Tepat pukul sembilan malam, Gina turun dari bus yang dia naiki. Malam ini hujan turun dan dia tidak memiliki payung untuk berlindung. Namun menunggu hujan berhenti pun rasanya hanya sia-sia saja, karena tak ada yang tau kapan hujan itu akan reda.
Menggunakan tas kerjanya yang berisi kotak bekal sebagai pelindung, Gina menembus hujan malam itu berlari menuju rumahnya yang berada di ujung gang.
Samar-samar dia melihat ada sesuatu yang tergeletak di teras rumahnya. Dan alangkah terkejutnya dia saat melihat seorang pria terkapar di sana.
"Astaga!" Gina menutup mulutnya yang menganga menggunakan kedua tangan, jantungnya tersentak merasa sangat terkejut dengan keadaan seperti ini.
Seketika ketakutan menguasai tubuh kecil wanita itu. Tubuhnya yang sudah basah bergetar antara takut dan kedinginan.
Sesaat Gina bahkan tergugu, takut jika pria itu sebenarnya adalah mayat yang dibuang sembarangan.
"Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan," gumamnya dengan gigi yang saling beradu.
Gina menoleh ke sana kemari dengan sangat cemas, berharap ada seseorang yang bisa dia mintai bantuan. Namun sayang, tak ada orang lain selain dirinya sendiri di sini.
Gina, lantas coba menyentuh pria itu menggunakan kakinya. Tak ada respon. Gina lantas berjongkok dan membalik pria itu untuk melihat wajahnya, namun alangkah terkejutnya dia saat melihat wajah pria itu babak belur. Gina pun bisa melihat pria itu seolah bernapas dengan susah payah.
"Dia masih hidup," ucap Gina dengan kedua matanya yang melebar. Sontak saja dia langsung mengangkat tubuh pria itu sekuat tenaganya, namun karena tak punya tenaga yang cukup, Gina akhirnya hanya bisa menarik pria itu untuk masuk ke dalam rumahnya yang sederhana.
"Tidak, aku tidak akan bisa melakukan apa pun, aku harus memanggil Bidan Merlin," gumamnya dengan sangat cemas, dia bahkan langsung berlari keluar kembali menebus hujan dan menuju rumah sang bidan di depan gang.
Untunglah saat itu Bidan Merlin mendengar panggilannya, bahkan bersedia untuk datang ke rumahnya.
Merlin memeriksa keadaan pria asing itu dan sama terkejutnya ketika melihat kondisinya.
"Ini parah, Gi. Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit."
"Tapi, Mbak—" Gina tak bisa melanjutkan ucapannya, karena dia tak punya cukup uang untuk membawa pria itu ke rumah sakit. Untuk hidupnya sendiri saja semuanya pas-pasan. Dia hanyalah seorang office girl di salah satu perusahaan, gajinya pun dia bagi untuk mengirim keluarganya di kampung.
Merlin terdiam, tanpa peduli dijelaskan dia pun tahu apa yang jadi bahan pertimbangan Gina.
"Kalau begitu biar aku obati dengan obat seadanya, ya. Semoga saja besok pria ini bisa sadar dan bisa mengatakan siapa keluarganya, nanti kita bisa antas dia pulang," terang Merlin dan Gina pun menganggukkan kepalanya dengan antusias tanda setuju.
Malam itu Zidane hanya mendapatkan pengobatan seadanya. Napasnya memang masih tertinggal di raga, namun rasanya dia sudah di ambang batas nyawa. Tubuhnya remuk redam, rasanya tak sanggup lagi untuk bertahan. Bahkan malam itu dia tetap menggunakan bajunya yang berlumur darah sampai akhirnya pagi datang.
Zidane mengerjapkan matanya, hanya dua manik hitam itu saja yang bisa bergerak ke sana kemari menatap sekeliling rumah ini. Sementara tubuhnya teramat sakit untuk digerakkan.
Zidane tidak tahu dia di mana, tidak tahu kenapa tubuhnya penuh luka, bahkan tidak tahu dia siapa.
"Kamu sudah sadar? Oh astaga, baguslah, aku senang sekali," ucap Gina, menghampiri sofa dengan raut wajahnya yang berseri. Senang sekali melihat pria ini akhirnya sadarkan diri. Karena tidak punya cukup ruang di rumah ini akhirnya Gina membaringkan pria itu di kursi sofanya semalaman, sofa yang sudah tidak begitu empuk.
Sementara Zidane hanya termenung, menatap wanita asing ini dengan tatapan yang bingung, bertanya-tanya siapa wanita itu.
"Kamu bisa bangun? Ayo duduk. Oh tidak, aku akan panggil Bidan Merlin lebih dulu," ucap Gina, masih bicara dengan antusias dan buru-buru.
Saat itu juga dia bahkan langsung menghubungi Merlin dan meminta sang bidan datang ke sini.
Sepuluh menit kemudian Merlin telah datang, kembali memeriksa keadaan pria itu.
"Masih demam, setelah makan nanti obatnya diminum lagi. Maaf sebelumnya, nama Tuan siapa? Apa ada alamat keluarga anda yang bisa saya hubungi?" tanya Merlin.
Namun Zidane tak menjawab apa pun, dia malah menatap wanita bertubuh kecil yang berdiri di samping dokter ini. Menatap Gina dengan tatapan kebingungan.
Bukannya tidak mau menjawab pertanyaan Merlin, namun Zidane tidak tahu harus menjawab apa.
"Nama Anda siapa?" tanya Gina pula.
Dan Zidane malah menggelengkan kepalanya kecil sebagai jawaban.
"Nama Anda siapa?" tanya Gina lagi, lebih menuntut.
Dan akhirnya Zidane pun buka suara.
"Aku tidak tahu," jawanya lirih dengan sorot kedua mata yang kosong.
Mendengar itu Gina menggelengkan kepalanya, seolah tidak terima dengan jawaban yang diberikan oleh pria asing ini. Bagaimana seseorang bisa melupakan namanya sendiri.
"Jangan bercanda, nama Anda siapa?" tuntut Gina, namun kemudian Merlin menyentuh lengan Gina untuk tenang.
"Cukup, Gi. Dia lupa ingatan, Amnesia."
Ha? Gina tercengang.
"Lupa ingatan?" ulang Gina dan Merlin mengangguk.
Seketika itu juga raut bahagia yang sempat terukir di wajah Gina atas kesadaran pria ini kini jadi perlahan menghilang.
Pria itu telah sadar namun malah kehilangan ingatannya, mengartikan bahwa pria itu akan tetap berada di sini setidaknya hingga pulih.
Gina tergugu, hidupnya sudah teramat sulit. Dan kini dia mendapatkan beban yang baru.
Gina menatap pria itu dan Zidane pun membalasnya. Saling menatap seperti garis lurus.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
reza indrayana
sedih dg nasib mereka...😥😥
2024-02-20
0
Lina Lina
sabar ya gina
2024-02-07
0
Praised94
terima kasih 👍
2024-01-29
0