Jam 4 dini hari Gina terbangun lebih dulu, dia melihat Alden yang masih tertidur nyenyak, guling diantara mereka pun masih tertata rapi. Membuatnya jadi merasa aman ketika berada di dekap pria asing ini.
Jujur saja, awalnya Gina merasa takut untuk tidur di ranjang yang sama. Pikirannya sudah melalang buana kemana-mana. Namun saat pagi ini dia masih melihat Alden yang tak banyak ulah membuatnya pun jadi tersenyum kecil, membodohi dirinya sendiri.
Gina turun dengan perlahan, membenahi selimut tipis yang digunakan oleh Alden dan segera menuju dapur.
Pukul 05.30 pagi semua pekerjaan Gina telah selesai, dua bahkan sudah mandi dan berganti baju siap untuk pergi ke pasar, letaknya tak jauh dari gang tempatnya tinggal.
"Al, bangun, aku mau pergi dulu sebentar," ucap Gina, seraya menggoyangkan bahu Alden ingin pria ini bangun. Kini dia duduk di tepi ranjang.
Alden menggeliat, melihat Gina yang sudah rapi.
"Kamu mau kemana?"
"Pasar."
Alden terdiam, dalam benaknya ketika ingin pergi ke tempat seperti itu adalah untuk membeli sesuatu. sedikitpun Tidak terbesit di dalam benaknya jika Gina akan menjual kue.
"Mandinya nanti saja setelah aku pulang, tidak lama kok, mungkin jam 8 aku sudah tiba di rumah. Ini ada kue dan air minum, makanlah, minum obatnya nanti saja," terang Gina penuh perhatian, hatinya memang lembut, jadi meski dia merasa kesal pada Alden dia tetap mengurus pria ini dengan baik.
Lagi-lagi Alden mengangguk.
Namun sebelum Gina pergi meninggalkan dia Alden dengan cepat menahan tangan sang istri.
"Tidak ingin menciumku sebelum pergi?" tanya Alden, sebuah pertanyaan yang seketika membuat kedua mata Gina berubah jadi tajam.
Sungguh, bagi Alden, Gina adalah istrinya sejak dia pertama kali membuka mata. Jadi meski berulang kali Gina mengatakan bahwa pernikahan ini tidak sungguhan Tapi tetap saja di dalam hatinya tidak seperti itu, Gina adalah istrinya yang sedang marah entah karena apa.
"Cium aku," pinta Alden lagi.
"Jangan membuat ku marah Al."
"Pergi tanpa meninggalkan sebuah ciuman seperti kamu akan pergi meninggalkan aku selamanya."
"Astaga, aku cuma pergi ke pasar Al!"
"Cium, pipi juga aku sudah lega. Aku mohon," pinta Alden lagi, seraya menggenggam erat tangan sang istri yang kini berada di genggamannya.
Gina tergugu, antara ingin menolak atau bagaimana.
"Pipi saja," punya Alden lagi, dia benar-benar ingin mendapatkan sebuah ciuman sebelum Gina pergi meninggalkannya. Tidak akan rela jika Gina hanya pergi-pergi begitu saja.
"Pipi ya?" jelas Gina pula dan Alden mengangguk dengan cepat.
Sedikit canggung dan kikir, Gina pun mendekatkan wajah mereka. Berniat mencium pipi pria ini agar masalah mereka cepat selesai.
Ciuman pipi tanda sapa pun sudah biasa Gina lihat. Jadi baginya aman.
Namun Alden adalah pria licik. Saat Gina nyaris mencium pipinya, Alden langsung menoleh dan membuat merek jadi ciuman bibir. Bahkan saat itu Alden melumaatnya lembut dan menelusupkan lidahnya masuk.
Sampai berhasil membuat Gina mendesaah karena tiba-tiba ada serangan di tubuhnya, Gina bergetar, seperti ada yang mau keluar di inti tubuhnya.
Merinding sekali saat mendapati ciuman Alden itu.
Sebelum kencing di celana, Gina buru-buru bangkit dan melepaskan ciuman mereka. Menatap Alden sangat tajam.
"Kamu sudah keterlaluan Al!!"
"Gi, tapi kamu yang mencium ku lebih dulu."
"Hih! sudahlah aku mau pergi!" kesal Gina, tanpa banyak kata lagi dia segera pergi dari sana. Merasakan sesuatu yang sudah basah dibawah sana.
Dan selama bepergian itu, Gina selalu terbayang ciuman mereka, bahkan rasanya pun masih dia ingat dengan jelas.
Hii! Gina merinding.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Lina Lina
modusss banget ya 🤭🤭🤭
2024-02-07
1
Praised94
terima kasih
2024-01-29
0
Nurmalina Gn
halal koq guna....versi Dunia halu
2024-01-18
0