Sudah dua hari ini Austin menahan keinginannya untuk mendatangi cafe itu lagi. Perempuan yang bekerja di cafe itu, diluar dugaannya sangat menarik perhatiannya. Sejak pertemuan kedua kalinya di malam hari itu, ia jadi ingin melihatnya lagi. Ada sesuatu yang menarik dari perempuan itu di matanya. Gadis itu terlihat familiar di matanya.
Austin tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan pada gadis itu. Ia berhati dingin dan pembawaannya kejam, hingga ia tidak pernah peduli pada orang lain. Selama ini ia hanya peduli pada pekerjaannya dan bagaimana mengembangkan perusahaannya supaya lebih maju. Tetapi gadis bertubuh mungil namun sexy itu dengan wajah manis yang sulit dilupakan, juga ekspresi malu-malu yang terlihat lucu itu entah kenapa mendorongnya ingin lebih mengenalnya.
Dimana rumahnya? Apa dia selalu bekerja tengah malam begitu? Tiba-tiba Austin tersadar. Kenapa dia terus memikirkan gadis itu?
Drrtt...
Pandangan Austin berpindah ke ponselnya yang berdering. Nama sekretarisnya muncul dalam daftar panggilan, membuatnya cepat-cepat mengangkat.
"Bagaimana, kau berhasil menemukan keberadaannya?" tanyanya.
"Iya. Nama lengkapnya Ainsley putri. Umur dua puluh satu tahun, sekarang sedang berkuliah semester akhir di universitas Andara dan punya kerja sampingan di sebuah cafe yang bernama Cornerstone.
"Cornerstone?" gumam Austin mengulang perkataan terakhir sekretarisnya. Alisnya terangkat. Bukankah itu adalah cafe yang ia datangi dua hari lalu?
Ainsley? Ia kembali memikirkan gadis yang selalu ada dalam pikirannya dua hari ini. Apakah gadis itu yang selama ini dia cari? Ada rasa senang di hatinya. Kalau memang benar gadis itu, ini adalah kebetulan yang menyenangkan.
"Bagaimana? Kau berencana menemuinya?"
Austin mengetuk-ngetuk jari di meja.
"Kirim fotonya padaku." ia ingin memastikan dulu kalau benar memang gadis itu. Karena setahunya ada banyak pelayan perempuan juga di cafe itu. Bisa saja dia salah.
"Baiklah."
setelah melihat gambar yang di kirim oleh sekretarisnya pada layar ponselnya, Austin tersenyum menyeringai. Ia merasa seperti baru saja memenangkan lotre.
Bagaimana bisa gadis di cafe itu adalah perempuan yang di carinya selama ini. Gadis yang dijodohkan dengannya oleh almarhum kakeknya. Wajahnya cantik dan orangnya juga menarik. Kalau begitu ia tidak perlu berpikir panjang lagi untuk membatalkan pertunangan yang dilakukan oleh kakeknya. Ia tertarik pada gadis itu. Gadis yang ternyata adalah tunangannya.
"Kau akan segera jadi milikku, Ainsley." gumam pria tampan itu pasti. Sekalipun gadis itu menolak, ia akan mencari segala cara untuk mendapatkannya. Dengan begitu perempuan-perempuan yang mengejarnya tidak punya alasan lagi untuk mendekatinya.
***
Sementara itu, Ainsley bernafas lega dan senang ketika mendengar hari ini cafe tempatnya bekerja diliburkan. Katanya bosnya ada acara mendadak jadi semua karyawan libur. Ah, akhirnya ia punya waktu beristirahat dan kerjanya yang padat. Ia sudah buat janji berjalan-jalan dengan teman-teman kuliahnya nanti.
"Jadi, kita mau kemana?" tanya Ainsley menatap teman-temannya bergantian.
"Night club!" seru Fina semangat. Ainsley melotot. Night club? Yah ampun, kenapa harus ke tempat itu sih, ia tidak suka.
"Ke tempat lain saja gimana? tawarnya. Dara sih gadis bermata coklat yang paling dekat dengannya merangkul bahunya.
"Ayolah Ain, jarang-jarang kan kita berempat bersenang-senang kayak sekarang. Kau selalu sibuk bekerja, kali ini gunakan kesempatan ini baik-baik."
"Tapi,"
"Nggak ada tapi-tapi, pokoknya kau harus mau titik." giliran Mira yang bicara dan langsung menarik tangan Ainsley. Mau tak mau gadis itu ikut-ikut saja. Tak sampai satu jam mereka sudah sampai di salah satu night club terkenal di Jakarta. Mira punya relasi di tempat itu jadi mereka bisa mendapatkan bonus cukup besar plus lihat pria-pria tampan dan kaya. Siapa tahu ada yang dapat jodoh.
Suasana yang hangat bingar membuat Ainsley mengernyitkan matanya. Dia tidak suka suasana yang ramai dan menyesakkan seperti ini. Dia merindukan kamarnya yang tenang dan damai. Tempat yang biasanya menjadi surganya untuk bersantai-santai.
Musik yang keras itu hampir melampaui batas toleransinya. Rasanya ia ingin pergi dari tempat ini sekarang juga tapi tidak bisa. Teman-temannya terus menahannya.
Ainsley terus menarik rok merah pendeknya kebawa berulang kali. Astaga, kenapa tadi ia mau-mau saja di suruh pakai rok sexy begitu oleh ketiga temannya. Rok itu sangat tidak nyaman, apalagi bajunya. Baju yang dia pakai belahan dadanya begitu rendah hingga beberapa pria di dekat situ bersiul-siul menatapnya dengan mata nakal. Ainsley meringis. Ia merasa dirinya sekarang terlihat seperti perempuan murahan.
Tak lama kemudian, suara berisik dari pintu masuk mengalihkan perhatian Ainsley. Sosok pria berbadan tinggi dan proporsional itu membuat banyak orang menjadi heboh. Kebanyakan yang heboh sih para wanita. Ainsley yang penasaran menjinjitkan kakinya ingin melihat seperti apa rupa sosok yang di puja-puja itu.
"Eh, itu kan Austin Hugo" seru Fina heboh. Ainsley meliriknya.
"Siapa Austin Hugo?" tanpa sadar ia menyuarakan isi hatinya. Ketiga temannya itu sama-sama menatapnya heran.
"Kau tidak kenal Austin Hugo?" seru Fina membelalakkan mata. Ainsley mengernyit bingung. Memangnya dia harus tahu? Memangnya kenapa kalau tidak kenal? Memangnya siapa pria itu? Artis terkenal? Model? Penyanyi? Gadis itu mengangkat bahunya tidak peduli. Selama ini ia selalu menyibukkan dirinya untuk menyelesaikan pendidikannya sambil bekerja di cafe, jadi tidak punya waktu untuk mengenal orang yang tidak penting baginya.
"Dengar dan ingat baik-baik yah Ainsley." ujar Dara lalu mulai menjelaskan.
"Austin Hugo itu adalah salah satu pebisnis besar yang sangat sukses. Banyak perusahaan dari negara lain yang mau bekerja sama dengannya. Ia adalah raja dalam dunia bisnis dan tidak segan-segan menggilas siapapun yang menghalangi jalannya. Walaupun kejam, tapi sosoknya sangat tampan. Umurnya baru dua puluh sembilan tahun tapi perusahaannya sudah menjadi perusahaan nomor satu dalam negeri. Makanya banyak wanita yang berbondong-bondong ingin menjadi istrinya." jelas Dara panjang lebar. Ainsley hanya mengangguk-angguk tapi dalam hati ia merasa ngeri. Ia tidak suka dengan yang namanya lelaki berkuasa. Pasti lelaki seperti itu suka berbuat seenaknya.
"Bagaimana, sekarang kau tertarik dengan pria seperti itu?" Mira menggoda Ainsley. Gadis itu menggeleng ngeri. Jangan sampai ia bertemu pria mengerikan seperti itu, ia tidak tahan.
"Tapi kalau aku suka punya pacar seperti Austin." kata Fina dengan senyuman nakalnya.
"Aku tahu pikiran kotormu itu." timpal Mira. Fina senyum-senyum menatap mereka.
"Biasanya laki-laki beringas seperti itu sangat hebat di atas ranjang. Mereka bisa membuatmu kli maks berkali-kali. Coba bayangkan rasanya."
Ainsley hampir tersedak mendengar perkataan Fina. Ya ampun, mulut dan pikiran temannya yang satu ini memang sangat berbahaya. Apakah seperti itu gaya bicara perempuan yang sudah tidak perawan lagi? Ainsley tahu ketiga temannya itu sudah tidak perawan, mereka sendiri yang bercerita dengan antusias. Ainsley yang malu sendiri kalau mendengar mereka mulai membuka obrolan yang membuat telinganya tidak suci lagi itu.
Ketika Ainsley izin ke toilet, tangannya tiba-tiba di tarik paksa oleh seseorang. Entah siapa orang itu yang jelas membuat gadis itu kaget bukan main.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Edah J
Pasti Austin Hugo calon suami nya Ainsley😁😁😁
bagusnya diomelin tuh kenapa datang ke tempat itu dan pake baju kurang bahan "" ups maaf Ain✌️""
2024-09-16
0
Miss Typo
makin seru
2024-06-08
2
nobita
siapakah orang yg menarik paksa tangan Ainsley??? jreng jreng jreng...
2024-05-02
0