"MOOUUUWWRRRRR!!!."
Suara monster yang begitu menggelegar, dia mengendalikan seluruh pusaran angin yang membentuk menjadi puluhan angin topan disekelilingnya...
"Uh..."
"Ayumi, kau baik baik saja?."
"Oh, Kaito... lumayan baik... serangannya memang tidak bisa diremehkan."
"Kau benar... tapi bagaimana dengan situasi sekarang ini... senjata biologis tersebut sudah menjadi sangat besar untuk dibawa ke markas."
"Jika mahluk itu bentuk semulanya adalah seekor kucing... berarti ada kemungkinan untuk membuatnya kembali ke bentuk awalnya."
"Bagaimana caranya?."
"Aku tidak tahu... tapi kurasa dia sedang mengamuk karena suatu hal."
"Jangan jangan..."
.
.
.
*Swuuusshhhhhh!!!
"Mooouuurrrrr!!!!."
"Ughuk! sial... aku tidak bisa menggerakkan tubuhku lebih cepat..."
"Sekarang semuanya menjadi lebih merepotkan... bagaimana cara membuat senjata besar itu kembali seperti semula..."
Dia mendekati Akemi yang sedang tersungkur di tanah.
"Apa kamu tahu bagaimana caranya?."
"Mana... aku tahu..." Akemi masih merasa sakit akibat luka tusuk yang diberikan olehnya.
"Bagaimana ini jadinya... mereka bisa marah kepadaku.."
"Akemi!!."
"K-Kakak..."
"Grr?."
"Bertahanlah disana! aku akan menolo-."
"Ayumi, awas!."
Aku menghentikan larinya karena monster yang sedang mengamuk itu menaruh perhatiannya pada dua orang yang berada didekatnya.
"Dia ingin menyerang... sebaiknya kita jangan mendekati area yang berada didekatnya."
"Lalu, Akemi?!."
"..."
Aku mulai berpikir bagaimana caranya membawa Akemi menjauh dari sana, sedangkan panglima jenderal tersebut masih berada disebelahnya... dan juga monster kucing juga akan menyerang daerah itu...
"Sepertinya aku akan mencoba menggunakan kekuatannya lagi.."
"Apa akan baik baik saja?."
"Sebenarnya aku sudah memakainya sekali, saat aku terjatuh dari atas ketinggian."
"Jadi itu mengapa kau selamat dari ketinggian ratusan kaki... jadi itu hanya akan mustahil bukan? karena kau hanya bisa memakainya sekali dalam sehari."
"Tapi aku hanya memakainya sebentar... mungkin energiku belum habis, dan aku masih bisa menggunakannya."
"Jangan gegabah..."
"Belum tahu jika belum dicoba... kau tunggu disini, dan siapkan obat untuk menyembuhkan luka Akemi... aku akan segera membawanya kembali."
"Um... baiklah."
Aku langsung berlari menuju tempat dimana Akemi dan panglima tersebut berada, dan juga gerakan monster itu yang hampir ingin menyerang ketempat mereka, aku langsung mempercepat lariku sambil menarik pedangku.
"Hm? ternyata dia masih bisa bergerak..."
"Kai...to..."
"( Jika aku memakainya... itu akan membuat masalah besar untukku dan juga mereka... tetapi jika aku ragu, kucing besar itu akan segera membunuh Akemi...)"
"Mooouuurrrrr!!."
Aku belum mendekati Akemi cukup dekat, tetapi monster itu sudah akan melancarkan serangannya.
"Tidak ada waktu lagi!."
( Personality A- )
"Kaito, tunggu!."
Aku terhentikan saat Akemi mengatakan hal itu kepadaku.
"Barusan... apa yang ingin dilakukan bocah i-."
*Dum!!!!
Panglima tersebut langsung terpental jauh akibat serangan dari senjata kucing itu.
"Kucingnya... hanya menyerang panglima jenderal itu"
"..."
"..."
"Hanya aku saja yang terkena serangannya... ya."
"Akemi, cepat naik keatas punggungku! kita harus menjauh dari tempat ini."
"Bagaimana dengan dia..."
"Kucing itu? tenang saja, kita akan membawanya bagaimanapun juga..."
"..."
Lalu aku langsung membawanya ketempat dimana Ayumi berada.
"Ayumi, dia terluka parah pada perutnya... obati segera."
"Bagaimana denganmu?."
"Aku akan membantu kucing itu untuk melawannya."
Dari jauh kita melihat mereka berdua yang sedang bertengkar hebat... karena panglima itu berada diatas langit dengan fisik burungnya, kucing itu cukup kesulitan menyaingi kecepatannya meskipun tubuhnya besar.
"Itu berbahaya!."
"Tidak ada cara lain... kita harus membawanya bukan?."
"Tapi..."
"Jangan khawatir... karena master akan datang..." Aku menunjukkan sebuah kertas yang terdapat simbol lingkaran berwarna merah, yang berarti bantuan segera akan datang.
Bantuan didapatkan dari pesan burung yang membawa surat darurat ketempat markas besar revolusioner... dan burung itu sudah kembali membawa jawabannya.
"Haahhh... syukurlah..." Ayumi merasa begitu lega setelah mendengarnya.
"Maka dari itu, aku harus membantu kucing tersebut untuk mengulur waktu sampai master datang..."
"Tapi kau harus berhati-hati.."
"Serahkan saja padaku!."
Dan pertarungan mereka masih berlanjut dengan sangat sengit, sampai sampai setiap pukulan keduanya yang saling menghantam satu sama lain mengeluarkan suara seperti gunung yang akan meletus...
Kekuatan seorang salah satu dari empat panglima jenderal tidak bisa diremehkan, kekuatannya bisa saja menandingi ketiga pilar terkuat sekarang...
*Klang!!
"Kekuatanmu merepotkan... itulah mengapa mereka ingin sekali membawa senjata ini... sayang sekali aku tidak bisa menggunakan seluruh kekuatanku padamu... karena barang yang rusak tidak akan laku dijual."
"Mouuwr!!."
"..."
*Cling!!!
"Apa yang telah kamu lakukan...?."
"Ck!."
Aku sudah berusaha untuk menghilangkan keberadaanku dan langsung menyerangnya, tetapi dia berhasil menangkis pedangku dengan cakar pada kakinya.
"Huh... keduanya hanya membuatku muak... aku akan menghabisi mu lalu membawa senjata itu pergi."
"Jangan harap kau bisa melakukan itu!."
"Aku tidak perlu berharap... karena aku hanya perlu melakukannya saja..."
Perlahan kekuatannya terlihat membesar, seluruh tubuhnya mengeluarkan aura yang begitu kuat, mungkin saja dia akan mengeluarkan serangan yang bisa langsung menghancurkan ku seketika.
Aku terdesak dan tidak bisa berbuat apapun, jika aku menggunakannya, itu hanya akan membawa masalah besar.
"( Bagaimana ini...?? )"
"Jangan takut... ini hanya terasa sakit sementara saja... setelahnya... kamu tidak bisa merasakan apapun lagi..."
Begitu ia ingin mengeluarkan seluruh kekuatan yang sudah ia kumpulkan, tiba tiba seekor burung pembawa pesan datang kepadanya.
Burung tersebut memberikan pesan sesuatu yang diberikan kepada orang itu... saat dia membacanya, aura kuatnya langsung menghilang begitu saja sehingga aku sedikit bingung.
"Kali ini kamu sangat beruntung... tetapi tidak untuk lain kali."
"Apa maksudmu?."
"..."
Dia tidak memberikan kata kata dan langsung pergi begitu saja dengan sangat cepat.
"Mooouuurrrrr!!!."
"Gawat! kucingnya masih tidak terkendali!."
Dia langsung mengayunkan tangan besarnya itu kearahku, meskipun aku sudah menahannya menggunakan pedangku, tetap saja aku terpukul mundur kebelakang.
"Argh!! kekuatannya sangat besar!."
Akemi dan Ayumi sudah berada ditempat yang aman, jadi aku tidak perlu mengkhawatirkannya... justru aku yang akan dalam bahaya.
"Sepertinya tidak ada cara lain... jika aku lari, dia pasti akan mengikuti ku dan bisa membuat mereka berdua dalam bahaya..."
Aku mengangkat pedangku kembali untuk bersiap menahannya... bagaimanapun juga aku harus membawanya kembali.
"Mouuuw!!."
Serangan selanjutnya dia menggunakan kekuatan anginnya untuk menerbangkan ku, tetapi begitu dia melancarkan serangannya, aku bisa bertahan dengan menancapkan pedangku kedalam tanah...
Dan begitu juga disaat yang bersamaan, aku yang lengah karena tidak bisa bergerak dari sana, langsung terkena pukulannya.
"Akkhh!!."
Disaat aku masih terbaring akibatnya, dia masih ingin maju dan menginjakkan tubuhku.
"Sial! apa tidak ada cara lain?!."
"Mouuwr!!."
Saat dia ingin menghantam ku, tiba tiba kucing itu terjatuh pingsan saat ada sesuatu yang menembaknya.
"Kaito!."
Dan ternyata itu adalah master dan salah satu ketua divisi lainnya yang datang karena surat yang kuberikan kepadanya.
Master yang datang menggunakan sebuah lempengan besi berbentuk selancar yang dikendalikan oleh sebuah percikan api dari salah seorang ketua divisi lainnya, dia memiliki kekuatan Ignis tipe pengontrol elemen.
"Tidak disangka, mereka mengirim salah satu dari empat jenderal kerajaan... sungguh sial kalian bertiga." Dengan santainya dia mengatakan itu...
"Kaito, apa kamu tidak apa apa?."
"Aku baik baik saja..."
"Jangan khawatir... kita sudah mendapatkan senjatanya."
Aku melihat kucing yang beberapa detik yang lalu tubuhnya sangat besar, sekarang sedang tertidur dengan tubuh mungilnya kembali.
"Bagaimana dengan Akemi? dia terluka parah setelah melindungi senjata biologis tersebut!."
"Mereka sudah ditangani... kita segera kembali ke markas."
"Kalau begitu aku serahkan pada kalian semua."
"Baik... terima kasih atas bantuannya, Koton."
"Santai santai... dah, aku pergi dulu... panggil saja markas besar jika ada masalah dengan senjata itu." Dia pun pergi dengan menerbangkan papan itu dengan api pengontrolan elemennya.
"Sebaiknya kita kembali juga."
"Master... maafkan aku, karena aku sedikit lengah saat menjalankan misi..." Aku sadar dengan misi kali ini, aku begitu banyak celah yang diberikan pada musuh.
"Jangan berkecil hati... musuhmu tadi adalah panglima jenderal... kekuatannya sangat jauh dengan kalian bertiga."
"Oh, kalau begitu baguslah." Beberapa detik yang lalu aku masih merasa bersalah, tapi sekejap aku langsung menghapus rasa bersalah itu dari pikiranku.
"..." Master pun tidak bisa menyalahkan sifatku yang begitu menyebalkan.
Dan kami berhasil mendapatkan senjata biologis dari genggaman pemerintah dan kerajaan Impius.
Misi berhasil diselesaikan!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Karisma Ad🕊️⃝ᥴͨᏼᷛ
jika sekali sudah bisa, maka kedua kalinya juga pasti akan bisa..
2023-04-12
0
Wong kam fung
harusnya awok awok awol
2023-04-07
0
al-del
jangan" apa? aku kepo 🤭
2023-04-06
0