Gina segera pergi ke kamar mandi yang ada di dapur. Di rumah ini kamar mandinya memang hanya ada satu itu saja.
Karena hari semakin malam, jadi Gina tak lama-lama berada di sana. Dia bahkan terkesan mandi dengan buru-buru.
"Astaga, Kenapa aku tidak membawa baju ganti sekaligus?" gumam Gina penuh sesal saat dia baru saja keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya.
Dengan langkah ragu akhirnya dia kembali menuju kamar. Kamar tanpa pintu dan hanya ditutup oleh korden
Gina hanya melongoknya kepalanya kecil, melihat apa yang dilakukan oleh Alden lebih dulu.
"Kenapa?" tanya Alden dan berhasil membuat Gina jadi tersentak kaget.
"Aku cuma pakai handuk, Tuty matamu sampai aku selesai pakai baju," terang Gina, masih dengan kepalanya saja yang terlihat. Tubuhnya masih dia sembunyikan di belakang kain pintu itu.
"Masuklah, ganti baju seperti biasa saja, kenapa harus malu? bahkan kamu sudah melihat semua bentuk tubuh ku."
"Al, jangan memulai, cepat tutup mata mu."
Alden terkekeh pelan.
"Baiklah, mata ku sudah terpejam. Masuklah," balas Alden kemudian. dia bahkan dengan susah payah berganti posisi tidur, jadi miring ke sisi kiri agar tidak melihat Gina yang masuk melalui sisi kanan tubuhnya.
Melihat itu Gina malah jadi iba sendiri, apalagi saat dia lihat Alden yang merintih menahan sakit ketika merubah posisi tidurnya.
Gina lantas masuk, buru-buru memaki baju dan segera menghampiri ranjang. Duduk di dekat Alden dan menyentuh pundak pria itu.
"Al sudah, ayo aku bantu duduk."
Alden menurut, dibantu oleh Gina dia pun akhirnya coba duduk disana. Harum sabun Gina langsung bisa Alden hirup, wangi sekali, membuatnya seolah makin cinta dengan istri cantiknya ini.
"Gi," panggil Alden saat mereka sudah sama-sama duduk, saling berhadapan, dekat sekali.
"Kenapa?"
"Benar kita orang asing?"
"Iyaaa," jawab Gina, sudah bosan dia menjawab tentang hal ini. Entah sudah berapa kali Alden menanyakannya.
"Apa kamu sudah memiliki suami selain aku?"
"Astaga, kenapa kamu berpikir seperti itu? aku masih gadis, belum memiliki suami."
"Apa kamu memiliki kekasih?"
"Tidak!" jawab Gina yang terlanjur kesal, kini wajahnya bahkan mulai cemberut.
Namun Alden jadi tersenyum.
"Baguslah, jadi hanya aku pria mu."
"Aku tidak mau membahas ini, lebih baik sekarang kita makan dan setelah itu kamu minum obat."
Alden mengangguk.
Malam itu lagi-lagi mereka makan sepiring berdua, setelah menyuapi Alden, Gina makan sendiri untuknya, sampai akhirnya semua nasi di piring habis tak bersisa.
Selesai makan, Gina meletakkan piring itu di atas meja riasnya. Lalu mengambil obat untuk diberikan oleh Alden.
"Minum ini," titah Gina, tangan kanannya memegang obat dan tangan kirinya memegang gelas berisi air putih.
"Tapi makanannya belum habis Gi."
"Ha?"
Alden tidak menjawab, dia malah mengikis jarak dan menjatuhkan sebuah ciuman di dagu sang istri, melumaatnya lembut mengambil nasi yang menempel di dagu Gina.
Deg! sontak saja Gina mendelik, sampai tak kuasa memberontak.
Hanya mampu menatap Alden dengan tatapan tajam ketika pria itu menyudahi aksi konyolnya.
"AL!"
"Ada nasi yang tersisa di dagu mu Gi."
"Tapi tidak harus kamu ambil pakai mulut!"
"Kan sedang makan, mau ambil pakai tangan aku belum cuci tangan."
"Jangan berkilah!"
"Mana obatnya? A .."
"Aku sedang marah Al!!"
Melihat istrinya yang sangat cerewet, Alden jadi gemas sendiri ingin mencium bibir itu. Dan keinginan itupun akhirnya dia wujudkan.
Cup!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Lina Lina
awas kena gampar bg.. soalnya gina klu lg mode reog galak😅😅
2024-02-07
3
Lina Lina
ya elah masih gak percaya jg nih si abg
2024-02-07
0
Eity setyowati
zudane kesempatan ini ha ha ha
2024-01-30
0