Pesta pernikahan antara Surodipo dengan Retno Jumini nampaknya akan benar-benar dirayakan semeriah mungkin, Ki Margoloyo dan istrinya sudah merencenakan akan memanggil Panjak dari Kotaraja Pajang. Semua tetangga Ki Margoloyo sinoman di rumah, karena Sang Juragan termasuk orang yang terpandang dan senang menolong orang yang butuh.
Kebetulan waktu yang dianggap baik untuk melaksanakan pernikahan jatuh dalam waktu dekat setelah Ki Wirojoyo dan Ki Margoloyo sepakat untuk menikahkan putra-putri mereka, dan Karena dalam waktu dekat Ki Wirojoyo beserta seluruh keluarganya harus pindah ke Mataram, maka masa pingit bagi kedua calon mempelai hanya
dilaksanakan selama dua minggu.
Retno yang meskipun dipingit tidak bisa keluar dari rumahnya, merasa sangat bahagia. Ia membayangkan bagaimana meriahnya pernikahan dirinya dengan sang pemuda pujaan hatinya. Setiap hari ia mendapatkan luluran dan berbagai perawatan tubuh lainnya serta diberi minum berbagai macam jamu-jamuan.
Ketika sudah sepuluh hari Retno dipingit, persiapan untuk pesta pernikahan pun dimulai. Orang-orang desa banyak membantu Ki Margoloyo untuk mempersiapkan segala sesuatunya, mulai dari memasang janur, panggung, dan lain sebagainya. Ingin rasanya Retno cepat-cepat sampai pada hari yang ditentukan untuk pernikahan mereka. Empat hari benar-benar menjadi terlalu lama. Hingga sampailah satu kabar berita ke telinga Ki Margoloyo yang akan mengubah segalanya.
Kartono, salah seorang pengawal keluarga sekaligus rombongan dagang Ki Margoloyo datang tergopoh-gopoh menemui Ki Margoloyo yang sedang sibuk mengawasi orang-orang yang sedang mempersiapkan bahan-bahan untuk memasak di pesta pernikahan putrinya nanti. Ki Margoloyo pun membawanya ke halaman belakang rumahnya setelah Kartono mengatakan ada kabar penting yang harus ia sampaikan.
“Rombongan itu kemungkinan akan tiba nanti malam di tempat biasa kita Kakang.” ucap Kartono.
“Gila kamu! Aku ini mau mantuan!” tukas Ki Margoloyo sambil menggelengkan kepalanya.
“Artinya kesempatan emas akan Kakang lewatkan begitu saja? Apakah Kakang lupa pada janji kita utnuk membangun kembali negeri Jipang yang telah diruntuhkan serta dihinakan oleh orang-orang Pajang ini?! Apakah Kakang sudah melukan sumpah setia Kakang sebagai seorang prajurit Jipang yang sejati?!” tanya Kartono dengan penuh penekanan dan alis terangkat seolah tak mempercayai ucapan Ki Margoloyo.
Ucapan Kartono tersebut menyentak hati Ki Margoloyo. Pikirannya pun melayang terbang ke waktu beberapa tahun silam. Saat itu sudah dua tahun negeri Jipang runtuh, Ki Margoloyo dan istrinya pun sudah melupakan negeri leluhurnya tersebut dan hidup menjadi keluarga pedagang yang cukup sukses. Namun tiba-tiba ia didatangi oleh Aryo Kusumo, putra Ki Patih Mentahun, serta Kartono dan beberapa mantan prajurit Jipang yang kini berubah profesi menjadi para perampok di wilayah Pajang. Mereka lalu berkumpul di sebuah hutan di luar Desa Banyu Urip.
"Apakah Kakang Margoloyo sudah terlalu hidup enak dengan menjadi pedagang di Pajang?" tanya Aryo Kusumo dengan penuh selidik pada saat itu.
"Tidak Raden,Hamba masih memupuk rasa kesetiaan hamba pada negeri Jipang di dalam jiwa hamba, sesuai dengan sumpah setia hamba pada saat dulu hamba diangkat menjadi prajurit Jipang!" jawab tegas Ki Margoloyo.
"Kalau begitu kita harus bersatu untuk membangun kembali negeri Jipang dan menghancurkan negeri Pajang!" tegas Aryo Kusumo.
"Dengan kekuatan kita yang ada saat ini, Satu-satunya cara yang bisa kita lakukan saat ini adalah membuat negeri Pajang menjadi tidak aman. Kakang Margoloyo, kau kutugaskan untuk menjadi pemimpin dari seluruh sisa laskar Jipang. Jadilah kelompok perampok yang merampok harta dari para saudagar di Pajang ini. Nanti hasilnya akan kita pakai untuk membiayai pergerakan kita membangun kembali laskar Jipang. Perlahan tapi pasti akan kita runtuhkan negeri Pajang dan kita bangun kembali negeri Jipang!"
Waktu itu sebenarnya Ki Margoloyo merasa segan untuk memenuhi tuntutan dari Aryo Kusumo tersebut, karena ia merasa lebih aman nyaman dengan menjadi seorang pedagang di Pajang demi menhidupi keluarga kecilnya. Ia tidak mau seuatu yang buruk menimpa keluarga kecilnya. Namun sebagai seorang prajurit sejati ia juga tidak bisa melupakan sumpah setia prajuritnya kepada negeri Jipang. Maka terpaksa ia pun menyanggupi perintah tersebut. "Sendiko Dawuh Raden. Hamba akan melakukan yang terbaik demi mengembalikan kejayaan negeri Jipang!" tegasnya.
Maka dimulailah kiprahnya sebagai pemimpin kelompok perampok yang sangat kejam di sekitar Kotaraja Pajang dengan nama Kempok Serigala Kelabu. Sebagian dari harta rampokannya ia serahkan pada Aryo Kusumo, sebagaian lagi ia pakai untuk kepentingannya menyamar sebagai seorang saudagar besar dari Desa Banyu Urip di Pajang.
“Saya dengar tiga Mantri Pamajegan ada dalam rombongan itu.” ucap kembali Kartono yang membangunkan Ki Margoloyo dari lamunannya.
Ki Margoloyo nampak termenung sejenak, ia sedang menimbang-nimbang untung ruginya jika mereka menyatroni rombongan para Mantri Pamajegan dari wilayah barat Pajang tersebut. “Kakang bayangkan, berapa banyak upeti yang mereka bawa untuk Sultan!” tambah Kartono yang kian mempengaruhi Ki Margoloyo.
“Darimana saja mereka?” tanya Ki Margoloyo.
“Mereka dari Banyumas, Bagelen dan Kedu... Artinya jika kita berhasil merampok mereka, maka kita semakin berhasil membuat negeri Pjang ini menjadi semakin tidak aman sesuai dengan amanat dari Raden Aryo Kusumo.” jawab Kartono.
“Hmm…” Ki Margoloyo hanya berdeham sambil memegang dagunya, ia nampak masih berpikir.
Saat itulah seorang pemuda yang merupakan salah satu pembantu Ki Margoloyo menghampiri Ki Margoloyo dan Kartono yang membuat mereka menghentikan obrolan mereka. “Ada apa Kus?” tanya Ki Margoloyo pada Kusno pembantunya tersebut.
“Anu Ki, orang dapur bertanya ayamnya apakah dipotong sekarang?” jawab Kusno.
“Potong sekarang saja! Orang-orang Sinoman ini kan perlu makan, makan yang enak! Kalau
Kambingnya, lusa saja.” terang Ki Margoloyo.
Kusno pun mengangguk. Baik Ki.” Ia pun berbalik hendak pergi tapi ditahan Margoloyo.
“Eh Kusno, siapa yang mau menyembelih? Kamu bisa?” tanya Ki Margoloyo.
“Bisa Ki.” jawab Kusno sambil mengangguk.
“Ya lakukanlah sana!” perintah Ki Margoloyo.
Setelah Kusno pergi, Kartono kembali bertanya. “Bagaimana Kakang?”
“Hhmmm… Nanti malam tunggu aku di tempat biasa. Persiapkan segala sesuatunya dengan matang, karena mangsa kita kali ini sangat besar, bukan sekedar saudagar!”” jawab Ki Margoloyo sambil menepuk bahu Kartono.
“Baik Kakang.” angguk Kartono yang kemudian berlalu meninggalkan rumah Ki Margoloyo.
Seperginya Kartono, Ki Margoloyo bersidekap sambil merenung, meskipun ia sudah mengiyakan pada Kartono, namun ada firasat tidak enak yang mengganjal di hatinya, namun buru-buru ia enyahkan keraguan hatinya karena mangsanya kali ini sangat besar. Tiga Mantri Pamajegan yang akan menyerahkan upeti bulu bekti dari wilayah barat pada Sultan Pajang!
Jika berhasil, ia bisa berpuasa untuk merampok atau bahkan pensiun dari pekerjaannya sebagai pemimpin gerombolan perampok Siluman Serigala Kelabu. Sebagian hasilnya akan ia berikan kepada Aryo Kusumo sebagai pengantar permintaannya untuk pensiun dari tugasnya sebagai sisa laskar Jipang. Sebagian hasilnya juga akan ia berikan pada Retno dan Surodipo, tentunya itu sudah daripada cukup untuk menjamin kehidupan putri dan mantu kesayangannya tersebut dan menjadikan mereka keluarga yang terpandang di Mataram kelak.
***
Malam harinya, Ki Margoloyo sudah bersiap-siap, begitupun seluruh anggota Gerombolan Perampok Siluman Serigala Kelabu yang menyamar menjadi para pengawal Ki Margoloyo. Beberapa orang kepercayaan Margoloyo sudah pergi terlebih dahulu ke wilayah hutan di tepian Kali Laweyan yang akan mereka jadikan tempat untuk menyergap para Mantri Pamajegan.
Setelah selesai bersiap-siap, Ki Margoloyo kemudian pamit kepada anak dan istrinya yang tidak tahu apa-apa bahwa selama ini mereka dinafkahi oleh Ki Margoloyo dari hasil merampok dan menumpahkan darah orang lain, apalagi soal tujuan sisa-sisa laskar Jipang, istimya tidak tahu menahu tentang hal tersebut. Malahan Retno masih tidak tahu bahwa ia sebenarnya adalah orang Jipang karena ketika kedua orang tuanya hijrah dari Jipang, Retno masih balita.
“Aku harus menemui mereka malam ini Nyai. karena besok mereka akan pulang ke Jepara.” ucap Ki Margoloyo
yang berbohong akan menemui para pedagang dari Jepara.
“Tidak bisa diundur Kang? Lusa kan putri kita kita akan menikah, kakang harus menjadi wali putri kakang.” tanya istrinya dengan raut kecewa.
“Tidak bisa Nyai, besok mereka akan pulang. Lusa aku pasti sudah pulang dan menjadi wali putri kita.” jawab Ki Margoloyo.
Ia kemudian memanggil Retno yang sedang duduk terdiam karena kecewa setelah mendengar ayahnya akan pergi malam ini. “Retno, sini sebentar Nduk!”
Retno pun menghampiri ayahnya, Sang Ayah kemudian mengelus kepala putrinya itu dengan tatapan penuh kasih sayang. Romo… Apa tidak bisa ditunda?” tanya Retno dengan nada sedih.
“Iya Kakang, dagang ya dagang, tapi ndak perlu ngoyo gitu tho Kang.” sambung Nyai Margoloyo.
Ki Margoloyo menggelengkan kepalanya. “Sayang Nyai, kalau sampai mereka beli sama orang lain kita tinggal gigit jari.” Ia kemudian menatap wajah putrinya yang tertunduk.
“Hasil dagang kita nanti kan buat kita nanggap tandak biar perkawinanmu meriah, dan buat bekal kmu dan suamimu nanti di Mataram, agar kalian menjadi orang yang
terhormat di Mataram.”
Seperginya Ki Margoloyo, Retno pun memeluk ibunya. Rupanya mereka berdua memiliki firasat yang sangat buruk. Sebenarnya mereka sudah lama menyimpan pertanyaan dalam hati mereka, apa sebenarnya yang dilakukan Ki Margoloyo. Semua warga Banyu Urip hanya tahu bahwa Ki Margoloyo hanya pedagang hasil bumi yang lihay dan dikenal sangat dermawan. Tapi terus terang, mereka selalu diliputi kecemasan setiap kali Ki Margoloyo pergi.
***
Di hutan luar desa Banyu Urip, Ki Margoloyo menghentikan kudanya, dari semak belukar keluarlah lima belas orang berpakaian dan bejubah serba kelabu. Ia lalu menghampiri Kartono yang membuka kerudung penutup wajahnya. “Bagaimana keadaan mereka? Berapa pengawal mereka?”
“Ada tiga puluh prajurit, lima orang pendekar sewaan dari Banyumas, dan lima gerobak barang yang mereka bawa.” jawab Kartono.
“Hmm…. Baiklah… Tunggu sebentar!” Ki Margoloyo kemudian mengambil buntelan kain yang diberikan Kartono, kemudian ia pergi ke semak-semak. sebentar kemudian ia keluar lagi dengan mengenakan jubah dan pakaian serba kelabu, wajahnya ditutupi topeng serigala yang berwarna kelabu pula.
Dialah yang terkenal sebagai Siluman Serigala Kelabu pemimpin gerombolan perampok Serigala Kelabu yang beberapa tahun belakangan ini membuat gempar Kasultanan Pajang karena selalu merampok para saudagar yang hendak menuju Kotaraja Pajang, dan beberapa kali belakangan, mereka mulai berani menyatroni para Mantri Pamajegan yang hendak menuju Pajang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 210 Episodes
Comments
Bang Roy
pimpinan rampok berkedok pedagang
2022-09-19
1
Thomas Andreas
firasat buruk
2022-07-18
1
Waras Harya
alur cerita nya sangat mirip dgn serial sandiwara radio Kaca Benggala, karya S Tijab hanya di rubah dikit. nama tokoh nya
2022-02-08
1