Liu Dan mengerang keras menatap hantu Kakak pertamanya yang berdiri berdampingan dengan arwah pembantu setia dari mendiang kakaknya yang arwah nya sedang menatapnya dengan tajam.
" Aku lupa bahwa hari ini adalah hari keempat puluh sembilan hari mu yang menandakan kau bisa menggunakan benda di sekitar mu untuk kau manfaatkan untuk kepentingan mu sendiri." Kata Liu Dan nada getir sekali karena Ia telah masuk ke perangkap Dicky Liu Fung dan Achiu.
" Kau sungguh seorang adik yang cerdas, Liu Dan. " Kata Dicky Liu Fung mengelus rambut di atas kepala Liu Dan.
" Aku mau pergi ke sawah untuk memenuhi tugas ku sebagai cucu kedua dari Akong kita sebelum aku kembali ke Shanghai untuk aku bisa meraih gelar sarjana muda berbakat di seluruh negeri. " Kata Liu Dan menepis tangan Dicky Liu Fung lalu meninggalkan kamarnya Liana.
" Kau meminta ku untuk tidak jatuh cinta kepada Liu Dan tetapi kamu menggunakan Liu Dan untuk menggauli ku untuk hasrat mu yang tak bisa kau dapatkan secara utuh dengan keadaan mu yang sekarang ini adalah arwah penasaran... Ahh, Aku sungguh merasa kecewa dengan mu, Kak Dicky. " Kata Liana dengan nada pedih kepada Dicky Liu Fung seraya pergi ke kamar mandi untuk Liana bersiap -siap melakukan tugasnya sebagai seorang wanita di dalam keluarga Liu.
" Maafkan aku jika aku harus memilih cara yang tak sesuai dengan perkiraan mu, sayang. Aku hanya ingin balas dendam kepada siapapun yang telah membuat kita seperti dua boneka mainan saja. " Kata Dicky Liu Fung menatap pintu kamar mandi yang tertutup oleh Liana.
" Kita mulai dari mengamati setiap orang yang hadir di acara empat puluh sembilan hari meninggal dunia mu di rumah ini di dalam ruang altar mu. " Kata Achiu memberikan arahan pada Dicky Liu Fung.
" Iya, Achiu. " Sahut Dicky Liu Fung.
Dicky Liu Fung keluar dari kamar Liana untuk Ia memerhatikan setiap orang yang sedang sibuk dengan segala urusan mereka masing-masing di hari upacara empat puluh sembilan hari dirinya meninggal dunia.
Suasana di hari ini sangatlah sesuai dengan hati Dicky Liu Fung yang sedang bergejolak sehingga api di lilin tempat sembahyang nya tiada pernah bisa di nyalakan oleh pemuka agama yang telah hadir untuk membacanya doa untuk nya.
Bahkan lampion-lampion yang seharusnya dapat membantu penerangan di ruangan altar nya Dicky Liu Fung selalu bergoyang-goyang seakan tertiup angin yang sangat kencang.
" Celaka ! Cucu ku sedang bersedih hati sampai Ia tak mau datang ke altar nya sendiri. " Kata Tuan besar Liu dengan nada gusar.
" Tuan, tenanglah! Kita coba untuk memanggil Nyonya muda Liana untuk membacanya doa untuk arwah cucu mu bisa menjadi tenang dan bahagia. " Kata penasehat rumah keluarga Liu kepada Tuan besar Liu.
" Liana..! Dimana Liana..?! " Perintah Tuan besar Liu dengan nada keras kepada seluruh keluarga nya.
" Saya di sini, Akong." Jawab Liana mendatangi Tuan besar Liu yang segera menyuruhnya masuk ke ruang penyimpanan jenazah Dicky Liu Fung di belakang meja altar nya Dicky Liu Fung.
" Berbaringlah di sana..! " Perintah Tuan besar Liu dengan nada keras kepada Liana.
" Apa? A.. Aku harus berbaring di peti jenazah Dicky Liu Fung..? " Tanya Liana dengan wajah pucat sekali kepada Tuan besar Liu.
" Ya, kau harus menenangkannya. " Jawab Tuan besar Liu mendorong Liana masuk ke dalam peti jenazah Dicky Liu Fung.
"Aaahh..! Aahh..! "
Liana sangat ketakutan tidur di samping jenazah Dicky Liu Fung di dalam peti jenazah Dicky Liu Fung yang telah di tutup rapat oleh Tuan besar Liu di balik kaca tutup peti jenazah Dicky Liu Fung.
" Jangan takut karena kau sudah pernah melihat aku di sekitar mu. " Kata Dicky Liu Fung yang masuk ke raganya sendiri dan mengejutkan hati Liana yang melompat keluar dari peti jenazah Dicky Liu Fung secara otomatis.
" Kyaaaaa..! " Teriak Liana berlarian di sekitar ruangan peti jenazah Dicky Liu Fung yang telah di kunci oleh Tuan besar Liu.
"Hei, aku tak akan menyakiti mu..! " Kata Dicky Liu Fung keluar dari raganya mendekati Liana.
"Aku tak mau mati bersama dengan mu..! " Teriak Liana yang menutup kedua matanya dari penglihatannya yang dapat melihat arwah Dicky Liu Fung berwajah sangar.
" Tapi, kau harus ikut Aku ke dunia ku cepat atau lambat untuk menjadi istri ku yang abadi..! " Kata Dicky Liu Fung yang mengulurkan tangan dingin dan pucatnya kepada Liana.
" Kata mu Aku harus mencari pembunuh mu.. ?! Karenanya Aku tak boleh mati sekarang. " Kata Liana dengan suara bergetar menahan rasa takutnya.
" Ummm.. Gadis bodoh! Lihatlah dengan jelas siapa Aku di depan mu?" Kata Liu Dan yang telah menarik Liana dari pintu yang lain.
" Liu Dan..! Ruangan apa ini ?" Tanya Liana yang merasa lega melihat dirinya telah berada di ruangan lain dari ruang penyimpanan jenazah Dicky Liu Fung yang di awetkan oleh Tuan besar Liu sampai batas waktu yang telah di tentukan nya untuk akhir hidup Liana.
" Ruangan penyimpanan arak beras. " Jawab Liu Dan meneguk arak beras langsung dari gucinya di atas meja kayu di ruangan ini.
" Ouhhh..? Apakah kamu tak pernah takut akan di hukum oleh Akong karena kau membawa ku ke ruangan ini?" Tanya Liana dengan nada halus kepada Liu Dan.
" Tugas ku adalah melindungi mu untuk si hantu sialan yang rupanya memiliki sifat serakah dan egois sekali terhadap istrinya sendiri sekalipun. " Jawab Liu Dan dengan nada santai kepada Liana.
" Dia menakutkan ku tadi di dalam peti jenazah nya. " Kata Liana dengan merinding teringat peristiwa tersebut.
" Kemarilah dan minumlah arak beras bersama dengan ku untuk menenangkan dirimu sesaat. " Kata Liu Dan memanggilnya dengan sorotan mata yang membingungkan Liana.
Liana mendekati Liu Dan secara perlahan-lahan sampai Liu Dan tak sabaran untuk meraihnya dengan sebelah lengan kuat pria itu saja dan Ia di beri minum arak beras langsung dari gucinya oleh Liu Dan.
"Minumlah arak beras ini sampai habis lalu kau bisa tidur dengan nyenyak dan besok pagi kamu bangun pagi dengan cerah karena kamu telah melupakan hari ini yang merupakan hari yang paling buruk bagi mu dan aku..! " Kata Liu Dan menuangkan arak beras langsung ke mulutnya Liana sampai gadis ini mabuk dan tidur pulas di pelukan Liu Dan.
" Kau sungguh cantik sekali, Liana. " Kata Liu Dan yang membelai wajah cantik Liana dengan bibir halus Liu Dan hingga pemuda ini kembali mencium bibir Liana dengan penuh perasaan yang mendalam.
Bersambung!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
sasip
aduh mabuk deh Liana-nya? nambah deh pastinya masalah.. hadeuh.. 😖🤨
2022-10-27
3
Radiah Ayarin
ih, mengerikan x, mana bacanya gelap dan malam pula lagi
2022-10-26
2
🎯™ Zie ⍣⃝కꫝ 🎸
liu dan jatuh cinta kah pada liana ya 🤔🤔
2022-10-19
0