Tiba-tiba satu kilat yang sangat besar menerangi puncak bukit Pengantin tersebut yang kemudian disusul satu suara gelegar yang dahsyat disertai getaran gempa di bukit tersebut, Retno Jumini sangat terkejut oleh petir yang tiba-tiba menggelegar tersebut sampai ia meloncat dan memeluk Surodipo, saat itu langit diatas mereka yang memang sudah mendung mencurahkan air hujan yang teramat deras disertai badai yang dahsyat serta diselingi petir yang saling bersahutan. Angin badai langsung bertiup deras dan merobohkan beberapa pohon yang berada
diantara Surodipo dan Retno Jumini.
“Kakang bagaimana ini?” Tanya Retno Jumini yang panik serta ketakutan melihat hujan badai yang dahsyat tersebut.
“Lihat disana ada gua! Ayo kita kesana!” tunjuk Surodipo, maka dengan seluruh daya mereka pun berlari menuju ke sebuah gua yang terdapat di puncak bukit itu dengan seluruh tubuh yang basah kuyub.
“Aku takut” rintih Retno yang menatap keluar goa setelah mereka berdua sampai kedalam goa.
“Tenanglah Retno, ada aku!” ucap Surodipo menenangkan gadis pujaan hatinya tersebut, tapi Retno Jumini masih saja gelisah menatap hujan badai yang dahsyat diluar, Surodipo pun memeluk Retno untuk menenangkan gadis itu, Retno terkejut ketika mendapati tangan Surodipo yang kekar itu memeluk dirinya.
“Jangan takut Retno, aku bukan lelaki kurang ajar yang tidak tahu sopan santun! Dan Buat apa kau takut? Orang tua kita kan sudah saling mengenal!” perlahan kegelisahan yang tadi nampak jelas di mata Retno mulai menghilang, meskipun ia adalah seorang putri dari saudagar ternama yang dihormati di desanya, ia tetap
merasa aman dan terlindungi oleh pemuda yang ia cintai tersebut, matanya yang tajam dan indah menatap penuh harap pada pemuda berwajah rupawan dihadapannya tersebut.
Jantung Surodipo berdegup amat kencang, seolah mau copot dan membobol dadanya ketika mendapati tatapan mata Retno yang indah tersebut, dirasakan kehangatan yang sangat nikmat dari tubuh Retno yang sedang ia peluk itu, begitupun Retno, dirasakan kehangatan yang termata nikmat dalam pelukan sang pemuda diantara dinginnya udara saat itu.
“... Kakang Surodipo...” rintihnya perlahan dengan suara yang manja, gadis itu tidak paham kenapa ia memanggil nama Surodipo dengan meratap seperti itu, hanya dirasanya ada deburan gelora dahsyat didadanya, di sisi lain, naluri kelelakian Surodipo pun tersulut mendengar rintihan manja Retno, sambil menelan ludah, ia menyibakan rambut Retno, dengan didorong oleh suatu kekuatan maha dahsyat yang tidak ia ketahui dan ia sadari, ia mengecup bibir Retno yang merah ranum itu, Retno pun menutup matanya merasakan sentuhan bibir sang jejaka yang hangat itu, dan bahkan mulai membalasnya!
“Kang Surodipo oh....” rintih Retno setelah Surodipo melepaskan bibirnya, Surodipo pun paham akan maksud Retno tersebut.
“Retno, jangan takut, percayalah padaku, aku akan bertanggung jawab! Aku akan mempertanggung jawabkan apapun yang terjadi pada kita!” Nafsu didada kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu pun semakin berkobar, mengalahkan semua akal sehat mereka, mengendalikan akal, rasa, serta gerak tubuh mereka!
Retno mengangguk perlahan sambil tersenyum manis sekali, “Aku percaya padamu Kakang, dan aku tidak akan membiarkan kau dihukum oleh ayahku!” sahutnya.
“Aku sangat mencintaimu Retno! Dari dulu saat pertama kali kita bertemu, aku sudah langsung jatuh hati padamu!” ucap Surodipo.
“Aku pun demikian Kakang, aku sangat mencintaimu juga!” percakapan mereka ditutup dengan sodoran bibir Surodipo pada bibir Retno, Retno pun meladeninya tak kalah panas, untuk beberapa saat bibir mereka saling berpagutan, saling berbalas cium satu sama-lain!
Semakin panaslah bara yang membakar didalam dada pemuda dan pemudi ini, kini tangan mereka berdua mulai bekerja, saling memeluk dan menggrepe-grepe satu sama lain, bibir Surodipo pun mulai turun dari bibir Retno ke leher gadis hitam manis tersebut, menciumi dan menggigit-gigit kecil leher, pundak, dan bagian atas dada Retno yang pakaiannya mulai tersingkap, lalu keatas lagi, kembali bibir mereka saling beradu, disambung dengan permainan lidah mereka, runtuhlah segala ajaran tentang norma yang mereka dapatkan dari orang tua mereka, mereka bergumul dipenuhi hasrat nafsu syahwat, kini yang mereka lakukan tak ubahnya seperti binatang yang sedang menyalurkan hawa nafsunya!
Tiba-tiba... BLARRRR!!!!
Satu petir yang teramat dahsyat menggelegar mengiringi kilatan cahaya yang amat terang benderang hingga menerangi seantero bagian dalam Goa itu, seluruh bukit Pengantin terasa bergetar oleh ledakan petir tersebut, dan yang sungguh aneh, sekonyong-konyong seluruh bukit tersebut digoyang oleh gempa yang cukup dahsyat hingga beberapa staklatit di goa tersebut runtuh, dua sejoli yang sedang memadu kasih hubungan terlarang itu kaget bukan main!
Mereka berdua langsung menghentikan perbuatan dosa mereka, Gempa bumi tersebut berlangsung selama beberapa saat, setelah gempa tersebut berhenti, mereka berdua lalu duduk termenung saling terdiam, hingga terdengar suara isak tangis dari Retno Jumini.
“Kakang... Bagaimana ini? Apakah yang terjadi barusan adalah suatu pertanda bahwa hubungan kita memang terlarang? Saya takut kalau akan ada petaka yang menimpa kita kalau kita teruskan perbuatan kita!” Keluh Retno sambil membetulkan pakaiannya yang tersingkap hampir lepas dari tubuhnya, untungnya tubuhnya masih terlindungi oleh kemben dibalik pakaiannya, gadis ini menangis sesegukan.
Surodipo hanya duduk menundukan kepala, mulutnya terkunci rapat-rapat, perlahan tangannya meraih pakaiannya yang tadi tergeletak di bawah dan mengenakannya kembali, hanya elahan nafasnya yang berat saja yang terdengar. “Kakang, saya takut, sepi selalu mengundang setan! Bulu kuduk saya juga berdiri, saya merasa
seolah ada yang sedang mengawasi kita! Sesaat saya merasa tidak bisa menyadari apa yang sedang saya lakukan! Kita pulang yuk?!” ajak Retno.
Surodipo mengangkat kepalanya dan menatap keluar “Retno, diluar hujan masih sangat deras, kita bisa basah kuyub dan kamu bisa sakit nanti!”
Retno Jumini menatap keluar dengan perasaan gelisah, hujan memang masih sangat deras, tapi tiba-tiba ia menarik tangan Surodipo dan berlari keluar, Surodipo pun terpaksa mengikuti langkah gadis ini, “Retno maafkan aku! Aku berjanji akan mempertanggung jawabkan semua perbuatanku padamu!” ucap Surodipo berteriak
ditengah suara derasnya hujan dan tiupan angin kencang.
Retno menghentikan langkahnya, ia lalu menatap lekat-lekat pada Surodipo, gadis ini lalu mengangguk sambil tersenyum manis, “Aku percaya padamu Kakang!”
Surodipo balas tersenyum, dia lalu mendongkakan kepalanya melihat llangit gelap yang dipenuhi awan mendung, “Sebentar lagi hari akan petang, baiklah, kita harus cepat meninggalkan tempat ini dan pulang ke Desa.” mereka pun berlari-lari kecil menuju ke Desa Banyu Urip.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 210 Episodes
Comments
Thomas Andreas
hampir saja
2022-07-17
1
Genta Buana
kek kisah di wasiat iblis,,jaka sama adeknya,,yg waktu itu belom saling tau asal usul jaka
2021-04-08
5
pcsixer
senangatttt rhor
2021-01-25
2