Gina menelan ludahnya dengan kasar ketika dia mulai mengangkat baju Alden untuk dilepasnya. Seperti ini benar-benar hal baru baginya, terasa sangat tabu untuk dilakukan. tapi mau bagaimana lagi, jika bukan dia yang membasuh tubuh Alden lalu siapa?
Membuang semua pikiran kotor yang nyaris menguasai kepalanya akhirnya Gina berhasil melepaskan baju pria itu. Dilihatnya tumbuh Alden yang penuh dengan memar.
Seketika pikiran mesyum yang tadi sempat mengganggunya kini hilang begitu saja, lagi-lagi diganti dengan perasaan iba.
"Lupa, aku ambil air hangat dulu," ucap Gina, setelah ingat rasanya tidak mungkin dia membasuh tubuh Alden menggunakan air dingin. Dia tidak ingin semakin menyiksa pria malang ini, pria yang penuh dengan luka.
"Mau dielap atas disiram?" tanya Gina.
"Siram, tapi celanaku belum dilepas Gi."
Tidak langsung menjawab, Gina lebih dulu menatap kedua mata pria ini. Benarkah tak apa jika dia melihat semuanya?
"Jangan berpikir yang macam-macam, aku tidak akan berbuat mesyum padamu Gi, aku tidak punya kekuatan."
"Tiap tetap saja ini mesyum Al."
"Kalau bukan dengan mu aku mint bantuan siapa? cuma kamu yang aku tau."
"Ya sudah tapi tutup matamu." balas Gina pula.
Dia bahkan langsung mengambil sapu tangan di kantong celananya dan menutup kedua mata Alden menggunakan sapu tangan itu. Setelahnya dia kembali membantu Alden untuk bangun dan melepaskan celana, sampai terlihat semua.
Deg! Gina merinding, jijik sekali rasanya. Namun tetap harus waras.
Alden kembali duduk dan Gina mulai memandikannya. Sesekali Alden meringis saat merasakan pedih karena air itu menyiram lukanya yang basah. tapi ini lebih baik daripada harus kotor seperti tadi.
Karena menahan sakit, Alden jadi tak terpengaruh dengan sentuhan Gina, jadi tak ada reaksi apapun pada tubuhnya dan itu membuat Gina merasa aman.
Selesai mandi dan memasangkan handuk. Gina baru melepaskan penutup mata Alden, kini terakhir dia hanya tinggal membasuh wajah pria ini.
Dengan jarak sedekat itu membuat mereka jadi saling mengamati, sampai tanpa sadar kedua mata mereka saling tatap.
"Benarkah kamu bukan istriku Gi?" tanya Alden lagi, masih saja mengira jika Gina adalah istrinya. Gina adalah wanita yang sangat cantik di mata Alden, kulitnya tak begitu putih, tapi kuning Langsat, wajah oval dengan rambut panjang hitam yang bergelombang secara alami, wajahnya pun tak banyak dipasang riasan. Bibir Gina merah seperti buah Cherry.
Rasanya malah tak mungkin jika dia tidak menikahi wanita secantik Gina.
"Bukan," balas Gina dengan bibir yang mengerucut. Dugaan Alden selalu itu saja, selalu mengira bahwa dia adalah istrinya.
Selesai membasuh wajah, mereka berdua kembali keluar. Alden hanya mengunakan handuk yang melilit di pinggang. Dadanya polos dan Gina memeluk itu. Mereka menuju kamarnya Gina.
Alden duduk di tepi ranjang.
"Kenapa kamu tidak meminta ku untuk tidur disini?" tanya Alden pula.
"Karena kita adalah orang asing Al, mana bisa aku mengajakmu tidur bersama."
"Tapi sekarang kita bukan orang asing lagi, kamu saja sudah memandikan aku."
Gina tidak peduli itu, dia sibuk mencari pakaian untuk Alden, bajunya sendiri yang paling besar untuk pria itu. Sampai akhirnya Gina menemukan baju lamanya. Baju yang sudah beraroma lemari.
"Cuma ada ini, mau pakai tidak?"
Alden mengangguk, apapun yang diberikan oleh Gina tentu saja akan dia pakai.
"Mulai sekarang aku tidur disini ya? badan ku semakin sakit kalau tidur di kasur lantai."
"Tapi aku tidak punya C D untuk mu. Aku beli dulu ya, kamu pakai ukuran apa?"
"Boleh tidur disini tidak?"
"Apa ukurannya? aku akan pergi sekarang."
"L, tapi aku tidur disini ya?"
"Tidak."
"Gi."
"Al, kita benar-benar orang asing."
"Bagaimana caranya agar tidak jadi orang asing?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
reza indrayana
🤔🤔🤔 cerita yg menarik...
2024-02-20
1
Lina Lina
nikah dulu bos biar halal
2024-02-07
0
Lina Lina
noh kelihatan kan perkututnya 😅😅😅
2024-02-07
0