Kegaduhan itu usai ketika waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore.
Surat penikahan Alden dan Gina kini sudah ada ditangan mereka berdua.
Seperti kilat tiba-tiba semuanya berubah. tiba-tiba Gina mendapatkan seorang suami. Sementara Alden, sejak pertama dia memang mengira jika Gina adalah istrinya.
Alden seperti anak ayam yang pertama kali membuka mata, jadi siapapun yang dia lihat pertama kali maka itu adalah induknya.
Duduk di ruang tamu, Gina mencatat satu per satu perjanjian yang harus dia buat dengan pria asing ini. Bahwa hanya status saja yang berbeda diantara mereka, tapi itu tidak akan merubah apapun.
Mereka akan tetap seperti orang asing!
"Dengar aku baik-baik," ucap Gina dengan suaranya yang tegas, matanya pun terlihat lebih tajam daripada biasanya, dengan sorot yang begitu dingin.
tapi Alden tidak takut sedikitpun, dia malah menikmati tiap perubahan wajah sang istri.
"Satu, Pernikahan ini hanya pura-pura, hanya agar membuat para warga tidak marah dengan kita,"
"Dua, kamu tinggal di rumah ini hanya sampai kamu sembuh,"
"Tiga, terus berusaha untuk mengingat tentang kenanganmu sendiri, 3 bulan ingatan kamu harus kembali, lepas dari itu aku tidak mau tahu kamu harus tetap keluar dari rumah ini,"
"Empat, Aku adalah pemilik rumah dan kamu hanya menumpang. Jadi bersikaplah tahu diri,"
"Lima, kalau ternyata kamu orang kaya, setelah ingatkan mu kembali bayar semua uang yang pernah aku keluarkan untuk mu." tegas Dinda, itulah 5 peraturan yang dia buat untuk mereka berdua.
Tapi sungguh, Alden sekarang bahkan sekarang sudah lupa apa saja yang diucapkan oleh Gina tadi. Dia malah fokus menatap surat pernikahan mereka yang tergeletak di atas meja.
"Apa kamu mengerti?" tanya Gina, sebuah pertanyaan yang terdengar menuntut, ingin sekali Alden menjawab iya.
"Iya, mengerti," jawab Alden kemudian.
Selepasnya Gina ingin segera pergi dari sana, namun urung saat Alden kembali memanggilnya.
"Gi, aku mau bicara juga."
"Apa?"
"Duduk dulu."
Gina kembali duduk di tempat semula, di hadapan Alden dengan meja kecil sebagai pemisah di antara mereka.
"Apa benar kamu bukan istriku?"
"Bukan Al."
"Kamu menemukan aku kemarin malam di depan pintu rumah mu?"
"Iya, Dari kemeja, celana dan sepatu yang kamu kenakan sepertinya kamu orang kaya. Mungkin kamu habis dirampok. Apa benar tidak ada sedikitpun yang kamu ingat?" tanya Gina pula, malah lebih antusias daripada Alden, hal itu karena dia sangat ingin Alden segera mengingat semua masa lalunya.
Setelah pria ini ingat dengan identitasnya sendiri maka selesai sudah semua masalah diantara mereka berdua.
Namun Gina harus menelan kekecewaan ketika dia melihat Alde menggelengkan kepalanya.
Alden benar-benar tidak ingat apapun, dan hal itu sungguh membuatnya frustrasi, kenangan yang dia punya hanya sebatas saat membuka mata di rumah ini dan melihat Gina.
"Huh, sudahlah, ayo ke kamar, kamu istirahat dan aku akan mandi, setelah itu kita makan malam dan minum obat," terang Gina kemudian.
Entahlah harus ikhlas atau bagaimana, tapi kini pun dia tak bisa mengacuhkan Alden begitu saja. Sudah terlanjur basah, ya sudahlah.
Gina bangkit lebih dulu, kemudian memapah Alden untuk dibantunya menuju kamar mereka. Kamar yang mulai kini akan mereka pakai berdua.
Sampai di ranjang, Alden langsung berbaring. Nafasnya terasa berat, mengisyaratkan bahwa perjalanannya kesini saja membuatnya merasa kesakitan.
"Aku mandi sebentar, setelah itu kita makan."
Alden mengangguk patuh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
guntur 1609
tenang kau gina. bntr lagi kehidupanmu akan berubah
2024-04-29
0
Lina Lina
🤣🤣🤣🤣🤣
2024-02-07
1
Praised94
terima kasih 👍
2024-01-29
0