno sangat kewalahan menerima laporan yang masuk dari daerah kawasan selatan. Ia tidak mengerti bagaimana caranya mengatasi masalah itu. Rasanya ia sangat menyesal karena telah menghancurkan Tugu Naga Api. Rasanya ia ingin kembali ke masa itu supaya mencegah mereka agar tidak menghancurkan Tugu Naga Api.
"Apa yang harus aku lakukan?." Keluhnya. "Kenapa legenda itu? Malah menjadi kenyataan?." Hatinya menangis sedih. "Kenapa semuanya malah berantakan? Hanya karena setelah? Tugu naga api itu dihancurkan?." Hatinya sangat sakit menerima laporan yang masuk, melihat keadaan korban yang sangat mengenaskan. Apalagi banyak surat yang masuk tentang ketakutan masyarakat akan kejadian itu.
"Kita harus mencari cara untuk mengatasi masalah ini." Ucapnya. "Telah banyak korban yang berjatuhan, hanya karena ketidaktahuan kita." Lanjutnya. "Untuk mengatasi hal gaib seperti ini." Ryouta Uzaki sebagai asistennya juga ikut prihatin dengan apa yang terjadi.
"Masalah kita tidak mengetahui, dan cara melihat sukma." Ucapnya dengan aneh. "Itu masuk ke dalam tubuh seseorang." Pikirannya terasa kusut. "Meskipun biksu souji mengatakan ciri-cirinya." Lanjutnya lagi. "Tapi tetapi saja, kita tidak bisa melihatnya." Murasaki Abeno tidak bisa memikirkan cara mengatasi masalah itu. "Yang aku takutkan, bukan hanya di wilayah saja yang akan menjadi korbannya." Keluhnya. "Bisa jadi, wilayah lainnya juga akan menjadi korbannya." Pikirannya semakin kusut memikirkan hal terburuk yang akan mereka alami nantinya. Kepalanya terasa mau pecah memikirkan itu semua.
"Masalah ini sangat rumit sekali." Ia mengeluh nafasnya dengan lelahnya. "Rasanya kita hidup kembali ke zaman feodal." Ryouta Uzaki juga bingung mau berbuat apa terhadap hal-hal gaib. "Ditambah kita tidak memiliki kemampuan apapun tentang itu."
"Kalau begitu aku akan menemui biksu souji." Ucapnya dengan sangat yakin. "Mungkin dia bisa memberikan saran, untuk mengatasi masalah ini." Murasaki Abeno ingin mengetahui semuanya dari Biksu Souji Gedaje. "Aku tidak akan membiarkan korban berjatuhan lagi." Ucapnya dengan perasaan cemas. "Hanya karena hewan mitos yang tidak jelas itu!." Ia harus melakukan sesuatu, atau warga Kota Sukuranburu akan menghilang dari peradaban dunia ini.
"Semoga saja kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik pak." Matanya dipenuhi dengan harapan. "Saya juga akan membantu bapak sebisa saya." Ryouta Uzaki menguatkan hatinya.
Apakah yang akan dilakukan Murasaki Abeno sebagai Gubernur Kota Sukuranburu?. Apakah ia bisa menemukan cara terbaik untuk menyelamatkan warga Kota Sukuranburu dari ancaman bahaya tumbal Naga Air?. Simak terus ceritanya.
...***...
SMA Selatan.
Saat ini Ryuu Amane sedang dipanggil oleh Pak Kazuo Fujitora. Tentunya itu karena pengaduan dari Izumi dan teman-temannya. Selain itu, orang tua mereka juga tidak terima sehingga atas apa yang dilakukan oleh Ryuu Amane terhadap anak-anak mereka.
"Maafkan saya, saya berjanji akan memberikan teguran." Ucapnya. "Yang sangat keras padanya." Pak Kazuo Fujitora takut dengan kedatangan mereka yang terlihat sangat marah. Orang-orang berduit yang merasa memiliki kekuasaan di Sekolah ini.
"Hah?." Ia masih tidak terima. "Kaki anakku cedera!." Bentaknya dengan keras. "Karena anak miskin ini!." Tunjuknya. "Dan kau masih berani meminta maaf padaku?!." Hideo Kojima, ayah dari Hideo Izumi terlihat sangat marah dan tidak terima sama sekali dengan kondisi anaknya yang sebenarnya tidak terluka parah?.
"Kau pikir? Berapa besar biaya!." Emosinya semakin besar. "Yang aku keluarkan! Untuk membiayai pengobatan anakku! Hah?!." Matsui Hayate ayah dari Matsui Natsuki malah membicarakan biaya telah telah ia keluarkan untuk menyembuhkan cedera anaknya.
"Jika kau masih saja tidak bisa! Memberinya pelajaran!." Tegasnya. "Jangan salahkan kami!." Ancamnya. "Jika kau akan mengucapkan selamat tinggal." Ia menyeringai lebar. "Pada sekolah ini!." Takeda Oharu ayah dari Takeda Ayuri mengancam Pak Kazuo Fujitora.
Mereka semua mengancam Pak Kazuo Fujitora, hanya karena masalah itu?. Pak Kazuo Fujitora hanya diam sambil menahan amarahnya. Sebisa mungkin ia menelan perasaan sakit itu. "Sungguh-."
"Apakah hanya seperti itu?." Ucapnya penuh amarah. "Tujuan tuan-tuan menyekolahkan anak-anak tuan?." Ryuu Amane benar-benar geram dengan apa yang ia dengar saat itu.
"Hah?!." Responnya dengan penuh amarah "Apa yang kau bicarakan?!." Ketiganya menatap ke arah Ryuu Amane.
"Saya membicarakan cara tuan-tuan." Balasnya. "Mendidik anak-anak tuan." Lanjutnya. "Apakah tuan tidak bertanya?." Tatapan matanya dipenuhi dengan kebencian. "Kelakuan seperti apa? Yang telah mereka lakukan pada saya?." Amarahnya sedikit memuncak saat ia melihat kilasan hidup Ryuu Amane selama ini. Sebagai Ratu Naga Api tentunya ia merasa simpati dengan apa yang dialami oleh Ryuu Amane. "Harusnya saya yang menuntut tuan-tuan." Sorot matanya sangat tajam. "Agar bertanggung jawab, atas apa yang telah anak-anak tuan lakukan terhadap saya!." Suaranya terdengar sangat berat.
"Kau ini bicara apa?!." Balasnya dengan penuh amarah. "Jangan berkata yang tidak-tidak!." Hideo Kojima juga emosi mendengarkan ucapan itu.
"Coba tuan lihat ini!." Ryuu Amane berdiri. "Begitu banyak luka yang saya terima, atas perbuatan anak tuan-tuan yang terhormat!." Ryuu Amane memperlihatkan beberapa bekas luka yang ia terima selama ini.
"Untuk apa kau memperlihatkan pada kami?!." Hideo Kojima bergidik ngeri melihat luka itu.
"Ryuu-kun." Pak Kazuo Fujitora sangat terkejut melihat itu. "Lukanya sangat banyak sekali." Rasanya ia tidak sanggup melihat luka lebam yang diperlihatkan Ryuu Amane. "Pantas saja, ia melawan mereka." Dalam hatinya sangat mengerti dengan apa yang dilakukan Ryuu Amane.
"Apakah mereka semalam ini memiliki hati nurani pada saya?!." Ryuu Amane sangat marah. "Apakah saya tidak berhak? Untuk sekali membalas, atas apa yang telah mereka lakukan pada saya?!." Suaranya terdengar bergetar. "Tidak!." Amarahnya semakin memuncak karena sakit hati yang dirasakan Ryuu Amane sang pemilik tubuh asli. Sementara itu mereka terdiam mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ryuu Amane atau Ratu Naga Api.
"Apakah tuan-tuan menyekolahkan mereka ke sekolah ini?!." Ia semakin benci pada mereka. "Hanya untuk melakukan hal, yang tidak berguna seperti itu?." Ia lampiaskan amarahnya. "Apakah tuan-tuan tidak memeriksa? Nilai mereka di sekolah ini?!." Hatinya sedang diisi oleh kebencian. "Atau tuan-tuan mengeluarkan uang dengan sia-sia? Hanya untuk membeli nilai pada mereka?." Lanjutnya. "Hanya tuan-tuan yang bisa menjawabnya!." Ryuu Amane berusaha untuk menahan tangisnya.
Air matanya telah membasahi pipinya. Gejolak kesedihan yang ia rasakan saat itu telah menekan semua beban yang ia rasakan selama ini.
"Ryuu-kun." Pak Kazuo Fujitora merasa simpati dengan apa yang ia dengar. "Kau sangat hebat sekali."
"Jika tuan-tuan berada di posisi saya!." Ucapnya lagi. "Apakah tuan-tuan tidak merasa sakit hati direndahkan?!." Tegasnya. "Dihina seperti itu?!." Ia tatap mereka semua. "Dianiaya sampai terluka parah seperti ini?!." Ia perlihatkan semua luka-luka di tubuhnya. "Apakah tuan-tuan berpikir? Saya ini adalah manusia batu?." Hatinya terasa membenci. "Sehingga saya tidak merasakan perasaan sakit! Jika dilukai seperti ini?!."
Belum ada respon dari mereka, karena tidak menduga sama sekali, jika ada yang berani berkata dengan nada tinggi pada mereka.
"Jawab pertanyaan saya dengan hati nurani tuan-tuan!." Sorot matanya semakin tajam. "Jangan tuan-tuan pandang saya, sebagai orang rendahan hanya karena tuan-tuan memiliki harta!." Lanjutnya dengan semua amarah yang selama ini bertumpuk di dalam hatinya.
"Dia ini."
Mereka tidak bisa menjawabnya, rasanya mereka kehilangan kata-kata mendengarkan ucapan Ryuu Amane.
"Jika tuan-tuan tidak rela? Anak tuan disakiti seperti itu." Ia menyeringai lebar. "Naka tuan-tuan katakan pada mereka." Tegasnya. "Bahwa di dunia yang keras ini." Ia lampiaskan amarahnya. "Mereka tidak akan selalu bisa mengandalkan orang tua mereka! Hanya untuk menyelesaikan masalah." Matanya memperhatikan mereka yang terkejut atas ucapannya. "Jika suatu hari nanti, mereka mengalami masalah yang lebih rumit lagi." Kali ini ia menyeringai lebar. "Apalah mereka masih bisa? Mengadu pada tuan-tuan atau tidak?." Ryuu Amane menghapus air matanya. Sorot matanya lebih tajam dari yang sebelumnya. "Selamat siang." Ucapnya dengan nada bersahabat. "Semoga tuan-tuan bisa memikirkan semuanya lebih baik ke depannya." Ia merapikan kembali pakaiannya. "Jika mereka berani lagi menyiksa saya?." Lanjutnya. "Jangan salahkan saya, untuk berbuat kasar pada mereka."
Tanpa menunggu tanggapan mereka, tentunya ia pergi dari ruangan itu. Ia tidak peduli bagaimana tanggapan mereka.
"Ya, memang benar apa yang dikatakan oleh ryuu-kun." Pak Kazuo merasa lega dengan apa yang ia dengar tadi. "Apa tujuan tuan-tuan menyekolahkan mereka disini, jika tuan-tuan masih saja memanjakan mereka seperti itu?." Pak Kazuo Fujitora memiliki keberanian untuk berkata seperti itu pada mereka. "Bukankah tujuan dari sekolah ini adalah membuat siswa menjadi lebih mandiri? Untuk mengatasi masalah?." Lanjutnya. "Mereka telah berbuat masalah, maka merekalah yang harus menyelesaikan masalah itu." Senyumannya begitu lapang, dan beban yang ia rasakan selama ini juga sedikit berkurang. "Saya permisi dulu." Ia membungkuk memberi hormat. "Karena masih ada jadwal mengajar." Ucapnya dengan senyuman lembut. "Dan saya juga yakin tuan-tuan memiliki pekerjaan, yang harus diselesaikan." Lanjutnya. "Selamat siang." Pak Kazuo Fujitora juga meninggalkan mereka semua. Ia merasa apa yang dikatakan oleh Ryuu Amane sangat benar.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah masalah akan selesai begitu saja?. Apakah tidak akan masalah di kemudian hatinya?. Temukan jawabannya.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments