Semakin sumringah wajah Ki Juru mendengar rencana kepindahan tersebut. Ia pun berujar. “Sesuai janjiku, aku juga akan turut pindah bersama para kerabat Selo untuk mendampingi Kakang Pemanahan dan Sutowijyo untuk mengolah tanah Mataram.”
Semakin gembiralah Ki Pemanahan mendengar ucapan adik iparnya tersebut, ia sangat bersyukur karena Ki Juru menepati janjinya untuk selalu mendampingi dirinya dan keluarganya sebab kehadiran Ki Juru Mertani yang ternama sangat cerdas, bijak lagi pandai bersiasat amat dibutuhkan untuk membangun Mataram. “Terima kasih.
Tanah Mataram akan kian terolah dengan baik apabila Adi Juru ikut menyertai kami.”
Ki Pemanahan kemudian melirik Ki Wirojoyo dan berujar. “Adi Wirojoyo, aku juga punya dua permintaan untukmu.”
“Apa itu Kakang? Insyaallah saya akan melakukan yang terbaik untuk memenuhinya.” tanya Ki Wirojoyo.
“Pertama, Aku minta Adi untuk memimpin pengamanan selama para warga Selo membuka hutan Mentaok!” jawab Ki Pemanahan, “Dan yang kedua, apabila Kademangan Mataram sudah berdiri, kita akan membutuhkan pasukan pengaman untuk mengamankan seluruh wilayah Mataram. Aku minta Adi yang nanti melatih para pemuda untuk dijadikan pasukan pengaman sekaligus menjadi lurah tantama pasukan Mataram!” (Lurah Tantama = Pemimpin kesatuan pasukan).
“Baik Kakang! Akan saya laksanakan sebaik-baiknya tugas dari Kakang ini!” angguk Ki Wirojoyo dengan tegas namun sopan kepada pemimpn kerabat Selo tersebut.
“Adapun Adi Surokerti, aku minta untuk membantu tugas Adi Wirojoyo!” ucap Ki Pemanahan kepada Ki Surokerti.
“Baik Kakang!” jawab Ki Surokerti.
“Adi Wirojoyo, bersiaplah untuk melaksanakan tugasmu, dua sasih lagi kita akan berangkat ke Mataram!” ucap Ki Pemanahan.
Ki Wirojoyo mengangguk mantap. “Baik kakang, tapi saya minta waktu untuk menjemput keluarga saya di Banyu Urip untuk kemudian saya boyong ke Mataram.”
Ki Pemanahan mengangguk, keluarga Ki Wirojoyo memang tinggal di desa Banyu Urip yang letaknya satu hari perjalanan ke arah barat dari Kotaraja Pajang, rumah Ki Pemanahan saat ini. “Baiklah, kapan kamu berangkat?”
“Malam ini juga agar besok siang sudah sampai, kami akan menyiapkan perbekalan dan segera kemari untuk pergi bersama ke Mataram.” jawab Ki Wirojoyo.
“Baik, pergilah. Hati-hati di Jalan Adi.” pungkas Ki Pemanahan.
***
Pada waktu yang sama, di sebuah gubug tua di hutan lebat nan angker. Arya Kusumo putra Ki Patih Mentahun dari Jipang Panolang yang gugur di tangan Ki Wirojoyo keluar dari dalam gubug itu. Ia celingukan mengedarkan pandangannya kesana kemari, nampaklah ia seperti sedang menunggu seseorang.
Dinyalakannya sebatang rokok. Dia memandang ke angkasa. Langit kelihatan mendung. Bintang-bintang mulai tertutup awan. Bulan menghilang dan angin bertambah besar serta dingin. Dia tak sabaran menunggu. Rokok yang dihisapnya sudah hampir habis. Berbarengan ketika rokok itu dibuangnya ke tanah maka dipengkolan muncul
tiga sosok bayangan. Dua dari sosok bayangan itu berhenti sedang yang satu terus melangkah ke arah teratak itu.
“Sudah lama kau…?” bertanya orang yang datang ini, pria ini bertubuh tinggi besar, berpakaian dan berjubah serba hitam, wajahnya tertutupi Topeng berwajah setan yang sangat menyeramkan. Suaranya serak dan parau namun menggetarkan jantung bagi siapapun yang mendengar suaranya, pertanda ia menyamarkan suaranya dengan
tenaga dalamnya yang sangat tinggi.
“Ya sudah lama! Ayo masuk!” jawab Arya Kusumo dengan tidak sabaran.
“Gerangan apakah yang dikehendaki dariku oleh putra Patih Jipang yang negerinya sudah lama hancur?” tanya si manusia bertopeng dengan nada mengejek.
“Jangan banyak omong Ki Rono!” sentak Arya Kusumo dengan nada marah. Ia kemudian melemparkan satu peti berukuran sedang ke atas meja di hadapan orang yang dipanggilnya Ki Rono tersebut.
“Aku memanggilmu karena aku punya satu permintaan darimu! Sebagai bayarannya, akan aku serahkan seluruh sisa harta dari seluruh sisa laskar Jipang!” tunjuk Arya Kusumo pada peti tersebut.
Dengan berhati-hati Ki Rono membuka peti tersebut, dan nampaklah isinya yang penuh oleh emas permata. “Kau yakin memberikan semua sisa hartamu Raden? Seorang Raden sepertimu mau menjadi gembel?”
“Jangan banyak omong! Kau mau menerima tugas dariku atau tidak?!” bentak Arya Kusumo.
“Hahaha… Pantang bagi kami untuk pulang dengan tangan hampa! Jadi apa permintaanmu?”
“Aku minta kau membunuh seorang pendekar Selo yang bernama Ki Wirojoyo, dia orang yang telah membunuh ayahku di Bengawan Sore!” jawab Arya Kusumo dengan gigi bergemulutuk karena menahan gelora dendam di hatinya ketika ia mengingat peristiwa dua belas tahun yang lalu di tepian kali Bengawan Sore.
“Wirojoyo… Hmm… aku sering mendengar namanya. Ia pendekar Selo yang kini tersohor sebagai ponggawa negeri Pajang. Kebetulan aku juga penasaran pada kesaktiannya. Baiklah, aku terima permintaan darimu!” jawab Ki Rono sambil mengangguk-ngangguk.
“Bagus! Kalau begitu segera laksanakan tugasmu!” perintah Arya Kusumo.
“Baiklah!” jawab Ki Rono sambil hendak mengambil peti diatas meja, namun tangannya segera dipegang Arya Kusumo.
“Kau boleh mengambil bayarannya sekarang, tapi izinkan aku ikut dengan kelompokmu. Aku ingin melihat kematian Wirojoyo dengan mata kepalaku sendiri!”
“Baiklah, tapi kau harus mengenakan pakaian seperti kelompok kami, karena kau seorang buronan di negeri Pajang ini, aku tidak mau kehadiranmu mengganggu pekerjaanku!”
“Baiklah!” angguk Arya Kusumo.
“Satu hal lagi, ada yang ingin aku tanyakan kepadamu.” ucap Ki Rono.
“Apa itu?”
“Apakah kau tahu dimana keberadaan Keris Setan Kober milik Arya Penangsang?” tanya Ki Rono dengan nada yang amat menyiratkan rasa penasaran.
“Aku tidak tahu pasti, tapi kemungkinan Keris itu diboyong oleh orang-orang Selo kemudian diserahkan pada Sultan Hadiwijoyo. Barangkali Keris Pusaka itu sekarang ada di gedong Pusaka Pajang." jawab Arya Kusumo.
Perbincangan yang cukup hangat itu pun berakhir ketika Ki Rono bersiul memberi aba-aba agar dua anak buahnya masuk, mereka berdua pun mengmbil peti tersebut. Kemudian mereka semua meninggalkan gubug tersebut.
***
Di sebuah rumah besar yang terdapat di Desa Banyu Urip, Ki Wirojoyo menambatkan tali kekang kudanya dibantu oleh seorang pria tua yang merupakan pembantu rumahnya. “Selamat datang Den.” sambut ramah si pria tua.
Ki Wirojoyo meberikan sebuah buntelan kain pada pria tua itu sambil tersenyum. “Terima kasih Ki Rongkot. Kita harus bersiap-siap, dua sasih lagi kura akan pindah ke Tanah Mataram!”
“Alhamdulillah… Akhirnya Gusti Sultan menepati janjinya untuk memberi tanah Mataram pada Ki Pemanahan. Baik Den, Aki akan segera mempersiapkan segala sesuatunya.” jawab Ki Rongkot dengan semangat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 210 Episodes
Comments
andymartyn
aku yes
2023-06-06
2
andymartyn
mantap
2023-06-06
2
Senopati Pajang
dua sasih itu berapa ya?
2022-09-29
3