" [Hyuh... syukurlah, tas itu sempat jatuh sebelum aku menangkapnya.] " ucap Vi dalam diam setelah sebelumnya sempat terduduk tanpa daya ketika dengan mudahnya Rose mengatakan rincian beban yang ada dalam tas itu.
" Hey, hey, hey. Ayolah Vi. Kota sudah berada di depan mata dan kamu bisa beristirahat nanti di sana.. " ucap Rose sembari mengangkat tubuh Vi dengan paksa untuk melanjutkan perjalanannya.
Dengan tetap mengalihkan pandangannya dari wajah tuannya yang menggendong dirinya, Vi terus mencoba menahan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya agar cairan aneh seperti sebelumnya tidak kembali keluar disaat dirinya digendong oleh tuannya.
" Selamat datang di Kota Preal. Tolong isi beberapa data diri ini sebelum anda masuk ke dalam kota. " ucap seorang penjaga gerbang sembari mengarahkan Rose dan Vi untuk mengisi sebuah kertas identitas diri.
" Serveralis Rose Clymentora dan Alodia Viviola. " ucap seorang penjaga lain dengan menunjukkan ekspresi yang nampak terkejut dengan nama kedua orang yang ada di hadapannya.
Sebuah pertanyaan sederhana tiba-tiba diucap oleh seorang prajurit terkait kebenaran dari nama keduanya dan tidak lama setelah pertanyaan itu terjawab, prajurit menanyakan hal itu langsung menjabat tangan Rose sembari mengatakan bahwa dirinya merupakan seorang anak yang dahulunya sempat di tolong olehnya dalam satu misi pembasmian koloni monster di kotanya.
" dan meskipun beberapa tahun sudah berlalu, saya tidak menduga bahwa anda masih sehat seperti sebelumnya dan saya harap anda akan tetap sama selamanya. " lanjut penjaga itu dengan mengatakan harapannya pada Rose.
Rose dan Vi mulai kembali melanjutkan perjalanan mereka ke tempat yang mereka tuju setelah beberapa topik pembicaraan berlalu bersama salam perpisahan yang terucap dari keduanya.
" Jadi, apakah tuan benar-benar mengenalnya? " ucap Vi dengan penasaran.
" He, em. Tidak juga Vi. Aku tidak terlalu mengingatnya secara pasti. Namun daripada membahas hal itu, akan lebih baik jika kita melanjutkan apa tujuan kita di sini. " balas Rose setelah dirinya berhenti sesaat sembari melihat ke arah gedung serikat yang nampak berbeda dari saat terakhir kali dirinya memainkan game.
* ckreeekssss * bersama dengan dibukanya pintu gedung itu, sebuah keramaian dari dalam gedung langsung menerpa dirinya yang baru menginjakkan kaki di tempat itu dan membuatnya menyadari adanya sesuatu yang hilang dalam hidupnya di dunia sebelumnya.
" Wah, misi ini sepertinya terlalu sulit " ucap seorang petualang sembari membaca sebuah kertas misi di papan pengumuman.
" hey, hey. Ayo kita pergi ke tempat ini saja, aku dengar ada beberapa gadis cantik di sana " ucap seorang petualang lain yang duduk di sebuah meja bersama kelompoknya.
" Silakan untuk antrian berikutnya. " ucap seorang petugas guild sembari meminta sekelompok orang yang tengah berbaris untuk melanjutkan gilirannya atas sesuatu.
" Baiklah, baik, aku akan memberikan ini dengan nilai tukar sebesar ini. " ucap seorang petualang sembari memberikan sekantung uang untuk sebuah item yang dijual oleh petualang lainnya
" [ Hm~ yah. Hal ini mengingatkan ku kepada keramaian yang terjadi ketika aku baru menginjakkan kaki ku ke tempat itu bersama mereka. ] " ucapnya dalam diam sembari melihat ke sekitar area itu yang penuh dengan petualang yang sibuk dengan urusannya masing-masing.
" Hey? Vivi? Aku tidak menyangka bahwa kamu benar-benar kembali ke tempat ini! " ucap seorang petualang pria dengan pakaian ranger berwarna dasar merah sembari memeluk Vi dengan erat.
" He,em. Iya tuan Hans, ini saya dan saya sangat berterima kasih kepada anda atas bantuannya sebelumnya. " balas Vi yang nampak tidak nyaman setelah melepaskan pelukan erat itu dengan paksa.
" Tidak, tidak. Itu bukan masalah buatku. Lagipula itu hanyalah bantuan kecil dari kami yang kebetulan lewat kala itu. " balas Hans yang nampak menjaga jarak beberapa saat setelah itu
" Oh iya, daripada membahas hal itu. Bagaimana keputusanmu mengenai permintaan ku waktu itu? apakah kamu bersedia? " lanjut Hans sembari memegang kedua bahu Vi dan menatapnya dengan serius
Melihat situasi yang nampak intim, Rose menepuk punggung dari Vi sebagai tanda perizinan untuk menyelesaikan urusannya pada sosok yang dipanggil Hans itu sementara dirinya pergi menuju meja resepsionis untuk melakukan urusannya.
" [ E~h ? Kenapa tuan bersikap dingin seperti itu kepadaku. ] " ucapnya dalam diam sembari melihat kepergian tuannya yang berjalan begitu saja melewati dirinya dan Hans.
" Cih. [Apa-apan orang itu? Menganggu saja urusanku dengan Vi. Awas saja nanti, akan aku pastikan bahwa dirinya akan menyesali kehidupannya di dunia ini.] " ucap Hans dalam diam sembari menatap ke arah seorang berpakaian hitam yang nampak sibuk dengan seorang pegawai guild.
Merasa bahwa dirinya dibuang begitu saja oleh tuannya karena sikap Hans yang begitu tiba-tiba, Vi langsung melepaskan paksa pegangan tangan dari Hans dan berjalan mendekati tuannya.
" A~ Vi~ jangan lakukan hal seperti ini kepadaku. " ucap Hans dengan raut wajah yang aneh sembari memeluk dirinya sendiri.
Melihat tingkah laku dari Hans yang nampak dipenuhi dengan gairah dari nafsu yang menggelikan, Rose tetap berusaha menahan dirinya untuk tidak melakukan sesuatu yang buruk di awal kehidupannya yang baru meskipun dirinya sangat ingin melakukan sesuatu terhadap sosok bernama Hans itu.
" Hm~ jadi jika satu koloni dari Kaisar Boaki senilai 360 koin emas, maka satu koloninya bisa disetarakan dengan nilai 1500 koin emas dan itu belum termasuk pada pemimpinnya bukan? " ucap Rose setelah kembali menanggapi ucapan dari pegawai guild itu sembari memastikan harga yang tepat untuk sekawanan monster yang dirinya kalahkan sebelumnya.
" Anda benar mengenai hal itu, tuan. Dan kami pun akan memberikan beberapa koin tambahan bergantung pada kondisi tubuh dari monster yang anda katakan sebelumnya. " balas perugas guild itu sembari membuka sebuah buku dan menunjukkan harga yang telah dicantumkan dengan jelas di sana.
" Selain dari level yang terlalu tinggi dan dampak yang ditimbulkan, beberapa desa sempat hancur akibat ulah mereka dan karena hal itu pula akan ada beberapa pemberian lain selain dari kepingan koin yang saya sebutkan sebelumnya. " lanjutnya sembari menunjukkan sebuah layar sihir yang tercipta dari sebuah batu kecil dan menampilkan status dari Kaisar Boaki itu secara keseluruhan.
Disaat keduanya nampak serius membicarakan masalah mengenai harga jual dari monster itu, Vi langsung duduk di dekat Rose dan memegang tangannya sembari menundukkan kepala sebagai tanda bahwa dirinya merasa tidak nyaman dengan Hans.
" Baiklah, nona. Saya akan bersedia menemui guild master itu nanti. " balas Rose sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Vi yang nampak ketakutan.
Sesaat setelah petugas guild itu menjawab dan pergi untuk melakukan sesuatu yang lain, Rose mulai mengusap kepala Vi dengan pelan sebagai tanda balasan bahwa semua akan baik-baik saja.
" Heyyy hey hey hey heyy. Jauhkan tangan kotor mu dari calon pelayanku! " ucap Hans dengan lantang dan membuat seisi ruangan yang bising kala itu menjadi sunyi seketika.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments