Di luar Goa, Ki Wirojoyo dan yang lainnya terus mengikuti jejak tetesan darah yang mengarahkan mereka pada satu goa di bagian hutan yang paling lebat. Berkali-kali mereka menghalau beberapa jebakan yang berhasil melukai bahkan membunuh dua orang tentara Pajang. Hingga akhirnya mereka sampai pada satu dinding tebing yang tertutupi oleh tanaman rambat.
Dengan amat berhati-hati, Ki Wirojoyo melihat tanaman rambat tersebut. “Hmm… ada orang yang masuk ke dalam goa ini, dan beberapa saat yang lalu, tanaman rambat ini disibakan.” bisiknya pada Ki Bocor, setelah melhat tetesan darah dan tanaman yang rusak karena dipegang oleh tangan manusia.
Ki Bocor mengangguk. “Nyalakan obor!” perintahnya pada para prajurit dengan suara pelan.
Obor-obor pun dinyalakan, sementara Ki Wirojoyo menyibakan tanaman rambat yang menutupi goa tersebut, dan melangkah masuk. Sekonyong-konyong sebatang anak panah melesat mengarah matanya, namun dengan sigap, salah satu pendekar utama dari Selo ini berhasil menagkap panah tersebut. “Hati-hati! Mangsa kita memang ada
di dalam!” ucap Ki Wirojoyo.
Ki Wirojoyo kemudian memejamkan matanya sejenak dan memusatkan pikirannya, kemudian ia melompat ke muka sambil memutarkan tombaknya bagaikan putaran gasing. Anak-anak panah yang menycar dirinya rontok berguguran semua, tidak ada yang berhasil menggores apalagi bersarang di tubuhnya! Hingga beberapa tombak
kemudian sampailah ia di hadapan penyerang gelapnya.
Ki Wirojoyo langsung menodongkan mata tombaknya ke kepala si Serigala Kelabu, dan bagaikan seratus gekedek yang meledak berbarengan, bertapa terkejutnya ia ketika cahaya dari obor-obor yang dibawa oleh para prajurit Pajang menerangi pandangannya, karena ternyata orang yang ia todong adalah calon besannya sendiri!
“Ak… Aku menyerah Kakang Wirojoyo….” ucap Ki Margoloyo sambil melemparkan busur panahnya.
“Margoloyo??? Kaukah Serigala Kelabu itu???” tanya Ki Wirojoyo yang masih tidak mempercayai
pandangan matanya sendiri. Begitupun Ki Demang Banyu Urip yang tak bisa
mempercayai pandangan matanya sendiri.
“Iya… Silahkan menangkap aku… Silahkan menghukum aku… Aku menyerah Kakang Wirojoyo…” desah Ki Margoloyo dengan sangat lemas karena menahan sakit semua luka-lukanya.
“Kau mengenal dia Kakang?” tanya Ki Bocor.
Ki Wirojoyo tidak langsung menjawab, ia menghela nafas panjang sambil mengusap-usap wajahnya, tak terbayangkan bertapa malu hatinya ketika mendapati bahwa ternyata calon besannya adalah seorang pemimpin kelompok perampok yang sangat kejam, yang berani malang melintang di sekitar Kali Laweyan yang sangat dekat dengan Kotaraja Pajang! “Duh Gusti… Apa dosaku dan leluhurku sehingga hampir saja aku berbesanan dengan pemimpin perampok seperti dia?” desahnya dalam hati.
“Dia adalah Ki Margoloyo… salah satu warga Kademangan kami… Euuhhh… Salah satu warga yang paling kaya…” ucap Ki Demang yang mendahului Ki Wirojoyo untuk menjawab karena ia tahu Ki Wirojoyo tidak enak untuk langsung menjawab, dan sejujurnya ia sendiri pun tidak enak untuk menjelaskan siapa Ki Margoloyo sebenarnya.
“Berati semua kekayaannya itu berasal dari semua orang yang ia rampok!” ketus Ki Bocor.
“Dia… Hampir saja aku berbesanan dengannya… Hampir saja anakku menjadi menantunya…” ucap Ki Wirojoyo pada akhirnya dengan lemas.
Semua yang ada disana kecuali Ki Demang pun terkejut bukan main mendengar ucapan Ki Wirojoyo tersebut. “Apa?! Bagaimana bisa Kakang?!”
“Saya pun tidak tahu Dimas… Saya baru tahu sekarang bahwa dia itu seorang perampok yang dicari-cari oleh Gusti Sultan… Saya tertipu karena orang ini sangat pandai bersandiwara…” Keluh Ki Wirojoyo dengan lemas karena menahan malu yang teramat sangat.
Ki Bocor mengangguk-ngangguk, kemudian mengambil pedang dari salah seorang prajurit dan menodongkannya pada Ki Margoloyo. “Kalau begitu biarlah saya yang mengambil alih dari sini Kakang, Kakang mundurlah!”
Ki Bocor kemudian memelototi Ki Margoloyo yang terkulai lemas di tanah. “Kamu memang harus mendapat hukuman! Tanganmu telah belumuran darah orang-orang di sekitar Kali Laweyan ini! Dan kekejamanmu sudah bukan lagi rahasia! Oleh karena itu, kau harus menerima hukuman seberat-beratnya!”
“Benar! Apalagi beberapa kali belakangan ini kamu berani merampok para mantri Pamajegan yang membawa upeti untuk Gusti Sultan! Itu artinya kamu telah berani mencuri milik Gusti Sultan!” tambah Ki Bahugoro dengan tegas dan mata melotot.
“Aku tahu Ki… Tapi semua sudah terjadi… Dosaku memang sangat besar… Tapi aku mohon kemurahan hatimu Ki untuk tidak membunuhku… Aku tidak mau berpisah dengan anak istriku Ki…” pinta Ki Margoloyo dengan memelas.
Ki Bocor mendengus kesal mendengar omongan Ki Margoloyo tersebut. “Enteng sekali kamu ngomong! Apa kau tidak pernah berpikir bahwa orang yang kamu rampok itu juga mempunyai anak istri hah?!”
“Ki Bocor, kau bisa menanyakan itu pada dirimu sendiri atau pada Gusti Sultan sekalian… Apa yang Sultan lakukan dengan semua upeti dan pajak dari rakyat Pajang? Sultan menggunakannya untuk menyerbu Bang Wetan demi meluaskan kekuasaannya! Apakah kau berapa banyak nyawa yang melayang akibatnya? Dalam sudut pandang tertentu, kau dan Sultan tidak jauh berbeda denganku!”
“Gila kamu! Kamu berani menghina Gusti Sultan?!” Desh! Ki Bocor menendang pelipis Ki Margoloyo sehingga pemimpin perampok ini jatuh tersungkur sambil merintih kesakitan.
“Gusti Sultan menyerbu Bang Wetan demi persatuan tanah Jawa, yang dahulu bersatu di bawah kebesaran Kasultanan Demak, apabila kita bersatu rakyat akan lebih makmur! Sedangkan kamu… Kamu merampok untuk kekayaanmu sendiri! Kau beri makan anak istrimu uang haram dari hasil menumpahkan darah orang lain! Serakah!”
bentak Ki Bocor.
Ki Margoloyo mengeluh dalam hatinya. Ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa kali ini ia harus bentrok dengan Ki Wirojoyo, orang yang paling tidak ia inginkan untuk bentrok demi kebahagiaan putrinya. Selama ini ia tidak pernah mengira bahwa suatu saat ia akan bentrok dengan Ki Wirojoyo karena selama ini ia hanya bentrok dengan para pendekar bayaran yang mengawal para saudagar, serta para prajurit Mantri Pamajegan Pajang yang mengawal upeti untuk Sultan Pajang.
Bahkan jika suatu saat nanti Aryo Kusumo hendak membalaskan dendamnya pada Ki Wirojoyo, ia pasti akan menyewa seorang pembunuh bayaran yang amat sakti, tidak myngkin Aryo Kusumo akan nemerintahkannya untuk berhadapan langsung dengan Ki Wirojoyo, sebab putra Ki Patih Mentahun itu tahu betul kesaktian Ki Wirojoyo yang at tinggi dan bukan tandingan Ki Margoloyo.
Namun takdir dari Sang Maha Penguada berkata lain. Sekarang malahan calon besannya itu menjadi salah satu prajurit Pajang yang membongkar identitasnya sebagai seorang pemimpin kelompok perampok yang teramat kejam. Maka sudah bisa dipastikan bahwa pernilajan bahagia putrinya akan gagal.
Saat itu sebenarnya Ki Margoloyo sangat ingin untuk berkata jujur, ia ingin mengatakan yang sebenarnya bahwa ia merampok bersama seluruh sisa laskar Jipang sebenarnya untuk membangun sebuah gerakan pemberontakan untuk meruntuhkan Pajang dan membangun kembali Jipang. Meskipun tentu hasilnya ia akan dihukum mati namun itu lebih baik dan jauh lebih terhormat daripada ia dihukum dan dihinakan sebagai seorang perampok. Sudah tak ia pikirkan lagi akan kesetiaannya kepada negeri Jipang, namun kemudian ia berpikir lagi, jika ia berkata jujur, ia takut anak dan istrinya juga akan celaka karena terkena hukuman dari Sultan Pajang.
Maka ia pun memilih untuk tidak mengakui identitasnya yang sebenarnya dan tujuan ia merampok yang sebenarnya. Ia lebih memilih keselamatan anak dan istrinya daripada kehormatan dan harga dirinya. “Apapun alasanmu Ki… Aku mohon… Kau tahu… Anakku akan menikah besok, bersama anak Ki Wirojoyo…” pinta Ki Margoloyo.
Merah padamlah wajah Ki Wirojoyo karena malu dan marah, amarahnya langsung meledak mendengar ucapan Ki Margoloyo. “Setan alas! Aku tertipu olehmu sehingga aku melamarkan anakku padamu! Kalau aku tahu kamu perampok, mana sudi aku melamarkan anakku pada putrimu yang kau beri makan uang haram dari hasil rampokanmu itu! Lupakan perkawinan anakmu dengan anakku….”
Dengan nafas memburu dan mata melotot Ki Wirojoyo mengacungkan tombaknya, siap untuk menusuk dada Ki Margoloyo. “Kau bisa menyesali semua perbuatanmu di neraka!”
“Tahan!” seru Ki Bocor sambil memegang tangan Ki Wirojoyo, Ki Demang pun membantu memegangi Ki Wirojoyo.
“Aku malu sekali… Malu… Hampir saja aku mempermalukan seluruh keluarga Selo dengan mengawinkan anakku dengan anak perampok ini!” geram Ki Wirojoyo setelah dibawa undur beberapa langkah oleh Ki Bocor dan Ki Demang.
“Sabarlah Dimas… Istighfar….” ucap Ki Demang.
Ki Bocor pun kembali menoleh pada Ki Margoloyo. “Kau akan menikahkan putrimu besok, tapi kau masih nekat untuk merampok?! Kamu benar-benar Serigala serakah!’
“Aku ingin membahagiakan anakku Ki… Aku juga ingin dia dan suaminya kelak akan jadi orang terpandang di Mataram setelah dia ikut pindah suaminya ke Mataram nanti… Anakku… Retno Jumini… Adalah satu-satunya anakku… Aku ingin dia bahagia…” pinta Ki Margoloyo sambil menyembah memegangi kaki Ki Bocor.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 210 Episodes
Comments
Bang Roy
penyesalan tiada akhir
2022-09-19
1
Thomas Andreas
hampir saja malu
2022-07-19
0
@elang_raihan.Nr☕+🚬🐅🗡🐫🍌
Makin
2021-01-27
3