"Kamu sedang sakit tapi banyak sekali bicaranya. Kamu ingat ukuran C D mu tapi kenapa tidak ingat nama mu?"
"Tentang C D aku hanya asal sebut. Memang bagaimana? menurutmu apa ukurannya?"
"Tidak tahu, coba aku ukur pinggang mu, aku tidak mau belanja jadi sia-sia." terang Gina pula, sayang uangnya andai yang dia beli salah.
Dan Alden hanya menuruti apapun keinginan Gina, seorang wanita yang hingga kini masih dua yakini sebagai istri. Karena itulah dia merasa tak canggung sedikitpun untuk melakukan apapun dengan Gina, termasuk mandi bersama Gina di dalam mandi tadi.
Dia malah merasa lucu sendiri saat Gina menutup kedua matanya. Kata Gina dia malu jika ditatap, jadi bisa melakukan apapun asal dia tutup mata.
"Gi."
"Hem."
"Izinkan aku tidur disini setidaknya sampai sembuh, mungkin 1 Minggu badanku sudah lebih baik daripada ini."
Mendengar itu Gina nampak berpikir, rasanya memang terlalu kejam untuk membiarkan orang sakit tidur di lantai. Apalagi saat ini sedang musim hujan.
"Baiklah, tidur di kamar sampai sembuh. Lagipula ranjang ini muat untuk kita berdua. Tapi ingat Al, aku bukan istri mu, bahkan Mungkin sebenarnya kamu sudah punya istri meski entah dimana." terang Gina pula.
Dan Alden hanya menganggukkan kepala, dia tidak akan mencoba untuk mengingat masa lalu, karena tidak melakukan itu kepalanya akan berdenyut nyeri. Sakit sekali.
Gina kemudian memakaikan baju untuk Alden, setelahnya membantu Alden berbaring saat masih mengunakan handuk. lalu menyelimutinya agar nyaman.
Setelah itu Gina pergi keluar, mencari beberapa baju, celana dan semua kebutuhan Alden selama tinggal di rumahnya. Dia membeli semua itu di toko grosir, harganya murah-murah dan bisa dapat banyak.
Toba di rumah waktu sudah hampir makan siang, dia menelpon bidan Merlin untuk tidak usah datang, karena dia sudah di rumah.
Gina lebih dulu mencuci semua baju Alden dan menyiapkan makan siang untuk pria sakit itu.
Masuk ke dalam kamarnya dia sudah membawa sepiring nasi dan segelas air, lengkap dengan obat di dalam plastik milik pria itu.
Ternyata sedari tadi Alden tidak tidur, pria itu terus menunggu Gina masuk ke dalam kamar ini.
"Kamu tidak tidur?" tanya Gina dengan suaranya yang terdengar heran.
"Tidak, aku menunggu kamu." jawan Alden lesu, seperti seorang anak yang tidak bisa melakukan apapun jika tidak didampingi ibunya.
"Harusnya tidur saja, jadi kamu tidak begitu merasa kesakitan."
"Aku ingin tidur bersama mu Gi."
Mendengar itu Gina mendelik, namun dengan cepat Alden menjelaskan apa maksudnya. Bukan tidur yang macam-macam, hanya tidur bersama.
Alden hanya ingin ditemani, tidak sendirian.
Mendengar itu lagi-lagi Gina merasa iba. Dia lebih banyak iba-nya pada pria ini.
"Makan dulu, ayo aku suapi."
"Makan bersama-sama ya?" tawar Alden pula dan Gina mengangguk.
Siang itu mereka makan sepiring berdua. Membuat Alden bisa makan sedikit banyak dari pada tadi pagi. Meski mulutnya terasa pahit namun kini jadi tak seberapa ketika dia makan bersama Gina.
"Mnum obatnya," titah Gina. Ada 4 pil yang harus Alden minum. Setelah semuanya habis, dia menatap wajah Gina dengan lekat.
"Dimana celana ku? kamu jadi beli atau tidak?"
"Jadi, tapi masih ku cuci, seharian ini kamu pakai handuk saja dulu."
"Astaga, tapi jangan kaget kalo dia hidup." ucap Alden, seraya menunjuk sesuatu di bawah sana menggunakan sorot matanya.
Tanpa dijelaskan dengan rinci, Gina sangat tahu apa maksud pembicaraan Alden. Kesal, dengan segera dia memukul lengan pria itu, sampai tak sadar jika mengenai lukanya.
"Awh! Gina!"
"Maaf maaf! salah mu sih."
"Sakit."
"Sini aku tiup."
Fush! Fush! Fush! Gina tidak sadar, saat dia meniup lengan itu, Alden menatapnya lekat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
ratu halu
ngakak
2024-11-05
0
Denisya putri
amnesia bisa modus juga si bambang ini 🤪🤪😝😝😝🤣
2024-07-20
0
Lina Lina
hhhhmmm ini namanya modusss
2024-02-07
1