Ki Surokerti segera menutup mata dan menahan nafasnya, namun malang bagi prajurit-prajurit Pajang, kerabat Selo, serta prajurit-prajurit Jipang sendiri yang berada di sekitar tempat itu. Mereka langsung tergelatak tak berdaya
akibat mengirup asap beracun tersebut, malah beberapa orang ada yang langsung tewas dibuatnya!
“Sial! Dia melarikan diri!” maki Ki Surokerti ketika perlahan asap putih pekat yang amat beracun itu menghilang tersibak angin.
“Biarkan saja!” seru Ki Pemanahan yang menghampiri Ki Surokerti, “Dengan terbunuhnya Arya Penangsang dan Patih Arya Mentahun kita sudah menang!” lanjutnya.
“Benar, kalau begitu kita sudah bisa menghentikan pertumpahan darah ini bukan Adi Juru?” sahut Ki Penjawi seraya bertanya pada Ki Juru Mertani.
“Betul Kakang, lihat…” tunjuk Ki Juru Mertani, saat itu seluruh prajurit Jipang yang tersisa segera menjatuhkan senjatanya kemudian mengangkat tangannya ketas, sedangkan seluruh sisa kekuatan Bang Wetan yang mendukung Jipang, segera melarikan diri ke sebrang kali Bengawan Sore untuk terus mundur ke wilayah Bang
Wetan.
Ki Pemanahan pun segera memerintahkan agar para prajurit Pajang mengurus jenasah Arya Penangsang dan Patih Arya Mentahun dengan layak untuk segera dibawa ke Pajang dan mengurus semua yang terluka juga prajurit Jipang yang menyerah. Setelah itu seluruh kekuatan Pajang pun mulai bergerak meninggalkan Sungai Bengawan Sore yang menjadi saksi bisu jalannya pertempuran yang dahsyat antara kekuatan Pajang melawan Jipang Panolang.
***
Kabut pagi mulai memudar, cahaya mentari mulai menampakan sinarnya di ufuk timur, burung-burung berterbangan kesana-kemari sambil berkicau riang menyambut turunnya selimut bumi, seiring dengan pancaran sang surya menghalau kelamnya malam, sungguh suatu pagi yang amat cerah secerah senyum para prajurit Pajang yang dipimpin oleh para kerabat Selo.
Senyum cerah terus merekah mengiringi perjalanan mereka kembali menuju Pajang setelah berhasil menaklukan negeri Jipang Panolang, tak terkecuali para kerabat Selo yang masih tersenyum lebar karena berhasil menunaikan tugas yang teramat berat dari Sultan Hadiwijoyo, namun senyum mereka langsung berubah ketika Ki Wirojoyo
memberanikan diri untuk mengatakan hal yang sesungguhnya masih menjadi beban pikiran bagi para Kerabat Selo terutama Ki Pemanahan dan Ki Penjawi.
“Sekarang, sebagai Senopati pemimpin pasukan Pajang dalam perang ini… Kakang Pemanahan harus berani menanyakan yang pernah dijanjikan oleh Sultan.” celetuk Ki Wirojoyo yang membuat raut wajah para kerabat Selo langsung berubah.
Ki Pemanahan menghela nafas, namun seulas senyum kecil masih terlukis di wajah pemimpin Kerabat Selo tersebut. “Sebagai orang Selo, kita harus berjuang tanpa pamrih.”
“Kita memang tidak mengharapkan pamrih, Adi Sultan sendiri yang berniat memberikan hadiah.” sahut Ki Juru Mertani.
Ki Wirojoyo langsung menimpali. “Benar Kakang, maaf bukannya saya pamrih, tapi itu hak kita sesuai dengan yang dijanjikan oleh Gusti Sultan.”
“Iya, Saya berterima kasih pada Adi Juru dan Adi Wirojoyo yang sudah mengingatkan saya. Sebagai yang tertua dari kerabat Selo aku memang berkewajiban untuk mengingatkan Adi Sultan… Tapi biar Adi Sultan sendiri yang berkenan memberikannya. Saya tidak akan mengadili…” pungkas Ki Pemanahan dengan suara datar yang membuat para kerabat Selo mahfum dengan sikap Ki Pemanahan yang mencerminkan watak orang-orang Selo.
Sesampainya di Kotaraja Pajang, para prajurit Pajang yang dipimpin oleh para kerabat Selo tersebut mendapat sambutan yang sangat meriah, Sang Sultan sendiri yang langsung menjemput mereka dengan kereta kebesaran keraton. Ki Pemanahan, Ki Penjawi, dan Ki Juru Mertani mendapat kehormatan untuk ikut naik kereta kebesaran keraton milik Sultan sampai ke Keraton Pajang.
Sesampainya di Keraton Pajang, para Kerabat Selo pun langsung diterima di Balai Penghadapan Agung yang juga dihadiri semua pejabat Pajang. Ki Pemanahan langsung melaporkan semua tugas yang ia emban sebagai Senopati perang, Sultan Hadiwijyo pun memberikan ucapan selamat dan ucapan terima kasih kepada semua kerabat Selo tersebut, sampai akhirnya Sultan mulai berbicara soal pemberian hadiah yang pernah ia janjikan bagi siapa saja yang berhasil menumpas Aryo Penangsang.
“Dengan terbunuhnya Aryo Penangsang, negeri Jipang Panolang tidak berarti apa-apa lagi bagi Pajang.” ucap Sultan.
Ki Pemanahan menjura hormat sebelum menjawab. “Benar Gusti, kekuasaan Pajang di pesisir utara akan lebih mantap.”
Ki Penjawi pun ikut menimpali setelah menjura. “Selain pesisir utara, Jipang yang sudah kita kuasai juga merupakan pintu masuk bagi Pajang untuk melebarkan sayap kekuasaannya ke Bang Wetan.”
Sultan mengangguk sambil tersenyum sumringah. “Ya… Aku berterima kasih atas perjuangan dan pengorbanan kalian\, orang-orang Selo. Terutama kepada Kakang Pemanahan dan Kakang Penjawi yang berhasil membunuh Aryo Penangsang*.” (*Menurut Babad Tanah Jawa\, yang dilaporkan berhasil membunuh Aryo Penangsang adalah Ki Pemanahan dan Ki Penjawi\, bukan Sutowijoyo. Hal ini dilakukan atas saran Ki Juru Mertani agar Sultan tidak melupakan janjinya untuk memberi tanah Mataram dan Tanah Pati pada Ki Pemanahan dan Ki Penjawi)
“Secara khusus, aku juga berterima kasih kepada Kakang Juru Mertani yang sudah memberikan aku saran juga taktik untuk mengalahkan Aryo Penangsang. Dan tak lupa, aku juga berterima kasih kepada Dimas Wirojoyo yang berhasil membunuh Patih Mentahun.” lanjut Sultan.
Semua kerabat Selo menjura hormat dengan kepala tertunduk dalam-dalam, alangkah bangga dan bahagianya mereka mendapatkan pujian begitu rupa dari Sultan penguasa tanah Jawa yang baru ini.
Sultan menatap para kerabat Selo dengan tatapan bangga, kemudian kembali ia berujar.“Nah sekarang aku mau bicara soal hadiah. Sebelum kalian berangkat perang, aku pernah berjanji bahwa barang siapa yang dapat membunuh Aryo Penangsang, aku akan memberikan tanah Pati sebagai hadiah… Tapi masalahnya sekarang, ada dua orang yang melakukannya, dan sebagai raja aku harus bersikap adil tidak boleh pilih kasih.”
Sultan kemudian menatap Ki Pemanahan dan Ki Penjawi. “Baik Kakang Pemahanan maupun Kakang Penjawi harus mendapatkan hadiah yang cukup pantas. Bagaimana Kakang Pemanahan?”
“Ampun Gusti, saya sebagai yang lebih tua akan mengalah, biarlah Adi Penjawi yang memutuskan.” jawab Ki Pemanahan dengan sungkan.
“Bagaimana Kakang Penjawi?” tanya Sultan.
“Mohon ampun Gusti, saya menyerahkan keputusan kepada Gusti yang jauh lebih bijak daripada kami.” jawab Ki Penjawi yang juga nampak sungkan.
“Bagaimana Kakang Pemanahan?” tanya Sultan kembali pada Ki Pemanahan.
“Ampun Gusti, hamba setuju dengan Adi Penjawi, kami percaya Gusti Sultan akan memutuskan masalah ini seadil-adilnya.” jawab Ki Pemanahan yang tak mau pamrih.
“Begini saja, aku masih mempunyai daerah yang bagus lagi subur walaupun masih berwujud hutan belantara..Yang kumaksud adalah Alas Mentaok atau Tanah Mataram.” usul Sultan yang tentu saja langsung diamini oleh Ki Pemanahan dan Ki Penjawi.
“Sekarang bagaimana, siapa yang memilih Alas Mentaok? Siapa yang memilih Tanah Pati? terserah Kakang berdua.” lanjut Sultan.
Baik Ki Pemanahan maupun Ki Penjawi tidak langsung menjawab, mereka terdiam untuk berpikir sejenak. Tapi kemudian Ki Pemanahan yang terlebih dahulu mengambil keputusan, ia memilih Alas Mentaok yang masih berupa hutan belantara untuk mengalah pada adiknya, Ki Penjawi. “Ampun Gusti, kalau hamba boleh memilih, biarlah hamba memilih Alas Mentaok.” jawaban tersebut cukup mengejutkan Ki Penjawi karena tadinya ia yang hendak mengalah untuk mengambil Alas Mentaok karena waktu itu tanah Pati sudah makmur dan maju daerahnya.
Sultan mengangguk. “Bagus… Bagaimana Kakang Penjawi? Kakang Pemanahan sudah memilih daerah yang dia senangi.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 210 Episodes
Comments
🌹*sekar*🌹
Author org 5na..🤔😊
2023-01-06
3
Bang Roy
lsnjut thor
2022-09-18
1
Thomas Andreas
awalnya alas mentaok toh
2022-07-17
1