" Argh... ya ampun, rasa sakit ini terlalu nyata dan bahkan *Gertukss* aku bisa merasakan beberapa bagian tubuhku mulai hancur karena tumpukan batuan ini." pikirnya dalam diam sembari tetap mencoba menahan rasa sakit dari beberapa batuan tempa yang menimpa dirinya.
Dikala dirinya tengah berjuang dalam situasi hidup dan mati, Vi yang merasa ketakutan mulai mencari cara untuk menyelamatkan tuannya.
Vi terus berlari kesana-kemari sembari mencari benda-benda yang dapat membantunya menyelesaikan tuannya.
Hingga pada satu titik, Vi memutuskan untuk meminum beberapa ramuan tingkat tinggi yang ada dalam ruangan itu untuk menyelamatkan tuannya serta membaca beberapa buku magis yang bahkan tidak dirinya ketahui kegunaannya.
" Tuan!! Bertahanlah sebentar lagi!! Karena saya pasti akan menolong anda!!! " Teriak Vi sembari menggendong tubuh tuannya yang nampak hancur dibeberapa bagian.
Dengan tenaganya yang tersisa, dia mengusap air mata dari Vi untuk sesaat sebelum akhirnya kesadarannya menghilang bersama dengan suara langkah kaki yang mulai menghilang
" Tuan!!! Saya mohon bertahanlah!! " teriak dari Vi yang kembali mengulang ucapannya sembari memeluk erat tubuh tuannya.
Sesaat setelah keluar dari ruangan Cyberlic Labs, Vi kembali mencoba mencari beberapa ramuan yang mungkin masih tersembunyi diantara ruangan rahasia yang tuannya buat.
" Aku benar-benar bodoh! Seharusnya aku tidak tertipu oleh para petualangan itu untuk menjual seluruh ramuan yang tuan kumpulan dengan susah payah! Ya Dewi! Apa yang harus aku lakukan! " ucapnya dalam keputusasaan setelah mengobrak-abrik setiap bagian dalam dari rumah itu namun tidak memperoleh satu ramuan maupun item penyembuhan.
Dalam keputusasaan nya yang semakin dalam, dirinya sempat berkeinginan untuk meminum satu racun tingkat tinggi agar dirinya bisa tiada disamping tuannya yang berharga.
" Arkh! Benar!! Masih ada satu ramuan tingkat tinggi yang belum teridentifikasi di sana! " ucapnya yang kembali bersemangat untuk menolong tuannya setelah melihat sebuah kilauan pentagon tanda berkat di atas altar pemujaan yang mengingatkannya mengenai beberapa item misterius yang disimpannya dalam satu ruangan
Setelah kembali berlari dan mengambil semua item yang ada, Vi mulai menuangkan satu ramuan misterius di atas tubuh tuannya
" Semoga ini berhasil." Ucapnya penuh harap sembari memanjakan sebuah doa dihadapan meja pemujaan
*Sdumpsss* Sebuah hentakan energi mengguncang area disekitar tempat mereka berada dan membuat beberapa candle jatuh dari tempatnya dan mulai membakar area sekitar rumah kayu.
Dengan sebuah luka dalam akibat efek samping dari beberapa ramuan tingkat tinggi yang belum selesai diidentifikasi, Vi berusaha menyeret tubuh dari tuannya yang nampak berregenerasi meskipun tubuhnya sendiri masih mengalami efek lain dari kekacauan energi mana akibat hentakkan energi sebelumnya
* Staptss staptss staptss sgregs sgregs sgregs sdraaaaaptsss sdraaaaaptsss sgreeegss * Beberapa saat setelah Vi berhasil menarik keluar tubuh tuannya dari dalam rumah yang terbakar itu, beberapa bagian dari tubuh tuannya yang hancur mulai meregenerasi diri hingga menampakkan secara jelas beberapa daging yang mulai terurai bersama dengan keluarnya sebuah tulang besi yang secara perlahan mulai menggantikan bagian tubuh yang rusak sebelum akhirnya bagian serupa besi itu kembali berubah layaknya bagian tubuh manusia normal pada umumnya.
" Akh... ya ampun. Kepalaku.. " ucap Rose setelah tersadarkan diri sembari memegangi kepalanya
Setelah mencoba beberapa kali berkedip dan memperjelas pengelihatan nya, dia sangat terkejut ketika mendapati rumahnya yang telah hangus tidak bersisa bersama dengan tubuh dari Vi yang tergeletak di atas tanah dengan beberapa luka bakar.
" Reigin Narva... Reserse Avinera.. " ucapnya merapalkan mantra penyembuhan dan pembagian energi mana dalam dirinya untuk membuat Vi segera sadar.
Sembari menunggu kesadaran dari Vi yang nampak membutuhkan waktu lama, Rose mencoba mengais beberapa reserse item serta artefak yang masih tersisa.
" * hmmmmph * [ Sepertinya hanya ada beberapa reserse item yang bisa digunakan dan selebihnya hanya tumpukan arang yang bahkan tidak lagi dapat digunakan untuk membakar perapian.] " gumamnya lirih sembari mengusap sebuah tabung inkubasi yang masih bisa digunakan.
Dari semua artefak dan item reserse yang ada dalam rumah itu, hanya tersisa enam artefak dewa berupa sepasang sabit langit dan bumi, sebuah sarung tinju besi, sebuah busur dan senjata api bertipe mecha serta sebuah sabit besar berwarna hitam dengan aura ungu kehitaman. Sedangkan untuk reserse item yang tersisa hanyalah sebuah tabung inkubasi tingkat misteri, sebuah bejana tingkat menengah, lamda rift yang belum teridentifikasi, satu set peralatan masak tingkat menegah dan dua buah backpack penyimpanan item serta sebuah setelan lengkap baju dari dark reaper.
" Oah, ya ampun. Event pembuka pada game versi kalih ini benar-benar membuat ku tidak habis fikir mengenai kewarasan dari pihak development yang membuat para pemain unggul harus mengikuti satu garis cerita utama dengan peralatan seadanya. * splaks * " gumamnya penuh kekesalan karena semua barang tingkat tinggi yang didapatkan melalui beberapa event khusus harus hancur tidak bersisa dan hanya menyisakan beberapa item yang dapat diperoleh secara random setelah membunuh monster maupun penaklukan reruntuhan.
Setelah meluapkan seluruh emosinya dihadapan rumah yang kini rata dengan tanah, dia menghela nafas panjang sebagai pembersih pikiran sebelum akhirnya duduk diam dan melakukan beberapa percobaan untuk mengaktifkan beberapa magic dan skill yang dirinya miliki serta melakukan beberapa eksperimen menggunakan reserse item yang tersisa
" Tuan!!! " Teriak Vi setelah tersadarkan diri dan mulai mencari keberadaan tuannya
" Ususususussut.... tenanglah Vi. Jangan memaksakan dirimu yang baru pulih itu untuk mencari keberadaan dari ku. " ucap Rose sembari mengusap wajah dari Vi yang sedari awal telah di gendongnya
Di atas sebuah tebing curam dengan pemandangan berupa lautan hutan yang membentang sejauh mata memandang, Rose nampak duduk dengan tenang ditepian tebing itu sembari menggendong tubuh Vi yang semula belum tersadarkan diri
" Vi~ Maukah kamu memberitahu kan kepadaku kenapa rumah tempat tinggal kita itu harus hancur dan berubah menjadi abu seperti itu? " ucap Rose setelah merasa kondisi Vi jauh lebih baik daei sebelumnya
" Emh... mengenai itu, se---sebenarnya beberapa lamda rift yang jatuh menimpa tubuh tuan merusak bagian dasar dari Cyberlic labs dan menyebabkan beberapa ledakan kecil yang setelahnya terjadi sebuah kebakaran yang cukup besar, tuan. " balas Vi yang mencoba membohongi tuannya karena dirinya sangat tidak ingin di buang oleh tuannya atas kesalahan fatal yang mengancam nyawa
" Hm~ jadi seperti itu, ya. Karena kecerobohan yang aku lakukan, semua artefak dan reserse item yang sangat sulit aku kumpulkan harus terbakar habis bersama dengan satu-satunya tempat tinggal yang kita miliki.... " balas Rose sembari merenungi diri karena merasa bahwa dirinya selalu membahayakan semua orang disekitarnya bahkan dalam sebuah game sekalipun
" Untuk itu, maafkan aku yah, Vi. Karena aku adalah tuan yang buruk " lanjutnya setelah melepaskan ikatan dari beberapa kain yang menyangga tubuh dari Vi agar tidak terlepas jatuh dari gendongannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments