" Master, apakah anda yakin tidak akan mengejar sosok yang anda cari selama ini? " ucap seorang petugas guild sembari menghidangkan secangkir minuman kepada Lumi yang nampak memandang langit senja dalam kota.
" Tidak Rea, untuk saat ini aku akan membiarkannya sendiri. Lagipula dengan sikapku barusan, aku sendiri merasa tidak yakin bahwa dia akan menerima kehadiranku dan mau mendengarkan apa yang ingin aku katakan mengenai pesan dari Alodia. " balas Lumi setelah mengusap bekas air matanya.
" Selain dari itu, Badai terkutuk akan menerjang kota dalam waktu dekat dan itu akan memaksanya untuk memilih antara tetap mempertahankan keegoisannya ataupun kembali ke kota ini. " lanjutnya sembari meminum sesuatu yang dihidangkan itu sebelum kembali mengarahkan pandangannya ke arah langit
" Hm~ sepertinya master telah merencanakan sesuatu untuk menghadapi sosok itu kembali disaat badai kegelapan itu berlangsung. ] " pikir Rea sembari tersenyum sesaat sebelum menanyakan sebuah kisah yang berkaitan dengan masa lalu keduanya.
Sembari duduk dan menunggu kesiapan dari Lumi yang nampaknya juga ingin mengatakan sesuatu, Lumi nampak berjalan ke sebuah lukisan dan beberapa saat setelahnya dia kembali ke tempat dimana Rea berada sebelum mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi bersamaan dengan ditunjukkannya sebuah benda dalam kotak misterius.
" Seperti itulah kisah yang sebenarnya Vi. Meskipun secara garis besar itu mungkin adalah salah dari seorang penulis bodoh yang tega membuat akhir tragis seperti itu, entah kenapa saat-saat terakhir itu sangat membekas dalam diriku dan membuatku kembali mengingat kejadian itu meskipun sebelumnya aku pernah melupakannya..." ucap Rose sembari mengusap pelan telapak tangan Vi disaat dirinya menjelaskan sebuah event dari masa lalu yang berkaitan dengan Luminus dan seorang wanita yang kini telah tiada.
" [Meskipun aku tidak terlalu mengerti apa yang tuan jelaskan sebelumnya, namun di antara ucapannya barusan. Setidaknya aku tahu bahwa sosok wanita yang dipanggil Alodia itu merupakan sosok yang berarti bagi tuan. ] " ucap Vi dalam diam sembari mengendus kepala dari tuannya yang kala itu sengaja disenderkan ke bahunya.
" Dari apa yang saya dengar sebelumnya. Apakah Alodia ini merupakan sosok yang sangat penting bagi anda, Tuan ? dan karena itu, m~ bolehlah saya mengetahui seperti apa sosok itu lebih jelas dari tuan? " Ucap Vi dengan sebuah tawa kecil setelah mencoba memahami apa yang sebelumnya telah dikatakan oleh Rose.
" Hehe... tidak juga, Vi. Alodia hanyalah seorang figuran biasa dan tidak terlalu menonjol [ Karena sistem dalam game hanya memberikannya beberapa event kecil sebelum event terakhir kala itu. ] dan dia juga tidak terlalu dihargai ketika itu [ karena beberapa pemain yang pernah mencoba menjalankan side quest yang berkaitan dengannya sering mengalami masalah glic yang muncul di sana sini maupun malfungsi game seperti crash dan semacamnya. ] Sedangkan untuk bagaimana penampilannya itu, dia sangat mirip seperti kamu Vi. Seorang wanita cantik dengan wajah yang sedikit lonjong, bermata biru, berrambut putih dan dua telinga rubah yang selalu terlihat ceria seperti ini. [ Meskipun kemolekan tubuhnya jauh melebihi kemolekan tubuhmu saat ini]" Jelas Rose sembari menggambarkan seperti apa sosok Alodia di dunia game kala itu
Mendengar sesuatu yang nampak seperti pujian itu membuat Vi berfikir bahwa alasan dari tuannya menggunakan nama itu kepada-Nya merupakan satu pengingat bagi tuannya agar tidak melupakan sosok Alodia.
" Dan untuk itu, jadilah sosok pengganti Alodia untukku, Vi. * sclupts* " ucap tuannya dalam imajinasi milik Vi ketika tuannya nampak mempererat pelukannya dan mengatakan sesuatu mengenai Alodia.
Disaat dirinya tengah mengatakan berbagai hal dan Vi hanya terdiam tanpa kata dengan ekspresi nakalnya, Rose menyadari bahwa ada hal yang salah dengan diri Vi.
" Vi~. Aku ingin kamu menjawab ini dengan jujur. Apakah kamu... " ucap Rose setelah berhasil menyadarkan Vi dari lamunannya
" Iya, tuan. Tentu. Saya bersedia menjadi pendamping hidup tuan dan memberikan kebahagiaan kepada tuan selamanya. " balas Vi dengan segera sebelum Rose menyelesaikan kalimatnya.
Dengan sebuah cubitan pelan dikedua pipinya, dirinya pun akhirnya benar-benar tersadar dari imajinasinya dan segera menutupi wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya setelah mengingat apa yang dirinya katakan sebelumnya.
" Vi~ aku senang mendengar ucapanmu barusan. [Meskipun beberapa saat lalu aku pernah mendengarnya, setidaknya apa yang dia katakan saat ini bukanlah sesuatu yang berkaitan dengan sistem operasi dari game. ] " balas Rose sembari mengusap kepala Vi dengan lembut.
" Dan aku pun merasakan perasaan yang sama kepadamu Vi. " lanjutnya ketika Vi kembali menunjukkan wajahnya untuk sesaat.
Sebuah senyuman kembali terlukis di wajahnya setelah dirinya berfikir bahwa tuannya mengakui pengakuan atas perasaan yang dimiliki olehnya.
" Namun, Vi. Aku tidak ingin kamu menjadi pengganti atas sosok itu dan akupun tidak ingin menerima pengakun itu karena bagaimanapun juga kamu masih dibawah kendali dari Ramuan Flavora. " Lanjutnya sembari menyentuh hidung dari Vi sebelum menyentilnya dengan pelan.
Sembari menahan rasa sakit atas penolakan itu dengan kembali menutupi wajahnya, Rose kembali menjelaskan sesuatu yang berhubungan dengan ramuan yang diucapkan sebelumnya dan bersamaan dengan itu dirinya kembali mengulang ucapannya mengenai pengakuan perasaan dari Vi dengan menegaskan bahwa nantinya dirinya lah yang akan meminta Vi untuk menerimanya.
Bersama dengan sebuah janji kelingking yang dilakukan oleh keduanya, sebuah senyuman nampak begitu jelas dari wajah Vi yang berlinang air mata hingga akhirnya pembahasan berat itu diakhiri dengan sebuah pelukan erat diantara keduanya.
" [ Kelembutan ini mengingatkanku pada Vi ketika pertama kali dirinya dikeluarkan dari box kemas dan jikalau aku ingat kembali, saat-saat seperti ini adalah saat pertama kalinya aku kembali menyentuh kulit manusia setelah hampir 10 tahun aku hanya bersentuhan dengan besi dan baja serta kulit silikon dari Vi di dunia nyata kala itu.] " pikirnya disaat mengusap punggung Vi dengan pelan sebelum mempererat pelukannya kembali sebagai tanda rindunya atas masa lalunya.
* Nikh * Wajah Vi yang semula nampak normal kembali menunjukkan warna kemerahan disaat Rose mulai mengusap pelan ekornya sembari tetap menahan tubuhnya dalam pelukannya dan membuat sesuatu yang ada diantara keduanya nampak berdenyut.
" [ dan sensasi seperti inilah yang membuatku enggan untuk menjauh darinya meskipun ] " Lanjutnya dengan senyuman sebelum memeluk Vi dari belakang secara tanpa sadar hingga menjejakkan telapak tangannya ke setiap bagian dari kemolekan tubuh Vi
" Vi~ Ibu hanya bisa mengatakan bahwa disuatu saatnya nanti, kamu akan bertemu dengan seorang pria yang mampu menjagamu dan menerimamu sebagai pendamping hidup meskipun status kita setara dengan pelayan... " ucap seorang wanita yang memiliki bentuk tubuh beast dengan ras siberian husky ketika Vi hanya bisa terdiam tanpa kata sembari menggigit salah satu jari tanganya untuk menahan suara nakalnya.
" [ Kenapa.... Basah....? ] " ucapnya dalam hati ketika merasakan sesuatu yang berair menyelimuti telapak tangannya.
" Tu---tuan... Anda terlalu kasar.... " balas Vi dengan lemas setelah sebelumnya sempat melepaskan teriakannya disaat Rose melakukan sesuatu terhadap bagian intimnya
" [E~ ya ampun.. apa yang aku lakukan terhadapnya? ]" ucapnya dalam diam sembari menunjukkan wajah yang terkejut setelah menyadari bahwa sosok yang ada di hadapannya adalah Vi dalam wujud demi human dan bukannya Vi dalam wujud humanoid.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments