Bab 1.

Foto Liana di perlihatkan kepada Dicky Liu Fung yang berbaring di tempat tidur tanpa bergeming untuk melihat melalui sepasang matanya yang selalu terpejam itu sampai Nicholas memanggil Dokter pribadi Keluarga Liu untuk memerksa kondisi Dicky Liu.

Sementara itu di sisi lain Liana memandangi Akong nya yang terlihat ingin berbicara dengan nya tapi sepertinya di urungkan niat Akong nya yang ingin berbicara dengannya itu.

" Akong, aneh sekali sih jika ku perhatikan mimik wajahnya itu..!" Batin Liana sambil memotong -motong sayuran yang baru saja usai di cuci nya dengan bersih di air keran di halaman belakang rumahnya.

Semilir angin yang begitu dingin menusuk tiba -tiba di rasakan oleh Liana yang sedang sendiri di dapur untuk menyiapkan makan malam para anggota keluarganya yang terdiri dari Akong , Ah Ma, Mama , Papa, Celina Jiejie dan Chiko Gege.

Bulu yang ada di tubuh Liana meremang yang membuat Liana menengok ke segala arah dapur untuk melihat ada apa gerangan yang datang kepadanya di dapur.

" Ehhh..Dingin sekali..! Uuuuhh...!!" Kata Liana yang cepat -cepat mengambil mangkuk -mangkuk yang berisi hidangan makan malam yang amat sederhana namun sangat lah lezat bagi keluarganya dari meja dapur ke ruangan makan.

" Aduh, Liana..Kamu tuh sungguh lamban sekali dalam urusan pekerjaan rumah sehari -harimu yang menjadi tugasmu itu..! " Kata Ama yang selalu mengkritik cara kerja Liana.

" Ah, ya Ama..Liana minta maaf karena telah membuat Ama kelaparan menunggu untuk Ama dan Akong serta semuanya bisa makan malam karya Liana...!" Kata Liana tersenyum sabar dan meminta maaf kepada Ama nya seraya gadis ini menata mangkuk -mangkuk berisi makanan di meja makan dengan terampil.

" Teko dan cangkir untuk minum teh kami ada di mana, Liana..?!" Kata Celina Jiejie kakak kedua nya yang berusia dua puluh satu tahun yang duduk di kursi makan di dekat Papa nya.

" Ah, ya tunggu bentar ya, Kak Celina..! " Jawab Liana yang segera kembali ke dapur untuk Liana bisa mengambilkan teko dan cangkir -cangkir teh untuk para anggota keluarganya yang ada di meja dapur lain di dekat pintu gudang perkakas milik Akong nya.

Dan, saat Liana mengambil peralatan minuman itu , Ia kembali merasakan desiran angin dingin di kulitnya yang membuatnya merasa sangat takut untuk berada sendirian di dapur.

Maka, Liana cepat -cepat membawakan teko dan cangkir -cangkir teh ke ruang makan agar Ia tak merasa sendirian lagi dan mendapatkan diri nya di dalam perlindungan keluarganya.

" Liana, Akong mau bertanya kepada mu untuk kamu bisa menjawab dengan jujur ,ya ?" Akong di kursi makan paling ujung tiba -tiba berbicara kepada Liana.

" Ya, Akong...!" Jawab Liana menaruh sepasang sumpitnya di atas mangkuk nasi nya sebelum menengok ke arah Akong nya dengan sopan.

" Berapa usia mu sekarang ?" Tanya Akong.

" Delapan belas tahun..!"

" Ouh, itu tandanya kamu sudah dewasa sekali untuk kamu bisa menikah dan berrumah tangga dengan baik..!" Kata Akong.

" Eh, menikah dan berrumah tangga Aku ? " Tanya Liana tercengang.

" Ya, Akong sudah memikirkan dengan saksama untuk masa depan mu yaitu Kamu akan menikah dengan cucu laki -laki pertama sahabat Akong pada bulan depan sesuai bulan kelahiran dari cucu laki -laki pertama Akong..!" Jawab Akong.

" Tapi, Pa? Kapan Papa memutuskan rencana penting ini dengan Paman Ah Ming tanpa beri tahu aku sebagai Papa nya Liana ?" Tanya Papa nya Liana yang bernama Leon dengan kedua alis nya bertautan.

" Sore hari ini Ah Ming datang ke rumah kita dan membahas pernikahan antara cucu nya dengan Liana akan di adakan sesuai dengan perjanjian kami di paviliun musim semi di kota Beijing pada dua puluh enam tahun silam, Leon." Jawab A san yang menceritakan secara singkat mengenai perjanjiannya dengan Ah Ming kepada Leon.

" Tapi, Pa ? Apakah Kau tidak merasa begitu cepat untuk melepaskan Liana dengan menikah kan nya dengan cucu sahabatmu yang menurut terlalu banyak mengatur sekali ?" Tanya Leon.

" Ya, mau bagaimana lagi Leon ? Ah Ming sudah memberitahu Papa soal pelunasan hutang nya Papa dan keluarga kita terdahulu dengan kita harus membayarnya dengan menikahkan Liana dengan cucu laki -laki pertama nya Ah Min..!" Jawab A san yang mau tak mau dirinya harus memberitahukan tentang hutangnya kepada Leon.

" Apa tak ada cara lain kah ?" Tanya Mama nya Liana yang merasa tak rela putrinya yang masih belia untuk di nikahkan dengan orang lain untuk membayar hutang Papa mertua nya terhadap sahabat Papa mertua nya itu.

" Tidak ada...! " Jawab A san dengan wajahnya itu amat perih sekali.

" Liana memang sudah pantas untuk menikah kalau di lihat dengan potensi nya yang sudah mahir segala pekerjaan rumah tangga dan kita harus melakukan apa yang sudah di sepakati oleh mu dan Ah Ming untuk kebaikan keluarga kita tak ada hutang dengan Ah Ming..!" Ucap Laras istrinya A san yang sama sekali tidak pernah menyukai Liana cucu bungsu nya itu.

Liana sendiri yang mendengarkan pembahasan Akong nya mengenai dirinya yang harus menjadi seorang cucu perempuan berbakti luhur kepada Akong dan leluhurnya hanya bisa menyetujui saja rencana Akong nya itu.

" Akong..Liana hanya bisa menuruti Akong saja yang mana baiknya untuk masa depan Liana..!" Kata Liana dengan senyuman tabah kepada Akong nya.

" Liana, kamu memang seorang cucu perempuan bungsu ku yang paling baik dan patuhi serta berbudi luhur dan pekerti yang tinggi..! Akong mu ini sangat bangga terhadap mu..!" Kata A san yang merasa dirinya adalah seorang kakek yang tak berguna sekali karena dirinya tak sanggup untuk menyelamatkan keluarganya dari hutang nya dan para leluhurnya.

" Iya, Akong..! " Jawab Liana seraya merapikan peralatan makan malam dari meja makan untuk di bersihkan di dapur.

" Hai, Li...! " Sapa seseorang dari pintu belakang yang membuat Liana cepat menengok untuk melihat siapa yang menyapa nya itu dan gadis ini menghela napas lega ketika mengenali orang itu adalah teman dekat nya.

" Steven..! Kamu kok kenapa datang dari pintu belakang sih ? " Tanya Liana yang tersenyum ramah kepada Steven teman dekatnya itu yang membuka pintu belakang lalu menghampirinya di tempat cuci piring.

" Iya, karena pintu depan rumah mu sudah di tutup oleh Akong mu..! Ya, terpaksa Aku harus masuk lewat pintu belakang untuk menemuimu karena aku ingin menanyakan mu untuk pastikan dirimu bisa pergi bersama ku untuk nonton film di bioskop di kota besar...! Hmm..?!" Jawab Steven yang ikut berjongkok di tepi tempat cuci piring yang masih berlantai tanah merah dan batu -batu bata merah.

Bersambung...!

Terpopuler

Comments

Nm@

Nm@

Liana sama Steve aja

2022-12-10

0

Nm@

Nm@

Maaf baru sempat mampir lg, Thor!

2022-12-08

1

Radiah Ayarin

Radiah Ayarin

wah, bakal di jodohkan lagi nih. Kenapa sih orang tua maunya itu begitu ya. Sepertinya Liana ini hidupnya dihaki mereka.
Liana... Liana

2022-10-20

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!