Episode 20

"Terimakasih."

Ayumi memberikan uangnya kepada penjual sayur karena sudah membeli banyak sekali bahan masakan yang memang sudah ditugaskan seperti biasa untuk keperluan di markas.

Aku yang memiliki waktu luang hanya menemaninya saja berjalan jalan disekitar pasar.

Aku memberikan tanganku untuk meminta kantung belanjaan yang dibawa olehnya.

"Kenapa?"

"Kantungnya, aku saja yang bawa."

"Eh~ jarang sekali kamu ingin berbuat baik padaku."

"Bukan karena kebaikan, namun aku mempunyai harga diri dan tidak membiarkan seorang wanita kesulitan di depan mataku."

Entah mengapa perkataanku malah membuat wajahnya memerah dan terdiam sesaat.

"Ada apa?"

"T-Tidak ada apa apa, kalau kamu bersikeras untuk membantuku baiklah."

Dia pun memberikan semua kantung belanjaan nya kepadaku, dan kita lanjut berkeliling untuk mencari bahan masakan lainnya.

"Jadi... apa kamu masih belum tahu secara spesifik tentang senjata warisanmu itu?."

"Aku hanya tahu ini adalah sebuah pedang... aku tidak tahu asal usulnya."

"Huh... bagaimana kamu bisa memahaminya meskipun tidak mengenalnya lebih dalam."

"Dengan merasakan kekuatannya... aku bisa tahu jika aku adalah pengguna yang cocok untuknya."

"Kamu begitu beruntung... Yansei adalah pedang yang menyerap emosi seseorang... dan semakin besar emosimu, maka pedang itu akan semakin berat... lalu sebaliknya, jika kamu memiliki ketenangan, maka pedang itu terasa lebih ringan..."

"Pantas saja... setiap aku mengayunkan pedang saat sedang emosi, entah mengapa sulit sekali digerakkan."

"Apa begitu sulit untuk memakai pedang itu?."

"Hm... Bagaimana ya... Sama halnya seperti kau menjinakkan banteng yang sedang mengamuk, mungkin?."

"Apa itu?."

"Kau tidak akan memahaminya, lagipula untuk apa memahaminya."

"Sewaktu waktu jika pedang itu sudah tidak bertuan, aku bisa memilikinya kan."

"K-Kau kira aku akan mati! Dengar ini! Aku tidak akan mati meskipun raja iblis yang menjadi lawanku!."

"Baiklah baiklah, terserahmu, aku pun tidak berniat ingin menggunakan sebuah pedang."

"Bagus kalau begitu."

Saat kita sedang berjalan santai disekitar pasar, tiba tiba terdengar teriakan seseorang dari timur.

"Aaaahhhh!!."

Kami pun langsung bersiaga dan memastikan dari mana suara tersebut.

"Kaito."

"Ya, aku akan pergi melihatnya!."

Aku memberikan tas belanjaannya kepada Ayumi, lalu aku segera berlari kearah suara teriakan itu berasal.

Sesampainya disana, tempat itu sudah banyak dikerumuni orang orang yang sedang melihat sesuatu.

Aku mencoba mendekat lebih dalam agar bisa melihat situasinya.

"T-Tolong aku!."

Aku terkejut saat melihat ada seorang pria yang sedang ketakutan, karena dari punggungnya muncul benda aneh yang menyeramkan.

Aku mencoba untuk membaca situasinya saat semua orang sedang panik ketakutan melihat itu.

"Hei, kau tidak apa-apa? Bertahanlah." Aku mengetahuinya... Benda yang muncul dibelakang punggungnya.

"Tolong aku! Tiba tiba punggungku menonjol dan rasanya begitu sakit!!."

"Tetap tenang! Aku akan membantumu."

"Aku takut!!."

Aku berpikir dalam keadaan terdesak dan mencoba untuk memberikan tempat yang luas agar tidak ada lagi yang terluka.

"Tolong jangan berkumpul disini! Tempat ini berbahaya!."

Lalu datang beberapa petugas kota yang biasanya menjaga pintu gerbang kota ini, mereka tidak ada hubungannya dengan pemerintahan, karena mereka adalah orang yang memiliki kekuatan bumi kuat yang sudah berhenti menjadi prajurit kerajaan dan hidup damai didalam kota.

"Apa yang terjadi? Ada apa dengan orang itu??."

"Aku bisa mengatasinya... Yang terpenting, tolong untuk mengevakuasi para warga untuk menjauh dari area ini."

Tanpa bertanya lagi, mereka langsung mengerti akan bahayanya dan segera membubarkan kumpulan warga yang sedang melihat.

"Kaito... Ada apa... Dengan dia."

"Ayumi, orang itu."

"Jangan jangan..."

"Monster parasit... Mereka ada disini..."

"Mereka adalah tentara dari salah satu iblis kematian... Mustahil untuk muncul ditengah kota..."

"Mereka adalah parasit... Bisa saja mereka datang dengan ditumpangi seekor hewan, lalu berpindah tempat."

"Lalu, apa yang harus kita lakukan?."

"Kita tidak bisa menyelamatkan hidupnya... Parasit itu sudah mulai meregenerasi tubuhnya dan melahap bagian dalam tubuh orang itu.

Orang itu masih berteriak kesakitan saat benda aneh itu membesar perlahan.

Setelah semua area sudah tidak ada orang yang melihat, saatnya kami melakukan tugas kami yang harus dilakukan.

"Tempat ini sudah kosong... Kita tidak bisa menunggu lebih lama, sebelum monster itu berubah menjadi bentuk aslinya..."

"Tapi..."

Melihat orang itu kesakitan hingga menangis, Ayumi tidak tega untuk melihatnya."

"Ayumi... Kita harus membunuhnya... Tidak ada cara lain."

"Aku tahu... Kumohon selesaikan dengan cepat, agar penderitaannya tidak berlangsung lama."

Tidak kuat untuk melihatnya, Ayumi berbalik dan mundur beberapa langkah.

"Ya... Aku akan menyelesaikannya dengan cepat.."

Saat aku mendekatinya, dia masih menjerit keras karena rasa sakit yang semakin besar.

"Tolong aku!!! Sakit sekali!!!."

Benda itu semakin besar dan membuatnya terjatuh tidak kuat menahannya.

Aku menarik pedangku dan mengarahkan kearahnya.

"Tolong... Aku..."

"Maaf... Aku akan menyelesaikannya dengan cepat..." Meskipun harus membunuhnya agar tidak ada yang menjadi korban, aku tidak bisa melakukannya dengan lancar... Tanganku bergetar... keringatku bahkan jatuh diujung jari yang sedang menggenggam sebuah pedang yang akan merenggut nyawa penderitanya.

"Tolong aku... Aku sudah tidak kuat..." Suaranya semakin lemas, dan sebuah mata muncul dari gumpalan aneh itu.

"Kaito!."

"Aku tahu! Tapi aku tidak bisa menggerakkan tanganku!."

Situasi semakin mencekam, dan kini monster itu sedikit muncul dari dalamnya.

"To...long."

"Sial!!."

Karena menunggu terlalu lama, Ayumi membantu untuk menyelesaikannya.

"Dengar Kaito! Aku akan membuatnya terbang keatas langit, kau hanya perlu menebasnya dari jauh."

"Tunggu! Aku bisa... Aku bisa melakukannya..."

"Tidak ada waktu lagi! Orang itu... Sudah tidak ada."

"Aku bisa! Aku akan membunuhnya!."

Sudah hampir setengah lebih badan monster itu keluar, dan suaranya begitu keras berteriak hingga menyakitkan telingaku.

"Kaito!."

"Aku... Tidak bisa menahan teriakannya!."

Disaat semua terjadi, monster itu sudah seutuhnya berubah dan badannya yang begitu tinggi berdiri didepanku.

"Kaito! Awas!."

Begitu aku melihatnya, monster yang besar itu ingin menyerangku dengan tangannya yang runcing.

Tidak akan sempat jika menghindarinya, aku berdiri kaku diam ditempat.

"Kaito!."

"(Sial!.)"

Saat monster itu ingin menyerang, tiba tiba...

"Mouwton!!."

"Mouwrr!!."

*Swuusshhhh!!!

Sebuah pusaran angin muncul tepat dibawah tubuh monster itu dan menerbangkannya keatas.

( Element Change : Danzo!! )

*Sringg!!

Diatas langit tubuhnya terbelah dengan sebuah pedang angin yang berada diatas atap rumah.

"Akemi!."

"Apa yang kalian berdua lakukan?! Kaito! Kakak!."

"Akemi... Maaf! Aku tidak bisa menebasnya." Aku merasa begitu menyesal dan bersalah.

Dia melompat kebawah dan menghampiriku yang sedang terduduk lemas.

"Yang lebih penting tidak ada yang terluka..."

"Akemi, bagaimana kau tahu aku dan Kaito berada disini?."

"Dari warga sekitar... Karena korbannya tidak hanya ini."

"Maksudmu? Ada korban dari parasit itu?!."

"Ya... Aku sudah membunuh tiga termasuk yang ini..."

"Tidak mungkin..."

"Apakah iblis itu benar-benar akan memulai perang?!." Aku begitu geram saat mendengarnya.

"Kita perlu mengamankan kota ini."

"Dengar... Kakak, Kaito... Setelah salah satu dari kita bertemu dengan korban parasit itu... Jangan menahannya lagi, cepat akhiri penderitaannya..."

"..."

"Khk!!."

Dengan berat hati, mau tidak mau aku harus melakukan apa yang Akemi katakan... Karena jika dibiarkan, aku bisa berakhir seperti sebelumnya.

"Kita berpencar, Kaito pergi ke sebelah selatan, kakak kearah utara, dan aku ke sebelah barat... Ingat! Jangan biarkan monster itu melukai warga..."

"Um!."

"Baiklah... Aku tidak akan melakukan kesalahan lagi..."

Setelah rencana yang sudah kita buat selesai, kita bertiga langsung berpencar untuk mencari para korban yang masih ada, agar keamanan kota tetap terjamin.

Dibantu oleh penjaga kota, kami mengamankan orang orang yang sudah diperiksa untuk berlindung ditempat yang aman, sehingga kami bisa mencarinya dengan mudah.

Sehingga pencarian masih terus berlanjut hingga langit malam mulai menutupi kota, dan musi untuk menyelamatkan kota berlangsung sekarang.

......................

Markas besar pasukan revolusioner...

"Ini adalah peringatan..."

"Tunggu apa lagi? kita harus segera menghabisinya!."

"Oi oi, tunggu dulu... saat ini masalah masih bermunculan diseluruh kota... bagaimana jika kita membahas masalah itu terlebih dahulu?."

"Setiap kota yang ditinggali oleh markas divisi, pastinya memiliki Barats yang melindungi kota."

"Lalu bagaimana dengan kota yang tidak terjangkau?."

"Apa kau bodoh? apa didunia ini hanya ada kita saja yang menyelamatkan manusia..."

"Saat ini... yang harus kita lakukan, adalah menumpaskan akarnya."

"Salah satu dari tujuh iblis kematian..."

"Iblis kematian Morbus!!."

Terpopuler

Comments

✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Karisma Ad🕊️⃝ᥴͨᏼᷛ

✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Karisma Ad🕊️⃝ᥴͨᏼᷛ

perlu di cari tahu ini, biar lebih tau apa daja yang terdapat dalam kekuatan nya

2023-04-12

0

Wong kam fung

Wong kam fung

keris empu pedot

2023-04-12

0

Wong kam fung

Wong kam fung

pasti ada monkey D. Dragom ama sabo

2023-04-07

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 84 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!