Mendengar ucapan Ki Margoloyo, Ki Demang mendadak jadi tidak tega bila harus menghukum mati Ki Margoloyo, ia juga tidak enak pada Ki Wirojoyo yang namanya tentu akan menjadi cemar bila ia menghukum mati Ki Margoloyo begitu saja. Setelah berpikir sejenak, ia pun mendapat ide.
“Maafkan saya Ki, bukannya saya bermaksud untuk mengganggu tugas Panjenengan semuanya, tapi saya punya ide untuk menghukum Serigala ini daripada hanya menghukumnya mati sekarang.” bisik Ki Demang pada Ki Bocor.
“Apa idemu itu Ki Demang?” tanya Ki Bocor yang tiba-tiba jadi tidak tega pada Ki Margoloyo karena ia teringat pada putrinya yang masih perawan di Kadipaten Kedu.
“Bagaimana kalau kita seret saja dia ke Desa Banyu Urip, biar semua penduduk tahu kalau dia itu Serigala Kelabu dan menentukan hukuman mereka untuk perampok ini, toh Ki Margoloyo kan warga Banyu Urip juga. Ki Wirojoyo pun bisa mengumumkan pembatalan pernikahan anakknya dengan anak Ki Margoloyo di hadapan semua orang,
dengan begitu nama baik keluarga Ki Wirojoyo bisa dibersihkan.” ujar Ki Demang.
Ki Bocor mengangguk-ngangguk setuju pada ide Ki Demang tersebut, karena ia sendiri pun sangat menghormati Ki Wirojoyo yang merupakan salah satu ponggawa Kasultanan Pajang yang sangat dihormati, dan mengingat jasanya dalam menumpas Patih Jipang Ki Arya Mentahun. Dengan ide Ki Demang tersebut, ia mendapat jalan untuk melaksanakan tugasnya sekaligus membantu Ki Wirojoyo untuk “membersihakan” namanya. Namun begitu ia tetap
merasa berkewajiban untuk menjatuhkan hukuman pada tangan Ki Margoloyo.
“Baiklah… Tapi saya akan memotong tangan kanannya disini dan membawanya ke Kotaraja Pajang, dan Panjenengan berdua boleh membawanya ke desa ]untuk dihakimi oleh warga Ki Demang.” jawab Ki Bocor.
Ia kemudian menraik tangan kanan Ki Margoloyo dan memegangnya dengan sangat erat sehingga Ki Margoloyo mengeluh kesakitan. “Sudah berapa banyak nyawa yang direnggut oleh tangan ini?! Tangan ini bukan tangan manusia! Hanya tangan binatang buas yang melakukan kekejian seperti itu!” Crasshhh! Darah memancur berbarengan dengan suara jerit kesakitan Ki Margoloyo yang tangannya dipotong oleh Ki Bocor!
Di saat yang bersamaan di rumah Ki Margoloyo, Nyai Margoloyo yang sedang mengiris bumbu dapur mengaduh kesakitan ketika jari telunjuknya tergores pisau dapur. “Aduh!” rintihnya, kemudian dia mengecup luka di jari telunjuknya tersebut.
“Ada apa Ndoro?” tanya Warsiah yang langsung menghampiri Nyai Margoloyo ketika mendengar majikannya tersebut mengaduh.
“Ndak apa-apa, jariku hanya kena pisau.” jawab Sang Ndoro.
“Hati-hati Ndoro, mungkin Ndoro kelelahan, maaf… sebaiknya Ndoro beristirahatlah dulu.” anjur Warsiah.
“Iya ya… Baiklah aku mau istirahat dulu, kamu gantikan pekerjaanku!” Nyai Margoloyo pun langsung berlalu untuk masuk ke dalam rumahnya. Sebenarnya bukan kelelahan yang menyebabkan ia kehilangan fokus sampai tangannya tertiris, tapi satu perasaan aneh yang tidak enak yang sekonyong-konyong menghampiri bathinnya,
mendadak wajah suaminya berkelebat di pelupuk matanya.
“Kasihan Ndoro… Besok anaknya mau nikah, kok suaminya sampai sekarang masih belum pulang.” sindir salah satu Ibu-ibu warga Banyu Urip yang membantu di dapur.
“Yang saya takutkan… Jangan-jangan Ndoro Mas terjadi apa-apa dalam perjalanannya, takutnya di begal di tengah jalan.” jawab Warsiah.
“Iya sih, maklum. Kata orang tua dulu, kalau orang mau mantuan itu banyak godaannya.” sahut Ibu-Ibu lainnya.
“Hush! Kalian ini ngomong apa?! Juragan Margoloyo itu kan orang baik, banyak amalnya, minggu kemarin saja dia yang banyak menyumbang untuk perbaikan masjid dan pembangunan jembatan di desa kita ini, belum lagi dia selalu menolong orang yang membutuhkan! Masa iya orang sebaik dia tidak dilindungi Gusti Allah? Sudah
kembali bekerja!” Tukas Kusno yang masuk ke dapur membawa daging kambing yang baru ia sembelih.
Sekonyong-konyong terdengarlah keramaian dari alun-alun Desa yang terdengar sampai ke rumah Ki Margoloyo karena terletak dekat dengan alun-alun Desa. “Weiii! Serigala Kelabu tertangkap! Serigala Kelabu tertangkap!” mendengar keramaian tersebut, para warga desa pun langsung berdatangan ke alun-alun desa, begitupun orang-orang yang sedang membantu di rumah Ki Margoloyo.
Rombongan pasukan Pajang yang dipimpin Ki Bocor dan dibantu oleh Ki Wirojoyo dan Ki Demang pun menghentikan kuda mereka di gerbang rumah Ki Margoloyo, Ki Bocor segera memberi perintah agar para prajuritnya membuka kerangkeng Ki Margoloyo dan melemparkan tubuh pesakitan tersebut ke tanah. Para warga desa pun langsung mengerumuni si Serigala Kelabu dan hendak menyiksanya sampai mati karena banyak
yang menaruh dendam atas kebengisan perampok yang keji ini, para prajurit Pajang pun langsung menahan amukan para warga.
“Tahan! Sabar! Ini supaya tidak terjadi salah paham!” pinta Ki Demang sambil mengangkat tangannya untuk melerai para warga desa yang langsung mengerubuti Ki Margoloyo.
Nyai Margoloyo pun langsung menghampiri mereka karena merasa heran dan tersinggung mengapa perampok itu di bawa ke rumahnya yang sedang ada acara besar, sementara Retno Jumini langsung keluar dari kamarnya dan melihat apa yang sedang terjadi dari palang pintu rumahnya. “Ada apa ini?! Kenapa rampok ini dibawa kemari?!”
tanya Nyai Margoloyo dengan sengit.
Ki Demang kemudian melirik pada Ki Wirojoyo, Ki Wirojoyo mengangguk dan menghampiri Ki Margoloyo yang tergeletak di tanah sambil mengerang kesakitan dan memohon ampun. “Nyai Margoloyo dan para sedulur warga desa Banyu Urip semuanya… Dengan ini saya mengumumkan bahwa saya membatalkan perkawinan anak
saya Surodipo dengan Retno Jumini anak Ki Margoloyo!”
“Kakang Wirojoyo! Apa maksudmu?!” tanya Nyai Margoloyo dengan melotot dan dada yang dipenuhi emosi.
“Karena ini!” Ki Wirojoyo langsung menarik lepas topeng serigala yang menutupi wajah Ki Margoloyo! Terkejutlah semua orang yang ada di sana, karena ternyata Pemimpin Kelompok Perampok Serigala Kelabu adalah Ki Margoloyo! “Aku tidak mungkin mengikat tali kekeluargaan dengan keluarga perampok!” lanjut Ki Wirojoyo dengan
tegas.
Nyai Margoloyo terdiam membisu saking terkesimanya dengan apa yang matanya saksikan, memang ia sudah lama mencurigai suaminya, namun tak menyangka bahwa suaminya adalah Si Serigala Kelabu perampok yang terkenal keji itu, langit serasa runtuh dan menimpa dirinya. Sedangkan Retno Jumini langsung berlari dan memeluk
ayahnya. “Romo!” pekiknya dengan histeris., ternyata inilah firasat buruk yang beberapa hari ini ia rasakan.
Kemudian dengan tatapan penuh kemarahan dan dendam ia menatap Ki Wirojoyo dan seluruh pasukan Pajang serta seluruh warga desa yang hendak menghakimi ayahnya. “Kalian apakan Romoku?! Apa salahnya?!”
“Bapakmu Rampok! memalukan seluruh desa Banyu Urip! Apalagi dia selalu merampok di sekitar Kotaraja Pajang!” bentak salah satu warga desa.
“Retno Jumini! Makanya kalau jadi anak jangan sombong! Ternyata kekayaan orang tuamu itu semuanya barang haram! Cuih!” bentak Wardo sambil meludahi Retno yang memang menaruh dendam pada Ki Margoloyo dan Retno Jumini, karena cintanya ditolak Retno dan pernah dimarahi oleh Ki Margoloyo sampai dilarang mendekati Retno karena ia hanyalah anak seorang buruh tani di sawahnya Ki Margoloyo, yang sukses semakin memprovokasi kemarahan para warga desa.
Mulut pedas para Ibu-Ibu desa pun tak ingin kalah, langsung meluncur kata-kata mereka yang menusuk hati. “Oalah ternyata Ki Margoloyo itu rampok tho?! Wealahhh tiwas aku bantu rampok! Hiiii….” ejeknya sambil bergidik pada Nyai Margoloyo.
“Walah Yu… Yu… Ternyata… Perhiasannya banyak, giwangnya besar, selalu dipamerkan ke warga desa, ternyata dari hasil merampok suaminya Cih!” sambung Ibu-Ibu yang lainnya.
Mbok Minti yang sudah lama bekerja di rumah Ki Margoloyo pun ikut-ikutan karena tak mau terseret dan kena getahnya. “Astaga… Mimpi apa aku bertahun-tahun kerja di rumah rampok?! Hiiii…. Tobat Gusti!” ucapnya sambil menendang Retno dan pergi meninggalkan rumah Ki Margoloyo.
“Sudah! Sekarang kita hajjar saja dia sampai mati!” teriak Wardo memberi komando yang sangat dendam pada Retno dan ayahnya karena pernah dihina habis-habisan oleh sang Juragan yang ternyata rampok tersebut. Maka beramai-ramai warga desa memukuli dan menginjak-nginjak Ki Margoloyo yang sudah tak berdaya itu, dengansekuat tenaga, Retno berusaha melindungi ayahnya dengan menutupi tubuh ayahnya sehingga menjadi sasaran pukulan, tendangan maupun injakan para warga desa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 210 Episodes
Comments
Bang Roy
masa nda dilindungi
2022-09-19
1
Thomas Andreas
yg udh pernah ikut nikmatin duitnya gimana tuh
2022-07-19
1
A2F-C'ky
Ki Margoloyo "robin hood" versi pajang
2022-01-25
1