" Seperti anda sangat bersemangat, tadi. " ucap Waston dengan sebuah senyuman sembari mencari siapa sosok wanita yang mengeluarkan suara menggelikan dalam sel tahanan Rose.
Melihat sekelompok orang yang nampak asing baginya, Rose sempat ingin membunuh mereka saat itu juga tanpa peduli asal maupun keinginan mereka.
" Hehe, Dilihat dari ekspresi tuan. Sepertinya ucapan Nana, benar. Tuan telah kehilangan ingatannya tentang kami semua. " lanjut Waston sembari mencoba memberikan sedikit cahaya.
* sdruuuumssss srisingsss dbrukss dbruukss dbrukss * Sebuah serangan cepat dari beberapa hunusan tanah yang muncul di segala sisi ruangan berhasil di blokir oleh Waston dengan kemampuan berpedangnya dan membuat seluruh hunusan tanah itu hancur menjadi beberapa bagian
" Wirles, Waston. Nampaknya kemampuanmu sudah cukup berkembang semenjak terakhir kali kita bertemu. " ucapnya dengan ramah sembari menepukkan kedua tangannya.
" Hehe, anda terlalu berlebihan, master. Saya tidaklah terlalu he,bat. " ucap Waston yang perlahan terdiam sembari menahan rasa sakir teramat sangat ketika sebuah gundukan tanah menghantam bagian vitalnya dengan kecepatan tinggi.
" Hehe, kamu benar Waston. Kamu masih sama lengahnys seperti sebelumnya. " balas Rose dengan senyuman sembari melihat Waston yang menggeliat kesakitan sembari memegangi bagian vitalnya.
Terduduk di samping Waston setelah keluar dari selnya dengan mudah seperti sebelumnya sembari menanyakan beberapa hal mengenai alasan keberadaannya di tempatnya berada maupun hal lain yang nampak ganjil baginya, seorang tiba-tiba menghunuskan pedang dan harus membuatnya menjaga jarak.
" Siapa kamu! Apa yang kamu lakukan pada ayahku!! " teriak seorang remaja pria sembari melesatkan serangannya tanpa memberikan jeda untuk satu penjelasan.
" Ja--jangan berbuat bo--bodoh Willia!!" ucap Waston dengan bersusah-payah sembari mencoba menahan rasa sakitnya untuk bangkit.
* Dbrukss * Sebuah tubuh tiba-tiba jatuh diantara Rose dan Waston dengan beberapa luka fatal yang cukup mengerikan.
" Tidak, tidak tidak... Willi! " Teriak Waston dengan tangis kesedihan disaat dirinya melihat tubuh Willi yang mengenaskan.
Merasa bahwa ada sebuah keterkaitan batin antara Waston dengan sosok yang dirinya serangan itu, Rose yang semula hanya terdiam tanpa kata mulai mengambil tindakan pertolongan dengan meminta Vi untuk menolong tubuh dari remaja yang sekarat itu.
" Jadi, Waston. Sembari menunggu putramu ini sembuh, bisakah kamu jelaskan kepadaku mengenai beberapa pertanyaan yang aku tanyakan sebelumnya." Ucap Rose sembari menepuk punggung Waston untuk menjelaskan sesuatu yang dirinya minta.
Setelah menghapus air mata sembari meyakinkan diri bahwa putranya akan baik-baik saja, Waston mulai menjelaskan mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan keberadaannya yang ada di sini serta sebuah permintaan dari sosok Nama yang memintanya untuk mencari keberadaan Rose beberapa waktu setelah pesan siaran mengejutkan di kirimkan dari suatu kota.
" Hm~ ya, baiklah. Jika memang seperti itu kenyataannya, aku tidak akan menyalahkanmu atas apa yang dirinya minta. Tapi, Waston. Aku sungguh meminta maaf kepadamu karena telah melakukan sesuatu yang buruk kepada kalian maupun putramu. " balas Rose setelah memeriksa beberapa bagian tubuh dari putra Waston untuk memastikan tidak ada lagi kecacatan setelah serangan fatalnya.
Bersama dengan berlalunya waktu dan berbagai topik pembahasan yang mereka bahas, Waston dan putranya mulai bersiap diri untuk kembali ke tempat Nana berada dengan sebuah pesan yang dititipkan oleh sebagai tanda ganti dari kegagalannya membujuk tuannya.
" Oleh karena itu, setidaknya aku akan kembali ke tempat yang dijanjikan itu dalam waktu dekat. " ucap Waston dengan menyampaikan beberapa pesan yang Rose berikan kepadanya
" Selain dari itu pun, beliau juga mengatakan sesuatu mengenai " Aku kembali bermain dengan cambuk balistik untuk mendapatkan hati seorang gadis cilik. " yang aku sendiri tidak mengetahui apa maksud perkataan itu. " lanjut Waston dengan menanyakan maksud ucapan itu kepada beberapa sosok yang ada dihadapanya.
Sebuah gelak tawa sempat terdengar diantara mereka yang ada dihadapan Waston dan membuat yang lain merasa penasaran atas hal tersebut.
" Hehehe, maaf, maafkan sikapku barusan. hehehe... " tawa seorang wanita dengan sebuah pakaian yang namak seperti sebuah baju olah raga dengan dasar merah dengan bagian lengan berwarna biru serta memiliki sebuah corak trisula emas di bagian depannya
" Jadi, Elen. Bisakah kamu menjelaskan kepada kami mengenai apa yang beliau maksudkan itu? " ucap seorang wanita dengan pakaian penyihir yang membawa sebuah tongkat rune dengan sebuah aura berbentuk cahaya matahari yang bercahaya di bagian jubahnya
" Hehe... Begini, Bela. Maksud dari ucapan tuan yang menyebutkan bahwa " Aku kembali memainkan cambuk balistik untuk mendapatkan hati seorang gadis cilik ", itu memiliki arti bahwa dirinya tengah melakukan sesuatu yang penting untuk satu tujuan yang berkaitan dengan seorang perempuan. Atau lebih tepatnya seorang wanita dari satu ras berbeda yang nantinya akan dijadikannya sebagai pasangan hidup seperti diriku, Angela, Nana dan beberapa sosok lainnya. " ucapnya sembari menggoyangkan sebuah ekor berwana biru yang senada dengan warna rambut dan telinganya.
" Dan sejauh yang kami tahu, dia selalu tertarik pada sesuatu yang unik tanpa memperdulikan perbedaan yang ada seperti yang kalian lihat. " tambah seorang perempuan dengan separuh tubuh humanoid sembari membawa kudapan manis.
" [ Selain dari dua manusia, tiga iblis, seorang mecha dan seorang godnes saint, maka dapat dipastikan bahwa seorang demi human lain akan menambah jumlah dari dua demi human yang telah ada ] " ucap Nana sembari melihat ke sebuah kristal putih yang dipegangnya setelah beberapa tubuh hitam nampak berjatuhan dibelakangnya.
Menikmati kudapan yang ada di hadapan mata sembari membahas berbagai hal yang berkaitan dengan pasangan hidup yang ada, beberapa sosok dari ras yang berbeda mulai berdatangan dan bertegur sapa dengan mereka yang ada disana sebelum memulai sebuah perayaan.
" Selamat datang kembali Nana. " ucap Elen sembari membawakan sebuah handuk untuk membersihkan beberapa noda darah yang ada disekitar tubuhnya
" Akh, Kamu terlalu berlebihan, Elen. " balasnya sembari menerima handuk itu dan mulai membersihkan wajahnya dihadapan beberapa sosok yang datang itu
" Maaf ya, kalian. Aku selalu datang disaat yang kurang tepat. " lanjutnya sembari mengatakan beberapa hal yang dirinya lakukan setelah meminta maaf kepada mereka yang ada di hadapannya.
" He, em. Tidak apa, Nana. Kami tidak terlalu mempermasalahkan hal yang kamu lakukan itu. Lagipula selain dari seorang wanita yang menjadi pendamping hidup pertama bagi beliau, kamu juga seharusnya tahu bahwa kamu merupakan sosok yang kami tunggu setelah kejadian buruk itu." balas Angela sembari menyambut hangat Nana dengan sebuah pelukan sebelum beberapa sosok lain mulai berdatangan.
" [ Meskipun aku adalah sosok yang jauh lebih lemah dari kalian, setidaknya aku harus menunjukkan kepada kalian bahwa selain dari kekuatan, aku masih mampu menjadi panutan untuk kalian. ] " ucapannya dalam diam sembari mengabaikan pendapat kejam di balik senyuman mereka yang datang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments