Disaat dirinya masih memiliki sisa kesadaran, dia sempat mendengar sebuah keributan disertai dengan beberapa pasang kaki yang menandakan bahwa ada sekelompok orang yang ada disekitarnya.
" Siapapun kalian, tolong. Tolong selamatkan Vi dan abaikan saja diriku. " ucapnya dengan sisa tenaganya sebelum sebuah pandangan gelap disertai kesunyian mulai menyelimuti.
Para dewa dan dewi yang semula menganggap bahwa tubuh itu telah kehilangan nyawa, nampak terkejut ketika ucapan lirih itu terdengar sebelum tubuh itu benar-benar ambruk dan menampakkan seorang demi human diantara tumpukan debu dan tulang.
" Jangan terlalu terkejut seperti itu kepada sosok yang ada dihadapkan kalian. Karena yang aku lihat dari analisis data yang ada, dia mungkin telah hidup dari masa 9 dewa agung dan untuk rasnya sendiri, dia merupakan ras campuran atau bisa juga disebut sebagai Hybrid. " ucap dewi Velixia sembari melakukan sesuatu pada tubuh Rose.
" Dan entah bagaimana cara dirinya bertahan hidup di dunia ini pun, adalah misteri. " lanjutnya sebelum pergi meninggalkan kedua tubuh itu diatas tanah begitu saja.
" * Hm~s a~ahmh* Sudah hampir tengah hari ternyata. dan lalu. Akh, kepalaku.... " ucap Vi yang kembali sadar setelah tepukan keras dari Rose mengenai tubuhnya.
Sembari melihat kondisi tempatnya berada yang kini hanya menampakkan sebuah area kosong tanpa adanya sisa dari beberapa bangunan sebelumya, Vi menyadari bahwa tempatnya berada saat ini memanglah tempat terakhir dimana dirinya berada setelah mengingat sebuah perjuangan dari tuannya yang berusaha keras untuk melindungi dirinya.
" Untuk sekarang, mungkin akan aku biarkan saja tuan melakukan hal ini sampai dirinya bangun. " ucap Vi dengan lembut sembari membaringkan diri di sebelah tuannya.
" Emh.... [ Sesuatu yang lengket ini. Apakah aku kembali melakukan hal itu kepada Vi. ] " ucapnya dalam diam sembari mencoba membuka matanya secara perlahan.
" Selamat siang, tuan.. " Sapa Vi sembari menunjukkan sebuah senyuman.
" Selamat siang juga Vi. Hehe. [ Untunglah sesuatu itu hanyalah rumput yang masih basah]." balasnya setelah menyadari bahwa dirinya terbaring diatas rerumputan yang hijau.
" Emh, pelan-pelan tuan. " ucap Vi dengan khawatir sembari membantu tuannya untuk bangkit dari tidurnya.
Setelah mengucapkan terimakasih nya pada Vi atas bantuan sederhana itu, dirinya menyadari bahwa kehidupannya tidaklah berakhir setelah badai itu berlalu dan membuatnya bersyukur atas hal itu.
" He, em. Tidak apa tuan. Seharusnya sayalah yang berterima kasih kepada anda karena telah berusaha untuk tetep melindungi saya. " balas Vi dengan menahan punggung tuannya menggunakan tangan kanannya.
" Tidak apa Vi. [ Lagipula aku juga enggan merelakan mu begitu saja dan mencari pengganti mu dengan mudahnya. ] " balasnya sembari mengusap pelan wajah Vi menggunakan tangan kanannya.
Merasakan sebuah sensasi yang tidak asing dengan posisi dari Vi yang nampak terlalu dekat itu, dia pun kembali menyadari bahwa tangan kiri nya tengah melakukan sesuatu yang tidak pantas dan membuatnya kembali meminta maaf kepada Vi atas apa yang dilakukan olehnya.
" Tidak, tuan. Anda tidak perlu meminta maaf seperti itu. Lagipula saya sangat berterima kasih kepada anda karena dengan melakukan hal itu, saya bisa menjadi seorang yang berguna bagi tuan. " ucap Vi dengan lembut sembari kembali mendekati tuannya sebelum memasukkan tangan tuannya ke belahan dadanya.
* sdampts.. * Setelah menahan apa yang ingin dilakukan oleh Vi dengan kedua tangannya, Rose tiba-tiba menjelaskan sesuatu tentang masa lalunya di dunia nyata yang berkaitan dengan tindakan buruknya yang secara tanpa sadar telah menodai tubuh dari Vi.
" Oleh karena itu, Vi. Aku sangat menyesalinya dan karena hal itu pula, aku akan bertanggung jawab terhadapmu. " ucapnya dengan sebuah penyesalan.
" He, em. tidak apa tuan. Saya pun tidak bermaksud demikian. Lagipun dengan mendengar apa yang tuan jelaskan, saya justru sangat senang karena saya bisa membuat anda merasa seperti di tempat itu. " balas Vi dengan akhiran tawa.
Merasa bahwa Vi tidak terlalu mengerti apa yang dirinya maksudkan, dia kembali mengulang apa yang ingin dirinya katakan.
" Saya tahu, tuan. Pelayan yang anda maksudkan itu hampir seperti golem yang hanya mengikuti perintah tuan dan hanya diam ketika anda melakukan sesuatu terhadapnya, bukan? dan yah, meskipun mungkin ada perbedaan besar diantara saya dengan dirinya. Saya sangat ingin tuan memandang saya dengan pandangan yang sama seperti pandangan tuan terhadapnya dan lagi, bukankah tuan juga tahu bahwa tingkat kelahiran dari dua sosok yang berbeda ras sangat rendah. " balas Vi dengan pelan sembari mendekati tuannya kembali sebelum memintanya melakukan hal yang sama seperti sebelumnya.
Dengan tarikan nafas panjang yang sangat dalam, dirinya kembali menarik diri dari Vi sebelum masuk mengatakan sesuatu agar Vi bisa lebih memahami kehawatiran dalam diri.
" Oleh karena itu, Vi. Aku akan melakukannya dengan mu disaat aku siap melakukannya dan untuk sekarang akan lebih baik jika kita memulai melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan lebih awal sebelum ini " lanjutnya setelah melepaskan dekapannya dan bangkit dari duduknya.
" Tu---tuan. A--apa yang anda ingin lakukan!" Balas Vi dengan wajah yang memerah disaat Rose mencoba melepaskan pakaian yang Vi kenakan
" [ Hehe, syukurlah bahwa keputusan ku untuk memakaikannya jubah ini adalah keputusan yang bijak. ] " ucapnya dalam hati sembari melihat bagian dari tubuh Vi yang nampak sempurna.
" Emh... [ hehe... apa yang aku pikirkan! Kenapa beberapa waktu terakhir ini aku menjadi sosok yang seperti ini! ] " ucap Vi dalam diam disaat dirinya merasa malu atas pemikiran kotor yang terlintas dalam benaknya.
Melihat sikap Vi yang nampak menggemaskan itu, Rose kembali mengusap kepala Vi dan mengatakan bahwa efek samping dari ramuan itu masih aktif sampai waktu yang tidak diketahui.
" Dan jika hal itu masih terasa, kamu bisa memintaku untuk membantumu meringankan sesuatu yang bergejolak itu. " tambahnya setelah menyiapkan sebuah makan yang diambil dari sebuah kulkas besar dengan dua pintu setelah mengeluarkan set perlengkapan masak dari dalam tas punggung buatan Vi.
" Tidak, tuan. Itu tidak perlu. Lagipun itu adalah hal yang memalukan untuk dilakukan." balas Vi dengan menutupi wajah merahnya disaat tuannya menawarkan diri untuk membuatnya merasa lebih baik.
" He, em. Ya sudah, Vi. Tidak apa, aku juga tidak memaksanya [Yah, walaupun sebenarnya benda itu juga mulai mengeras, aku harus menahan diri karena bagaimana pun Vi adalah seorang wanita yang memiliki hati dan pilihannya sendiri.]" balasnya sembari melahap makanannya dengan berbagai hal yang terfikir dalam benaknya
" [Dan dengan adanya kejadian itu sebelumnya, mungkin itu adalah karma buruk yang aku terima disaat aku menodai tubuhnya yang suci itu. ] " lanjutnya setelah menghela nafas panjang dan melihat ke arah langit yang cerah kala itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments