Bab 13.

Dicky Liu Fung menghadapi roh pembantu nya yang setia di pintu masuk ke ruangan lain di rumah Keluarga Liu dan menemukan rahasia di balik kematiannya yang selalu di curigai nya itu.

" Kau mengatakan bahwa ada orang yang ingin meracuni Akong tetapi racun itu termakan oleh ku di acara ulang tahun Akong ke enam puluh tahun atau sekitar lima tahun yang lalu?! " Ucap Dicky Liu Fung dengan hati berdebar saat ini karena dia mengetahui misteri kematiannya.

"Iya, Tuan muda pertama dan orang itu juga telah membunuhku dan membuang jasad ku ke danau di hutan bunga Jiangsu bagian selatan dari rumah keluarga Liu. "Jawab Achiu gadis hantu yang manis itu kepada Dicky Liu Fung.

" Emm.. Apakah kau mengetahui siapakah orang yang telah melakukan kejahatan itu kepada kita di rumah keluarga Liu ? " Tanya Dicky Liu Fung nada geram sekali sesudah mengetahui bahwa Ia meninggal dunia bukan karena takdir usianya sudah berakhir di dunia fana namun dikarenakan Ia dibunuh oleh seseorang yang membenci dan mendendam kepada Akong nya.

" Maaf, sayangnya aku tak tahu siapa orang nya yang telah membunuh kita, Tuan muda. Aku di saat itu sedang mencuci pakaian di belakang di dekat sumur itu lalu ada seseorang yang telah membius ku dengan saputangan aroma wangi sekali lalu aku pingsan dan begitu aku bangun ternyata aku sudah menjadi arwah. " Jawab Achiu muram kepada Dicky Liu Fung.

" Ah, sungguh menyebalkan sekali di bunuh oleh orang tanpa kita ketahui siapa pembunuh kita. " Kata Dicky Liu Fung nada sebal sambil kedua tangannya di taruh di pinggang nya lalu Arwah Achiu menyelinap masuk ke ruangan lain dari rumah keluarga Liu dengan bebas.

Bruak..!

" Aduh..!" Pekik Achiu yang mengagetkan Dicky Liu Fung yang segera menemui arwah pembantu nya itu yang tergeletak di lantai karena arwah itu membentur sinar patung Dewa Erlang yang ada di meja sembahyang para anggota keluarga Liu.

" Ah, makanya kau harus sopan untuk masuk ke rumah Tuan muda mu sendiri. " Kata Dicky Liu Fung yang mengulurkan tangannya untuk bantu Achiu berdiri dari lantai dan berjalan di samping kiri ruang sembahyang.

" Tuan muda untung ada Anda yang memandu ku masuk ke rumah keluarga Liu untuk aku cari tahu siapa pembunuh kita. Ah, aku jadi korban karena aku bernasib sial menjadi pelayan setia mu. " Kata Achiu sesudah mereka berada di luar area ruangan sembahyang kepada Dicky Liu Fung.

" Iya, itu sih sudah menjadi nasibmu sendiri jadi pelayan setia ku, Achiu." Kata Dicky Liu Fung nada kasihan kepada Achiu yang duduk di luar pintu masuk ke arah taman rumah keluarga Liu.

"Ahhh..Aku tak pernah merasa iklas untuk jadi roh semuda ini..! Aku masih ingin hidup..! Aku mau temui adikku di Ibukota Beijing yang Aku mendengar adik ku adalah istri seorang Bos besar..! " Teriak Achiu dengan perasaan sedih.

Dicky Liu Fung memicingkan sepasang matanya mendengar ocehan Achiu yang menurutnya adalah bualan semata Achiu dikarenakan gadis ini meninggal dunia di usia masih enam belas tahun.

" Liana, tolong kau ambilkan salep kaki ku di laci lemari di kamar obat dan bawakan kepada Ku di taman bunga dekat kamar ku..! " Suara Penny Lin Na Erl yang kasar memanggil Liana membuat Dicky Liu Fung berlari meninggalkan Achiu untuk menjewer Penny Lin.

" Tuan muda...! Kau jangan tinggalkan aku di sini karena Aku tak tahu arah ke kamarku..! " Teriak Achiu menengok ke belakang nya dan melihat Dicky Liu Fung meninggalkan nya di pintu masuk ke taman bunga keluarga Liu.

Liana di temukan oleh Dicky Liu Fung sedang naik di atas bangku untuk mengambilkan salep kaki milik Penny Lin di dalam laci di lemari di dalam ruang obat Keluarga Liu.

" Hei, Liana hati -hatilah nanti kamu jatuh loh..! " Kata Dicky Liu Fung nada khwatir kepada Liana yang sedang susah payah mengambilkan salep kaki Penny Lin Na Erl di dalam laci.

" Iya, Dicky. " Jawab Liana tersenyum manis di atas bangku kepada Dicky Liu Fung yang telah siaga satu untuk menolongnya jika Dia jatuh dari bangku.

" Apakah kau bisa mengambil obat salep kaki gadis bau itu? " Tanya Dicky Liu Fung dengan alisnya bertautan kepada Liana seraya menatap Liana di atas bangku dengan tangan gadis ini meraba-raba isi laci lemari obat yang sangat tinggi dan besar itu.

" Iya, Aku bisa. Kau jangan khawatir begitu. " Jawab Liana memperlihatkan salep itu kepada Dicky Liu Fung di bawah bangku yang di naiki nya itu.

" Ah, ya sudah. Cepatlah kamu turun dari bangku itu. Sini, peganganlah pada tanganku..! " Kata Dicky Liu Fung yang mengulurkan tangannya untuk membantu Liana turun dari bangku dengan aman.

" Terimakasih. " Jawab Liana yang tak dapat menyentuh tangan suaminya itu hanya bisa Ia imajinasikan saja dirinya dapat meraih tangan suaminya yang terulur kepadanya itu.

Dicky Liu Fung hanya bisa menatap pedih Liana dengan senyuman tegarnya itu melihat dirinya tak bisa merasakan sentuhan tangan Liana tapi hatinya dapat merasakan sentuhan kasih Liana yang begitu tulus kepadanya.

" Aku sudah aman sekarang. Kau bisa merasa tenang 'Kan?! " Ucap Liana dengan senyuman semanis buah persik di musim semi di mata Dicky Liu Fung.

" Heemm. " Gumam Dicky Liu Fung kepada Liana seraya mengangguk -anggukan kepalanya.

Liana melangkah ke pintu lalu meninggalkan ruang obat untuk membawakan obat salep kaki itu kepada Penny Lin Na Erl di taman bunga di dekat kamar gadis sepupu luar Dicky Liu Fung di bagian utara rumah keluarga Liu.

" Aku datang. " Kata Liana memberikan salep kaki kepada Penny Lin Na Erl yang mengambil obat itu dengan kasar lalu menyodorkan kedua kakinya kepada Liana dengan maksud minta di balurkan salep kaki kepada kedua kakinya.

" Keterlaluan..! " Gerutu Dicky Liu Fung yang hadir di belakang Liana.

" Aku? Kau mau Aku membantu mu mengolesi salep kaki kepada kedua kaki mu itu, Adik Penny Lin Na Erl? " Tanya Liana dengan senyumannya yang penuh kesabaran hati kepada Penny Lin Na Erl.

" Iya...! Kecuali kamu itu dungu dan lamban yang membuat mu tak mengerti maksud isyarat kedua kaki ku yang Aku sodorkan kepada mu... " Jawab Penny Lin Na Erl nada sinis kepada Liana.

" Ah, ya baiklah Adik Penny Lin Na Erl. " Kata Liana dengan sabar dan baik hati sekali kepada Penny Lin Na Erl.

Gadis ini membuka tutup botol salep kaki lalu menggunakan kapas mengoleskan salep kaki kepada kedua kaki Penny Lin Na Erl dengan terampil dan lembut sekali sampai Dicky Liu Fung memejamkan sepasang matanya sendiri untuk menahan amarahnya karna istrinya di perlakukan seperti budak di keluarganya sendiri.

Bersambung!

Terpopuler

Comments

Bryan Kennedy

Bryan Kennedy

gak sopan banget minta tolong kok gitu sih eneng

2022-10-04

0

✍️⃞⃟𝑹𝑨_νισℓєт νιєηѕтαя⍣⃝కꫝ🎸

✍️⃞⃟𝑹𝑨_νισℓєт νιєηѕтαя⍣⃝కꫝ🎸

andai kau meminta dg sopan, pasti liana akan menurutimu dg kasih sayang

2022-09-24

1

✍️⃞⃟𝑹𝑨_νισℓєт νιєηѕтαя⍣⃝కꫝ🎸

✍️⃞⃟𝑹𝑨_νισℓєт νιєηѕтαя⍣⃝కꫝ🎸

menyedihkan😢 sabar Liana

2022-09-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!